BudayaOpiniPekanbaruRiau

Manusia Unggul

Oleh: Hang Kafrawi

MANUSIA dilahirkan di muka bumi ini merupakan manusia pilihan atau para juara. Sebelum terlahir, manusia menjalani berbagai kompetisi. Kompetisi pertama adalah ketika manusia masih berbentuk sperma. Ribuan sperma yang dilepaskan orang tua lelaki ketika saat berhubungan badan dengan orang tua perempuan, mengejar ovum. Ribuan sperma ini berlomba menjadi pemenang dan yang terkuatlah memjadi pilihan.

Kompetisi kedua lebih bersifat personal. Di dalam rahim ibu, cikalbakal manusia ini lebih banyak berkompetisi dengan dirinya sendiri. Memperkuat diri untuk tampil sempurna sebagai manusia nantinya. Sebagai anugerah sebagai pemenang, roh pun ditiupkan ke diri manusia tersebut.

Kelahiran menjadi awal pertarungan berikutnya bagi makhluk bernama manusia ini. Ketergantungan manusia awal ini kepada manusia lainnya menginsyaratkan bahwa manusia tidak akan mampu berbuat apa-apa tanpa bantuan yang lain. Interaksi yang menciptakan ketergantungan manusia satu dengan lainnya terus berlanjut sampai akhir ayat manusia.

Ada dua bagian terpenting dari manusia, yaitu bagian fisik dan bagian roh. Bagian fisik dapat dilihat langsung oleh panca indera, sementara roh wujudnya tidak nyata. Kedua bagian inilah saling mengisi jadi satu bagian dan melahirkan kekuatan bagi manusia.

Dalam dunia filsafat ada dua paham (seperti manusia memiliki dua unsur; tubuh dan roh) yang dapat membuka cakrawala berfikir kita tentang keberadaan sesuatu di muka bumi ini: materialisme dan idealisme. Materialisme, (dikutip dari buku Filsafat Manusia, Memahami Manusia Melalui Filsafat, karya Zainal Abidin, penerbit Rosda) adalah faham filsafat yang meyakini bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat material atau fisik. Ciri utama dari kenyataan fisik atau material adalah ia menempati ruang dan waktu. Sementara itu idealisme (dikutip dari buku yang sama) adalah faham filsafat yang beranggapan bahwa kenyataan sejati adalah bersifat spiritual. Para idealis percaya bahwa ada kekuatan atau kenyataan spiritual di belakang setiap penampakan atau kejadian.

Baca Juga :  Begini Sedihnya Siti Nurhaliza dan Noraniza Idris Meninggalnya Pak Ngah

Diri manusia memiliki dua paham ini, materialisme (tubuh) dan idealisme (roh). Sangat tepatlah apa yang dikatakan Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua 12, Pasal 1, bahwa Barang siapa mengenal diri, maka akan kenal Tuhan yang Bahri. Dari kenyataan ini dapatlah kita bongkar ada keterkaitan segala penciptaan berpusat kepada manusia. Manusia menjadi sumber dalam menggerakkan denyut kehidupan di jagat alam raya ini. Itu sebabnya manusia disebut sebagai khalifah di muka bumi.

Keberadaan manusia tentu saja ditentukan oleh manusia itu sendiri. Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta, bisa dikatakan, ‘lepas tangan’ dengan apa yang dilakukan manusia. Tuhan hanya memberikan hidup dan manusialah yang menentukan jalannya. Sebagai bentuk kasih sayangNya kepada ciptaanNya bernama manusia, Tuhan memberikan tanda-tanda atau rambu-rambu penuntun manusia untuk menuju kebaikan atau keburukan. Balasannya bagi manusia mengikuti rambu-rambu kebaikan, maka hasilnya pun kebaikan (surga). Sebaliknya, manusia mengikuti rambu-rambu keburukan akan menuai pula hasil keburukan (neraka).

Ada kekuatan yang dahsyat dititipkan Tuhan kepada manusia, yaitu akal (pikiran) dan hati (perasaan). Akal dan hati inilah yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Akal dan hati adalah esensi roh. Ianya menjadi berenergi ketika material (panca indera) menangkap dan memberikan stimulus dari kenyataan atau peristiwa yang terjadi. Apa yang ditangkap panca indera ini diolah oleh kekuatan akal dan hati. Dari olahan inilah melahirkan berbagai tanggapan dalam berbagai bentuk pula. Bagi seorang penyair olahan ini akan melahirkan puisi. Bagi ahli teknologi akan melahirkan pula karya teknolgi yang canggih. Pada dasarnya apa yang dilahirkan atau diciptakan manusia perosesnya sama, namun hasilnya berbeda susuai keahlian yang dipilih manusia tersebut.

Baca Juga :  Begini Kronologis 54 Pelajar Cewek di Pekanbaru Sayat Tangan Sendiri

Keberadaan manusia belum menjadi penting apabila manusia tidak menyadarai keberadaannya. Dalam filsafat Hegel (filosof Jerman) bukan ‘ada’ yang menjadi penting, tapi ‘menjadi’ merupakan hakikat dari kelahiran manusia. Dari pandangan Hegel ini membawa pemaknaan bagai manusia yang selalu berfikir. ‘Menjadi’ merupakan wujud manusia yang aktif, kreatif dan inovatif untuk mengisi dan membangun ruang dan waktu yang dibentang oleh Sang Maha Kuasa. Maka ‘menjadi’ adalah wujud dari eksistensi manusia yang sesungguhnya. Manusia dengan segala kelebihannya dari makhluk lain dapat menciptakan sesuatu apapun dalam memenuhi keperluannya sebagai manusia. Kita tinggal memilih keperluan apa yang hendak kita wujudkan; bernilai burukkah atau bernilai baik. Segalanya ditentukan oleh manusia itu sendiri.

Dalam mewujudkan eksistensi manusia, Hegel dalam filsafatnya menjelaskan, konfrontasi dan konflik adalah jalan untuk menampakkan wujud manusia itu sesungguhnya. Dari pandangan ini dapat dibuhul suatu pandangan bahwa untuk menjadi manusia yang lebih unggul di mata manusia lainnya, konfrontasi dan konflik itu memang harus diciptakan, sehingga pandangan mengarah kepada seseorang. Dunia politik nampaknya memanfaatkan betul pandangan ini. Peristiwa-peristiwa dibenturkan untuk melahirkan konflik dan pada akhirnya melahirkan konfrontasi untuk memunculkan sosok seseorang yang paling hebat.***

Hang Kafrawi adalah seniman muda Riau yang kaya dengan karya-karya sastra, beliau juga seorang tokoh teater modern Riau yang bermastautin di Pekanbaru. Sekarang tercatat sebagai Ketua Program Studi Sastra Indonesia dan Sastra Melayu, FIB Universitas Lancang Kuning

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *