BudayaOpiniPekanbaruRiau

Terkenang Sultan Syarif Kasim II

Pada zaman kenen (kini) orang-orang sepertinya gila dengan pujian dan sanjungan. Untuk mendapatkan pujian dan sanjungan ini, tidak jarang pula harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Manuver-manuver rekayasa pun dijalankan untuk menghasilkan pujian dan sanjungan. Padahal orang-orang terdahulu paling takut dengan pujian dan sanjungan. Mereka sadar bahwa pujian dan sanjungan akan melemahkan kesadaran akan diri. Itu sebabnya banyak penulis pada masa lalu tidak mencantumkan nama mereka di setiap karya yang dihasilkan.

Raja Ali Haji dalam Gurindam 12, Pasal Empat mengatakan “Mengumpat dan memuji hendaklah pikir, di situ banyak orang yang tergelincir”. Dalam kalimat ini, Raja Ali Haji mengingatkat bahwa perbuatan mengumpat dan memuji ini merupakan salah satu perbuatan yang dapat menjerumus seseorang.

Mengumpat dan memuji dalam Gurindam 12 ini setara. Kedua kata ini bahaya, bisa mengancam eksistensi seseorang. Mengumpat (memburuk-burukkan) orang, sudah pasti sangat berbahaya, sehingga dalam ajaran agama perbuatan ini dilarang keras. Sementara kata ‘memuji’ sebenarnya maknanya baik. Memuji (mengagumi seseorang yang telah melakukan kebaikan) namun kata ini jadi berbahaya apabila digunakan berlebih-lebihan. Dengan pujian berlebihan, orang menjadi tidak sadar akan dirinya.

Melihat kenyataan hari ini, yang katanya zaman melenial, terkhusus mengenai kata ‘memuji’, semakin menjadi-jadi digunakan. Paling terasa, kata ‘memuji’ ini digunakan berlebih-lebihan pada masa pemilihan pemimpin. Orang-orang semakin menggila memuji dan minta dipuji. Serangkaian wacana dilepaskan untuk mendapat pujian dan dengan segala cara pula untuk memuji.

Atah Roy menggeleng-gelengkan kepala melihat fenomena ini. Maklumlah, Atah Roy baru dapat hp baru yang canggih, sehingga Atah Roy dapat mengikuti fenomena ini dari media sosial. Saban detik, pujian mengalir bak arus Sungai Siak, tak pakai berhenti, dan sangat kencang. Bahkan, tak jarang juga disebabkan puji memuji ini menjadi sengketa antara saudara mara, kawan, atasan bawahan, dan laki bini. Hilang akan sehat untuki menapis pujian. Sementara orang-orang yang hendak maju menjadi penguasa menebar pesona untuk dipuji.

Baca Juga :  Pemkab Siak Sampaikan RAPBD Perubahan

Paling geram Atah Roy ketika orang-orang yang mengharapkan pujian itu, merasa paling berjasa pada negara ini. Macam negara ini tidak akan ada apabila mereka tak ada. Saling menyerang untuk mendapatkan pujian.

Sedang asik-asiknya Atah Roy membaca kiriman-kiriman orang di media sosial, Leman Lengkung masuk sambil membusungkan dada. Leman Lengkung memandang Atah Roy seperti hendak menyampaikan sesuatu yang mustahak. Menenguk tingkah Leman Lengkung, Atah Roy penasaran.

”Aduh mak pandangan dikau, Man, macam sudah yakin mendapatkan sesuatu yang pasti? Kalau boleh aku tahu, ape agaknye?” tanya Atah Roy.

“Ini baru mantap, Tah. Orang ini yang paling tepat memimpin kite di mase akan datang. Tenguk semue jase-jase yang telah dibuat untuk bangse kite ni, Tah, bertimbun. Kalau dikumpulkan jase beliau, memang pulau kampung kite ini tak muat menampungnye. Terlalu banyak,” ucap Leman Lengkung sambil menunjukkan telepon genggamnya kepada Atah Roy.

Atah Roy pun menenguk telepon ganggam Leman Lengkung. Setelah menenguk, Atah Roy menarik nafas panjang. Tiba-tiba Atah Roy terbayang sosok Sultan Syarif Kasim II. Atah Roy termenung sesaat.

“Kenape Atah termenung?  Atah kagum ye dengan die. Ini baru hebat, Tah. Orang ini telah banyak berbuat untuk negara kite ini. Paling cocok kite jadikan pemimpin,” ucap Leman Lengkung.

“Man, dikau tahu Sultan Syarif Kasim II?” tanya Atah Roy dengan nada suara bergetar dan mata berkaca-kaca disebabkan ada air mata yang tertahan.

“Tahulah, Tah. Beliaukan Sultan Siak terakhir. Kalau tak salah saye, Beliau Sultan Siak yang ke 12,” jawab Leman Lengkung.

“Itu saje yang dikau tahu tentang Beliau, Man?” Atah Roy bertanya kembali.

“Beliau diangkat menjadi Pahlawan Nasional, Tah,” Leman Lengkung menjawab.

Baca Juga :  Mantap, 6 Mahasiswa Unilak Wakili Riau di Peksiminas Jogjakarta

“Tahun berape Beliau dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional, Man?” kembali Atah Roy bertanya.

“Ha, tahun berape Beliau dinobatkan jadi Pahlawan Nasional, saye tak tahu, Tah. Tahun berape agaknye, Tah?” kini Leman Lengkung pula bertanya.

“Man, dikau simpan betul-betul ape yang hendak aku sampaikan ini ye, Man. Tahun 1998, Beliau dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Jauh dari tahun itu, Man, Beliau sudah berbuat untuk negara yang kite cintai ini. Beliau tidak pernah mengharapkan pujian dari siapepun juge. Beliau berjuang untuk negara ini sampai menyerahkan kekuasaan dan harte bende kepada negara kite ini. Siape yang bisa bersikap seperti Beliau, Man. Untuk mempertahankan kemerdekaan dan untuk semakin kuatnya Negera Kesatuan Republik Indonesia, Beliau sanggup menyerahkan harte dan tahtenye, Man. Tak ade de, Man. Tak ade orang sanggup berbuat macam Beliau. Beliau melakukan ini semue untuk bangsa kite ini. Tak ade keinginan Beliau untuk dibalas menjadi pimpinan di nagara ini atau pun menjadi menteri. Siket pun tidak, Man. Tapi ape yang beliau dapat, Man? Anugerah Pahlawan Nasional saje baru die dapat tahun 1998, itu pun atas perjuangan keras orang Riau yang menghargai Beliau sebagai seorang pejuang untuk negera ini. Beliau berbuat untuk negara ini, tidak mengharapkan ape-ape de, Man, kecuali untuk NKRI. Adekah orang macam Beliau pade hari ini di negeri ini, Man? Semue orang yang berbuat yang katenye untuk bangsa dan tanah air pada hari ini, semuenye bengak, Man. Semuenye demi kepentingan pribadi maupun golongan. Dikau bisa bandingkan ape yang telah dilakukan Sultan Syarif Kasim II dengan orang hari ini? ” air mata Atah Roy mengalir deras ke pipi. Atah Roy benar-benar tak mampu menahan rasa sedih.

Baca Juga :  Hang Kafrawi Menyanyat Hati, Rp 6 Juta Lebih untuk Korban Tsunami

Melihat air mata Atah Roy semakin deras mengalir, Leman Lengkung merasa bersalah. Leman Lengkung mau memeluk Atah Roy seketika itu juga, namun Leman Lengkung mengurungkan niatnya. Rasa yang mengalir melalui air mata merupakan cara untuk mengurangi beban yang menyesak di dada, kalau ini dihentikan, maka kemarahan yang akan menjelma. Tanpa disadari Leman Lengkung, air matanya ikut mengalir ke pipi.

“Maafkan saye, Tah, telah membuat Atah bersedih,” ucap Leman Lengkung lirih.

“Dikau tak bersalah, Man, sebab dikau tak tahu. Kalau dikau tahu, tentu dikau tidak ikut-ikut memuji orang berlebihan. Ingat tu, Man,” ucap Atah Roy.

Melihat Atah Roy sudah mampu mengontrol diri, Leman Lengkung langsung memeluk Atah Roy. Atah Roy menahan agar Leman Lengkung tidak memeluknya.

“Jangan peluk aku, Man, sebab bau dikau macam telur tembelang,” ucap Atah Roy.

“Hmmm…,” Leman Lengkung pasrah.

Hang Kafrawi adalah Kaprodi Sastra Indonesia FIB Universitas Lancang Kuning.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *