Meraikan Kelisanan

Oleh: Taufik Ikram Jamil

Ilustrasi (net)

MUNGKIN susah bagi kawan saya Abdul Wahab untuk melupakan begitu saja bagaimana Bob Dylan  dinyatakan sebagai pemenang Hadiah Nobel Sastra tahun 2016. Selain masih tergolong baru, apalagi tahun 2018 ini tanpa hadiah tersebut, predikat  yang disandangnya tergolong unik, untuk tidak mengatakan cukup kontroversial, bukan saja bagi orang lain, bahkan mungkin bagi dirinya sendiri.  Tapi pasti memang, ia memiliki ungkapan kuat secara keberaksaraan dalam lirik-lirik lagunya, juga karena cara ia mendendangkannya alias kelisanan.

Begitulah, sebagaimana banyak dipublikasikan media, Bob Dylon lebih dari 50 tahun berkelana dalam dendangan kata-kata,  di antaranya yang terkenal adalah Blowin in the Wind dan The Times They are A-Changin. Ia sendiri sejak diumumkan menerima hadiah senilai hampir Rp 12 milyar itu tidak memberi komentar, sehingga mengesankan bahwa ia mengabaikan Nobel Sastra.  Ia malah tidak menghadiri pesta pemberian hadiah itu 10 Desember 2016 yang dihadiri oleh Raja Carl XVI Gustaf. Ia akhirnya menerima hadiah yang sudah mentradisi lebih dari 100 tahun itu pada pertengahan 17 April 2017 secara diam-diam, tanpa publikasi. Kehadirannya di Stockholm itu pun bukan pula khusus untuk menerima hadiah, tetapi disambikan dengan konser musik.

“Di sisi lain, kita dapat melihat bagaimana kelisanan telah masuk dalam suatu sistem kesusastraan di belahan dunia lain, bukan hanya di tempat kita,” tulis saya kepada Abdul Wahab melalui pesan telepon genggam. Sesuatu yang saya tambahkan sebagai fenomenal di tengah kecenderungan Barat mendewakan keberaksaraan dalam sistem sastra mereka. Oleh karena begitu kuatnya dominasi keberaksaraan dalam sastra modern yang dipelopori Barat, sampai-sampai menyingkirkan kelisanan.
Adalah seorang sarjana Universitas Leiden, Dr Will Derks dalam suatu percakapan mengatakan bahwa justru faktor kelisanan itulah yang merupakan hal penting dalam sastra Indonesia/ Melayu. Ia melihat, dari sisi inilah perbedaan penilaian terhadap karya di Barat dengan Timur khususnya Indonesia. Sistem penilaian sastra di Barat mengabaikan kelisanan, bertumpu pada teks, sedangkan dalam sastra Melayu meskipun memperlihatkan teks, tidak bisa meninggalkan kelisanan. Dengan alasan itu pula, besar kemungkinan menjadi penyebab mengapa penghargaan Nobel tak mampu menjangkau keberadaan sastra dalam bahasa rumpun Melayu yang dipakai sekitar 300 juta jiwa manusia di muka bumi ini.

Di sisi lain, ia melihat bagaimana bergairahnya masyarakat menyaksikan kelisanan seperti pembacaan-pembacaan sajak. Lomba baca sajak sejak lama dilaksanakan yang kini makin dikembangkan melalui berbagai nama antara lain musikalisasi puisi. Cara pengucapan sajak pun demikian atraktif sehingga seperti memunculkan  satu bentuk seni baru seperti antara naskah drama dengan teater. Cara pembacaan sajak tersebut, memang tidak ditemui di Eropa, meskipun di Belanda sendiri acap kali dilaksanakan kegiatan pembacaan puisi sebagaimana dilakukan di Rotterdam.

Demikianlah, sementara kelisanan terus berjalan, manusia dengan predikat sastrawan dan lebih khusus lagi penyair, selama ini sibuk mengais keberaksaraan. Tentu tidak bisa disalahkan, sebab secara harfiah saja sastra dikaitkan langsung dengan tulisan, sedangkan suatu peradaban seolah-olah hanya dapat diperhatikan, dinilai, dievaluasi, terus ditindaklanjuti, kalau tertulis. Apalagi melalui tulisan Eropa meraih berbagai kemajuan, sehingga menjadi idola masyarakat di belahan sini. Tentu, semuanya itu dapat disadari kalau kita memngingat bahwa tulisan pada gilirannya dapat disebutkan sebagai simbol dari lisan, sebagaimana halnya huruf adalah simbol dari bunyi. Sebagai simbol, tulisan hanya bersifat memberikan saran suatu maksud yang dilisankan dalam bentuk kata, sehingga lisan dapat diwujudkan. Sedangkan lisan itu adalah seperangkat perasaan maupun pikiran yang hendak disampaikan secara personal, interpersonal, antarpersonal, bahkan kelompok. Jadi, seorang penulis harus merasa dan memikirkan sesuatu dengan berbagai pengalamannya, bukan sebaliknya—menulis dulu, baru muncul sembarang ide atau sembarang kesan maupun rasa. Pada gilirannya, kedua unsur tersebut saling tarik-menarik, meski tetap dengan kedirian mereka masing-masing sebagai simbol dengan yang disimbolkan.

Bandingkan dengan apa yang dikatakan Raja Ali Haji pada abad ke-19 mengenai syair. Menurutnya karya sastra tersebut akan lebih terasa jika menonton orang mendendangkannya (lihat Di dalam Perkekalah Persahabatan, pengantar dan transkripsi Jan van de Putten dan Al azhar, 1995).  Inilah yang kemudian menyebabkan syair memang baku, tetapi cara membacanya amat berkembang. Bersama komponis Zuarman Ahmad, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) mencatat bahwa cara membacakan syair di Riau mencapai 25 gaya. Paling terkenal memang selendang delima yang dipopulerkan Malaysia, tetapi gaya lain tidak kalah menariknya pula.
***
SYAHDAN, tampaknya sastrawan di Indonesia sendiri, termasuk Riau, berada di antara keberaksaraan dan kelisan itu. Dengan kesadaran keberaksaraan, penyair-penyair meraih kelisanan untuk panggung-panggung mereka. Diawali oleh WS Rendra, khususnya setelah ia pulang dari Amerika Serikat, unsur kelisanan ini dengan amat meyakinkan diperlihatkan oleh Sutardji Calzoum Bachri.

Baca Juga :  Terjebak Proses DAK, LAMR Dumai Minta Zul AS Tawakal

Masih segar dalam ingatan, kepenyairan SCB benar-benar menghentak khalayak, justeru setelah ia membacakan sajak-sajak secara tunggal di TIM, tanggal 2 Juli 1973. Padahal, sebagian besar dari sajak-sajak yang dibacakannya itu telah dimuat di majalah Horison, Budaya Jaya, Berita Buana, dan Sinar Harapan, sejak 1968, bahkan terhimpun dalam buku, masing-masing berjudul  O, Amuk, dan Kapak, sebelum  akhirnya dibukukan secara lengkap dengan tajuk O Amuk Kapak tahun 1981. Sajak-sajak SCB yang ketika diterbitkan sebagai teks sudah dianggap lain dari yang lain meskipun terdengar selintas-kilas, benar-benar memiliki perbedaan dibandingkan sajak-sajak penyair sebelumnya. Tapi perbedaan itu hanya dipandang dari alur dan patut sebuah konvensi, bukan penerokaan terhadap kreativitas.

Serangan terhadap sajak-sajak SCB pun bergulir, bahkan dari orang-orang yang baik sengaja maupun tidak sengaja, baik diakui maupun tidak diakui, selalu menjadi rujukan perkembangan sastra Indonesia. Majalah sastra Horison yang waktu itu menjadi barometer pencapaian suatu karya sastra Indonesia disesalkan karena telah memuat sajak-sajak SCB, diiringi dengan berbagai kata cemoohan. Nada yang setidak-tidaknya dapat dinilai negatif ini berlangsung terus-menerus, bahkan Sutan Takdir Alisjahbana masih mengeluarkan jurus serupa dalam Seminar Nasional Sastra dan Filsafat di Kampus Universitas Indonesia, Depok, 29-30 Januari 1992. Sajak-sajak SCB dinilainya hanya permainan kata-kata tanpa pikirann yang hendak dinyatakan.

Sebelumnya, lebih tajam apa yang dikatakan A. Teeuw melalui bukunya Tergantung pada Kata (Gramedia, Jakarta, 1980). Setelah mendefinisikan kata, sajak, dan kecenderungan sajak Indonesia dalam ilmu kebahasaan, ia bahkan kemudian berani-beraninya menyimpulkan bahwa siapa pun akan menganggap sajak-sajak SCB sebagai karya yang gagal. Sebagai karya yang gagal, sajak-sajak tersebut tidak layak di ketengahkan ke muka umum, hanya boleh disimpan oleh penyairnya sendiri.
HB Jassin dan Umar Junus tampaknya memberi perhatian kepada sajak-sajak SCB pada tahun-tahun awal kemunculan sajak sekaligus baca sajak oleh SCB itu. Tapi ujung-ujung pernyataan mereka, bisa mengalir kepada apa yang disodorkan STA dan Teeuw itu. Jasin misalnya seperti biasa, ia menyebut menyenangi sajak-sajak SCB yang mengesankan suatu sikap pribadi yang hanya berlaku untuk dia pribadi pula, bukan sebagai usaha kreativitas, sehingga akan terasa setara dengan pernyataan Teeuw di atas bahwa selaiknya hanya SCB saja yang menyimpan sajak-sajaknya sendiri. Umar Junus mengetengahkan sajak-sajak SCB sebagai permainan kata-kata yang dapat berekor pada pernyataan STA bahwa permainan kata-kata tidak memiliki gagasan apa pun, apalagi untuk menjadi bahan pergulatan dari suatu peradaban.

Cuma banyak dikatakan orang bahwa Popo Iskandar adalah seniman awal yang memberi apresisiasi sepadan terhadap sajak-sajak SCB. Tetapi yang lebih intens adalah Dami N.Toda yang berkali-kali menulis mengenai sajak-sajak SCB secara mendalam, kemudian mengeristal dalam esai sastranya bertajuk Hamba-hamba Kebudayaan (Sinah Harapan, 1981)—mengenai sajak-sajak SCB berada di bagian akhir dengan judul Puisi-puisi Luka Sutardji Calzoum Bachri. Konon, setelah inilah sajak-sajak SCB meskipun masih di tengah kontroversial, memperoleh jalan yang lebih lempang.
***
DENGAN kerendahan hati patut disebutkan bahwa baik yang pro maupun sebaliknya, melandaskan pandangan mereka terhadap sajak-sajak SCB sebagai peristiwa tulisan (teks). Kalaupun di antaranya terutama Dami N.Toda, memberi perhatian terhadap cara membaca sajak SCB yang dapat disebut sebagai peristiwa lisan, hal itu masih bertitik-tolak dari tulisan, sehingga pelisanan dapat dikatakan sebagai akibat tulisan.  Lalu keduanya, tulisan dan lisan, dijadikan subkoordinat dari bahasa, sekurangnya-kurangnya bagian dari bahasa.

Sesungguhnya, dalam kredo puisi yang semula dimuat dalam Horison dan menjadi pengantar dalam buku O Amuk Kapak, SCB telah menerangkan hal itu, “Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata pada Mantra.” Sederhananya, mantera telah ada sebagai  sesuatu yang terbentuk sebagai kata, kemudian ditulis SCB. Hubungan di antara ketiganya hanya akan terjadi apabila adanya otonomi masing-masing, untuk mencapai suatu maksud. Istilah populernya, bersinergi.

Baca Juga :  Dimaknai Sagu

Secara umum, mantra juga dikenal dengan istilah sumpah serapah (kalau memaki-maki atau menyatakan tidak senang, namanya sumpah seranah—tolong perbaiki frase sumpah serapah yang dipahami Indonesia sebagai wujud simbol memaki-maki atau ketidaksenangan). Sesuatu yang dapat didengar berupa kata-kata yang dengannya maksud tersampaikan. Terlepas dari bagaimana kata-kata tersebut dilisankan yang akan dipaparkan pada bagian bawah, aktivitas yang dinamakan mantra atau sumpah serapah itu, secara tradisi, semula dilakukan oleh seseorang yang berpredikat dukun atau bomo, mungkin juga oleh seseorang yang berperilaku semacam itu. Sebab seperti penelitian yang dilakukan oleh UU Hamidy (1981) tentang Dukun Rantau Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, yang diucapkan dukun sebenarnya sugesti atau semangat kata-kata.

Hal semacam itu juga sebenarnya dilakukan seorang dokter. Ketika ia telah memeriksa seorang pasien, dokter tidak mungkin mengatakan kepada pasien bahwa penyakit yang diidapnya gawat, apalagi dapat mematikan sekian waktu mendatang. Ia pasti memberikan semangat kepada pasien tersebut dengan sesuatu yang sudah dipahami secara umum. Dari kata-kata dokter itu, bisa saja menjadi asbab kesehatan seseorang membaik atau tambah memburuk. Tetapi kata, tetap memiliki dirinya sendiri atau pengguna kata dengan otonominya sendiri pula. Makanya, betapapun seorang dokter sudah menggunakan kata-kata baik, di telinga pasien mungkin kurang baik.

Seorang dukun atau siapa saja yang membacakan mantra tidak bermaksud memasuki dirinya dalam sastra. Ia pun disebut membaca, bukan karena ada teks di depannya—disebut juga merapal. Ilmuwanlah yang kemudian menyimpulkan apa yang diucapkan dukun itu sebagai karya sastra, termasuk ke dalam golongan sajak purba, mungkin juga sajak atau puisi lama. Dami N. Toda dalam buku yang sudah disebutkan di atas, sampai juga pada sisi ini yang dengan terang-benderang menuangkan bagaimana mantra dinyanyikan dan ditarikan. Artinya, kata-kata tidak cukup diucapkan, tetapi disampaikan juga secara verbal dalam tari dan nyanyi. Tetapi pengamatan di lapangan, hal-hal tersebut harus ditambah dengan rupa bahkan bentuk-bentuk lain, seperti bagaimana semua aktivitas itu dilengkapi dengan menghanyutkan ancak (semacam jung, sampan ukuran mini dengan layar berwarna kuning) dengan nasi kunyit dan telor bergincu merah.
***

ALHAMDULILLAH, salah satu bentuk kelisanan dalam alam Melayu, telah dapat ditampilkan sedemikian rupa oleh SCB. Hal semacam ini tampaknya belum dialami oleh pantun, padahal cakupan pantun lebih luas dibandingkan mantera. Terlepas dari maksud mengangkatnya sebagai karya sastra, fungsi awal mantera berhubungan hanya dengan sesuatu yang ghaib dengan efek manusia, tetapi pantun melaksanakan fungsinya itu kedua-duanya baik bersamaan maupun berpisah. Pantun misalnya diucapkan saat mengambil madu yang menyiratkan kaitannya dengan ghaib, tetapi juga bisa menjadi sarana meminang anak orang. Mantera mungkin tidak pernah memiliki tujuan mengurat orang, tidak demikian halnya pantun yang bisa saja diarahkan untuk berbuat demikian.

Akhir-akhir ini memang ada pandangan yang menyebutkan bahwa sejumlah penyair mengangkat pantun dalam karya-karyanya. Tetapi keberadaannya masih seperti aksesoris, tidak sebagaimana dilakukan oleh SCB terhadap mantera. Malahan, ada kesan, pengangkatan pantun dalam karya kekinian, terlihat dari banyak bermunculan sajak-sajak gelap di Indonesia sejak 1990-an yang kemudian dinisbatkan sebagai sampiran sebagaimana digunakan oleh pantun untuk baris pertama dan kedua. Sedangkan sajak gelap itu kadang-kadang mengacu pada kelonggaran logika dalam kata-kata, tidak sama halnya dengan pantun yang menempatkan sampiran sebagai suatu kesatuan dengan isi (baris ketiga dan keempat). Kalau boleh disebutkan hubungan baris pertama dan kedua dengan baris ketiga dan keempat justeru diciptakan sendiri oleh ketidakparalelan ucapan.
Di antara karya-karya yang disebut mengacu pada pantun itu adalah karya Sitor Situmorang “Buat Silvana Maccari” di bawah ini:

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Jika musimmu tiba nanti
Jemputlah abang di teluk Napoli

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Sedari abang lalu pergi
Adik rindu setiap hari

Baca Juga :  2020 ASN Riau Harus Teken Fakta Intergritas Bebas Narkoba

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Andai abang tak kembali
Adik menunggu sampai mati

Batu tandus di kebun anggur
Pasir teduh di bawah nyiur
Abang lenyap hatiku hancur
Mengejar bayang di salju gugur
***

PADA sisi lain pantun yang dapat mewakili kehadiran kelisanan terus hidup. Orang masih tak henti-hentinya menciptakan pantun untuk berbagai keperluan, termasuk mensosialisasikan aktivas pemerintah sebagaimana selalu dilakukan Kapolda Riau,  Irjen (Pol) Zulkarnain. Sambutan terhadap pantun berlaku umum di berbagai kesempatan, tidak saja pada kegiatan adat. Dalam acara-acara nonformal sekelumit orang, sambutan semacam itu bukan sesuatu yang mustahil—bahkan menjadi bagian  dari suatu pertunjukan.

Lihat pula apa yang dilakukan Aburizal Bakrie dalam Munas IX Partai Golkar di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (30/11/2014) malam. “Akhirnya, sebagaimana yang ada dalam tradisi retorika partai kita, saya akan menutup sambutan Pembukaan Munas di Bali ini dengan membacakan tiga bait pantun,” ucapnya sebagaimana ditulis Liputan6.com

Hal lebih kurang serupa, juga diulangi Aburizal atau akrab dipanggil Ical dalam Rapimnas Golkar di Jakarta Convention Center, Sabtu (23/1/2016) malam. Saat usai mengucapkan pantun, ia tetap mendapat sambutan tepuk tangan meriah, meski secara politik, Ical babak-belur karena dihantam dari dalam, dibantai dari luar termasuk oleh pemerintah. Kegiatan yang dilanjutkan akibat pro-kontro kegiatan di Bali dengan manasbihkan pantun sebagai tradisi partai itu, memang akhirnya menjatuhkan Ical, meski melalui pantun ia sempat berucap:

Awan menggulung datang dan pergi
perahu pinisi melawan badai
Mari Bung satukan hati
rebut kembali kejayaan partai

Apalagi saat ia menyampaikan pantun penutup pada acara yang dihadiri Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly, sebagai pengganti kehadiran Presiden Jokowi seperti ditulis Kompas.com, 24/1/2016. Kedua pejabat negara ini juga terlihat terbahak-bahak walaupun dalam iklim politik berbeda dibandingkan Ical maupun pendukungnya.

Dari Solo sampai Jakarta
menang di sini menang di sana
Presiden Jokowi harapan kita
junjunglah hukum majulah bangsa

Mengambil contoh sambutan terhadap pantun pada kegiatan nonformal, apalagi pada acara-acara hiburan di stasiun televisi, tentulah tidak sulit. Secara tak sengaja saja, dalam dua bulan terakhir, beberapa kali melihat pantun diucapkan dengan sambutan semarak pada acara-acara di televisi. Contohnya, saat melintas di depan televisi pada hari Kamis (04/05/2017) sekitar pukul 10.00 pagi dalam acara Teater Lawak di sebuah stasiun televisi, tiba-tiba terdengar orang mengucapkan sepotong karmina atau dikenal juga dengan sebutan pantun kilat, “Si Ucok pergi ke kota/ apakah saya cocok memakai mahkota.”

Di dunia maya, ada laman khusus mengenai pantun yang menyiarkan pantun-pantun ciptaan baru dengan nafas kekinian. Perhatikan contoh di bawah ini:

Ada golok sudah tumpul
diasah sama bang Ipul
you make may days beautiful
and my nights wonderful .

http://www.lokerseni.web.id/2015/02/pantun-cinta.html
Apa pun itu, pada gilirannya kita harus mengatakan bahwa kelisanan yang masih amat mendalam dalam karya sastra di sini, antara lain melalui tradisi pantun, memang patut diraikan. Malah ketika perkembangan teknologi komunikasi demikian subur, perhatian kepada kelisanan yang seharusnya menjadi bagian dari sistem penilaian terhadap karya sebagai suatu keniscayaan. Meskipun inernet dengan kecenderungan keberaksaraan makin menguat, tetapi media suara semacam televisi masih amat perkasa. Untuk memperlihatkan posisi televisi sebagaimana dimaksudkan pada paragraf di atas secara lebih konkrit, perhatikanlah survei Nielsen Audience Measurement yang direlease 21 Mei 2014.

Dilakukan tahun 2012, survei itu menunjukkan bahwa televisi masih menjadi medium utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia (95%), disusul internet (33%), radio (20%), surat kabar (12%), tabloid (6%), dan majalah (5%). Ketika dilihat lebih lanjut, ternyata terdapat perbedaan yang sangat menarik antara pola konsumsi media di kota-kota di Jawa bila dibandingkan dengan kota-kota di luar Jawa. Konsumsi media televisi lebih tinggi di luar Jawa (97%), disusul oleh radio (37%), internet (32%), koran (26%), bioskop (11%), tabloid (9%) dan majalah (5%).

Lalu, apa lagi. Ayo kelisanan!

Makalah disampaikan dalam Festival Sastra Lisan se-Riau, 13 Desember 2018.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *