Arahan Prioritas Konservasi di Kelurahan Minas Jaya

Oleh: Dr. Ir. Eno Suwarno, M.Si. (Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Lancang Kuning.

LOKASI Kelurahan Minas Jaya Kelurahan Minas Jaya merupakan salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kelurahan Minas Jaya ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Siak Nomor 39 Tahun 2002, tanggal 20 September 2002. Memiliki luas wilayah sekitar 4.957,43 Ha. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Minas Barat, sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Muara Fajar, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Minas Timur, dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Rantau Bertuah.

Kelurahan ini wilayahnya berbatasan dengan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH). Tahura SSH merupakan salah satu kawasan konservasi di Provinsi Riau yang saat ini dalam kondisi kritis akibat perambahan hutan, penebangan liar, kebakaran hutan, dan alih fungsi lahan secara illegal. Guna memulihkannya diperlukan pendekatan yang memadukan antara konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya adalah konsep Desa Konservasi. Tahap awal dalam pembangunan Desa Konservasi perlu adanya peta kelas prioritas konservasi. Peta ini diperlukan sebagai arahan spasial prioritas kegiatan konservasi.

Pembuatan Peta Prioritas Konservasi Pembuatan peta tata ruang wilayah kelurahan Minas Jaya berdasarkan konsep Desa Konservasi, disusun berdasarkan peta sebaran lahan kritis, peta jaringan sungai, peta kelas kelerengan lahan, peta status kawasan, dan peta penggunaan lahan. Produk akhirnya berupa peta tata ruang yang memberi arahan kelas-kelas prioritas konservasi lahan berdasarkan urgensi Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai salah satu unsur daya dukung lingkungan pokok bagi kehidupan umat manusia.

 

Gambar 1. Peta Tingkat Prioritas Konservasi Di Keluarahan Minas Jaya.

 

 

Arahan program konservasi disesuaikan dengan masing-masing kelas prioritas konservasi. Untuk prioritas konservasi 1, dimana semua arealnya berada di kawasan lindung Tahura SSH dengan luas 1.243,92 hektar, maka arahan programnya adalah:

Baca Juga :  Alamak, Silaturahmi Pemko-Insan Pers Sepi, Kambali: Sebaiknya Kepala OPD Hadir

(1) Pada lahan yang masih baik tutupan hutannya, program utama adalah perlindungan hutan, terutama dari gangguan pengrusakan oleh manusia. Hutan alami biasanya memiliki kerapatan pohon dan serasah yang tinggi sehingga dapat mengurangi daya rusak air hujan terhadap tanah dan mengurangi laju aliran permukaan;

(2) Bila pada kawasan lindung terdapat lahan kritis atau tutupan hutannya sudah terdegradasi, pada prinsipnya harus dilakukan upaya pemulihan ekosistem. Di dalam pelaksanaaannya dapat dirancang program pemulihan ekosistem dengan mengkombinasikan dua kepentingan sekaligus, yaitu kepentingan ekologis dan kepentingan pemberdayaan masyarakat. Pola yang lazim guna memenuhi dua kepentingan ini adalah pola agroforestry.

Menurut Pasya dkk (2009), proporsi jenis dan jumlah tanaman pangan disesuaikan dengan kemiringan lahan. Sebagai acuan umumnya proporsi tanaman pada lahan dengan kemiringan yang berbeda, yaitu pada kelerengan < 15% proporsi penanaman 25% tanaman tahunan dan 75% tanaman semusim; pada kelerengan 15-30% proporsi penanaman tanaman tahunan dan semusim adalah sama, yaitu masing-masing 50 %; pada kemiringan lereng 30-40% proporsi penanaman tanaman tahunan adalah 75% dan tanaman semusim 25%; serta untuk kelerengan > 40% penerapan tanaman adalah tanaman tahunan saja, sebab pada kemiringan ini merupakan kriteria fungsi kawasan lindung.

Luas areal prioritas 2 adalah 257,87 hektar. Sebaran areal prioritas 2 pada umumnya mengikuti badan sungai.

Kondisi di lapangan adalah berupa lahan kritis atau lahan agak kritis dengan jarak 100 m kiri kanan badan sungai. Maka arahan programnya adalah:

(1) Pada lahan kritis maupun agak kritis dengan jarak 100 meter kiri kanan badan sungai, dilakukan rehabilitasi dengan cara menanam berbagai jenis pohon-pohonan hutan.

Pohon dipilih terutama terutama dari jenis setempat yang cepat tumbuh dan dari kelompok perintis. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam yang rapat, yang kemudian dibiarkan tumbuh menjadi hutan kembali;

Baca Juga :  Antisipasi Terorisme, Ini Trik Pjs Bupati Inhil

(2) Bila kondisinya berupa kebun masyarakat, maka prinsipnya harus diperkaya dengan berbagai macam jenis pohon-pohonan tahunan, dengan meminimalisir sistem pertanian lahan terbuka;

(3) Bila kondisinya berupa lahan pemukiman masyarakat, maka minimal pada areal 5-10 meter badan sungai diperkaya dengan pohon-pohonan, dan dinding sungai sedapat mungkin tertutup dengan semak dan rerumputan.

Areal prioritas 3 seluas 504,28 hektar dimana sebarannya ada pada tiga lokasi, yaitu dua lokasi ada pada kiri kanan badan sungai dan satu lokasi lagi berbatasan dengan kawasan konservasi Tahura.

Kondisi di lapangan dapat berupa lahan agak kritis atau lahan potensial kritis dengan jarak 100 m kiri kanan badan sungai. Arahan program pada areal prioritas 3 adalah:

(1) Pada lahan agak kritis maupun potensial kritis dengan jarak 100 meter kiri kanan badan sungai, dilakukan rehabilitasi dan pengayaan dengan cara menanam berbagai jenis pohon-pohonan hutan. Pohon dipilih terutama terutama dari jenis setempat, campuran antara jenis yang cepat tumbuh dan agak lambat tumbuh;

(2) Bila kondisinya berupa kebun masyarakat, maka prinsipnya harus diperkaya dengan berbagai macam jenis pohon-pohonan tahunan, dengan meminimalisir sistem pertanian lahan terbuka;

(3) Bila kondisinya berupa lahan pemukiman masyarakat, maka minimal pada areal 5-10 meter badan sungai diperkaya dengan pohon-pohonan, dan dinding sungai sedapat mungkin tertutup dengan semak dan rerumputan.
Selanjutnya areal tingkat prioritas konservasi 4 seluas 1.868,57 hektar.

Arahan program pada areal prioritas 4 adalah: (1) Pada lahan agak kritis maupun potensial kritis dengan jarak 100 meter kiri kanan badan sungai, dilakukan rehabilitasi dan pengayaan dengan cara menanam berbagai jenis pohon-pohonan hutan. Pohon dipilih terutama terutama dari jenis setempat, campuran antara jenis yang cepat tumbuh dan agak lambat tumbuh;

Baca Juga :  Kantor PDI-P Riau Disegel Kader, Ini Sebabnya

(2) Bila kondisinya berupa kebun masyarakat, maka prinsipnya harus diperkaya dengan berbagai macam jenis pohon-pohonan tahunan, dengan meminimalisir sistem pertanian lahan terbuka, sehingga terbentuk pola tanam agroforestry;

(3) Bila kondisinya berupa lahan pemukiman masyarakat, maka minimal pada areal 5-10 meter badan sungai diperkaya dengan pohon-pohonan, dan dinding sungai sedapat mungkin tertutup dengan semak dan rerumputan.
Terakhir areal tingkat prioritas konservasi 5 seluas 1.082,79 hektar.

Areal prioritas 5 tidak mempunya pola sebaran yang khusus. Kondisi di lapangannya umumnya berupa kombinasi dari lahan agak kritis hingga tidak kritis, kelas lereng 2 dan 3, dan jarak dari sungai 100 m atau lebih. Arahan program yang dapat dilakukan pada areal prioritas 5 adalah:

(1) Pada lahan agak kritis, potensial kritis maupun tidak kritis dengan jarak 100 meter kiri kanan badan sungai, dilakukan pengayaan dengan cara menanam berbagai jenis pohon-pohonan hutan, dan melindungi vegetasi yang sudah ada Pohon untuk pengayaan dipilih terutama terutama dari jenis setempat, campuran antara jenis yang cepat tumbuh dan agak lambat tumbuh;

(2) Bila kondisinya berupa kebun masyarakat, maka prinsipnya harus diperkaya dengan berbagai macam jenis pohon-pohonan tahunan, dengan meminimalisir sistem pertanian lahan terbuka, sehingga terbentuk pola tanam agroforestry;

(3) Bila kondisinya berupa lahan pemukiman masyarakat, maka minimal pada areal 5-10 meter badan sungai diperkaya dengan pohon-pohonan, dan dinding sungai sedapat mungkin tertutup dengan semak dan rerumputan. ***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *