The Power is Adictive and Tends to Corrupt!

The Power is Adictive and Tends to Corrupt!

12 Agustus 2017 - 11:45:00 WIB | Oleh: Redaksi Riau
Yanto Budiman
Oleh: Yanto Budiman

MENYEBUT nama Khadafi dalam perubahan dunia yang semakin demokratis, orang jadi teringat bagaimana syahwat kekuasaan berlangsung dalam sejarah pemerintahan dunia. Benarlah kata sebuah adagium bahwa kekuasaan itu adalah candu. Sekali orang menikmati kursi kekuasaan biasanya cenderung untuk terus berlanjut.

Hal ini sangat dirasakan dalam proses kudeta kekuasaan di sejumlah negara dalam sejarah yang panjang. Itulah hakikat watak dasar manusia yang selalu haus dalam memenuhi syahwat kekuasaannya. Setelah kekuasaan digenggam, pelan tapi pasti watak pemimpin mulai kelihatan hitam putihnya.

Diawal berkuasa biasanya rajin turun mwnyambangi rakyat. Tipe penguasa seperti ini ada dua, pertama ia serius dan komit untuk mementingkan orang banyak atau rakyat kebanyakan. Kedua tebar pesona yang kerjanya hanya sesekali turun ke lapangan tapi "media darling" supportnya luar biasa. Biasanya style kepemimpinan seperti ini tak lama bertahan karena mudah dibaca publik apalagi mereka manfaatkan powernya untuk menyalahgunakan wewenang demi kepentingan pribadi maupun kelompok, salah satu cara yang paling mudah dilakukan adalah korupsi memperkaya diri dan orang lain.

Di titik ini betullah kata adagium "Kekuasaan itu cenderung korup (the power tends to corrupt). Lalu di Negara kita bagaimana?  Siapapun tak bisa menafikan bahwa korupsi sudah masuk dan merasuk mulai dari atas sampai ke bawah. Bahkan korupsi sudah menjadi ''sarapan pagi''  para pejabat kita. Bukti yang tak dapat terbantahkan hampir tiap hari ada saja yang kena OTT KPK, Saber Pungli dan tak lama lagi muncul Satgas khusus anti korupsi bentukan polisi.

Kendati demikian perilaku mereka yang berkuasa tak juga berubah. Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Jurang (gap)  dua realita ini makin ''menganga''  dan kalau pemimpin korup tadi salah mengelola maka pada titik jenuh sesama mereka (masyarakat) bisa saja terjadi konflik baik vertikal maupun horizontal... Ini urusan perut bukan  politik tingkat tinggi loh.....

Mengutip negarawan Amerika Abraham Lincoln, beri dia kekuasaan biar kita tau wataknya, agaknya tidak linear dan tepat lagi sekarang ini. Karena publik sudah duluan tau watak calon-calon pemimpin mereka yang kebanyakan tidak memiliki jiwa kepemimpinan yang benar-benar merasuk ke jantung hati masyarakat.

So, dimanapun anda berpilkada termasuk di Riau jangan terjebak dengan kepalsuan dan kemampuan semu yang dilakukan oleh calon calon pemimpin. Cerdas lah masyarakat Riau, ayo kita selamatkan bumi Lancang Kuning ini dari tangan-tangan bakal calon pemimpin yang mayoritas masyarakat telah mengendus bahkan sudah mengetahui watak aslinya, karakter serta kemampuannya. SEMOGA !!!
Berita Terkait
Berita Terpopuler
Back To Top