BudayaOpiniPekanbaruRiau

Antara Borobudur dan Bintan: Dalam Talam Sastra

Oleh: Taufik Ikram Jamil

SAMBIL menaiki tangga komplek makam pemuka Melayu klasik di Bukit Batu Bintan, Kepulauan Riau (Kepri), penyair Ratna Ayu Budiarti yang kebetulan berada di sebelah saya menyeletuk, “Temanya nyambung dengan Borubudur.” Maksudnya tema Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) Kepri, seperti memiliki benang hijau yang sama dengan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) di Magelang, Jawa Tengah. Benang tersebut, apalagi kalau bukan berkaitan dengan sejarah.

“Aku terpancing untuk berceloteh lebih jauh mengenai sambungan yang disebut Ratna itu, tapi karena kulihat penyair asal Jabar ini sudah mengalihkan ke lain perhatian, aku simpan celotehan tersebut begitu saja ke dalam benakku,” tulis saya kepada Abdul Wahab, seorang kawan yang tinggal di kawasan Selat Melaka sana melalui pesan pendek telepon genggam. Saya sebutkan juga meski tak sempat bertegur sapa, ia memang saya lihat di BWCF (22-25/11) dan kini di FSIGB (29/11-2/12).

Kalau mau diperpanjang, sambungan itu juga mengena pada Pesta Puisi Rakyat di Jakarta (17-18/11), bahkan Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara di Pekanbaru (26-28/11). Tapi memadailah kepada Wahab akirnya saya menulis bahwa jika BWCF melihat sejarah melalui perjalanan pelawat Cina, Islam, dan Barat, FSIGB lebih fokus membaca dinamika Bintan – Melaka terutama melalui kitab Hikayat Hang Tuah.

Usahlah mempersoalkan cakupan materi kegiatan-kegiatan itu karena memang tidak demikian dimaksudkan oleh catatan ini, tetapi lebih pada pemanfaatannya. Di BWCF, sejarah cenderung sebagai materi peradaban, sedangkan FISGB menggaulinya sebagai ladang kreatif . Bukankah Pesta Puisi Rakyat menandai perjalanan hari puisi, sedangkan pembicaraan mengenai naskah cenderung pada menengok perilaku semasa?

Maka sejarah dapat dibelek-belek dari berbagai sudut. Pada FSIGB misalnya, sejarah bukan urutan peristiwa semata, tetapi adalah makna yang dapat ditangkap dari rentetan peristiwa itu sendiri yang bisa jadi memiliki kesamaan dengan masa lain. Sedangkan pada BWCF peristiwa diberi makna pada peristiwa itu sendiri. Rentetan peristiwa adalah suatu keniscayaan yang seharusnya wujud untuk masa kini maupun mendatang.

Syahdan, pertanyaan berikutnya adalah mengapa kegiatan yang dilaksanakan berlainan tempat, dengan penyelenggara yang tentu berbeda pula bahkan tanpa kaitan sedikit pun, juga dilaksanakan oleh orang nonsejarah, memegang garis serupa yakni sejarah? “Karena sejarah dapat membawakan engkau lebih arif memandang orang lain dan dirimu, sehingga tak mungkin mempertentangkan segala sesuatu, sebaliknya mencari kesamaan di antaranya,” tulis saya kepada Wahab.

Contohnya dalam sastra. Mengapa tidak dicari kemungkinan sastra Indonesia kontemporer sebagai media kelisanan dan keberaksaraan sebagai suatu sistem yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan sastra di Barat? Diperlukan penerokaan sejarah untuk itu, sehingga keberaksaraan dan kelisanan tak terpisahkan dalam sastra Indonesia modern. Kekayaan tradisi lisan tidak bisa musnah dalam gemuruh ombak keberaksaraan yang menggila.

Sebagian sajak Sutardji Calzoum Bachri (SCB) misalnya, kurang dapat dinikmati kalau tidak dilisankan—hanya bersandar pada teks. Sajak “Q” baru dirasakan sebagai sesuatu yang luar biasa ketika dibacakan SCB di Taman Ismail Marzuki (TIM) tahun 70-an. Sayangnya, hanya sekali itu sajalah SCB membacakannya yang tak terulang lagi pada kesempatan lain sebagaimana kebanyakan nasib tradisi lisan lainnya. Untungnya, sajak itu meninggalkan teks yang kalau diteroka lebih jauh, juga dapat memberikan sesuatu dalam diri penikmat.
***
BUKANKAH kenyataan sastra di atas dapat diparalelkan dengan kondisi negara dan bangsa sekarang? Tentu saja hal tersebut berkaitan dengan pertanyaan, mengapa kehidupan berbangsa dan bernegara seperti saat ini, ketika kita sesama kita makin jauh, juga di antara negara serumpun? Padahal sejarah memperlihatkan yang lain seperti melalui wujud Sriwijaya, Majapahit, Demak, dan Melaka.

Tentu tidak dalam kesempatan ini, hal di atas dibahas lebih jauh. Yang hendak dikatakan berikutnya adalah bahwa tidak ada sesuatu di dunia ini terbebas dari sejarah, sebagai suatu rentetan peristiwa dengan sifat statis maupun dinamis yang dapat dihimpun dalam apa yang disebut data. Muhammad Yusof Hashim dalam bukunya Pensejarahan Melayu (1992; 1) mengungkapkan bahwa pada dasarnya sejarah adalah catatan-catatan peristiwa dan peristiwa-peristiwa itu sendiri, saling mempunyai pertalian yang relatif. Sesuatu peristiwa yang terjadi itu dicatatkan dan jadilah peristiwa tersebut sebagai sejarah. Dalam fenomena ini, peristiwa dan catatan peristiwa berkembang dan membentuk perkara-perkara selanjutnya.

Dengan demikian sejarah merambah semua kehidupan. Sebut saja misalnya dalam politik. Menurut Miriam Budiardjo (2014; 25-26), sejarah merupakan alat yang paling penting bagi ilmu politik karena menyumbang bahan, yaitu data dan fakta dari masa lampau untuk diolah lebih lanjut. Perbedaan pandangan antara ahli sejarah dan sarjana politik ialah bahwa ahli sejarah selalu meneropong masa yang lampau dan inilah yang menjadi tujuannya, sedangkan sarjana ilmu politik biasanya lebih melihat ke depan. Untuk Indonesia, mempelajari sejarah dunia dan Indonesia khususnya merupakan suatu keharusan. Sejarah dipelajari untuk ditarik pelajarannya agar dalam menyusun masa depan, tidak terbentur pada kesalahan-kesalahan yang sama.

Baca Juga :  Potensi Pariwisata Pantai di Wilayah Riau Pesisir Belum Tergarap, Salah Satunya Pantai Tanjung Sedekip

Tak berlebihan kalau kemudian Wahab merasa bahwa anjuran muhasabah, menghisab diri, juga tak lain dari kehadiran sejarah dalam kehidupan. Seseorang dianjurkan merenung tentang apa yang telah dibuatnya, bahkan dalam hitungan hari dan jam. Apa-apa yang sudah dibuatnya pada masa lalu yang jauh maupun dekat, kemudian mengambil pelajaran darinya untuk tidak diulangi pada masa depan, malah dituntut untuk diperbaiki. Akan dibacanya catatan-catatan hitam yang kadang kala lebih banyak menonjol, sebab catatan putih berupa kebaikan-kebaikan diri memang dianjurkan untuk tidak dikenang. Cuma catatan-catatan hitam itu senantiasa pula disandingkan dengan kemungkinan-kemungkinan lain, bahkan bisa menjadi obat tersendiri.

Di sisi lain, rumusan sejarah memang beragam. Banyak dicibir misalnya, ketika orang membandingkan terminologi Sulalatus Salatin karya Tun Sri Lanang dengan Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji. Buku pertama konon amat jauh dari maksud sejarah karena tidak memisahkan antara fakta dengan mitos bahkan dongeng yang di dalamnya termasuk saat membahas Hang Tuah. Sedangkan buku kedua mendekati kajian sejarah antara lain dengan penyertaan waktu kejadian, bahkan menyelipkan satu kata “konon” sebagai sikap meragukan sesuatu yang disebut fakta.

Nyatanya pula dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat Nusantara, fakta dan mitos bukanlah bagian yang dapat dipisahkan. Untuk membuktikannya adalah suatu perkara lain. Agaknya karena begitu kuat kondisi ini wujud, kajian sejarah modern tidak lagi memandang remeh terhadap mitos maupun dongeng sebagai bagian dari sejarah walaupun dengan syarat sebagai suatu ingatan kolektif—beberapa kelompok masyarakat berpandangan sama terhadap suatu subjek. Padahal sejarah pun pada hakikatnya diingat-ingat, dicari-cari, bahkan diciptakan.
***
OLEH karena hadir di berbagai acara yang disebutkan di atas sebagai penyair, selanjutnya saya menulis kepada Wahab, “Tentulah Hab, penyair juga berada dalam lanskap sejarah demikian. Ia menghadapi peristiwa-peristiwa, ia menghadapi catatan-catatan. Ia membelek-belek peristiwa apakah berkaitan langsung dengan sajak atau tidak. Hal ini sejalan dengan hakikat sajak yang sebenarnya sebagai suatu pengorganisasian data untuk dijadikan simbol secara konkrit atau untuk dikonkritkan. Pengkonkritan simbol itu pulalah yang membedakannya dengan prosa fiksi yang merupakan upaya mengorganisir data untuk dijadikan simbol secara asbtrak.

SCB dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan bahwa penyair memang tidak menulis di atas kertas kosong, tetapi di atas tulisan lain berupa sejarah, mitos, dan sejenis dengannya. Ia barangkali mempertebal suatu tulisan, entah sekata, sekalimat, dan separagraf. Berbancuh dengan berbagai pengalaman, bahkan bakat, penyair mencipta berdasarkan ciptaan terdahulu. Inilah agaknya apa yang disebut sebagai hakikat ciptaan manusia yakni pasti berawal dan berakhir dengan berbagai contoh, sementara Allah mencipta tanpa contoh dan tanpa awal maupun akhir.

Dengan demikian, sajak pun diciptakan berdasarkan data yang tak lain adalah gumpalan peristiwa yang kita sebut sejarah. Jadi sajak atau puisi bukan bual kosong belaka. Ia berhadapan dengan data diri, lingkungan atau segala hal yang berhubungan dengannya, termasuk sajak-sajak yang lahir dari tangan dan masa berbeda. Inilah yang semuanya dipadupadankan, menerima sekaligus meghindar.

Saat selalu di Jakarta karena tugas sebagai wartawan, sesekali saya berbual dengan penyair Afrizal Malna—suatu pertemuan yang tidak sempat diaksarakan. Dalam suatu kesempatan tahun 90-an, di kantor Kompas, Jalan Palmerah, ia menyebutkan bahwa sajak-sajak sekarang bagai anak haram tanpa diketahui orangtua maupun susur galurnya. Maka sajak muncul dari migrasi kata-kata. Memungkinkan sekali kata-kata berpindah dari satu tempat ke tempat yang tak “dikenalnya” sebelumnya, bahkan barangkali saja terus mencari tempat untuk memosisikan diri.

Cuma saya katakan waktu itu bahwa tidak demikian halnya bagi kami di Riau. Kami tidak dapat melepaskan diri dari tradisi sastra yang sudah terbentuk sambil berusaha untuk menemukan yang lain. Kelak kemudian saya melihat bagaimana kami bisa melepaskan diri dari tradisi tersebut di tengah kegemilangan berbagai hal termasuk melalui karya-karya Raja Ali Haji, Abdurrahman Sidik, Pak Taslim, bahkan Sutardji Calzoum Bachri. Inilah kemudian apa yang dikatakan Sutardji Calzoum Bachri bahwa bagi sastrawan asal Riau (tentu juga Kepulauan Riau) harus berkarya dari puncak, bukan dari bawah. Secara gamblang malahan penyair ini mengatakan, apa pun caranya, nama besar Raja Ali Haji misalnya, akan membayang dalam pikiran maupun perasaan seorang sastrawan asal daerah ini ketika ia berkarya.

Baca Juga :  Kisah Dramatis Seorang Warga Kuansing Memburu 4 Kawanan Maling

Tentu kondisi ini bukanlah penyakit yang patut dikeluhkan, tetapi sebagai pelecut krativitas yang nyata. Cuma yang hendak saya katakan adalah seorang penyair mana mungkin melepaskan diri dari karya-karya di sekitarnya, bahkan tentu saja dari segala arah, dunia. Tentu ada suatu kekuatan lain kalau hal itu dilakukan, tetapi juga tidak terlepas dari apa yang ada di sekitarnya itu. Raja Ali Haji di tengah kesuburan pantun dan syair justeru menulis gurindam yang belum dikenal dalam tradisi tulis Melayu waktu itu, tetapi begitu banyak persamaannya dengan bentuk pepatah-petitih atau tradisi lisan Melayu Riau. Belum lagi kenyataan Raja Ali Haji sebagai seorang ulama, sementara pandangan umum mengatakan bahwa gurindam bersumber dari sastra Hindu.

Saya pikir, kenyataan gurindam itu saja merupakan wacana yang menyimpan sejarah berbagai hal, termasuk sejarah kata gurindam itu sendiri. Disebut berasal dari kata dalam bahasa Tamil yakni kirindam, bagi orang Melayu Riau terutama pesisir, dapat bermakna sebagai suatu keadaan jiwa yang remuk, misalnya melihat kelakuan seseorang atau keadaan yang tak sesuai dengan dirinya. Bagaimana terjadi perubahan dari kirindam menjadi gurindam, tentu bukan sesuatu peristiwa kebahasaan yang sederhana. Apalagi melihat kenyataan yang dihadapi saat gurindam itu ditulis Raja Ali Haji.
***
WAHAB menyimpulkan, dengan demikian, selain terlibat aktif dalam sejarah, penyair pun memaparkan sejarah dengan karyanya berupa sajak. “Itu pun kita peroleh dari sejarah,” tulis Wahab.

Pasalnya, lanjut Wahab, mau tak mau sajak yang hadir di tengah khalayak akan wujud sebagai sesuatu. Manusia yang berakal, sebagaimana takdirnya akan berusaha memberi makna terhadap sesuatu itu. Benny H. Hoed (2014), menulis bahwa makna tersebut dapat dicari dalam sejarah sebagaimana dianut pemeluk paham semiotik Piere. Sementara makna dalam sejarah merupakan hasil kumulasi dari waktu ke waktu, dihadapkan pada makna yang muncul secara berurutan dan kumulatif dalam proses waktu.

Bagi sebagian penyair, kenyataan itu barangkali tidak mengenakkan. Puisi kehilangan daya rabaannya karena ia muncul sebagai narasi. Terlebih dari itu pengorganisasian data menjadi simbol untuk dikonkritkan, terburai menjadi pengabstrakan simbol. Ia tidak lagi terdedah bagi berbagai kemungkinan, cenderung menjadi makna tunggal. Oleh karenanya pula, sajak telah menjalankan fungsinya di dalam sosial kemasyarakatan yang penyair tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap apa yang telah diciptakannya sendiri. Malahan bisa jadi, sajak itu menjadi sesuatu yang asing baginya, mungkin juga sebagai musuh tak berkesudahan.

Barangkali Gurjndam Duabelas karya Raja Ali Haji “tersisihkan” ketika teropong sejarah dihadapkan kepadanya. Akan mengemuka bagaimana dalam waktu bersamaan saat karya itu dibuat, Riau makin kehilangan pamornya di kawasan Selat. Perang Riau dan bersambut dengan Traktat London 1824, menyebabkan Riau tidak lagi menarik untuk pembangunan ekonomi, sedangkan Singapura makin menjulang. Tetapi tidak pula dinafikan bagaimana dalam keadaan demikian, kehidupan spritual di Riau makin subur, seolah-olah memparadokkan capaian material dengan rohani. Justeru saat-saat semacam itu pulalah sastra maupun bahasa Melayu dibina di Pulau Penyengat dengan teori dan praktiknya sekaligus—sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam lingkup budaya Melayu, bahkan sejak Sriwijaya begitu mekar di Muaratakus.

Tentu posisi sejarah yang bisa berlawanan ketika dihadapkan dengan sajak maupun penyair, tak pernah menjadi alasan untuk memudarkan kesejarahan dalam kepenyairan. Pasalnya pasti yakni suatu keniscayaan sebagai makhluk hidup sebagaimana disinggung sedikit banyaknya pada bagian pertengahan di atas. Tersebab manusia memerlukan sejarah, dengan sendirinya, penyair pun harus menjadikan sejarah sebagai pijakan kreatif. Artinya, meneroka sejarah sebagai suatu program kepenyairan, bukan semata-mata sebagai pemberian semula jadi oleh harkat mapun martabat penyair. Sebab dengan sejarahlah orang menemukan jati diri yang membedakannya dengan makhluk lain. Akan kita lihat kelak bahwa bagaimana membuminya secara lebih abadi sajak-sajak yang bergelut dengan kesejarahan.

Baca Juga :  4 Perambah Cagar Biosfer Bengkalis Ditangkap, 1 Diantaranya Mantan Anggota

Barangkali sejarah mempertemukan kita dalam suatu semangat yang harus dibaca dengan perspektif luas, sehingga dengan demikian begitu banyak persamaan dapat disemai pada hari ini maupun masa mendatang. Keberadaan Hang Tuah melalui Hikayat Hang Tuah, segelintir disebut memiliki antipati Jawa dengan melupakan guru dan keris kebanggaan Hang Tuah. Bukankah guru terakhir Hang Tuah adalah Aria Bupala di Jawa, sedangkan keris Taming Sari disebut menjadi asbab kekuatan Hang Tuah. Belum lagi meneroka bagaimana tak ada persoalan dalam istana Melayu, seorang Jawa memegang jabatan tertinggi di kerajaan setelah raja yakni Patih Kerma Jaya. Ya, Hang Tuah, tak bisa dikelompokkan dalam kelambu hitam putih karena meskipun berbentuk prosa, Hikayat Hang Tuah memiliki semangat sajak.

Banyak sekali contoh konkrit dari hal-hal di atas jika diletakkan dalam tataran prosa fiksi. Di dalam sajak juga kurang lebih serupa, tetapi sebagaimana hakikatnya puisi atau sajak, kenyataan sejarah di dalamnya memang tersembunyi sebelum diungkai sendiri berdasarkan sejarah oleh pihak luar penyair semacam pengamat, bahkan penikmat. Tentu paling terngiang di dalam ingatan adalah Odyssey oleh Homeros yang tak henti-henti mengantarkan kisah perang Troya kepada kita, Derek Walcott pula menggambarkan sejarah kelautan dari masa terdekat dalam Omeros. Kita cukup terobati dengan Hang Tuah oleh Amir Hamzah, kemudian disusul Sejarah Melayu oleh Muhammad Haji Salleh.
***

DI SISI lain, peranan penyair atau syair maupun sajak itu sendiri, tak tanggung-tanggung pula. Entah berapa kali saya mendengar dari mulut Sutardji Calzoum Bachri (SCB) bahwa teks Sumpah Pemuda 1928 itu adalah puisi, adalah sajak. Terbaru, ya amat baru, ketika ia didaulat membacakan sajak oleh Plt Gubernur Riau Wan Thamrin Hasyim sesaat setelah penabalan gelar kehormatan adat Datuk Seri Pujangga Utama oleh Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) kepadanya, hari Rabu, 29 Shafar 1440 bersamaan dengan 7 November 2018.

Waktu itu kembali sedikit SCB menjelaskan, poetry image dalam teks naskah yang luar biasa tersebut., di antaranya bahwa apa-apa yang menjadi subjek maupun objek di dalam teks itu belum ada dan dibayangkan sebagai suatu kewujudan. Kasarnya apa yang dimaksudkan dengan Indonesia belum ada secara teritorial yang hendak diikat dalam suatu kesepakatan tertentu untuk kepentingan bersama. Hal ini membedakannya dengan asal-muasal sebutan Indonesia sebagai suatu penamaan dalam peristiwa budaya yang sudah dikumandangkan sejak pertengahan abad ke-19—malahan bukan di kawasan dengan julukan Indonesia itu sendiri, tetapi Singapura.

Kalau hendak dilanjutkan, dapat disebutkan bagaimana gaya bahasa di dalam teks Sumpah Pemuda, hampir mendekati pada kelaziman mantera. Kata maupun frasenya yang berulang-ulang misalnya, mengingatkan kita pada repetisi. Konon, gaya semacam ini dimaksudkan untuk menghadirkan semangat kata-kata yang mampu memberi semacam sugesti kepada pembacanya. Sugesti itu akan berproduksi sebagai suatu tindakan sesuai dengan pemahaman seseorang atau sekelompok orang terhadapnya.

Abdul Wahab memaklumi kalau perisiwa 28 Oktober 1928 itu amat berpengaruh terhadap kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, menempias pada kenegaraan Malaysia dan kemudian Singapura. Tetapi memang belum dapat dipastikan, apakah karena puisi Sumpah Pemuda itu yang melecut semangat kebangsaan Indonesia atau faktor lain. Tetapi hubung-kaitnya pastilah erat, diiringi berbagai peristiwa yang mengitarinya. Termasuklah saat mengamati bahwa salah seorang auktor intelektual kehadiran teks tersebut adalah seorang penyair yakni M. Yamin, bersulang dengan kenyataan dukungan dari berbagai pemuda atas nama apa yang sekarang disebut daerah.

Apalagi kenyataannya kalau bercermin pada berbagai sumber yang sauk-menyauk berkaitan dengan hal ini, selalu cepat hadir ketika diminta seperti Tengku Pante Kolu di Aceh yang banyak membakar semangat nasionalis di negeri rencong itu dengan Hikayat Perang Sabi-nya. Menggetarkan kalau disebut bagaimana Khansa R.ha, begitu tegar menghadapi kesyahidan empat orang anaknya yang selain dengan pedang terhunus juga menyemburkan puisi-puisi sang emak dari mulut mereka saat menghadapi musuh.

“Dahlah ya Hab. Awak simpulkan sendiri sajalah,” tulis saya kemudian mengakhiri perbincangan. Saya ucapkan juga terima kasih kepadanya karena telah membaca celoteh ini dengan penuh perhatian. Tabik….

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *