Dari Diskusi HPI, “Puisi Jalan Merawat Tradisi”

RiauKepri.com, PEKANBARU – Dalam rentetan perhelatan Hari Puisi Indonesia (HPI) Riau yang berlangsung selama tiga hari, Jumat-Ahad (3-5/8/2018), Rumah Sunting selaku pelaksana perhekatan menaja diskusi mengusung tema “Puisi Jalan Merawat Tradisi”. Diskusi yang dipusatkan di Perpustakaan Wilayah Riau, Soeman Hs, Jumat (3/8/2018), menghadirkan pembicara Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, Free Hertaty (Jakarta), Taufik Ikram Jamil (Riau), Phaosan Jahwea (Thailand) dan dipandu Jefri Al Malay.

Dalam diskusi mempertegaskan bahwa puisi tidak mungkin lepas dari tradisi. Menurut Sutardji Calzoum Bachri, puisi menyusui kepada tradisi. Jadi tidak mungkin, kata Sutardji, puisi tidak ‘membawa’ tradisi di mana puisi itu dilahirkan.

“Tentu saja, puisi yang dihasilkan oleh penyair pada hari ini membawa tradisi mereka dengan pembawaan baru, estetika yang baru pula. Hal ini sudah berlangsung sejak lama,” jelas Sutardji Calzoum Bachri, Sang Penyair pembaharu puisi Indonesia ini.

Baca Juga :  BRCN Dikukuhkan, Ini Gebrakan Pertamanya

Sebagai seorang penyair, Sutardji memahami betul proses penciptaan puisi. Bagi Sutardji, puisi tidak dapar ditulis dalam keadaan kosong. Pasti kebudayaan atau tradisi akan mempengarui puisi tersebut.

“Tidak ada puisi steril dari tradisi. Orang tradisonal menjadikan kata-kata dan benda adalah makhluk, dan untuk itu mereka menghargai alam dan isinya. Penyair juga memosisikan diri seperti ini, mengolah kata-kata menjadi makhluk. Maka segala isi alam diharga. Penyair orang yang dekat dengan alam,” ucap Sutardji.

Sementara itu, Free Hertaty, yang juga Ketua Umum Penulis Wanita Indonesia ini, menjelaskan bahwa penyair harus mampu memyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Hal ini, kata Free, bukan tidak beralasan, bagaimanapun juga generasi hari ini sudah kritis.

“Kita tidak meninggalkan tradisi, tapi memesuaikan dengan zaman. Tetap kita merawat tradisi dengan sentuhan baru,” jelas Free.

Baca Juga :  Bersama 10 Daerah Pengolah, Dumai Berjuang Alokasi Bagi Hasil Migas

Tampil sebagai pembicara ke tiga, Phaosan Jahwea, lebih banyak menceritakan bagaimana proses dirinya menyosialisasikan karya puisinya. Menurut Phaosan, di Thailand, terutama di Patani, puisi seperti barang baru. Tidak banyak yang mengeluti puisi, bahkan puisi, kata Phaosan, menjadi barang langka.

“Saya menulis puisi dengan bahasa yang sederhana, kalau saya menulis puisi menggunakan bahasa yang sukar diartikan, maka tak ada yang baca puisi di tempat saya. Agar puisi saya ‘sampai’, maka saya juga menjadikan beberapa puisi saya jadi nyanyian,” ujar Phosan.

Sementara itu, Taufik Ikram Jamil, mengatakan bahwa kalau ada penyair berkarya tanpa tradiai, maka penyair itu ‘berkhianat’ pada tanah kelahirannya. Sebab, kata Taufik, penyair tidak akan mampu melepas tradisi mereka.

“Tradisi itu seperti ‘darah’ penyair. Kita yang menulis di hari ini hanya mengolah yang sudah ada. Nilai-nilai tradisi menjadi kekuatan karya penyair. Kita dapat melihat bagaimana Sutardji Calzoum Bachri mengolah tradisi mantra menjadi kekuatan puisi-puisinya. Tradisi itu adalah identitas kita hari ini,” jelas penulis roman ‘Hempasan Gelombang’ ini.

Baca Juga :  Bawa Sabu 1 Kilogram, BC Dumai Amankan Penumpang Dumai Line 8

Diskusi ini selain dihadiri generasi muda, tampak juga sastrawan senior Riau, Fakhrunnas MA Jabbar, Aris Abeba, Husnu Abadi, Tien Marni, Moesthamir Thalib, dan Herman Rante.

Diinformasikan juga, bahwa peserta HPI yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia dan luar negeri ini, besok, Sabtu (4/8/2018), akan berkunjung ke Gunung Sahilan. Di Gunung Sahilan nantinya peserta akan melihat situs sejarah Kerajaan Gunung Sahilan, dan membacakan puisi, dan kegiatan lainnya. (HK)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *