Bersekolah Janganlah Susah

Bersekolah Janganlah Susah

18 Juli 2017 - 03:07:00 WIB | Oleh: Redaksi Riau
Ilustrasi (g. net)
Oleh Hang Kafrawi

Pendidikan itu sangat penting untuk membangun suatu bangsa agar lebih bermartabat di mata dunia. Dengan pendidikan yang baik, maka bangsa ini akan bertambah baik ditukangi oleh generasi muda yang berwawasan luas dari hasil pendidikan. Hal penting terkait pendidikan ini bukan saja di mata pemerintah, rakyat juga memiliki pikiran yang sama; pendidikan adalah senjata menuju sejahtera. 

Berlandaskan prihal pendidikan bagian yang terpenting bagi suatu bangsa, pemerintah pun tanpa henti melakukan ubahsuai untuk menemukan bentuk yang tepat bagi pendidikan di negara ini. Berbagai kebijakan pun dikeluarkan agar pendidikan berjalan dengan mulus dan anak didik menjadi generasi yang berkualitas. Namun terkadang kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah menjadi polemik di kalangan masyarakat. Bahkan menjadi pertentangan yang tak pernah usai. 
Inilah beratnya memiliki kawasan yang luas, berpulau-pulau dan hidup rakyatnya belum sejahtera. Terkait kebijakan yang diperuntukkan bagi pendidikan (sekolah), diperlukan penafsiran bijak, yang sesuai dengan daerah. Memang kebijakan pendidikan itu datang dari Pemerintah Pusat, namun terbuka peluang menafsirkannya pula kebijakan itu untuk keperluan di daerah; untuk kemudahan rakyat. 

Masalah inilah yang tidak habis pikir Atah Roy, setiap kebijakan selalu saja memunculkan masalah bagi rakyatnya. Seharusnya, menurut Atah Roy, kebijakan itu untuk kepentingan rakyat banyak, bukan untuk kepentingan yang lain-lain. Masalah daya tampung untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2017 juga menjadi perselisihan. Sudah jelas bahwa kebijakan itu, salah satunya terkait sistem zonasi yang harus diterapkan oleh sekolah, mengetumakan 90 persen anak yang berdekatan dengan sekolah. Namun demikian, daya tampung juga, menurut Atah Roy, harus dipikirkan. Bagaimana anak bisa sekolah, kalau di suatu sekolah terbatas 34 anak baru, sementara anak yang hendak sekolah 100 orang. 

“Inilah yang menjadi masalah kite selame ini, Tah, kebijakan dibuat tidak menenguk ke bawah,” ucap Tamam Cengkung membuka cerita di kedai kopi Nah Meun. 

“Betul tu, Mam, kite ini asik nak menghasilkan sesuatu yang mantap, tapi kenyataannye kite belum siap. Belum siap di segala lini,” tambah Udin Kengkang pula. 

“Aku tak suai kalau kebijakan dijalankan tanpa ade diskusi dengan rakyat jelata de. Siape yang anaknye tak mau sekolah di kampung kite ini? Semue orang tue mau anaknye bersekolah, tapi nak masuk sekolah pulak bukan main payah,” ujar Tapa Sulah.

“Kite paham bahwe pendidikan harus diatur agar terjadi kesimbangan pade masyarakat kite. Tak salah de kebijakan apepun yang dibuat, sebab kebijakan dibuat itu untuk mengatur agar pendidikan berjalan sesuai standar. Tapi jangan pulak gegera nak mengejar standar ke tadi, budak-budak susah bersekolah. Bagi kite, rakyat jelata ini, anak-anak masuk sekolah mudah dan belajar pulak dengan lanco. Itu saje, tak ade yang lain de,” jelas Tamam Cengkung sambil menghirup kopinya yang masih berasap alias panas. 

“Menurut aku macam itu juge. Kebijakan itu dibuat, ngikut kate orang-orang mase kini, haruslah pro rakyat, bukan menjadi kontra di antara rakyat. Macam kasus SDN 78 dan SDN 90 Pekanbaru, pago sekolah kene gembok masyarakat...,”

“Ape pasal kene gembok pulak?” tanya Tapa Sulah memotong perkataan Udin Kengkang.

“Tunggu dulu, aku belum selesai becakap. Dikau ni asik menyampuk cakap orang aje, Pa. Ini yang membuat orang malas hendak menjelaskan sampai tuntas. Dengo dulu cakap aku, kang salah tafsir pulak dikau dengan informasi dari aku,” ucap Udin Kengang agak geram. 

“Auk dikau ni, Pa, asik nak menyampuk aje kejenye. Kang salah pulak orang yang menyampaikan informasi,” tambah Tamam Cengkung. 

“Yelah, maafkanlah aku yang suke menyampuk cakap orang ni. Dipersilekan lanjutkan informasi dikau tu, Din. Sekali lagi, aku minta maaf dari ujung rambut sampai ujung kaki,” ujar Tapa Sulah. 

“Masyarakat yang tinggal dekat di 2 sekolah tu memprotes disebabkan anak-anak di tempat itu banyak yang tidak bisa sekolah disebabkan dah penuh. Sementare menurut Kepala Sekolahnye mereke menjalankan kebijakan. Mereke cuma bisa menerima siswa baru berjumlah 36 murid, sedangkan yang mendaftar 100 murid. Kan kalau macam ini jadi serba salah kite dibuatnye. Siape hendak disalahkan? Masyarakatkah? Pihak sekolahkah? Atau kebijakan sekolah itu?” ucap Udin Kengkang sambil melemparkan pertanyaan. 

“Kalau aku tetap menyalahkan kebijakan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang harus dihadapi,” jawab Tamam Cengkung. 

“Kan bisa cari sekolah yang lain. Atau masuk aje sekolah swasta. Di kota kan banyak sekolah, kecualilah macam di kampung kite ini,” jawab Tapa Sulah pula. 

“Dikau anggap ekonomi masyarakat same semue, Pa? Jangan dikau salah, di kota juge banyak orang yang melarat macam kampung kite ini. Masuk sekolah lain yanh jauh dari tempat tinggal, tak memakan biaya transportasi? Kalau masuk sekolah swasta, duit juge harus ade banyak,” jelas Tamam Cengkung semakin geram kepada Tapa Sulah. 

“Kalau itu aku tak tahu pulaklah. Tapi entahlah menurut Atah Roy kite yang diam aje dari tadi, mungkin die bisa menjelaskan permasalahan yang sedang kite bincangkan ini,” ucap Tapa Sulah sambil memandang ke arah Atah Roy. 

“Menurut akulah ye, sebelum kebijakan itu diberlakukan, seharusnye ade pantauan keadaan kite yang sebenenarnye. Kalau belum layak, cakapkan belum layak, jangan belum layak dicakap layak. Kadang kala, kite ni selalu mengatekan siap, padahal tidak siap. Hal ini disebabkan pola pikir kite selalu hendak menyenangkan atasan. Kalau tak siap, cakaplan tidak siap, sehingge kebijakan yang keluar pun tidak menyusahkan kite. Ini tidak, semue mengatekan siap, pas dijalankan kebijakan itu, baru kite tak tentu arah dibuatnye. Ini bukan masalah baru lagi dalam dunie pendidikan kite. Fasilitas tidak memadai, kite memaksekan pulak kebijakan yang tidak sesuai. Kebijakan baik, tapi harus berlandaskan kenyataan di lapangan di daerah. Tafsirkanlah kebijakan itu sesuai dengan keperluan kite. Paling penting, fasilitas harus terus ditingkatkan, sehingge apepun kebijakan sesuai dengan keadaan kite. Ini kan tidak, kebijakan dibuat, barulah hendak menyiapkan fasilitas sesuai dengan kebijakan. Tebelokong namenye itu. Bagi rakyat, bersekolah jangalah susah, itu saje,” jelas Atah Roy sambil memegang telepon genggam barunye dan membaca berita baru dari telepon genggam barunye tersebut.  

Tulisan ini juga dimaut di Harian Koran Riau, edisi Senin 17 Juli 2017
Berita Terkait
Berita Terpopuler
Back To Top