ARANG HABIS BESI BINASA

ARANG HABIS BESI BINASA

22 Juni 2017 - 07:32:00 WIB | Oleh: Redaksi Riau
Untuk diri sendiri, sahabat dan taulan di kabupaten Bengkalis
Oleh Syaukani Syaukani Al Karim

Pada awal tahun 1800-an, atau awal abad ke-19, ada dua orang tokoh Melayu bertengkar. Keduanya memiliki kuasa, memiliki pengikut setia, dan keduanya bermasutautin di kerajaan yang sama, kerajaan Riau [Riau-Johor-Lingga] dan segala takluknya. Kekuasaan kerajaan ini awalnya sangat luas untuk ukuran saat itu, dan sangat disegani oleh kerajaan lain, bahkan oleh Belanda dan Inggris.

Tokoh pertama, bernama Raja Jaafar ibni Raja Haji. Raja Jaafar adalah Yang Dipertuan Muda Riau [Perdana Menteri] ke-VI yang memerintah tahun 1806-1832, menggantikan ayahnya Raja Haji Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang, yang syahid di Teluk Ketapang melawan Belanda [kini pahlawan nasional]. Tokoh yang kedua bernama Tengku Husin. Beliau adalah putra mahkota dari Yang Dipertuan Besar [sultan] Riau ke-VI, Mahmud Syah [1761-1812]. Waktu itu, Kerajaan Riau menggunakan sistim semacam federasi dengan dua sumbu kekuasaan, kepala negara dan kepala pemerintahan, seperti yang digunakan Malaysia saat ini.

Pertengkaran yang konon bermula dari urusan ranjang, yaitu perseteruan merebut putri pembesar kerajaan, yang bernama Buntat atau Puan Bulang, yang dimenangkan oleh Tengku Husin, akhirnya menjadi panjang, sampai ke persaingan kekuasan, antara kelompok Melayu dan Kacukan Melayu-Bugis. Ketika Yang Dipertuan Besar Riau, Mahmud Syah wafat, Raja Jaafar selaku Yang Dipertuan Muda, yang menjadi pemegang dan pengendali teraju kekuasaan, menolak untuk melantik Sang Putra Sulung, Tengku Husin menjadi Sultan, dan memilih Tengku Abdurahman, sang adik sebagai Sultan atau Yang Dipertuan Besar Riau. Tengku Abdurahman memerintah dari 1812-1832.

Pertikaian ini, akhirnya membuka pintu, bagi masuknya pihak asing. Dengan Dukungan Thomas Stanford Raffles, Tengku Husin, meski tak disetujui oleh Engku Puteri Hamidah sebagai pemegang Regalia Kerajaan Riau, kemudian diangkat menjadi raja di Tumasik [Singapura]. Sejak peristiwa itu, perpecahan pun mengambang di depan mata, dan membuat kekuatan kerajaan Riau melemah.

Pada 17 Maret 1824, melalui Traktat London [Treaty of London], atau Perjanjian Britania-Belanda, Inggris dan Belanda, bersepakat secara bersama untuk menguasai kawasan Melayu [Riau] dan membaginya menjadi 2 [dua] wilayah: Sebelah Utara, kawasan Tumasik dan Semenanjung dikuasai Inggris, dan sebelah Selatan [Riau] di kuasai Belanda. Ujungnya, pada 13 Februari 1911, pemerintah Hindia-Belanda memakzulkan sultan terakhir secara in absentia, membubarkan kerajaan, dan menguasai secara utuh kerajaan Riau pada tahun 1913. Arang habis, besi binasa. Kawasan kerajaan Riau itu kemudian setengahnya menjadi Indonesia pada tahun 1945, dan setengahnya menjadi negara bagian dalam federasi Malaysia.

Apa yang terjadi di kerajaan Riau pada masa lampau, semestinya menjadi iktibar buat masa kini. Kita harus menginsyafi, bahwa perpecahan sesama sendiri, selalu memberikan mudarat bagi kelansungan sebuah puak, wangsa, atau negeri. Hal yang sama kita saksikan diberbagai belahan dunia. Dalam sejarah, kita diajarkan bagaimana sebuah bangsa besar dari segala aspek, seperti Cina, takluk oleh serbuan bangsa Mongol, dan bahkan diduduki pula oleh Jepang, karena mereka saling bertengkar. Tapi ketika mereka bersatu, kita hari ini, juga menyaksikan bagaimana Cina tumbuh menjadi negara yang disegani, menjadi sebuah kekuatan dunia yang demikian diperhitungkan.

Hal yang sama terjadi pula di kawasan Timur Tengah, perbedaan yang menajam, antar negara teluk, membuat Amerika Serikat dan sekutunya, berhasil menjadi “penguasa yang sesungguhnya” di kawasan itu. Sungguh, Kurangnya persatuan, pada akhirnya membuat bangsa apapun, sebesar apapun potensinya, akan menelan kegetiran untuk jangka waktu yang panjang.

Perpecahan adalah akar dari semua kebinasaan. Karenanya, tidak berlebihan kalau kemudian, para pakar dan filsuf ilmu politik, meletakkan persatuan dan kebersamaan sebagai tiang agung kebesaran sebuah bangsa dan kemajuan sebuah negeri. Dalam kajian ilmu politik, kebersamaan dan persatuan bahkan dipandang sebagai salah satu dari national powers, kekuatan yang sangat menentukan dalam hikayat jatuh bangun sebuah bangsa.

Sebesar apapun kekuatan, atau sumberdaya, maupun peluang yang tersedia, tidak akan memberikan arti yang banyak, jika sesama kita saling bertelagah antara satu dengan yang lain. Pertelagahan hanya akan membuat kita lemah, menjadi saling membenci, berpotensi saling menyakiti, dan yang paling tragis adalah, bahwa kebencian, permusuhan, dan pertelagahan yang tiada henti, hanya akan menyeret negeri ke jurang kehancuran.

Dalam konteks tanah junjungan kita ini, semua kita harus menyadari, bahwa negeri ini, tanah Melayu ini, hanya akan bisa kuat, jika semua komponen, yang berbilang agama dan kaum, saling bergandeng tangan. Negeri yang bersatu, seperti laut yang memiliki gelombang besar, dan gelombang besar, akan dapat menaklukkan tebing inci per inci.

Setiap kita mencintai tanah ini dalam kapasitasnya masing-masing dan dengan pemahaman masing-masing pula. Tanah ini bagaikan ibu yang mengasuh dan membesarkan kita semua. Jika kita, para putra tanah, saling bertengkar, saling bertukar tikam, saling berkirim luka, dan bersahut pedih, maka tanah ini akan menangis, akan menjadi mater dolorosa, menjadi bunda yang amat berduka. Kita tidak menginginkan itu terjadi.

Dengan hati yang putih, haruslah saling menghilangkan adanya kata “mereka”, sebutan “kami”, atau pun “kalian”. Setelah sebuah pesta usai dan panggung dibersihkan, maka “mereka”, “kami”, dan “kalian”, harus berkumpul kembali sebagai “kita”, sebagai keluarga dan saling memuliakan. Sebagai keluarga, kita bersalam rindu, saling berucap cinta, dan kemudian bersembang dengan penuh kasih sayang. Selanjutnya dengan sepenuh cinta dan kasih sayang itu pula, kita melakukan ikhtiar bersama, saling bahu membahu, saling mengumpulkan kekuatan, untuk menghela negeri ini ke arah yang kita cita-citakan.

Keragaman berbagai latarbelakang, tentulah akan memunculkan perbedaan pandang, akan terjadi selisih pemikiran, atau beragam corak ide. Perbedaan pandang, bukan sesuatu yang haram, hal itu demikian lumrah dan sekaligus merupakan fitrah penciptaan manusia. Dalam kitab suci, secara tegas dinyatakan tentang penciptaan manusia yang berbeda itu sebagai tanda kekuasaan Allah.

Perbedaan adalah sebuah rahmat, sepanjang ianya disikapi dengan semangat kemaslahatan dan kebaikan bersama. Perbedaan adalah sebuah tanda bahwa dalam hidup kita diminta untuk saling menenggang antara satu dengan yang lain, saling memahami kebenaran satu dan yang lain, karena kita yakin dan percaya, bahwa setiap orang berpeluang untuk benar, sebab kebenaran adalah sesuatu yang maha luas. Juga setiap orang berpeluang untuk melakukan kesalahan, karena kesalahan bisa tumbuh dan merecup dari segala sebab dan keadaan.

Sekali lagi, kita boleh saja berbeda pendapat, bersimpang konsep, bersilang ide, atau berlawanan pemikiran. Namun demikian, sepanjang perbedaan itu kita adun dan kita kemas dalam itikat kebaikan bersama, maka segala perbedaan yang ada akan muncul laksana warna-warna yang melahirkan pelangi, atau perbedaan warna yang memunculkan keindahan lukisan. Dalam itikat kebaikan bersama itu juga, keragaman akan bermetamorfosis menjadi kekuatan yang tiada taranya dalam menghela tanah ini ke arah kemajuan.

“Seandainya saja manusia mau mengambil pelajaran kehidupan dan perjuangannya dari cara hidup semut yang saling tolong-menolong, saling menopang, dan memiliki kekuatan dalam persatuan,” ungkap Sa’ad Al Bawardi dalam risalahnya Filsafat Orang Gila atau Falsafah Al Majanin, “maka akan tercipta suatu tatanan masyarakat yang ideal, penuh kebersamaan, penuh cinta dan persaudaraan.”

Mari kita bersatu, dengan bersatu kita dapat menahan seteru. Dengan seiring langkah negeri akan berkah, dengan saling percaya negeri akan bercahaya, dan dengan saling merangkul, segala yang berat akan dapat kita pikul. Sebaliknya, jika berpecah, binasa akan singgah, jika bertengkar, nasib baik akan tertukar, jika saling menikam kampung akan diselubung kelam, jika saling membenci tanah akan kehilangan seri, dan jika saling fitnah, di situ celaka duduk bertanah.

Kearifan yang terkandung dalam budaya Melayu juga mengingatkan kita berabad-abad yang lampau agar selalu menjaga hubungan dan kebersamaan, saling menjaga kehormatan dan kesetiaan, serta melarang kita semua mengkhianati antara satu dengan yang lain. “Apabila penduduk sebuah negeri, setengahnya bersalahan dengan setengah yang lain, lalu penuhlah seisi negeri dengan umpat keji, fitnah, dan caci maki, maka itulah negeri yang akan menuju kebinasaan”. Sepotong kalimat nasihat dari risalah tua Melayu ini, patut kita renungkan bersama.

Penulis adalah seniman, sastrawan, budayawan, dan ketua DPD PAN Kabupaten Bengkalis.
Berita Terkait
Berita Terpopuler
Back To Top