Mengapa Sebal Kepada Yang Isbal ?

Mengapa Sebal Kepada Yang Isbal ?

03 Maret 2017 - 11:35:00 WIB | Oleh: Redaksi Riau
T.G. H. Syafruddin Saleh
Oleh T.G. H. Syafruddin Saleh                 
 
KESAL nian hati Ustadz Ispiraini Hamdan, namun hal itu diimbanginya dengan mengalirkan zikir di sanubari, agar tak menjalarkan sikap kalap menanggapi. Mengapa dia kesal …?! Ada ucapan yang menceraput dari mulut anyir yang  sebal terhadap yang isbal.”Jangan hadiri majelis yang diisi oleh doktor yang tidak takut api neraka…!,” ujarnya bersemangat karena telah menhimbaukan kebenaran yang dianggapnya sudah paling benar. Lantas, ustadz Pirai pun bergumam, ‘adakah yang berani berlantas-angan mencap menyalahkan sikap adab berpakaian Raja Salman. 
 
KETIKA, Raja Saudi Arabia – Salman bin ‘Abdul ‘Aziz al-Saud, muncul di pintu pesawat, tanpak nian paras wajah Arabnya nan gagah. Tubuh tegap tonjang jangkung. Hidung mancung disertai misai dan janggut hitam diketam rapi. Igal hitam melingkar di kepala melingkungi kain syal yang dikenakkannya. Sa’at melangkah menuruni tangga pesawat, tampak jubah indahnya menjuntai sampai hampir mencecah ke lantai anak tangga dan ke tanah yang diinjaktapaki. Berpakaian kelazimankhas Timur Tengah gaya seperti itulah Raja Salman dan para lelaki yang menyertainya. Tidaklah jubah mereka menjulur terulur cuma hingga ke pertengahan betis kaki, padahal mereka tentulah wahabiyah. Dihinakankah sikap berpakaian (mereka) seperti itu pada adab bab berbusana yang diperintahkan oleh al-Diin al-Islam…?!

ISBAL (istilah syari’ahnya) yang maksudnya sisi bawah pakaian (jubah, celana, atau sarung pelekat) yang dipakai menjuntai terulur-julur melewati (melebihi) mata kaki. Hal ini ihwal khusu kepada para lelaki baligh (dewasa menurut syar’i), yang membedakannya dengan akhlaq berpakaian perempuan (al-nisaa’). Lanatas, adakah yang mencap adab sikap berpakaian raja -yang diamanahkan membina-menjaga-memelihara dua tanah suci  (al-Khadim al-Haromain asy-Syarifain, Makkah al-Mukaromah dan Madinah al-Manawwaroh) beserta kebanyakan lelaki yang menyertai rombongannya itu menyalahi syari’ah …?!
 
***
 
SOMBONG, menjadi tolok ukur isbal (menjulurkan sisi bawah pakaian), yang menyebabkan  para ulama’ berbeda menentukan petapkan hukum(istinbat)nya.  Isbal itu suatu kesombongan (catat Abudaud pada hadits yang dishohihkan al-Albani) yang juga didasari  peristiwa Rosul Allaah shola Allaahu ‘alaihi wasalaam menegur ‘Abdullah ibu Umar yang sisi bawah pakainnya terjurai hingga ke tanah  dan memerintahkan  agar menaikkannya ke pertengahan betis. Namun, Rosul Allaah shola Allaahu ‘alaihi wasalaam tidak mencap sikap Abubakar r.a. sebagai tindakan kesombongan dek  tak bersengaja-sengaja riya’ (sebagaimana dicatat Bukhori dan Muslim).

MEMANG banyak  dalil dari hadits Nabi shola Allahu’alaihi wasallam yang berkait-kelindan tentang masalah ini.  Ada sejumlah hadits yang  tidak mutlak mengharomkan isbal, kecuali jika karena sengaja dek kesombongan (HR. Bukhari3485, 3665, 5788;  Muslim 2085), dan ada banyak  hadits yang  mutlak mengharomkan isbal  karena sombong ataupun tidak (HR. Bukhari 5787; HR. Muslim, 106, 2086; HR. Abu Daud 4084, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud;  HR. Ibnu Maajah no.2892, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Maajah). Karena itu para ulama’ berbeda menetapkan hukum isbal ini pada istinbat  (pertimbangan hukumnya).

HAROM, isbal secara mutlak, karena sombong maupun tidak, menjadi pendirian sebagian ulama’ yang di antara mereka ada Qadhi ‘Iyadh, Imam Ibnul ‘Arabi, dan Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani. Namun hukumnya makruh jika isbal bukankarena keseomobongan, sebagaimana yangdinyatakan  Imam al- Nawawi  (Syarh al-Muslim dan Riyadh al-Sholihin), dan Syaikh Abdullah Ali Bassam (Tawdhih al-Ahkam min Bulugh al-Marom) yang bersuaian pula dengan kesepakatan  (jumhur) ulama’  mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali – tetapi mestilah dicermati, bahwa mereka memakruhkan bukan membolehkan. Jadi, hukum isbal suatu khilafiyah fiqhiyah, yang tak layak diperdebatkan dan dihujatperhujatkan.

MAKA jika ada perbedaan faham di antara ulama’ itu, tidak ada lain kecuali kembali kepada al-Qur’an dan al-hadits disertai keyakinan hati mana ketetapan ulama’ yang lebih cenderung diikuti. Allaah Tabaroka wa Ta’ala berfirman : “Andai Anda berbeda pendapat tentang sesuatu hal, maka kembalikanlah  (hal itu) kepada Allah (Al Qur’an) dan Rosul (al-hadits)  jika memang  sebenar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. (Sikap) itu lebih utama dan lebih baik akibatnya ” (Q.S. al-Nisaa’: 59/V). Kaidah ush al-fiqh pun menganjurkan: ‘jika ragu, maka kembalilah kepada yang tidak meragukan (da’ma yuribuk ila ma laa yuribuk).

BIJAKSANA pula bersikap menghadapi perbedaan yang diyakini dan yang diamalkan pada yang ikhtilaf (yang diperselisihkan hukumnya) di antara sesam kita ikhwan seiman. Kita boleh saja tak suka kepada mereka yang isbal, namun tidaklah layak kita congkak berlebih-lebihan melebihi Allaah dan Rosul-Nya. Mari, kita tiru ulama’ yang senantiasa yang senantiasa manatap menjaga sikap bijaksana terhadap hal yang berbeda. Bukankah yang berbeda itu sudah menjadi sunnatullaah.Nah, …!

Wa Allaahu ‘alaamu bi al-showab. Salaam. ***
Berita Terkait
Berita Terpopuler
Back To Top