Kasihan, Riau Siaga Banjir dan Longsor, 13.447 KK Sudah Jadi Korban

Banjir menjadi ajang bermain anak-anak di Riau.

RiauKepri.com, PEKANBARU– Sepajang November 2018, sebanyak 13.447 Kepala Keluarga (KK) di seluruh Riau menjadi korban banjir. Sehingga Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status siaga darurat banjir dan longsor.

“Ada 6 kabupaten dan kota di Riau yang terdampak banjir ‎akibat tingginya intensitas hujan. Sebagian wilayah banjir karena tidak berfungsinya drainase seperti di Kampar dan Kota Pekanbaru,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edwar Sanger,Jumat (30/11/2018).

Edwar menyebutkan, belasan ribu jiwa yang menjadi korban bencana banjir itu berada di‎ Kota Pekanbaru, Kabupaten Bengkalis, Rokan Hilir, Kuantan Singingi, Rokan Hulu, dan Indragiri Hulu.

“Untuk di Pekanbaru, ada dua kelurahan, dua kecamatan dan 927 KK.‎ Kemudian, di Bengkalis melanda tiga kecamatan, empat desa dan 248 KK. Di Rokan Hilir melanda enam kecamatan, sepuluh desa dan 1.248 KK,” kata Edwar.

Baca Juga :  Kabar Baik, Kondisi Pasturi Positif Covid-19 di Dumai Membaik

Sementara di Kuansing melanda sebelas kecamatan, 104 desa dan 7.325 KK. Di Rokan Hulu melanda empat kecamatan, 13 desa, 424 KK dan 1.198 jiwa. Terakhir, di Indragiri Hulu melanda sepuluh kecamatan, 59 desa, 1.437 rumah,3.275 KK dan 3.275 jiwa.

‎Penetapan status siaga darurat banjir dan bencana longsor dimulai hari ini hingga 31 Desember 2018.

“Tapi jika di bulan Januari 2019, curah hujan tidak tinggi lagi, maka status tersebut tidak akan diperpanjang,” kata Edwar.

Sebab, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika stasiun Pekanbaru menjabarkan, hingga pergantian tahun nanti akan diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi. Status siaga ini bisa diperpanjang kalau hujan masih terjadi hingga akhir Januari 2019.

Baca Juga :  LMB: Suppoter PSPS Itu tak Beradab, Usir Dari Riau, Audit PSPS

Beberapa pertimbangan penetapan status siaga banjir dikarenakan ada lima kabupaten yang sudah menetapkan status ini sebelumnya.

“Daerah itu adalah Kabupaten Rokan Hilir, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Dumai dan Pelalawan,” katanya.

Meski daerah lain juga terjadi bencana banjir, namun itu terjadi tidak merata. Seperti yang terjadi di Bangkinang, Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru. Hal itu karena buruknya darinase di Kampar dan Pekanbaru sebagai faktor penyebab banjir datang.

“Banjir di Kampar karena drainase tidak berfungsi. Nah sehari hingga dua hari setelah dinormalisasi, banjirnya reda,” kata Edwar.

Baca Juga :  Selain Berkurban, Bupati Inhu Hibur Warga dengan Lagu Religi

Sebagai contoh Kota Pekanbaru yang dipimpin Walikota Firdaus, di kawasan Panam dan Perumahan Witayu di Kecamatan Rumbai, juga terjadi karena drainase serta tidak berfungsinya pintu air di Sungai Siak.

Padahal di Sungai Siak ada tiga pintu air. Di antaranya terletak di bawah jembatan Leighton dan sekitar Perumahan Witayu. Di perumahan tersebut pintu airnya tidak berfungsi sehingga air meluap ke perumahan.

“Jadi kita sedang mencarikan solusinya, perbaikan pintu. Mudah-mudahan bisa teratasi sehingga banjir tidak terjadi lagi,” terang Edwar. (RK1/*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *