Puisi Setjangkir Berlian, Edisi “Sunyi dan Luka”

RINDU

rindu
dimangsa sembilu
ditampar-tampar sunyi
luka menyeringai
mengais rindumu di riak hari
lesap di koya ksepi

rindu
dipanah waktu-waktu
gigil di liang pilu, kian
berdebu

Rumbai, 2018

RENYAI LUKA

pagi
aku terdiam
gerimis mengurung jiwa
di catatan semalam
luka dengan renyai waktu
menyekapku
gigil di senyap pekat

pagi
aku terdiam
deru luka
terbayang-bayang
susah di tepis halang
sepi meruncing
getir mengubur diri

Rumbai, 2018

HUJAN

hujan
baru saja dia pamit
meninggalkanku
di teluk sunyi
dengan sepi luka
yang berserakan

Rumbai, 2018

CATATAN

untuk sebuah catatan
tentang rindu yang tak lagi basah
tersebab kita yang terpisah
segala resah
mengunci jiwa

Baca Juga :  LAMR Berharap Daerah Mengelola Blok Rokan

untuk sebuah catatan
tentang rindu
kitakan bertemu
dalam suatu waktu

rebah bersama malam
di bilik waktu
bergulung kita
berdua

Pekanbaru, 2018

GUNDAH

mengeja bias mentari di pagi hari,
lembaran embun yang mulai tipis,
berbalas burung-burung berkicau
seakan memuja,

dib alik jendela, sunyi menjenggala,
aku hanya dapat menyaksikan,
dengan gundah semalam yang masih tertinggal,
ah

Rumbai, 2018

GADUH

kata hati yang gaduh ,
menghantar jiwa ini pada kesepian,
dalam sapaan hembus angin senja,
semilir sepoi-sepoi bayangannya,
terbias kenangan silam penuh luka,
meranggas, berlarian menghambur di benakku

Baca Juga :  Dari Siak untuk Indonesia, Begini Suasana Apel Pertama Bergabung dengan NKRI

gaduh, terus menjalar ke langit-langit kenangan,
buat kuterjerat dalam gulungan waktu

Rumbai, 2018

AMBIGU

sunyi menyala di peraduan waktu-waktu
kala hatiku gundah tiada hadirmu
ketika aku merindukanmu, isyaratkan ambigu
seakan merangkul dalam sepi
bertalu aku pada ilalang kesunyian

rindu, seakan tiada bernada
kini telah tersekat pada ragu, dan
menghilang bersama debu

Rumbai, 2018

KALUT

menyusuri setapak penuh kekalutan
kala itu nyanyian angin melambai lirih
yang gegas menutup senja
larut aku pada ceruk kesedihan, terdiam membisu
tersebab luka yang kau dedah, berhembus siksa
temaram memburu jiwaku

Baca Juga :  Potensi Pariwisata Pantai di Wilayah Riau Pesisir Belum Tergarap, Salah Satunya Pantai Tanjung Sedekip

aksara pilu meranggas di benakku
air mata tiada henti basahi waktu-waktu
kalut jiwa ini, berkepanjangan
sengsara

Rumbai, 2018

Setjangkir Berlian kelahiran Duri, 7 November 1996. Ia kuliah di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning. Sedang menyibukkan diri dengan dunia tulisannya. Beberapa karya puisinya juga sering hadir di koran Riau Pos, tabloid tanjak.com, riaukepri.com dan puisi-puisinya tergabung dalam buku-buku antologi puisi bersama

No.HP/WA 085264833725.Instagram : @setjangkir_berlian Facebook : SetjangkirBerlian

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *