Istri Syamsuar Menjawab Ketidak Laziman Istri Seorang Pejabat

Keseharian Hj Misnarni

Syamsuar dan istri Hj Misnarni dan tiga anak serta satu cucu.

KAMIS 11 Juni 1964, tangis seorang bayi wanita terdengar di rumah yang berada di Jalan Kartini,
Bengkalis. Seiring dengan hal itu, sang bayipun dibersihkan bidan. Tak lama kemudian, Haji Abu
Suraimi mendekap anaknya dan setengah berbisik mengumandangkan adzan pada telinga kanan kemudian
iqamah pada telinga kiri. Cukup hari, bayi wanita yang lahir dari rahim Hj Siti Rafiah ini
diberinama Misnarni.

Anak kelima dari delapan bersaudara ini tumbuh seperti anak lainnya, suka main setatak, main yeye, congkak, dan sejumlah permainan rakyat lainnya bersama teman sebayanya ketika itu. Ekonomi keluarga memang tidaklah hidup dalam kekurangan lantaran sang ayah Haji Abu Suraimi adalah pegawai kesehatan di Bengkalis, sedangkan ibunya Hj Siti Rafiah, bekerja sebagai perawat bidan di Rumh Sakit Umum (RSU), Bengkalis. Kendati demikian, sang ayah selalu berpesan hidup sederhana, jangan
boros.

Didikan lainnya yang diterima Misnarni, sang ayah meminta kepada anaknya ini menghormati orang tua dan berbuat baiklah kepada orang lain. Yang paling ditekankan, jangan lupa Salat lima waktu sehari semalam, membaca Al-qur’an setiap hari, serta kerjakan Salat Tahajud tengah malam. Semua didikan dan pesan kedua orang tuanya ini menjadi benteng bagi Misnarni untuk melangkah masa depan yang baik.

Hari berganti dan waktu berlalu, jenjang pendikanpun mulai dilakoni Misnarni. Memang agak
terlambat satu tahun, zaman itu memang untuk masuk Sekolah Dasar (SD) pada usia delapan tahun. Namun hal ini bukan jadi masalah, Misnarni tetap tumbuh seperti abang dan adik-adiknya, bahkan dia semakin menampakkan kerakter dirinya. Misnarni kecil selalu ingin tahu dan belajar dari apa yang dilihatnya dalam kehidupan keluarga.

Ketika duduk di bangku kelas 3 SD Negeri Teladan 05, Bengkalis, Misnarni mulai memperhatikan
kebiasaan ibunya sehari-hari. Bila pulang sekolah sang ibu sering terlihat duduk di teras depan
rumah sebelah samping kanan, menyulam kain secara tradisional untuk membuat taplak meja dengan
menggunakan tangan yang sebelumnya diletakkan pada wadah bernama ram berbentuk bulat. Lama kelamaan hati Misnarni tergiur untuk belajar menyulam.

Memang dasar berbakat dan hobby, dalam waktu lima menit Misnarni langsung bisa menyulam. Tak hanya itu, kebiasaan ibunya yang lain juga menggoda Misnarni untuk berlajar. Yakni, hasil sulaman dibuat
baju untuk anaknya. Biasanya, bila selesai memasak di dapur untuk makan keluarga pada siang hari,
ibunya menyibukkan diri dengan menjahit baju. Kebiasaan ibunya ini memancing Misnarni untuk
belajar menjahit baju. Semasa ibunya menjahit baju, Misnarni memperhatikannya sambil berdiri di
samping sang ibu.

Tak hanya soal menyulam dan menjahit baju, semua kepandaian ibunya dipelajari Misnarni. Begitu
juga dengan tiga kakak Misnarni yang lainnya, juga bisa menjahit baju dan untuk pakaian sendiri
mereka sudah tidak menyusahkan kedua orang tuanya. ”Yang penting, bisa lepas untuk kita sendiri
jadilah,” kata Misnarni.

Dari delapan bersaudara, Misnarni adalah anak wanita yang paling selalu memperhatikan pekerjaan
ibunya sehari-hari sehingga dia tau betul bumbu dan bahan masakan orang Melayu lantaran selalu
membantu ibunya memasak di dapur, begitu juga membuat kue lebaran. Karena sang ibu pandai memasak, semua masakan yang ”lahir” dari tangannya terasa enak semuanya. Agar masakan yang dibuat ibunya tidak lupa, Misnarni mencatat bahan-bahan dan cara memasak pada sebuah buku masakan.

Misnarni terus tumbuh menjadi gadis, selain bakatnya menjahit dan memasak dan keterampilan lainya,
ada juga menurun bakat dari ayahnya yang melekat pada tubuhnya, yakni olahraga. Bakat seorang atlet volly ball pada diri Misnarni sudah ditempa sang ayah sejak dia duduk di bangku kelas 4 SD. Ketika Misnarni duduk di bangku kelas 1 SMP Nengeri Nomor 1 Bengkalis, dia mulai berlajar main tenis lapangan.

Misnarni ingat betul, suatu hari ketika dia duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Ekonomi Atas
(SMEA) di Bengkalis, guru olahraga menemuinya menyuruh Misnarni ikut perlombaan loncat tinggi
antar SLTA. Misnarni yang dikenal pendiam dan pemalu ini kaget dengan permintaan gurunya itu, apa
lagi dia sadar betul tidak pernah lagi latihan loncat tinggi. Namun, sang guru tetap meminta
Misnarni ikut lomba dan memberi semangat bahwa Misnarni pasti bisa dan sang guru merasa yakin
kepadanya.

Keesokan harinya, meskipun merasa terpaksa Misnarni ikut juga lomba loncat tinggi. Hasilnya?
Memang sang guru tak salah, dalam lomba itu Misnarni berhasil meraih juara I untuk katagori putri.
Kebetulan juga, untuk putra pihak sekolah mempercayai abang Misnarni dalam lomba yang sama dan juga mendapat juara I putra. Catatan loncat tinggi ini semakin indah bagi keluarga Misnarni ketika
itu, adiknya yang juga ikut untuk tingkat SMP berhasil meraih juara I.

Ketika masih di SMEA, Misnarni punya club volly ball. Tak tangung-tangung, posisinya sebagai
tukang pukul alias smasher. Berbagai pertandingan selalu diikutinya dan pukulan Misnarni di
lapangan selalu mematikan sehingga dia menjadi pemain handalan. Hal ini jelas sangat berbeda jika melihat pada keseharian Misnarni yang pendiam dan pemalu. Karena pemalu dan pendiam, buah hati pasangan Haji Abu Suraimi dengan Hj Siti Rafiah ini, bila pulang sekolah di jalan bertemu dengan orang yang sedang berkumpul di bibir jalan atau berpas-pasan, dia selalu menunduk.

Tahun 1982 Misnarni terus mengukir sejarah perjalan hidupnya. Di SMEA tempat dia menuntut ilmu ada keterampilan drum band dan dia terpilih menjadi mayoret pertama yang ada di Bengkalis. Setiap perayaan hari besar, terutama HUT RI 17 Agustus, drum band yang dipimpin Misnarni selalu dipakai sehingga nama Misnarni menjadi terkenal, karena dia tidak hanya bisa memimpin drum band namun juga handal dalam olahraga volly ball.

Hj Misnarni saat melakukan aktifitas sebagai ketua PKK Siak.

Banyak Digoda ”Kumbang”
NAMA Misnarni muda cukup dikenal di kalangan anak muda, segudang prestasi olahraga membuat wanita
yang pemalu dan pendiam ini banyak digoda ”kumbang” namun tak satupun lelaki yang berhasil
menambat hatinya, termasuk Syamsuar ketika itu masih muda. Semuanya dicuekin Misnarni. Di antara banyaknya pemuda yang menggoda, hanya Syamsuar yang tak mengenal putus asa dan terus berusaha, dan ketika Syamsuar menyatakan isi hatinya untuk ketiga kali, barulah Misnarni membuka hatinya.

”Setelah tigo kali bapak natsir sayo, barulah sayo mau same dio. Tak tau apo pasal sayo jatuh cinta pulak sama bapak, mungkin kareno dio selalu memperhatikan sayo agaknyo. Rumah bapak dengan
rumah sayo bersebelahan, ruponya bapak dulunyo selalu mengintip sayo kalau keluar rumah. Kalau
sayo keluo rumah, kadang-kadang bapak pura-pura menyapu halaman. Dan ini pernah diketahui kakak
sayo,” cerita Misnarni dengan logat Melayunya dan merasa geli mengenang masa lalu yang membuat dirinya ketawa sambil menutup mulut.

Baca Juga :  215 JCH Dumai Dibagi Dua Kloter

Ketika berpacaran dengan Syamsuar, cerita Misnarni, dia masih duduk di bangku kelas III SMEA, sedangkan Syamsuar saat itu sudah berkerja di Kantor Dispenda Pemerintah Bengkalis. Hingga Misnarni menamatkan SMEA pada tahun ajaran 1983-1984, cinta mereka semakin bersemi apalagi Misnarni tidak melanjutkan kuliah, bisa sering bertemu. Tak kuliah, hal ini bukan karena dilarang orang tuanya menuntut ilmu di perguruan tinggi namun atas keinginannya sendiri. Meskipun demikian, retak tangan Misnarni tak ada yang tau, setamat sekolah, sempat menganggur setahun, dia diterima berkerja di Askes (Perum Husada Bakti) kesehatan.

Saat masih bekerja di Askes, sepulang kerja Misnarni menyempatkan diri belajar kustum, menjahit baju dengan mengendarai kendaraan roda dua vespa. Belajar menjahit ini, Misnarni hanya mengambil waktu singkat hanya tiga bulan. Pasalnya, karena memang berbakat, dalam satu bulan pratek dia sudah bisa menjahit 4 helai baju.

Setelah lima tahun pacaran, tahun 1987 Misnarni menerima pinangan Syamsuar. Saat itu Syamsuar
sudah menjadi ajudan Bupati Bengkalis, sedangkan Misnarni masih tetap bekerja di Askes. Semasa sang suami berada di bawah Sekwilda (Sekretaris Wilayah Daerah), Misnarni tetap tak meninggalkan hobby olahraganya, main volly ball dan bergabung dalam club volly DW. Di club volly ini diperkuat pemain-pemain berpengalaman sehingga Misnarni semakin ngetop dalam dunia olahraga ini.

Setelah mendapat anak pertama, Muhammad Andri yang lahir pada tahun 1988, atas permintaan
Syamsuar, sang istri tidak usah bekerja lagi. Misnarni mengikut kata suaminya, apalagi sebagai
seorang PNS suaminya setiap saat harus siap dipindahkan. Dan betul saja, pada tahun 1993 Syamsuar
pindah tugas dengan jabatan sebagai Sekretaris Kecamatan Siak. Sebagai istri Sekcam, Misnarni
tetap tak bisa menghilangkan hobbynya berolahraga volly ball sehingga dia membentuk club volly
kecamatan. Namun, setelah tiga tahun menjadi istri Sekcam Siak, suaminya dipindahkan lagi bertugas
ke Bengkalis. Setahun di Bengkalis, tahun 1997, Syamsuar kembali ke Siak. Kali ini dia dipercaya
menjadi camat di Kota Istana itu. Meskipun kedatangan kali ini status sosialnya meningkat, namun
Misnarni tetap seperti biasa, tak ada yang berubah. Sebaliknya, dia semakin memperkuat club volly
ball yang dulunya pernah dibentuk ketika suaminya menjadi Sekcam Siak.

Club volly ball Cik Puan binaan ibu Camat Siak ketika itu, sangat ngetop. Menjadi ”momok” grup
volly lainnya di Siak. Bahkan, jika ada club volly lainnya bertemu dengan club volly Cik Puan
banyak yang menyerah duluan, mental pemain terpukul lantaran tukang bom Misnarni. Bila ibu camat berada di belakang, cepat-cepatlah lawan mencuri point, namun bila Misnarni berada pada posisi smash, pukulan mematikan tak dapat dielat lawan. Tajam, dan ada lawan yang menutup muka takut kena bola. Maka tak heran, setiap pertandingan Cik Puan tak pernah absen dari juara satu, sampai-sampai Syamsuar ketika itu sempat mengatakan kepada istrinya, agar cub volly ball Cik Puan tak usah ikut bertanding lagi karena juara terus.

Cik Puan akhirnya memang tinggal nama dan menjadi catatan perlajanan hidup Misnarni. Suaminya, kembali harus ”mengangkut” anak dan istri untuk pindah ke Tanjungpinang. Saat itu, tahun 1999 sang suami dipercaya menjabat sebagai Camat Tanjungpinang Barat. Namun hanya setahun, pada tahun melenium 2000, seiring Siak dimekarkan, Syamsuar pindah lagi ke Siak dan menjabat sebagai Kadispenda.

Hj Misnarni mengajar menyulam kepada anak-anak sekolah.

Istri Wakil Bupati Ukir Prestasi
SIAPA yang menyangka, pada tahun 2001 ketika Syamsuar mendampinggi Arwin AS, dalam Pilkada di Siak mereka meraih kemenangan. Sejak itu, Misnarni menyandang status sebagai istri Wakil Bupati Siak. Misnarni sempat aktif selama setahun dalam organisasi PKK, namun dia lebih memilih menekuni hobby
olahraganya bermain volly ball dan tenis lapangan, hal ini karena mendapat saran dari sang suami.
Saran sang suami ini membuat hati Misnarni merasa tenang, sebab selama setahun itu ada rasa yang
menganjal hatinya. Selama ini, cerita Misnarni seraya menangis, rasa tertekan perasaan selalu
menghantui dirinya namun dia sabar menghadapinya walaupun itu pahit sekali dan menyakitkan
hatinya.

Apapun yang dirasakan Misnarni ketika itu, dia sama sekali tidak pernah memberi tahu kepada
suaminya, dia simpan dan telan sendiri. Seumur hidup, belum pernah merasa baru kali itu Misnarni merasakan perihnya hati. Namun, semua cobaan itu berhasil dilalui Misnarni dan membuat dirinya semakin mantap menghadapi kehidupan yang nyata, sebab jabatan suami hanya sebuah amanah dan setiap saat bisa saja diambil lagi.

Meskipun berupaya menutupi apa yang dirasakan, akhirnya ketahuan juga oleh suaminya. Sebuah
kebijakan sangat-sangat membuat hati Misnarni bahagia, sang suami begitu getol menyarankan agar
Misnarni fokus pada olahraga tenis lapangan. Alahasil, pada saat mengikuti Porda Riau, Minarni
berhasil mengukir prestasi, dia meraih juara satu. Sehingga nama Kabupaten Siak semakin terangkat,
apalagi Misnarni bukanlah orang biasa ketika itu, istri Wakil Bupati Siak.

Hj Misnarni meluahkan kasih sayang kepada anak-anak.

Jahit Baju Sendiri, ke Salon Sebulan Sekali
SYAMSUAR sempat gagal dalam Pilkada sebagai calon Bupati Siak pada tahun 2005-2010, ketika itu
berhadapan dengan Arwin As. Namun dia tak patah arang. Ibarat mengejar cinta Misnarni, gagal
sekali biasa kemudian berusaha lagi hingga dapat. Pada tahun 2011, Syamsuar bersama Alfedri
terpilih sebagai bupati dan wakil bupati Siak. Menjadi istri seorang bupati, kata Misnarni, adalah
takdir yang tidak bisa dia elat. Barang kali inilah yang terbaik yang diberikan Allah kepadanya
meskipun dia tidak pernah meminta dan tidak pernah memimpikannya. Bagi Misnarni hidup apa adanya
dan sederhana serta sehat itu yang lebih peting.

Menjadi istri Bupati Siak, tidak membuat Misnarni seperti kacang lupa dengan kulitnya. Dia tetap
Misnarni yang dulu, pendiam dan pemalu. Hanya hobbynya main volly ball tak bisa dia penuhi karena
faktor usia. Namun, untuk menjaga kebugaran badan Misnarni beralih berolahraga, yakni treadmil.
Bagi Misnarni, olahraya semacam suatu kebutuhan yang tidak bisa dia tinggalkan, sehingga bila
sehari saja dia tidak berolahraga rasanya seperti ada sesuatu yang belum lengkap.

Baca Juga :  Alumni Komit Majukan FIA Unilak

Karena tau besarnya manfaat berolahraga sehingga dalam sehari Misnarni bisa dua kali melakukan
treadmil pagi dan sore. Sekali treadmil paling tidak 20 menit, sehingga tubuhnya selalu sehat,
segar dan kuat. Padahal, istri Bupati Siak ini punya rutinitas setiap hari turun ke kecamatan
dalam berbagai kegiatan namun tetap fit. Pertanyaanpun sempat datang dari berbabagai kalangan soal Misnarni selalu bersemangat dan sehat, apa rahasianya. ”Ya, saya jawab berolahraga,” cerita
Misnarni.

Selain hobby olahraga, Misnarni juga tak meninggalkan kebiasannyaan sejak kecil, hobby memasak, membuat baju, menyulam, hingga saat ini. Dan sebagai istri seorang bupati, Misnarni jauh dari kesan mewah. Jika biasanya istri seorang pejabat tinggi itu setiap kali ada acara mengenakan pakaian dan perhiasan yang mewah dan selalu menggantikan pakaian serta perhiasan sesuai moment
acara yang dihadiri, namun hal ini tidak terlihat pada diri Misnarni. Bahkan, tak jarang istri
seorang pejabat untuk pergi ke suatu acara jauh-jauh hari sudah memesan baju yang mewah, tapi
Misnarni tidak akan melakukan hal semacam itu karena dia ingat betul dengan pesan kedua orang
tuanya yang kini sudah almarhum, hidup harus sederhana dan jangan boros.

Karena keahliannnya menyulam dan menjahit baju yang diperoleh dari ibu semasa kecil, Misnarni
selalu membuat baju sendiri dengan berbagai model. Baju buatan sendiri ini, selalu dikenakan
Misnani dalam berbagai acara sehingga banyak yang bertanya dimana dia membeli atau memesan baju tersebut. Misnarni menjawab dengan senyum, lantaran baju tersebut adalah jahitan sendiri.

Jika tidak ada perkerjaan sebagai istri seorang bupati, kata Misnarni, dia di rumah saja merancang
baju sendiri. Dalam satu hari, Misnarni bisa membuat satu pasang baju. Kain sebagai bahan bajupun tidak terlalu mahal, untuk satu stel pakaian dia hanya menghabiskan uang Rp600 ribu. ”Saya pandai menyulam, memayet jilbab dan menjahit baju, seandainya saya upah kepada penjahit bisa-bisa baju
yang saya kenakan harganya menjadi Rp1,5 juta,” kata Misnarni.

Rancangan baju buatan Misnarni pun tak kalah saing dengan perancang ternama, karena dia membuat inovasi baru pada baju yang dia jahit sendiri, terutama memasukan nuangsa Melayu pada karyanya sehingga terkesan mewah. Sisa kain bajunya, selalu digunakan Misnarni untuk membuat baju sang cucu dari anak pertamanya.

Tak hanya masalah pakaian yang sederhana dan dibuat sendiri, Misnarni juga tidak seperti lazimnya
seorang istri pejabat sekelas bupati yang keluar masuk salon, mendandan diri agar selalu kelihatan cantik, membeli keperluan makeup hingga puluhan juta. Jika ada acara, ke salon dulu dan tak jarang istri seorang pejabat berdandan menor agar menjadi perhatian orang banyak sehingga dibilang awet muda dan semakin cantik saja. ”Kalau saya beli baju hingga jutaan rupiah, keluar masuk salon biar kelihatan cantik terus, mau makan apa nantinya. Bisa habis gaji bapak sebulan hanya untuk beli baju dan ke salon,” kata Misnarni serius.

Misnarni tak menampik, bahwa dia pernah ke salon. Namun tidak setiap hari dan tidak pula setiap
minggu, paling banyak dalam sebulan sekali dan ke salon hanya untuk cuci muka saja, lebih dari itu
tidak pernah. Pergi ke salon, baru dilakoni Misnarni dalam dua tahun belakangan ini. Sedangkan
untuk kebugaran dan kecantikan, Misnarni sambil ketawa membongkar rahasianya. Yakni, minum jamu ramuan sendiri. Yang paling penting itu olahraga karena keringat yang keluar saat olahraga membuat muka dan tubuh menjadi segar dan bugar.

Hj Misnarni tampak selalu mesra bersama suami.

Sederhana Itu Cantik dan Sehat
HIDUP sederhana yang diterapkan Misnarni, dan ini adalah pesan orang tuanya agar tidak boros,
selain itu juga sudah menjadi sifat dari diri sendiri, sehingga hal ini menjadi gaya hidupnya.
Tips istri Syamsuar ini tidak tergiur dengan barang mewah, selalulah kreatif dan gali potensi diri. Selain itu, dekatkan diri kepada Allah agar terus bersyukur atas rezeki yang diberikanNYA. Kecantikan seorang wanita, kata Minarni, bukan karena pakaian mewah, perhiasan yang mahal dan sering ke salon, tapi kecantikan sesungguhnya ada pada diri kita dan pandai memanfaatkan apa yang ada. Kuncinnya, kecantikan itu ada pada kesederhanaan sedangkan barang mewah hanya pelengkap saja.
”Kecantikan itu berasal dari dalam hati bukan dari apa yang orang lihat. Kecantikan itu hawa yang
keluar dari dalam tubuh kita, bukan perhiasan,” ungkap Misnarni.

Kalau mau sehat dan cantik, pesan Misnarni, syukuri dan terimalah apa yang ada pada diri kita serta selalu merasa cukup apa yang diberikan Allah. Selama 30 tahun berumah tangga dengan Syamsuar, Misnarni mengaku belum pernah sekalipun meminta dibelikan apa-apa, termasuk perhiasan atau barang mewah lainnya. ”Hidup ini saya jalani apa adanya, baik susah maupun senang. Saya tidak ada keinginan ini dan itu yang semuanya berbau kemewahan, karena saya tak ingin menyusahkan
suami. Saya juga selalu sabar apa yang terjadi pada diri saya, karena saya yakin hasil dari sebuah
kesabaran itu akan berbuah manis karena saya pernah merasakannya,” ungkap Misnarni.

Hj Misnarni selalu menemani suami dalam berbagai acara.

Tak Ada Ajudan Agar Kelat tak Canggung
SUDAH menjadi pemandangan umum, biasanya istri seorang pejabat menghadiri suatu acara atau membuat acara banyak yang sibuk. Mulai dari bagian protokol, humas, sampai ajudan nampak berkecipas mengatur kedatangannya. Bak seorang putri turun dari langit, semuanya diatur dan tertata rapi. Mulai dimana letak parkir mobil mewahnya sampai siapa yang menuntun hingga ke kursi tempat duduknya. Namun, hal ini tak ditemukan ketika Misnarni, istri Bupati Siak, bila menghadiri suatu perhelatan. Tak ada ajudan yang mengekorinya dari belakang. Alasan Misnarni, dia membiasakan diri tidak tergantung pada orang lain. Selagi bisa dikerjankan sendiri, dia lakukan. Apalagi Misnarni
tau betul, jabatan suami hanya amanah sesaat saja, jika tidak menjabat bupati lagi dia tidak akan
canggung lagi melakukan perkerjaan dengan sendirinya.

Baca Juga :  Mantap, Riau Masuk 8 Nominasi Anugerah Pesona Indonesia, Sempolet Salah Satunya

”Bila suami tidak jadi pejabat lagi, biasanya orang canggung melakukan perkerjaan sendiri. Saya
tak mau seperti itu, apalagi gerak saya ini cepat. Bisa terbalik nantinya, saya pula yang menjadi
ajudannya,” kata Misnarni seraya tertawa.

Kalaupun menggunakan jasa ajudan, Misnarni lebih memilih orang dekat untuk mendampinginya. Itupun
hanya sesekali, apa bila dia berpergian keluar dari Provinsi Riau. Selebihnya, Misnarni tak
ditemani ajudan. Terkadang, ke pasar dan ke toko membeli kebutuhan keluarga, Misnarni selalu
berjumpa dengan masyarakat dan ditanya kenapa tidak ada ajudan. Sebab, biasanya sitri bupati pakai
ajudan? Menjawab hal ini Misnarni hanya tersenyum dan ketawa kecil saja.

Apa tak takut diculik? Misnarni ketawa mendengar pertanyaan ini. ”Siapalah yang mau menculik
saya, dan saya lebih percaya kepada Allah. Semuanya saya serahkan kepada Allah, musibah, rezeki, dan jodoh semuanya sudah diatur Allah,” jawab Misnarni.

Pada awal menjadi istri Bupati Siak, priode pertama, cerita Misnarni, dia sempat terkejut dan
”mengucap” besar; Astafirullahaladzim. Betapa tidak, sebagai istri bupati dia secara otomatis menjadi ketua Tim Pengerak PKK Kabupaten Siak. ”Setiap gerak pakai honor yang tak wajarpun dikasi honor. Kalau pakai honor yang wajar-wajar sajalah. Sejak menjadi istri camat, saya tidak pernah pakai honor. Saya turun mengajar keterampilan kepada ibu PKK dengan hati yang iklas. Jadi saya bilang sama ibu-ibu, kalau mau ikut sama saya turun tak ada honornya, yang mau ikut silakan yang tak mau pun tak ada masalah. Saya hapuskan semua honor, dan saya tak peduli orang mau bilang apa. Yang penting bagi saya, saya telah menyelamatkan uang rakyat,” ungkap Misnarni.

Hj Misnarni mengajar keterampilan kepada ibu-ibu PKK.

Dengan Melihat Saya Bisa Buat
SELAMA menjadi istri Bupati Siak dua priode, Misnarni langsung turun ke kecamatan memberi
pelatihan kepada ibu-ibu. Terkadang dalam satu hari sampai tiga keterampilan yang diberikan ketua
TP PKK Siak ini dan dia sendiri yang menjadi nara sumbernya. Hal ini dilakukan dengan hati yang
iklas tanpa dibayar sepeserpun. Sebab, Misnarni tau betul kalau melakukan sesuatu itu dengan iklas
maka besar pahala yang diperoleh dan tanpa disadari Allah akan menambahkan ilmu kita. Nayatanya, keterampilan yang didapat Misnarni pada saat ini bukanlah dia belajar secara khusus. ”Saya hanya melihat sesuatu keterampilan dan dengan melihat saya bisa membuatnya,” ucap Misnarni.

Apa yang dilakukan Misnarni ini bukan tidak mendapat tanggapan buruk, ada yang menilainya macam-
macam. Karena, menganggap Misnarni menjadi nara sumber, mengajar keterampilan kepada ibu-ibu, mendapat honor. Padahal, dia sama sekali tidak dibayar. ”Kita berbuat baik saja salah, apalagi
berbuat salah. Tapi untunglah ada juga ada ibu-ibu yang ikut saya dan siap tak dibayar honor, namun mereka dapat ilmu membuat kue yang enak dan dipratek di rumahnya dari melihat saya menjadi
nara sumber. Jadi, bertambah juga ilmu mereka,” ujar Misnarni.

Menyikapi berbaba tudingan buruk pada dirinya, Misnarni menjelaskan, bahwa dia kalau turun memberi
pelatihan memasak, membeli minyak dan bahan sendiri menggunakan uang pribadi, terkadang ada yang dibawa dari rumah. Sebagai ketua TP PKK Siak, Misnarni terpanggil hatinya mengajar langsung kepada
ibu-ibu PKK dan anak sekolah. Semuanya karena sebuah azam agar bisa mengangat taraf hidup
masyarakat sehingga nama Siak semakin harum karena bisa berbuat lebih baik.

Kepada anak-anak sekolah, SMK Siak Misnarni memberi keterampilan menyulam, di SMK Perawang dia mengajarkan bagaimana membuat tutup gelas. Sedangkan kepada majelis guru, istri Syamsuar ini mengajarkan cara membuat patron. Untuk ibu-ibu PKK, dia berikan ilmu memasak mebuat kue, menjahit baju, membuat dompet tangan, dan mainan kunci.

Hj Misnarni menemani suami saat berlebaran.

Ke Kedai dan Lingkungan Pakai Sepeda Motor
CERITA tentang Misnarni macam tak ada habisnya, kesederhanaan menghiasi hidupnya. Meskipun
berstatus sebagai istri orang nomor satu di Negeri Istana, namun dia tetap biasa saja. Jauh dari
kelaziman seorang istri pejabat yang bergelimang dengan kemewahan. Mobil yang digunakan Misnarni, bukanlah mobil mewah dan metereng tapi mobil Toyota Innova. Mobil inipun digunakan bila berpergian sebagai ketua penggerak PKK ke keluar kota, selebihnya mobil ini terparkir di halaman parkir rumah dinas.

Mobil merek Innova yang dipakai Misnarni ini, juga bukanlah mobil keluaran baru ataupun mobil yang
baru dibeli dari dealer menggunakan APBD Siak, tapi mobil bekas dari salah satu dinas yang sudah tak dipakai lagi namun masih bisa digunakan. Pernah dianggarkan membeli mobil operasional TP PKK Siak tapi dicoret bapak, dan Misnarni pun setuju. ”Mobil yang saya pakai sekarang ini adalah mobil salah satu dinas yang sudah tak dipakai, mobil bekas,” ucap Minarni.

Mobil Innova itu berjalan apa bila Misnarni keluar kota saja, sedangkan untuk kegiatannya sehari-hari, misalnya ke kedai, ibu tiga anak ini lebih senang menggunakan sepeda motor dan dikendarai sendiri. Kisah istri bupati senang mengendarai sepeda motor ini, di Siak sudah menjadi rahasia
umum. Tak hanya ke kedai menggunakan sepeda motor, pergi pesta pernikahan pun Misnarni juga ada menggunakan kendaraan roda dua itu. Begitu juga di lingkungan tempat tinggalnya di Pekanbaru,
Misnarni selalu menjadi buah bibir ibu-ibu lantaran kesedernaannya, menggunakan sepeda motor pergi
berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari.

Kalau di Pekanbaru, Misnarni lebih ekstra hati-hati mengendarai sepeda motor. Di sejumlah jalur
padat dia lebih memilih untuk tidak melintasnya. Sebab, keselamatan harus menjadi nomor satu.
Tapi, di lingkungan rumahnya Jalan Kurnia, Pekanbaru, usah cerita lagi habis ”dilapah” alias
dilaluinya dengan sepeda motor. ”Saya lebih senang mengendarai sepeda motor, lebih cepat sampai
ke tujuan. Kecuali ke tempat yang jauh, barulah menggunakan mobil,” kata Misnarni.

Kesederhanaan ini, ucap Misnarni, bukanlah pencitraan tapi memang sudah menjadi kebiasaannya sejak
kecil. Orang tua mengajarkan demikian, hidup jangan boros. Sehingga Misnarni pun tak pernah minta yang macam-macam kepada suaminya, meskipun sang suami adalah bupati. ”Orang nak cakap apa pada diri saya, silakan saja. Tapi, itulah saya. Saya pun tak pernah minta yang mewah pada suami. Biarlah Allah yang menjawab terhadap kekurangan dan kelebihan pada diri saya,” kata Misnarni.
(RK1)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *