Pandangan Politik Edy Nasution dan Kisah Satu Keluarga Beda Selera

Edy Nasution.

RiauKepri.com, PEKANBARU- Syahdan, beredar foto pertemuan Gubernur Riau terpilih dan Wakil Gubernur Riau terpilih, Syamsuar – Edy Natar Nasution dengan sejumlah Bupati/ Walikota se Riau di Hotel Premier, Senin (8/10/2018), menjadi perbincangan di tengah masyarakat.

Bahkan pertemuan tersebut diisukan adalah pertemuan khusus Gubri dan Wagubri terpilih dengan Bupati/Walikota se-Riau untuk membahas persiapan Deklarasi Relawan Jokowi bersama Gubri dan Wagubri terpilih dengan Bupati/Walikota se Riau yang akan berlangsung nanti di Hotel Aryaduta Pekanbaru, Rabu (10/10/2018).

Apakah benar Gubri dan Wagubri terpilih mengajak seluruh kepala daerah di Riau untuk mendukung Jokowi? Yang jelas, belum ada jawaban resmi dari Syamsuar sebagai Gubri terpilih yang namanya disebut-sebut ada dalam undangan deklarasi tersebut.

Namun Wagubri terpilih, Edy Natar Nasution memberikan sebuah jawaban dengan beberapa analogi agar masyarakat dapat menyimpulkan dengan baik dan benar maknanya.

Dikatakan jenderal bintang satu ini, dalam konteks sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih, Syamsuar dan dirinya adalah perpanjangan pemerintah pusat di daerah. Maka wajib mendukung program pemerintah pusat yang sekarang ini sedang dijalankan.

Baca Juga :  Warga Dumai Belum Pakai Masker Keluar Rumah, Zul AS: Saya Sadar tak Bisa Memaksa

“Pemerintah sekarang ini naik secara konstisitusional dan sah, jadi kalau kita tidak mendukung yang sekarang dalam periode kepemimpinan dia (Joko Widodo, red), kita itu disebut nakal, membelot, itu tidak boleh. Wajib kami mendukung segala,” kata Edy Natar Nasution.

“Tetapi ketika nanti beliau maju Pilpres, Pak Jokowi tidak membawa jabatan presidennya, tapi pribadi dia. Sama dengan waktu Pak Syamsuar maju Pilkada Riau, dia bukan membawa Bupati Siak, dia cuti. Saya juga seorang pensiunan tentara. Sama halnya jika Prabowo terpilih masih dalam periode kami, wajib kami mendukungnya. Ini yang harus dipahami masyarakat,” kata Edy lagi.

Tetapi nanti kalau pilihan Pilpres, Edy Nasution memberikan jawaban dengan perumpamaan atau sebuah analogi. Seperti ketika dalam sebuah rumah, ada tiga orang anak yang berbeda pilihan tentang makanan kesukaannya. Anak pertama suka nasi goreng, anak kedua suka pecel dan anak ketiga suka mi goreng. Dikatakan ayah kepada anaknya, ”jangan pernah paksa adekmu untuk suka nasi goreng, karena dia suka nasi pecel. Begitu juga adik jangan paksa kakaknya suka nasi pecel”.

Baca Juga :  Kredit Fiktif di Bank Riau Kepri, Kejati Nyatakan Lima Tersangka

“Tapi ketika kamu pulang ke rumah orangtuamu, lalu ibumu masak nasi goreng kalian bertiga harus makanan itu. Karena yang memasak nasi goreng itu adalah ibumu, jadi sebagai anak kalian harus menghargainya,” kata Edy lagi.

“Dan hal ini sama dengan ketika Saya dan Pak Syamsuar terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur Riau, artinya kami adalah gubernur dan wakil gubernur Riau, bukan gubernurnya orang Siak dan bukan gubernurnya orang Rokan Hulu, bukan gubernurnya partai pangusung,” kata Edy menegaskan.

“Meskipun saat pemilihan, ada warga yang memilih dan tidak memilih. Tapi faktanya sekarang kami pemimpin seluruh masyarakat Riau termasuk yang tidak memilih. Artinya saya dan Pak Syamsuar milik masyarakat Riau,” kata Edy menambahkan lagi.

“Dukungan tiga partai ini tidak harus berakhir ketika Pilkada Riau selesai, kami masih membutuhkan dukungan hingga 5 tahun ke depan. Bahkan tidak cukup 3 partai ini, tapi butuh dukungan partai lainnya juga,” sebut Edy.

Ketika mempertanyakan dukungan Pilpres, disini akan ada warna politik, karena tidak boleh dipaksakan atau memaksa, itulah demokrasi. “Artinya, pak Jokowi dan pak Prabowo maju Pilpres sebagai putra terbaik Indonesia, dan ada yang bertanya kepada saya pilihan saya kemana, itu hanya ada di bilik suara. Tidak ada orang yang boleh tahu. Itulah demokrasi,” kata Edy dengan sangat lugas.

Baca Juga :  Ke Pekanbaru, Selain Bawa Anak dan Istri Sandiaga Uno Juga Bawa Orangtua

“Jadi jangan kita bodohi rakyat ini, ketika kita berkumpul di sini kita tidak boleh berbicara Pilpres, karena orang yang ada di sini adalah orang yang kemarin berbicara Pilkada Riau. Karena bisa jadi pilihan akan berbeda, jadi jangan hal itu yang dipertajam,” tandasnya lagi.

“Dalam pilpres, setiap orang berhak memiliki warna yang berbeda, karena ini demokrasi. Itulah yang saya analogikan tadi, boleh kau suka nasi pecel, kau suka nasi goreng, kau suka mie goreng tapi saat kau di luar sana. Ketika kau pulang ke rumah orangtuamu, kau harus makan apa yang dimasak ibumu itu karena itu adalah otangtuamu,” imbuhnya lagi. (RK1/*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *