"Anak Fajar dari Laut" yang Penuh Dedikasi dan Membanggakan

"Anak Fajar dari Laut" yang Penuh Dedikasi dan Membanggakan

19 Oktober 2016 - 07:09:00 WIB | Oleh: Administrator
Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Kadir Ibrahim, Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang
 
Adalah Akib panggilan akrabnya. Pria yang profesinya PNS ini, termasyhur sebagai salah seorang putra terbaik Provinsi Kepulauan Riau.

Bernama lengkap Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim, berasal dari Kelarik Ulu, Bunguran Utara (dulu Bunguran Barat, red) Natuna, Kepulauan Riau. Sejak Februari 2015 menjabat sebagai Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang.

Ayah tiga orang anak ini, termasuk cepat dalam jenjang karirnya. Saat masa kerja baru 12 tahun 3 bulan, tahun 2007 Akib sudah dipercaya sebagai Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang masuk golongan IV-A.

Dan sejak tahun 2009 hingga hampir pengujung tahun 2016 ini suami dari Hj. Ermita Thaib, S.Ag itu sudah diberi amanah oleh Wali Kota Tanjungpinang, mulai dari Hj. Suryatati A Manan sampai H Lis Darmansyah, untuk menduduki enam jabatan Eselon II. Mulai Kepala Badan Kesbangpol Linpenmas Kota Tanjungpinang, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2009), Staf Ahli Wali Kota Tanjungpinang Bidang SDM (2012), Staf Ahli Wali Kota Tanjungpinang Bidang Pemerintahan (2013), Staf Ahli Wali Kota Tanjungpinang Bidang Ekonomi dan Keuangan (2014) dan Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang (Februari 2015).

Putra dari pasangan H. Ibrahim Bukit dan Hj. Hatijah Na’im yang merupakan Ahli Tata Kota Wilayah Pesisir dan Pantai itu mengawali kariernya sebagai CPNS sejak 1 Desember 1994.

Sebetulnya Akib tidak hanya berkecimpung melayani masyarakat. Namanya justru lebih dikenal di dunia kebudayaan dan sastra nasional Indonesia. Kepakarannya dalam bahasa, sastra, tradisi lisan, seni dan film serta politik membuat Akib menjadi narasumber langganan atau pemakalah dibidang kebudayaan.

Yang luar biasa adalah pandangan pribadi Akib akan bagaimana pola dan semangat kerja seorang PNS. Menurut Akib sebagai PNS, ia harus taat azas, berbuat yang patut, dan menempatkan diri sebagai aparatur negara yang elok dan mendudukkan diri sebagai hamba Tuhan.

Sudah semestinya menurut Akib, sebagai PNS ia bekerja berdasarkan dan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Ia juga menolak untuk bekerja atas dasar sesuka hati atau seenaknya. Karena menurutnya bekerja dengan penuh tanggungjawab, dedikasi dan inovasi yang tinggi sebagaimana sumpah yang sudah diucapkan, akan berbuah manis tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga masyarakat luas.

Meski begitu Akib menyatakan keyakinannya, bahwa ketimbang PNS yang tidak disiplin, masih tinggi prosentase PNS yang baik, berdedikasi tinggi, inovatif dan professional.

Tentang tugasnya sebagai Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang, Akib yang dalam tahun 2012 pernah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Badan Intelijen Negara (BIN) ini menjelaskan antara lain secara maksimal membantu, memfasilitasi, dan memperlancar segala tugas­tugas pimpinan dan Anggota DPRD dalam kaitan kelancaran tugas pokok dan fungsi DPRD.

Hal yang tak kalah penting, sebagai Sekwan dapat menjembatani dengan baik hubungan antara DPRD dengan Walikota Tanjungpinang atau sebaliknya di dalam berbagai hal menyangkut pembangunan daerah. Begitu juga dengan Seketaris Daerah Kota Tanjungpinang selaku Ketua TAPD mesti dapat dihubungkan dengan baik dengan dewan. Ditambah koordinasi yang intens dengan DPPKAD dan Bappeda.

Menurut Akib, berkenaan dengan tugas pokok dan fungsi Sekeratis DPRD, perlu dipahami, bahwa sangat berbeda dengan SKPD lainnya. Selaku Sekwan, mesti dapat bertugas sebagaimana tugas pokok dan fungsi SKPD lainnya dan sekaligus ada lagi tugas yang tak ringan, yakni membantu kelancaran tugas­tugas Pimpinan, Anggota Dewan dan alat kelengkapan DPRD di dalam rapat­rapat, sidang­sidang DPRD, penyusunan dan pembahasan rancangan peraturan daerah, menjadi penyambung hubungan Walikota dan Wakil Walikota dengan Pimpinan dan Anggota DPRD di dalam berbagai hal menyangkut pengganggaran dan program pembangunan daerah. 

Juga kepada Sekda selaku Ketua TAPD di dalam pembahasan APBD dan APBD­P dan banyak hal lagi. Juga dapat menjalin hubungan kerja yang baik serta terukur dengan DPPKAD dan Bappeda serta Inspektorat.

"Semua harus difasilitasi dan dijembatani dengan baik, sehingga antara DPRD dengan Pemerintah Daerah dapat berjalan dengan baik, lancar, sesuai peraturan dan perundang­undangan yang ada serta sesuai dengan harapan rakyat," kata pejabat yang pada awal tahun
2016 ini telah mengikuti Assesment di LAN Jatinangor, Jawa Barat. 

Selaku Sekretaris DPRD mestilah dapat pula menjalin komunikasi yang baik dengan pihak Kajari dan Kapolres, dalam rangka kebaikan di mata hukum untuk seluruh keluarga besar Sekretariat dan Anggta DPRD.

Abdul Kadir Ibrahin alias Akib"Sekda Kota Tanjungpinang, Riono kepada saya sambil mergurau, beliau mengatakan tugas pokok dan fungsi Sekretaris Daerah dengan Sekretaris DPRD itu hanya beda­beda tipis saja. Dalam banyak halpun tetap beda­beda tipis saja. Suatu hal yang pasti, selaku Sekwan sudah sejatinya mengetahui tugas pokok dan fungsi Sekda selaku Ketua TAPD, kalau tidak tahu maka akan sulit mengkomunikasikannya dengan Pimpinan Dewan dan anggotanya," kata Akib.

Sekwan musti dapat membangun hubungan yang terbuka, sesuai visi­misi Kota Tanjungpinang dengan Pimpinan dan Anggota DPRD Kota Tanjungpinang sebagai keharusan. Bagaimanapun setiap anggota DPRD Kota Tanjungpinang yang berjumlah 30 orang itu merupakan wakil­wakil rakyat yang notabenenya adalah utusan masing­masing partai. Setiap anggota mempunyai tanggungjawab sebagaimana tupoksi anggota dewan dan niscayalah akan memberi peran terbaik bagi kelangsungan pembangunan kota dan kesejahteraan rakyat.

"Kalau kita bicara tentang rasa komunikasi dengan masing­masing anggota dewan, pasti ditemukan berbagai perbedaan pikiran dan kehendak, baik menyangkut berbagai kewajiban dan hak anggota itu sendiri, maupun terhadap pengganggaran, peraturan daerah dan pembangunan atau kesejahteraan rakyat. Dalam kaitan itu, antara Sekwan dengan segenap anggota dewan, dipastikan selalulah juga
 terjadi perbedaan pendapat, dan tak jarang perdebatan hebat. Tapi bila semuanya dikembalikan dan disandarkan kepada peraturan dan perundang­undangan yang berlaku, maka semua dapat berakhir dengan saling memahami, manis, mesra dan harmonis. Makanya, sejak awal saya sudah membangun rasa kebersamaan dalam bingkai peraturan dan perundang­undangan untuk mewujudkan kinerja segenap anggota dewan secara optimal," katanya.

Di dalam kelancaran program dan kegiatan pembangunan sebagaimana dianggarkan dalam APBD, maka peran dewan bukan sekedar ketok palu. Dewan benar­benar dituntut kemampuan, kejelian dan kepeduliannya terhadap berbagai program pembangunan yang dianggarkan bahwa benar­benar untuk membangun kota dan masyarakat semakin baik. Muaranya niscayalah kepada terwujudnya hasil pembangunan dan kesejahteraan rakyat Kota Tanjungpinang. 

"Dalam kaitan inilah Sekwan menjalankan perannya, yang antara lain menjembatani antara Pimpinan dan anggota dengan Walikota, Wakil Walikota dan Sekretaris Daerah selaku Ketua TAPD. Menjalin dan memastikan hubungan itu, menjadi kunci kelancaran agenda bersama antara DPRD dengan Pemko. Misalnya, dalam rapat­rapat anggaran atau lainnya dengan SKPD, atau pihak lain, serta dalam sidang paripurna di dewan," kata Akib yang juga dikenal
sebagai salah seorang Deklarator Hari Puisi Indonesia.

Demi kelancaran berbagai agenda pembangunan kota, terutama menyangkut Ranperda­Ranperda, maka antara DPRD dengan Pemerintah Kota tak dapat ditawar­tawar harus terjalin hubungan yang baik dan harmonis. 

"Bila antara dewan dengan Pemko, khususnya Walikota dengan dewan ada persoalan serius, maka dapat dipastikan akan berdampak buruk terhadap pengelolaan pemerintahan, pembangunan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Keharmonisan mesti diwujudkan, karena dengan cara itulah berbagai persoalan dan program atau agenda pembangunan dapat diwujudkan di tengah masyarakat. Karena itu, peran Sekwan menjadi sangat penting dan ikut menentukan," katanya.

Sepanjang menjalankan tugas, Akib senantiasa berharap dan mengingatkan anggota DPRD Kota Tanjungpinang, untuk tetap dapat menampilkan diri sebenar­benarnya sebagai wakil rakyat dengan segala harkat, martabat, marwah dan hasil kerjanya yang benar­benar mencerminkan wakil rakyat yang patut dan berpendirian untuk keberhasilan pembangunan kota dan kesejahteraan rakyat.

"Kalau bercermin kepada masa kerja dari Pemilu ke Pemilu, maka anggota dewan dalam satu periodenya hanya punya waktu lima tahun saja. Karena itu, niscayalah akan tampil sebagai yang terbaik dan memberikan pula yang terbaik untuk rakyat. Syukur­syukur prestasi yang diukir sebagai wakil rakyat dalam masa satu priode sudah menjadi catatan dan ingatan penting bagi segenap rakyat, sehingga pada Pemilu yang akan datang, tahun 2019 dapat terpilih lagi oleh rakyat. Dalam kaitan ini, bukan hanya kinerja yang dipandang, tetapi kepribadian tak kalah penting menjadi takaran oleh rakyat," harap Akib.

Berkenaan dengan tugas­tugasnya sebagai Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang, Abdul Kadir Ibrahim yang penulis buku Politik Melayu tersebut mengatakan, kuncinya koordinasi dan komunikasi yang baik dan aktif terutama kepada pejabat di Mendagri. Selama terjalin komunikasi sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Sekwan kepada Pimpinan Dewan dan anggotanya, maka segalanya akan berjalan secara patut.

Demi kebaikan bertugas, Akib berkonsultasi, minta pendapat kepada Inspektorat, BPK Perwakilan Provinsi Kepri di Batam dan kepada beberapa Dirjen Depdagri. Juga kepada Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tanjungpinang dan jajarannya, serta Kapolres Tanjungpinang.

Akib ikut membidani lahirnya Undang-undang Bahasa Indonesia tahun 2007. Serta memberikan pendapat dan kerja nyatanya untuk kemajuan pariwisata dan kebudayaan nasional, yang diakui dengan 7 penghargaan nasional dan internasional.

"Demi nama keluarga dan marwah kampung, tanah tumpah darah, Bunguran atau Natuna maka saya harus kuatkan hati dan semangat untuk berhasil. Sebagai anak dari laut, saya benar-benar bersyukur kepada Allah atas apa yang telah saya raih sehingga setakat ini. Saya selalu berikhtiar untuk berprestasi di dalam bekerja untuk masyarakat, daerah dan negara sehingga negeri tercinta Indonesia dibilangkan nama".

Sepanjang meniti karier sebagai PNS atau Aparatur Sipil Negara (ASN), Akib adalah satu di antara sedikit aparatur yang berprestasi, dan cemerlang. Menjadi CPNS pada 1 Desember 1994, kurang dari 22 tahun. Dan hanya dalam masa kerja 18 tahun 3 bulan, tepatnya pada April 2014, adinda H Bujang Idrin itu sudah berpangkat Pembina Utama Muda dengan golongan IV­C).

Pada masa kerja 12 tahun 3 bulan, tepatnya tahun 2007 Akib dipercaya menjabat pelaksana tugas (plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang. Sejak tahun 2009 sampai pehujung tahun 2016 ini suami dari Hj. Ermita Thaib, S.Ag itu sudah diberi amanah oleh Wali Kota Tanjungpinang, mulai dari Hj. Suryatati A Manan sampai H Lis Darmansyah, menduduki enam jabatan Eselon II. 

Sejak Februari 2015 sampai sekarang Akib mengemban amanah sebagai Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang. Sebuah jabatan yang sangat signifikan terhadap hubungan antara Wali Kota dengan DPRD untuk kelangsungan dan kelancaran pembangunan daerah.

Ketika diangkat menjadi pelaksana tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, tepatnya April 2007, Akib memasuki masa kerja 12,5 tahun. Jabatan resminya kala itu adalah Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang. Jabatan Eselon III yang terakhir didudukinya adalah Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Kota Tanjungpinang (2008). Selepas itu, dalam masa kerja kurang dari 13 tahun, Akib telah menduduki jabatan Eselon II, yakni menjadi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2009). Bila dilihat perjalanan kariernya sebagai PNS, Akib termasuk cemerlang dan membanggakan. 

Berikut adalah jabatan yang telah diduduki Oleh lelaki sebagai Ahli Tata Kota Wilayah Pesisir dan Pantai" jebolan S­2 UNDIP­Semarang, sejak tahun 2007­2016:

- Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang (Februari 2015­sekarang)
- Staf Ahli Wali Kota Tanjungpinang Bidang Ekonomi dan Keuangan (2014­2015)
- Staf Ahli Wali Kota Tanjungpinang Bidang Pemerintahan (2013­2014)
- Staf Ahli Wali Kota Tanjungpinang Bidang SDM (2012­2013); 
- Kepala Badan Kesbangpol Linpenmas Kota Tanjungpinang (2001­2012).
- Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2009­2011)
- Kepala Bagian Humas Setdako Tanjungpinang (2008)

- Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2007­2008)
- Kabid Sejarah, Purbakala, Nilai Budaya dan Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2006­2008).
- Kasi Sejarah, Purbakala dan Pemuseuman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2005­2006)
- Kasubdin Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2002­2005).

Akib menceritakan, sepanjang kariernya sebagai PNS, ia selalu berpegang teguh pada azas, berbuat yang patut, dan menempatkan diri sebagai aparatur yang elok dan mendudukkan diri sebagai hamba Tuhan. Dalam kaitan ini, sudah semestinya berdasarkan dan sesuai dengan peraturan dan perundang­undangan yang berlaku. Sama sekali bukan atas sesuka hati, dan seenaknya, melainkan penuh tanggungjawab, dedikasi dan inovasi yang tinggi sebagaimana sumpah janji yang sudah diucapkan.

 "Kalau hanya menjadi pegawai saja dengan tanpa ada rasa beban di hati dan akal pikiran bahwa kita telah memilih hidup sebagai abdi negara, mengurusi rakyat dan pembangunan bangsa dan negara, maka dalam melakoni pekerjaan sehari-harinya sebagai pegawai akan selambe­lewe saja. Tak kenal apa itu disiplin, apa itu tahu malu, apa itu tenggang rasa, apa itu cinta rakyat, bangsa dan negara. Tapi percayalah, meskipun masih ada pegawai serupa itu, tetapi presentasenya semakin kecil, masih teramat banyak pegawai yang baik­baik, berdedikasi tinggi, inovatif dan profesional," ujarnya pada satu kesempatan di ruang kerja Sekretariat DPRD Kota Tanjungpinang, Senggarang, Tanjungpinang.
 
Prestasi dan dedikasi Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Provinsi Kepulauan Riau ini sebagai PNS ini bukan hanya menjadi kebanggaannya sendiri dan keluarga. Ianya cukup membanggakan bagi kampungnya Kelarik, Natuna, Kepulauan Riau dan Indonesia. Patut menjadi inspirasi.

Sejak masih kanak­kanak Akib sudah merantau. Tepatnya setamat SD di Kelarik Airmali, Natuna (1981) dia melanjutkan pendidikan ke MTs di Sedanau, Ibukota Kecamatan Bunguran Barat (selesai 1984) dan merantau semakin jauh dari kedua orangtua dan saudara-saudaranya,
yakni bersekolah di MAN Pekanbaru (tamat 1987). Kemudian melanjutkan pendidikan pada IAIN Susqa Pekanbaru (selesai 1991).


"Bagi saya yang didukung sepenuhnya oleh kedua orangtua saya, melanjutkan pendidikan pada masa itu sama halnya dengan berjuang hidup­mati. Kalau diikutkan rasa di hati, pasti tak sanggup berpisah dengan ayah­bunda, meninggalkan Kelarik Ulu, Natuna sebagai kampung halaman," kata Akib.

Namun, demi nama keluarga dan marwah kampung, tanah tumpah darah, Bunguran atau Natuna maka Akib remaja harus kuatkan hati dan semangat untuk berhasil. Sebagai anak dari laut, ia benar­benar bersyukur kepada Allah atas apa yang telah diraih sehingga setakat ini. Dan itu membuatnya selalu berikhtiar untuk berprestasi di dalam berkerja untuk masyarakat, daerah dan negara sehingga negeri tercinta dibilangkan nama.

Ia juga selalu bersyukur karena sehingga kini telah beberapa keponakannya berhasil melanjutkan pendidikan, dan sudah bekerja di jajaran Pemerintah Daerah di Natuna, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri, Provinsi Riau, dan ada yang menjadi jaksa dan hakim.

Dari pernikahannya dengan Hj. Ermita Thaib, S.Ag pada 1995 dikaruniai tiga anak, yakni Tiara Ayu Karmita (26 September 1999), kelas 3 pada SMA Negeri 2 Tanjungpinang, Safril Rahmat (22 April 2002), kelas 3 pada SMP Negeri 4 Tanjungpinang dan Sasqia Nurhasanah (29 Juni 2006), kelas 5 pada SD 012 Bukit Bestari Tanjungpinang. 

Akib mempunyai beberapa orang saudara, yakni Zaharah, Nafiah (alm), Rokiah, Siti, Tunam, Isa (alm), H. Bujang Idrin, Adam (alm), Aisyah, Rosnawati dan Maria (Salos). 

"Ibunda, semua saudara dan keluarga besar saya menetap di Kelarik, Natuna. Tiga orang sudah meninggal," kata Akib.

Akib bercerita panjang lebar bagaimana pengalamannya mesti berpisah dengan kedua orangtua dan saudara­mara manakala harus melanjutkan pendidikan. Tatkala di perantauan Abdul Kadir Ibrahim tak hendak membuang waktu sia­sia. Sambil kuliah dalam tahun 1987 sudah bekerja di RRI­Pekanbaru. Wartawan SKM Genta (1989), menjadi wartawan Harian Pagi Riau Pos (1993­1995). 

Di penghujung 1994, ikut tes CPNS di Kakanwil Depdikbud Provinsi Riau, dan lulus, yang bertugas pertama sekali (Juni 1995) di Midai, Natuna. Dalam tahun 1998 pindah tugas di Tanjungpinang dan oleh ‘Petinggi’ Riau Pos H Rida K Liamsi mengajaknya aktif lagi sebagai
wartawan di Riau Pos Group, yakni menjadi wartawan Harian Sijori Pos (kini bernama Batam Pos) dan kemudian berlanjut menjadi Redaktur Pelaksana Mingguan SeMpadaN, yang terbit di Tanjungpinang dengan Pemimpin Redaksi H. Akmal Atatrick.

Berkat hubungan baiknya dengan Bupati Kabupaten Kepulauan Riau, H. Abdul Manan Saiman waktu itu, menjadikan Akib lebih mudah bergaul dan berkenalan dengan orang­orang besar di ibukota Kabupaten Kepri kala itu. Sampailah pada suatu hari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Riau, waktu itu, Drs. Robert Loriaux (berpulang ke rahmatullah, 4 Februari 2016) mengajaknya pindah ke Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Riau. Tapi malahan tak jadi, karena Tanjungpinang terbentuk menjadi Kota Otonom tahun 2001.

 Mengingat Akib adalah salah seorang yang ikut leguh­legah memperjuangkan terbentuknya Kota Tanjungpinang, maka Pejabat Walikota Tanjungpinang, Hj. Suryatati A Manan tak mengizinkannya pindah ke Kabupaten Kepri, dan bahkan menariknya pindah ke jajaran Pemerintah Kota Tanjungpinang. Maka dia pun dilantik oleh Walikota Tanjungpinang, Hj. Suryatati A Manan sebagai Kasubdin Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Februari 2002.

Sejalan dengan itu dalam 2003 Akib menemui Petinggi Riau Pos Group, H Rida K Liamsi menyampaikan pengunduran diri dari Redpel SeMpadaN (wartawan Riau Pos). Dia tak lupa kampung asalnya, dan selalu berpikir bagaimana Natuna bisa maju dari berbagai sisi. Dia bermimpi bagaimana di kampungnya itu ada media cetak yang dapat dibaca dan menjadi kebanggaan tentunya.

Maka selanjutnya atas sokongan Bupati Natuna Drs. H. Hamid Rizal dan Ketua DPRD Natuna Drs. Daeng Rusnadi serta Sekda Natuna Drs.H. Ilyas Sabli kala itu, maka dalam tahun 2005 bersama beberapa teman di Natuna mendirikan Surat Kabar Natuna Pos, yang sekaligus sebagai Pemimpin Umum sehingga sekarang.

Ingin Mengabdi di Kampung Halaman

Ketika ditanya apakah hendak balik dan mengabdi di kampung sendiri, Kabupaten Natuna, dia terdiam, matanya berbinar­binar, berkaca­kaca dan dengan tegas mengatakan sejak lama hendak sekali balik dan mengabdi di Kabupaten Natuna.

"Semoga ada jalan terbaik, ada jodoh, saya bisa balik ke Natuna untuk melanjutkan pengabdian sebagai PNS," harapnya.

Dia mengenang, dan masih ingat betul ketika ikut terlibat dalam seminar Pembentukan Kabupaten Natuna di Pekanbaru tahun 1993, dan dalam Kongres Rakyat Kepulauan Riau di Tanjungpinang tahun 1999. Juga betapa ia masih ingat ketika menjadi salah seorang yang oleh Pejabat Bupati Natuna, Drs. H. Andi Rivai dimintakan ikut memberi pendapat terhadap langkah awal dan kelangsungan pembangunan Natuna. 

Akib jadi teringat dengan masa kecilnya bersama saudara­saudaranya, yakni Mustafa, Suardi, Yusuf, dan Ramli. Katanya, banyak hal yang takkan pernah terlupakan dalam hidupnya, antara lain tatkala masih kanak­kanak di Natuna bersama 
ayah­bunda, sebagai anak laut, orang pulau yang juga berkebun kelapa, sagu, cengkeh, getah, bersawah padi dan berkebun tanaman muda. 

Begitu pula waktu bersekolah di Sedanau, tinggal menumpang di rumah saudara dan kerabat. Dia takkan pernah melupakan jasa­budi kerabat ayahnya, yakni H Raja Nyat dan keluarga, yang paruhan pertama kelas 1 MTs Sedanau, Akib tinggal di rumah tokoh Sedanau itu. Kemudian ketika masih kelas 1­2 MTs Sedanau Akib tinggal pula bersama Datuknya H Zaman Ali. 

"Ayah Hude Raja Nyat dan Datuk H Zaman Ali dan keluarga sangat menyayangi saya," kata Akib.

Seiring waktu menjelang naik ke kelas 3 MTs Sedanau Akib diajak pamannya Ismail tinggal pula di rumahnya.  

"Sehingga sekarang dan sampai kapanpun saya selalu teringat dengan Yahngah Ismail dan seluruh keluarganya," kenang Akib.

Pada suatu masa, adik sepupunya Suardi (beberapa tahun terakhir menjadi salah seorang pengusaha minyak dan anggota DPRD Bintan) mengajaknya tinggal bersama di rumah ayah saudara sendiri, yakni Ibrahim Darun. Maka pada akhirnya ia dan Suardi tinggal di rumah Yahsu Ibrahim, dan isteri beliau Maksu Ina. 

"Waktu itu anak­anak beliau masih kecil­kecil, yakni Khaidir, Hadisun dan Ika. Saya sangat bahagia dan bersyukur, karena saudara­mara, dan kerabat ayah dan ibu saya di Sedanau sebagaimana disebutkan itu sangat baik dan menyayangi saya, sehingga saya dapat berhasil sekolah di Sedanau dan kemudian melanjutkan sekolah ke Pekanbaru," kisah Akib.

Akib merasa takkan lupa juga dengan kenangan ketika bersekolah di Pekanbaru, yang kala itu sulit sekali berhubungan dengan ayahbunda, hanya melalui surat atau telegram. Kalau Ayah mau menelegram, maka dari kampung Kelarik harus menempuh pelayaran kapal motor sekitar 3 jam ke Sedanau. 

"Pokoknya banyak kesulitan," kenang penyair yang dijuluki Penyair Mutakhir­Modren Cakrawala Sastra Indonesia itu.

Akib yang juga dinobatkan sebagai Penjaga Sastra Melayu Modern menyebutkan, masih banyak kenangan, terutama dengan saudara-saudaranya ketika di Kelarik­Natuna, yakni Suardi (kini anggota DPRD Bintan), Yusuf (Sekdes Kelarik Utara), Mustafa (Guru di Kelarik), dan Ramli (Mantan Kades Kelarik Utara). 

Suardi dan Ramli adalah adik sepupunya dari sebelah ayah. Sedangkan Yusuf dan Mustafa adalah abang sepupu dari sebelah ibu. 

"Kami bersaudara yang saya ibaratkan untuk menggambarkan kenekatan kami meninggalkan kampung, merantau pergi bersekolah dalam tahun 1980­an sebagai "Anak Fajar dari Laut". Saya, Suardi, Mustafa dan Ramli merantau meninggalkan kelarik ke Sedanau dan Yusuf ke Ranai. Setelah itu saya ke Pekanbaru, Mustafa ke Ranai, Suardi dan Ramli ke Tanjungpinang. Alhamdulillah kami berhasil dan semoga saja dapat membanggakan kedua orangtua," kenang Akib.

Kenangan indah lainnya kata Akib, ketika pindah dari Pekanbaru ke Midai pada Juni 1996. Waktu itu Akib bersama isteri tercinta, Ermita, yang baru dinikahinya pada 28 Mei 1995. 

"Pindah ke Midai, saya dan isteri anggap sebagai berbulan madu. Tapi beberapa bulan kemudian, isteri saya harus ke Pekanbaru untuk mengikuti ujian sarjana. Sulit dilupakan bagaimana rasanya dalam suasana pengantin baru, tetapi harus berpisah dalam waktu yang tak singkat, demi sang isteri meraih cita­citanya. Dan banyak kenangan yang luar biasa bersama masyarakat Midai, khususnya keluarga besar saya H Sabki dan H Muhammad Ali, yang masih tetap segar dalam pikiran dan ingatan saya sehingga saat ini," ujar Akib tersenyum.

Kerinduan-kerinduan akan kenangan itulah yang selalu membangkitkan hasrat Akib untuk memberi bakti dan pengabdian di kampung halamannya. Dia ingin sekali berkarya di Natuna yang kini sudah menjadi sebuah kabupaten sendiri.

"Semoga Allah memberi saya kesempatan untuk ikut bersama Bupati A Hamid Rizal dan Wakil Bupati Ngesti untuk membangun Natuna lima tahun mendatang. Jika Allah menghendaki, tak ada yang sulit, semua bisa terwujud dan berjalan dengan mudah," kata Akib yang pernah ikut secara khusus Diklat Penataan Keuangan Pemerintah Daerah oleh BPKP Pusat, di Bogor tahun 2014.

Dia berharap, mudah­mudahan dapat ambil bagian dan berjodoh menjadi pembantu bupati dan wakil bupati Natuna priode 2016­2020 dalam jabatan yang strategis sehingga memungkinkan dapat berbuat banyak untuk Kabupaten Natuna.

"Insyaallah," ujarnya.(adv)
 
 
Kepri Beruntung Punya Akib

Abdul Kadir Ibrahim yang akrab dipanggil Akib lahir di Tanjungbalau, Kelarik Ulu, Bunguran-Natuna, Kepulauan Riau, 4 Juni 1966 dari pasangan H. Ibrahim Bukit dan Hj. Hatijah Naim. Istri Ermita Thaib, S. Ag dengan tiga anak, Tiara Ayu Karmita (26 September 1999), Safril Rahmat (22 April 2002), dan Sasqia Nurhasanah (29 Juni 2006).

Pendidikan yang pernah dienyamnya adalah Magister Teknik (S-2) Program Magister Pembangun Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro, Semarang (2008), Sarjana Pendidikan Agama Islam (S-1), Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Qasim (SUSQA), Pekanbaru (1991), Madrasah Aliyah Negeri (MAN), Pekanbaru (1987), Madrasah Tsanawiyah , Sedanau-Natuna (1984), dan Sekolah Dasar (SD) Kelarik-Natuna (1982).

Pada 2013 Akib ditetapkan oleh Tim Penilai Anugerah Sagang sebagai Seniman Serantau Pilihan Sagang. Anugerah ini tak terlepas dari ketunakan, kesungguh-sungguhan dan kesinambungannya dalam berkesenian sejak masih di Pekanbaru hingga Tanjungpinang.

Telah berkiprah dalam dunia seni sejak masih kuliah di Pekanbaru dalam 1980-an. Bahkan setelah ia masuk dalam jajaran birokrat di Pemerintah Kota Tanjungpinang, kiprahnya di bidang seni budaya tak luntur. 

Akib, selain terlibat sebagai penggagas berbagai iven, ia juga aktif menulis dan produktif menerbitkannya. Namun begitu, ia tetap merasa sebagai orang yang belum melahirkan karya seni yang dapat dikatakan terbilang dan dibilang. 

Akib mengaku, dirinya telah berkesenian sejak SD. Kala itu ia menjalaninya di Kelarik Natuna dan MTs di Sedanau-Natuna. Sejak sekolah di Natuna dan sampai Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pekanbaru aktif sebagai seniman musik. 

"Saya anak band. Saya pemain gitar melodi. Sedikit-sedikit bisa menabuh dram. Tapi pada 1985 saya mulai bermesraan dengan karya sastra dan kemudian menulis puisi, naskah teater dan cerpen," kenang Akib. 

Pada akhirnya, karya-karyanya itu, dalam bentuk naskah teater ada yang dipentaskan di sekolah. Sedangkan puisi dan cerpen ada yang dibaca di acara bulan bahasa di sekolah. 

Dimuat di media massa terbitan Pekanbaru, antara lain pada 1990-an di Riau Pos, dan RRI Pekanbaru. Sampailah pada 1991 terbit kumpulan puisinya yang pertama 66 Menguak diterbitkan oleh Bengkel Teater Bersama, Pekanbaru.  

Akib kemudian berkisah tentang aktivitasnya sebagai wartawan Riau Pos dan tetap dengan sungguh-sungguh menulis karya sastra, berupa puisi, cerpen dan esai sastra. Aktif pula dalam berbagai iven kesenian di Pekanbaru dan pementasan teater di Pekanbaru dan Padang. Lima tahun kemudian, lanjut Akib, cerpennya berjudul Kerikil menjadi salah satu karya sastra pilihan Sagang 1996. 

Setelah ia aktif dalam berbagai kegiatan seni, termasuk sastra, akhirnya Akib hijrah ke Midai-Natuna. Di pulau itulah Akib kemudian menulis cerita anak yang berjudul Kanak Segantang Pulau, yang kemudian dinyatakan sebagai pemenang nominasi nasional dari Provinsi Riau dalam Sayembara Penulisan Buku Pusat Perbukuan Nasional 1997. 

"Berkat kemenangan buku itu, saya akhirnya dapat pindah dari Midai ke Tanjungpinang pada pertengahan 1998," kenang Akib.

Ketika di Tanjungpinang, di samping sebagai guru di SMP Negeri 4 Tanjungpinang, Akib juga menjadi Redaktur Tabloid Sempadan (Riau Pos Group). Meski sibuk, Akib terus menulis karya sastra, dan menggelar beberapa acara kesenian di Tanjungpinang. 

Pada 2000, akhirnya kumpulan cerita pendeknya pun terbit, Menjual Natuna, yang diterbitkan oleh Yayasan Sagang. Akib menggelar peluncuran dan baca cerpen dari kumpulan cerpen Menjual Natuna di Gedung Biram Dewa, kompleks Gedung Daerah Tanjungpinang.

Tahun berikutnya, buku cerita anak Harta Karun terbit (Unri Press, Pekanbaru, 2001). Buku itu diluncurkan dan dibacakannya juga di Gedung Biram Dewa, yang pada peluncuran itu tampil budayawan Hasan Junus sebagai pembahasnya. 

Ditambahkannya, sebuah peristiwa sejarah yang tak kalah berkesan dirasakan Akib adalah ketika mendapat kesempatan diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Junewal Muchtar membaca puisi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta dan Fakultas Ilmu Budaya-Universitas Indonesia 2004.

"Di taman Ismail Marzuki, buku kumpulan puisi saya yang kedua, Negeri Air Mata diluncurkan. Dibahas oleh sastrawan ternama, guru besar UI, Prof Dr Sapardi Djoko Damono. Saya dan Bang Lawen baca puisi, dan alhamdulillah, mendapat sambutan secara nasional," tutur Akib. 

Akib berazam, akan terus berkesenian, melahirkan karya-karya seni, khususnya sastra. 

"Azam saya, bahwa saya punya kewajiban untuk menerusi kegemilangan kepengarangan Mazhab Riau sebagaimana yang sudah diwarisi oleh Raja Ali Haji, Datuk Kaya Haji Ibrahim, Aisyah Sulaiman, dan sehingga diteruskan oleh generasi selepasnya, Rida K Liamsi, Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah dan lainnya," cetusnya.

Meskipun dalam situasi dan kondisi yang jauh berbeda dengan era kepengarangan Raja Ali Haji dan generasi selepasnya, Akib akan terus melahirkan karya sastra. Untuk itu ia pun siap untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan anak-anak, generasi muda di Tanjungpinang khususnya, dan Kepri umumnya.

Anugerah Sagang yang diterima Akib itu menjadi kebanggan masyarakat dan pemerintah daerah kabupaten/kota dan Provinsi Kepri. Sebab, Akib dalam kepengarangan sastra modern Indonesia, dikatakan banyak kritikus, akademisi atau pun sastrawan nasional, telah memberi andil yang berarti. 

Salah seorang pakar yang memberikan pendapatnya tentang eksistensi Akib sebagai seniman, sastrawan, dan budayawan, adalah Prof Dr Harimurti Kridalaksana, dalam tulisannya yang berjudul Akib Penerus Raja Ali Haji, sebagai buku Tanah Air Bahasa Indonesia, Komodo Books, 2013. 

Kata Harimurti, masyarakat Kepulauan Riau beruntung karena kiprah budayawan Abdul Kadir Ibrahim (Akib) yang karya kreatif dan kepeduliannya mewakili kejayaan masyarakat Melayu abad ke-20 dan ke-21. 

Periode yang bersambung ke masyarakat Indonesia modern, pewaris langsung masyarakat Melayu Riau. Karya-karya, membuktikan bahwa Akib menjalankan perannya sebagai eksponen kedua priode kebudayaan itu.

 Bukunya yang sudah terbit antara lain 66 Menguak (kumpulan puisi,1991, cetak ulang 2004), Menggantang Warta Nasib (antologi bersama penyair Riau, 1992), “kerikil” dalam Sagang ’96 (bersama sejumlah penulis, karya pilihan Sagang, Riau Pos, 1996), Pancang-pancang Universitas Riau (bersama sejumlah penulis, 1994), Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu (bersama Sindu Galba, 2000), Cakap Rampai Orang Patut-patut (bersama Muchid al Bintani, 2000), Menjual Natuna (kumpulan cerita pendek, 2000), Harta Karun (kumpulan cerita anak-anak pemenang nominasi nasional, yang terbit tahun 2001 dan 2002), Aisyah Sulaiman Riau Pengarang dan Pejuang Perempuan (bersama penulis lain, 2004), Sejarah Perjuang Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia (bersama penulis lain, 2004) Negeri Airmata (kumpulan Puisi, 2004), Rampai Islam: Dari Syahadat Sampai Lahat (kumpulan tulisan lepas di berbagai media massa, 2006), Hj. Suryatati A. Manan: Revitalisasi Sastra Melayu (Penyelenggara, 2009), Penafsiran dan Penjelasan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji (bersama sejumlah penulis, 2009), Nadi Hang Tuah (2010), Tanjungpinang Punya Cerita (antologi puisi dan cerpen, 2010), dan Dermaga Sastra Indonesia (Komodo Books, 2010).

Pernah menerima penghargaan nasional, man of the year 2009 dari Yayasan Penghargaan Indonesia untuk pengabdiannya dalam memajukan bidang sastra, kebudayaan dan pariwisata yang memberi pengaruh kepada kemajuan sastra, kebudayaan dan pariwisata Indonesia. Kemudian, Indonesian Best Executive of the year 2009 dari Citra Mandiri Indonesia, atas perannya dalam pemimpin Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang sehingga bidang kebudayaan dan pariwisata Kota Tanjungpinang mencapai kemajuan yang sekaligus memberi andil terhadap sektor kebudayaan dan pariwisata nasional Indonesia.

Kehadiran Akib sebagai penyair Indonesia, juga telah didedahkan sejumlah penulis yang terangkum dalam Abdul Kadir Ibrahim Penyair Sastra Indonesia (Akar Indonesia, Yogyakarta, 2008). Dalam buku Pamusuk Eeneste: Bibliografi Sastra Indonesia, Yayasan Indonesiatera, Magelang, Indonesia, 2001. Buku Korrie Layun Rampan: Leksikon Susastra Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2000. Dalam Prof. Dr. Hasanuddin WS: Ekseklopidi Sastra Indonesia, Titian Ilmu, Bandung, 2009.

Abdul Kadir Ibrahim adalah seorang putra daerah yang betul-betul tulen. Karena itu, putera daerah ini tidak sekadar mengenal nilai-nilai daerahnya dengan baik dari segi kognisi, tapi juga dari segi penghayatan, yaitu, apa yang dalam bahasa Jerman namakan verstehen. Akib adalah putra daerah Kepulauan Riau totok, yaitu tanpa campuran, dan karena itu, maka segala sesuatu yang berkenaan degan nilai-nilai Kepulauan Riau benar-benar menjadi darah dagingnya.

Akib sebagai putra daerah tetap melaksanakan tuntutan nilai-nilai lokal daerahnya, sebab nilai-nilai tersebut baginya tidak mungkin ditinggalkan. Masih ada lagi aspek lain dalam sosok Akib, yaitu psikomotor ganda: pertama, kemampuan untuk menerapkan nilai-nilai lokal, dan kedua, kemampuan untuk menuliskan nilai-nilai lokal dalam bentuk cerpen.

Akib tahu persis dan mengalami bagaimana menjadi anak pulau, orang laut, bermain gelombang, bertepang badai. Kolek, jongkong, sampan ataupun jaring amat akrab dengannya. Dia adalah seorang di antara anak yang mewarisi hal ikhwal kemaritiman negeri.
 Dalam tahun 2013, Abdul Kadir Ibrahim, menerbitkan 9 judul buku sekaligus yang diberi tajuk sebagai "Seri Tuah Melayu". 

Buku tersebut yakni

- Tanah Air Bahasa Indonesia (Esai Bahasa & sastra, Pengantar: Prof. Dr. Harimurti Kridalaksana, Komodo Books, 2013);

- Kartini & Aisyah Cinta Sekian Mendalam (Esai, Milaz Grafika & Tamadun Melayu Institute/ Balai Buku Dunia, Tanjungpinang, 2013); 

- Politik Melayu (Esai, Pengantar: Dr. Muchid Albintani & Jamal D Rahman, Komodo Books, 2013); 

- Memburu Kasih Perempuan Sampan (Novel, Pengantar: Raudal Tanjung Banua, Akar Indonesia, 2013); 

- Karpet Merah Wakil Presiden (Kumpulan Cerita Pendek, Pengantar: Putu Wijaya, Komodo Books, 2013); 

- Santet Tujuh Pulau (Kumpulan cerita pendek, Pengantar: Agus R Sarjono, Komodo Books, 2013); 

- Harta Karun (Kumpulan cerita anak & remaja, cetakan ke­3, Pengantar: Elmustian Rahman, Komodo Books, 2013); 

- Tanjung Perempuan (Kumpulan cerita pendek, Pengantar: Prof. Dr. Budi Darma, Komodo Books, 2013);

- Mantra Cinta (Kumpulan puisi, Akar Indonesia, 2013). 

Pernah menjadi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang selama tiga tahun (2007, dan 2009­2010). Dalam kedudukannya sebagai Kepala Dinas itu, dia menjadi Penanggungjawab dan Ketua Pelaksana Temu Sastrawan Indionedsia (TSI) III di Tanjungpinang tahun 2010. Kemudian menjadi Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Tanjungpinang (2011­2012), Staf Ahli Walikota (2012­2015) dan sejak Februari 2015 menjadi Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang.

Tampil menjadi narasumber (pemakalah) dalam acara tingkat provinsi, nasional dan internasional. Beberapa karya puisi dan cerita pendeknya ataupun ulasan tentang karya­karyanya ataupun kepengarangannya oleh sejumlah penulis (pengarang) pernah dimuat
(disiarkan) di Harian Riau Pos, Harian Batam Pos, Harian Haluan Kepri, Harian Tanjungpinang Pos, Majalah Sagang, Majalah Suara, Harian Kompas, Harian Media Indonesia, Harian Republika, Harian Sinar Harapan, Harian Suara Pembaruan, Majalah Horison dan lain­lain.

Dalam tahun 2016 terbit bukunya Doa Mekar Cinta Mekar Laut Mekar Langit dan segera terbit pula buku khusus tentang PNS yakni "Jadilah Pegawai Negeri!" dan "Tradisi Lisan Melayu Khazanah Kekinian".*** 
Berita Terkait
Berita Terpopuler
Back To Top