Dasyatnya Narkoba Merasuk Orang Meranti, Wah…!

RiauKepri.com, MERANTI- Narkotika dan Obat-obat Terlarang (Narkoba) merasuk masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti. Sangking dasyatnya, tak kira orangtua, anak muda, bahkan pelajar sekalipun

menjadi pecandu barang laknat itu, dan tercatat 85 persen tindakan pidana di pulau jantan tersebut adalah kasus Narkoba, sisanya perbuatan pidana ringan yang merupakan bias dari Narkoba juga. Wah!

Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP La Ode Proyek, membeberkan, kasus kejahatan yang dominan di Meranti adalah Narkoba bahkan andai ditemukan kasus kejahatan lainnya dapat dipastikan dipicu akibat penggunaan Narkoba.

“Saat ini ada 34 orang tahanan Polres adalah akibat dari Narkoba, meskipun ada kejahatan lain yang kita tahan itu hanya biasnya saja,” ungkap La Ode pada acara pemusnahan barang bukti kasus Narkoba di halaman Kantor Kejari Meranti, Jumat (20/7/2018).

Penggunaan Narkoba di Meranti, juga tak segan mengkonsumsi barang terlarang di depan umum bahkan berpasang-pasangan, seperti yang terjadi dalam kasus penangkapan pengguna Narkoba baru-baru ini di sebuah karaoke.

Jika duit tak punya sementara hasrad untuk memakai Narkoba sudah di ubun-ubun, kata Andi salah seorang pemuda di Meranti, alamat pekakas alias isi barang di rumah dijual. Ampo alias permaidani dan kipas angin yang paling sering dijadikan alat tukar dengan sabu-sabu. Namun, hanya dapat mengisap di tempat sang bandar saja. Sekedar untuk pelepas tagih, dua atau tiga kali isap saja.

Baca Juga :  Wakapolda Riau Buka Pelatihan Transformasi Aplikasi Dashboard Lancang Kuning Bagi Sebelas Polda Rawan Karhutla

Jika sudah tak punya barang lagi di rumah, cerita Andi, jelas tindakan pidana terdedah untuk dilakukan.

Sebegitu parahnya Narkoba merasuki orang Meranti, sampai-sampai La Ode menyebutkan kasus ini sudah luar biasa. Apalagi peredaran Narkoba di kabupaten terbungsu di Riau itu, sang bandar sudah punya siasat baru, yakni dengan melibatkan anak di bawah umur sebagai kurir agar tidak dapat dijerat hukum.

“Dari kasus yang kami tangani beberapa orang masih usia belia, 14 tahun, dan ketika ditanya mengaku baru masuk SMP. Padahal, terkait hukum Narkoba jangankan mengkonsumsi atau mengedarkan, mengetahui Narkoba ada di sekitar kita tapi tidak melaporkan dapat dikenakan tindak pidana,” ungkap La Ode.

Baca Juga :  Mantap, Mahasiswa FIB Unilak Raih Medali Emas di Pra Pon XX

Karenanya La Ode meminta segeralah bertobat atau ditangkap polisi. Lebih parah lagi, dipastikan lambat laun pengguna akan mati, kalau tidak over dosis HIV, yang berujung pada kematian.

Lalu dari mana Narkoba jenis sabu itu datang? Dari sejumlah kasus yang sudah ditangani, jawab La Ode, tersangka mengaku barang tersebut dibawa dari Pekanbaru. Jikapun tidak dari ibu kota Provinsi Riau ini, Narkoba tersebut berasal dari kabupaten induk, Bengkalis.

Meskipun Meranti secara geografis dekat dengan Malayasia dan Singapura, namun La Ode mengaku belum menemukan kasus Narkoba yang dipasok dari dua negara tetangga tersebut. Indikasi itu semakin kuat karena hasil tangkapan yang dilakukan Polres Meranti rata-rata barang bukti jumlahnya di bawah dua kilo, paling banyak satu kilo sabu.

”Warga Meranti yang terlibat kasus Narkoba yang kami tangangi, hanya sebagai pemakai bukan pemasok dari negara lain. Daerah ini belum ditemukan sebagai pemasok atau bandar besar, dan dari sekian banyak kasus Narkoba kami tangani baru sekali kita menangkap Narkoba yang dipasok dari Tangjungbali Karimun, Provinsi Kepri,” tegas La Ode.

Baca Juga :  Perpani Siak Juara Umum 2 Kejurprov II

Saat ini, kata Andi, boleh jadi jaringan Narkoba tersebut sudah beralih ke daerah lain untuk dijadikan pintu masuk. Maklumnya saja, dua tahun lalu dari Mabes Polri berhasil membongkar jaringan Narkoba yang masuk lewat Selatpanjang untuk dibawa ke Pulau Jawa. Namun, kapal pembawa tepung sagu itu tertangkap hingga seorang warga yang disebut-sebut sebagai bandar besar diburu, bahkan sampai ke yayasannya yang berada di Rumbai. Kini, Ad yang disebut-sebut bandar besar itu bebas berlenggang kangkung meskipun sebelumnya dia sempat hilang bagaikan ditelan bumi.

Terkait hal ini, La Ode menyebutkan, kasus dua tahun lalu dia tidak tau bahkan dia masih bertugas di luar Riau. ”Rujukan kerja saya sekarang, kalau dua tahun lalu tidak tau saya,” katanya. (RK1/*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *