Hari Teater Modern Riau, Mengenang Idrus Tintin

Hari Teater Modern Riau, Mengenang Idrus Tintin

09 November 2015 - 22:36:00 WIB | Oleh: Redaksi Riau
Alm Idrus Tintin
Memperingati sesuatu hal itu esensinya adalah membangkitkan semangat untuk berbuat lebih lagi dari waktu-waktu yang telah dilewati. Untuk membangkitkan gairah teater di Riau agar lebih baik dari hari kemarin diperlukan peristiwa tempat memulai melangkah. Peristiwa itu bisa saja ‘disemburkan’ dari peristiwa monumental di bidangnya, atau ‘dikokah’ dari tokoh yang bertungkuslumus atau tunak pada aktivitasnya.

Almarhum Idrus Tintin merupakan tokoh teater Riau yang sampai akhir ayatnya tetap mencintai dunia teater. Pengorbanan Idrus Tintin untuk menghidupkan kelompok teaternya sangatlah besar. Dari beberapa kawan bercerita bahwa Idrus Tintin sanggup menggadaikan cincin emas istrinya untuk membiayai pementasn teater. Selain itu, Idrus Tintin juga rela meninggalkan pekerjaan untuk tetap eksis di dunia teater. Dari ‘sentuhannya’ jugalah bermunculan tokoh-tokoh teater di Riau ini, ketika beliau menjadi guru di SMAN 2 Pekanbaru. Pada zaman beliau mengajar di SMAN 2 Pekanbaru, siswa-siswa diwajibkan mementaskan teater 1 bulan sekali.

Kegelisahan Idrus Tintin terhadap kehidupan teater di Riau menyebabkan dia harus terus ‘menghasut’ generasi muda Riau untuk bertahan di dunia teater. Teater bagi Idrus Tintin adalah jalan hidup untuk menemukan kesejatian sebagai manusia. Hari-hari Idrus Tintin adalah teater. Beliau tidak mau berpisah dengan teater walaupun sekejap. Dan bilau berharap, generasi muda Riau yang memilih teater sebagai jalan hidup, melakukan hal yang sama dengan dirinya. Teater itu adalah kehidupan itu sendiri, dan harus dijalani dengan keseriusan.

Idrus Tintin lahir di Rengat pada tanggal 10 November 1932. Masa kecilnya dihabiskan di Tarempa, Kepulauan Riau. Pada tahun 1941, Idrus Tintin, ikut pindah bersama keluarga ke Tanjungpinang. Di Tanjungpinang Idrus Tintin tinggal di Asrama Dai Toa. Di asrama inilah Idrus Tintin mengenal dunia teater (drama). Kelompok teater yang dipimpim Raja Khatijah menjadi laman ekspresi Idrus menekuni dunia perannya. Bersama kawan-kawan mementaskan drama berbahasa Jepang di Gedung Daerah Tanjungpinang.

Rasa cinta terhadap dunia teater, Idrus Tintin harus berkali-kali pula berhenti bekerja. Pada tahun 1957 jabatan Kepala Kantor Sosial Kewedanaan Pulau Tujuh, ditinggalkannya. Bersama Hanafi Harun, Idrus Tintin menderikan kelompaok teater. Sebelumnya pada tahun 1952, Idrus Tintin mendirikan kelompok teater Gurindra di Tarempa. Geliat teater bersama Hanafi Harun dibuktikan dengan mementaskan pergelaran teater berkali-kali. Naskah drama yang dipentaskan antara lain Buihdan Kasih Sayang Orang Lain, Bunga Rumah Makan, Awal dan Mira.

Jadi benar apa yang dikatakan kebanyakan aktor, bahwa seorang aktor tidak akan pernah puas berada di atas panggung. Mungkin hal yang sama dirasakan oleh Idrus Tintin. Pada tahun 1959, Idrus Tintin bergabung dengan Galeb Husien. Pada tahun ini mereka mementaskan teater berjudul Pasien, sutradara Galeb Husien dan Asisten Sutradara Idrus Tintin dan dipentaskan depan kantor RRI Tanjungpinang.

Idrus Tintin tidak pernah puas dengan ilmu teater yang dimiliki. Ia pun berkelana ke Jakarta. Di Jakarta, Idrus Tintin bergabung dengan Montinggo Busye, dan ikut berperan dalam pementasan berjudul Kereta Kencana. Beliau terus berkelana sampai ke Solo dan Surabaya, mementaskan beberapa karya teater yang ia terlibat di dalamnya.

Sejauh burung terbang akan kembali ke sarangnya. Setelah lama mengarungi Pulau Jawa, pada tahun 1960, Idrus Tintin kembali ke Rengat. Di Rengat Idrus Tintin menikah dengan seorang gadis bernama Masni, dan mencoba bekerja di Kantor Penerangan Rengat. Pada masa ini juga Idrus Tintin mendirikan kelompok teater. Bersama Taufik Effendi Aria, Bakri, Rusdi Abduh menggelar beberapa karya teaternya.

Di Pekanbaru, Idrus Tintin terus berkarya. Pada Tahun 1973 naskah berjudul Harimau Tengkis dipentaskan di Balai Dang Merdu. Idrus Tintin menjadi sutradara dalam pementasan ni, dibantu BM Syamsuddin. Para aktor yang terlibat Faruq Alwi, Patopoi Menteng, Akhyar dan Yusuf Dang, mendapat sambutan hangat dari penonton. Dan pada tahun ini juga, Idrus Tintin berhenti menjadi karyawan penambangan pasir.

Pada tahun 1974, Idrus Tintin mendirikan kelompok Teater Bahana. Teater Bahana inilah memunculkan tokoh-tokoh teater Riau berikutnya. Teater Bahana menjadi ikon teater di Riau pada zamannya. Naskah-naskah luar negeri, terutama naskah realis, menjadi bahan untuk dipentaskan di atas panggung oleh kelompok ini.

Almarhum Idrus Tintin juga selalu jadi rujukan oleh pekerja teater di Riau, baik sari segi ketunakkan beliau di bidang teater maupun dari sikap beliau dalam keseharian. Maka tidak salahlah, untuk membangkitkan semangat teater di Riau, hari kelahiran Idrus Tintin yang jatuh pada tanggal 10 November dijadikan pancang sebagai Hari Teater Moder Riau. Pada tahun 2011, Almarhum Idrus Tintin mendapat tanda kehormatan dari pemerintah Indonesia berupa Bintang Budaya Parama Dharma. Tanda kehormatan ini merupakan penghargaan pemerrintah terhadap tokoh-tokoh yang berjuang di bidang kebudayaan.
 
Berita Terkait
Berita Terpopuler
Back To Top