Rino Dezapaty, Sejak Umur Lima Tahun Sudah Menggeluti Musik

Rino Dezapaty, Sejak Umur Lima Tahun Sudah Menggeluti Musik

12 Januari 2015 - 01:42:00 WIB | Oleh: Redaksi Riau
Rino Dezapaty
RiauKepri.com  - Bagi seorang seniman, kegelisahan merupakan sesuatu kekuatan yang dapat dirangkai untuk menghasilkan karya seni. Dengan kegelisahan, seorang seniman merayau (menjelajah) setiap kenyataan dan membuhul kenyataan itu, kemudian diendap (disimpan) dalam lubuk hati dan memproseskannya dengan pikiran, maka muncullah karya seni itu, yang pada akhirnya bermanfaat dan berfaedah bagi manusia.  
Riau, sebagai tanah Melayu yang dianugerahkan dengan berbagai kekayaan alam dan sejarah peradaban tinggi, menjadi bentangan inspirasi yang tidak pernah kering digali. Namun sayang, Riau seakan dipandang sebelah mata dari segala sisi. Padahal provinsi berjuluk Lancang Kuning ini telah memberi banyak hal, baik itu kekayaan alamnya, maupun peradaban. Bahkan bahasa persatuan negara ini pun berasal dari Tanah Melayu ini. 

Para seniman Riau, sejak dari dulu, terus berupaya menyuarakan kenyataan Riau yang dilupakan. Salah seorang seniman muda Riau yang terus menggali kebesaran peradaban Riau itu adalah Rino Dezapaty. Musisi yang terus gelisah ini, dengan ketajaman nalurinya, menggali dan terus menggali khazanah tanah Melayu menjadi karya seni musik yang mendenyutkan peristiwa Riau kemana-mana.

Denga kegelisahan ini juga, Rino Dezapaty membentuk kelompok musik Riau Rhythm Chambers Indonesia (RRCI), 14 tahun yang lalu. Rino dengan RRCI menyibak ceruk-ceruk peradaban masa lalu untuk dikokah dan diolah menjadi karya mereka. "Suvarnadvipa" inilah 'perahu' RRCI hari ini memuat segala peradaban Tanah Melayu Riau yang dipadatkan melalui bunyi-bunyi. 

Suvarnadvipa adalah istilah yang digunakan oleh orang India untuk menyebut dataran Sumatera, dan Rino Dezapaty menyadari bahwa dataran ini memiliki kecemerlangan peradaban yang semakin dilupakan. Untuk itulah, naluri kesenimanan Rino Dezapaty bergerak, lalu merangkai peristiwa-peristiwa kecemerlangan peradaban itu menjadi karya musiknya. 

Rino Dezapaty bukanlah nama asing di kencah musik Riau. Karya-karya yang dihasilkan Rino selalu mendapat tempat di hati masyarakat. Karya Rino Dezapaty "Satellite Zapin" misalnya, selalu dijadikan soundtrack berbagai film dokumenter di Riau ini. Bahkan album-albumnya yang terdahulu selalu diputar di bandara Sultan Syarif Kasim II dan ruang publik lainnya.

Darah seni yang berada dalam diri Rino Dezapaty berasal dari kedua orang tuanya. Ayahanda Rino adalah seorang koregrafer Riau dan ibundanya adalah penari. Rino dibesarkan dari keluraga seni. Sejak umur 5 tahun, Rino sudah membiasakan diri dengan alat-alat musik. Jadi tidak heranlah mahasiswa Jurusan Etnomusikologi di Institut Kesenian Jakarta ini (tidak diselesaikannya), terus menggeliat mencari dan mancari untuk mengahsilkan karya seni musik. 

Pada awalnya, seperti anak muda-muda lainnya, Rino Dezapaty tidak tertarik dengan musik tradisi. Dia lebih senang dengan musik-musik pop dari berbagai kelompok band. Rino pun tercatat sebagai anggota marching Band Dang Merdu. Saat duduk di kelas 5 SD Rino Dezapaty sudah meraih prestasi juara 3 solo terompet yang digelar di Jakarta. 

Kini lelaki memiliki seorang anak ini, semakin tunak berkarya dengan menggali khazanah Riau. Rino Dezapaty pun tercatat sebagai seniman Riau yang mengukir nama di berbagai event, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. 

"Teruslah berkarya dengan saling bekerjasama dan bertukar informasi, karena tidak akan ada batasan bagi sebuah karya seni," tulis Rino Dezapaty di website riaurhythmchambers.com. (AS)

Berita Terkait
Berita Terpopuler
Back To Top