Pemuda Pedekik Angkat Perang Sosoh Jadi Film

RiauKepri.com, BENGKALIS – Berawal dari niat dan kegiatan pemuda Desa Pedekik menaja “Malam Kenduri Kenegaraan” sejak dua tahun terakhir dengan serangkaian acara fokus mengangkat sejarah perjuangan di desa ini, disepakati mengangkat peristiwa sejarah Perang Sosoh ke dalam sebuah karya film. Akhirnya, Perang Sosoh yang terjadi pada 9 Januari 1949 di Desa Pedekik Kecamatan Bengkalis, diangkat menjadi film pendek.

Proses pengambilan gambar aperdana Perang Sosoh ini telah dimulai pada Ahad (5/8/2018) malam, ba’da Isya. Pengambilan gambar yang berlokasi di rumah Mbah Ikhsan, tepat di depan Masjid Fisabilillah pada pukul 20.20 WIB. Sebelum pengambilan gambar, acara diawali dengan pembacaan do’a.

Proses pembuatan naskah atau skenario film ini memakan waktu lumayan lama. Sebelum skenario ditulis, pengumpulan data dilakukan terlebih dahulu. Data-data yang didampat dari beberapa tokoh desa diolah oleg Musrial menjadi sknario film ini. Begitu juga penentuan kostum, tempat kejadian dan yang lainnya, ditentukan berdasarkan data yang didapat.

“Kami dan kawan-kawan pemuda berharap apa yang kita lakukan hari ini menjadi renungan kita semua. Perlunya mengenal sejarah perjuangan para pahlawan demi kemerdekaan Republik Indonesia. Yang kedua, kita ingin memberikan edukasi kepada adik-adik berupa ilmu tambahan, wawasan pentingnya mengenal beberapa pahlawan Perang Sosoh yang hari ini menjadi bukti sejarah bahwa perang ini pernah terjadi. Kemudian yang ketiga kami berharap ini menjadi karya atau sumbangsih pemikiran pemuda untuk Kabupaten Bengkalis pada umumnya, Pedekik khususnya dan seluruh bangsa ini. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan menjadi film yang sempurna. Ini akan kita teruskan sampai menjadi film yang utuh,” ungkap konseptor Malam Kenduri Kenegaraan, Farhan, setelah selesainya proses pengambilan gambar perdana.

Baca Juga :  Anemone

Film Perang Sosoh masih jauh dari kesempurnaan, Farhan berharap, ini menjadi evaluasi bagi mereka. Film yang berdurasi 10 sampai 15 menit ini, kata Farhan, masih jauh dari kesempurnaan. “Ada beberapa hal sejarah yang akan kami lengkapi nantinya. Nah, kami berharap dapat mencari sumber-sumber lain sehingga beberapa nama yang hilang, bisa ditemukan. Dan cerita ini bisa kita sempurnakan,” ujar Farhan.

Sementara itu, Musrial Mustafa, penulis skenario menjelaskan bahwa skenario film, apalagi skenario film sejarah, memerlukan data-data yang lengkap bersumber dari para tokoh pejuang ataupun keluarga pejuang. Catatan-catatan tentang Perang Sosoh ini, kata Musrial, sangat susah didapati. “Dalam menulis skenario film ini, saya berulang kali berhenti. Saya harus pikirkan benang merah sejarah Perang Sosok di Pedekik ini,” jelas Musrial Mustafa.

Baca Juga :  Mengikat Budaya di "Syair Pengikat"

Apa yang dilakukan Pemudfa Pediki ini mendapat respon positif dari beberapa kalangan, salah satunya tokoh pemuda Kabupaten Bengkalis, Misliadi, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Kabupaten Bengkalis. Miliadi pun salut dengan apa yang dilakukan pemuda Pedekik yang kompak dan bisa dijadikan contoh bagi desa-desa lain. “Pembuatan film ini dilakukan dengan penuh semangat, penuh gagasan-gagasan yang luar biasa untuk membangkitkan desanya supaya ke depan, desa ini bisa lebih dikenal orang,” puji Misliadi.

Apa yang dilakukan pemuda Desa Pedikik dengan ‘mengangkat batang terendam’ peristiwa masa lalu, membuat Misliadi berpikir kenapa Pemerintah Kabupaten Bengkalis tidak memanfaatkan momentum sejarah yanhg ada di Desa Pedekik ini. Seperti ulang tahun Bengkalis, kata Misliadi, Pedekik yang punya peranan penting tapi tidak pernah dikunjungi oleh pemerintah daerah. “Tapak tilas – tapak tilas yang ada di desa ini kurang dijadikan destinasi utama. Ini terbukti dengan beberapa peninggalan yang bisa dibangun oleh pemerintah daerah tidak dibangun di sini,” jelas Misliadi.

Baca Juga :  Suami dan Isteri PNS di Meranti Terpapar Covid-19

Masih menurut Misliadi, bisa saja pemerintah daerah hari ini mencanangkan Desa Pedekik ini menjadi desa wisata sejarah. Dibangun beberapa fasilitas pendukung termasuk memelihara rumah peninggalan Kyai Ikhsan yang seharusnya telah masuk ke dalam aset atau benda sejarah yang dipelihara pemerintah. “Kami harapkan ke depannya, pemerintah daerah memperhatikan hal-hal seperti ini. Sekali lagi, saya katakan salut kepada pemuda Desa Pedekik,” tutur Misliadi. (RK4)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *