Bulan Hujan, Tahun Tahun Cinta

Surat Buat Aronaya Yawasa Nayata

Oleh Syaukani Al Karim

Saat ini bulan Desember 2018. Bulan yang dikepung hujan. Dia turun, seperti guguran jarum, membawa helaian benang yang menisik kain bumi. “Depan rumah kita banjir,” katamu seraya mengirimkan foto lewat WhatsApp. Aku tahu kau menyukai hujan. “Hujan yang dipukul angin itu, seperti perempuan yang menari,” katamu. Ah, aku tahu, kau suka menatap hujan, karena di situ ada kepingan kenangan, tentang renyai yang pernah gugur bersama airmatamu.

Bulan Desember ini,  cinta kita melewati usia yang baligh, sebuah usia cinta yang beranjak dewasa, meski belum dapat meninggalkan “kegenitan dan kenaifannya”. Memasuki tahun yang baru kelak, cinta kita akan belajar memanjat tebing-tebing kehidupan, dengan kearifan, dengan kebijakan tafsir, kebajikan tindakan, dan keikhlasan kasih sayang.

Pada usia yang sedemikian ini, sesungguhnya, pertanyaan: “Apakah kau mencintaiku?” sudah tidak lagi menjadi pertanyaan yang penting, karena sudah sepantasnya, pada hari ini,  keyakinan saling mencintai, sudah memiliki maqam yang jelas dalam hati kita. Aku tidak lagi mencintaimu seperti mencintai awan, mencintai gegunung, laut, ataupun gelombang. Aku mencintaimu sebagai sebuah imaji, sebagai sebuah nama, sekaligus sebagai sebuah hati, yang pahatannya disempurnakan oleh kasih sayang Tuhan.

Baca Juga :  Soal Asap, LAMR Minta Presiden Turun Tangan

Aku ingat, pada suatu hari kau bertanya: “Akan setiakah kau padaku?”

Hari ini aku menjawab: Tidak!

Kebersamaan, entah singkat atau panjang, sesungguhnya adalah persoalan takdir, dan biarlah ranah takdir itu tetap menjadi misteri semesta. Yang dapat aku janjikan padamu hanya satu hal: Bahwa aku akan mencintaimu dengan hati yang riang, dan  akan selalu berikhtiar untuk terus mengecup kening pipihmu yang kini mulai menua dihempas waktu. Percayalah padaku, bahwa sehari cinta yang penuh bunga, jauh lebih berharga dari seabad kesetiaan yang penuh duri.

Baca Juga :  Jadi Warisan Dunia, Beragam Dibuat untuk Pantun

Kau tentu ingat dengan sebuah puisi “SURAT DARI SEBERANG LAUT”,  yang kutulis untukmu itu bukan? Jika kau lupa, akan kuingatkan kembali:

Kukisahkan tentang awan yang berarak/ dia singgah di gunung-gunung/

menaungi danau/ Melintasi hutan/ menurunkan hujan/

meneduhi rumput dari cahaya matahari/ dan, kadang berkirim kecup ke ladang-ladang

“Apakah kau mencintaiku?” tanyamu/

“Awan pengelana itu berarak di langit yang satu,” kataku

Kuceritakan padamu tentang laut/ berombak di setiap musim/

bersetubuh dengan cuaca/ Menyapa sejumlah dermaga/ melambai camar/

juga berkirim lagu kepada angin/

“Apakah kau merinduiku?” tanyamu selalu/

“Bagaimanapun laut, riaknya pasti pulang ke pantai,” kataku

Kuceritakan padamu tentang embun/ memberi sejuk pada bunga-bunga/

Mendinginkan sesiang waktu/ melembabkan gersang harap /

kadang menusuk ke jantung rasa/

“Sayangkah kau padaku?” tanyamu

“Hanya kepada kuntum embun menggugurkan bening air,” kataku

Baca Juga :  Jurnalisme Profetik dan Misi Suci Firdaus

Kuceritakan padamu tentang perempuan/ kaki langit yang tak dapat dituju

Bulan rerinduan pungguk/ gunung yang selalu membatu/ waktu yang kadang hanya mimpi/

“Siapakah aku dalammu?” tanyamu

Ah, kau mungkin bukan sesiapa,

Hanya langit, hanya pantai, hanya kuntum

Hari ini bulan Desember 2018, sebuah bulan yang dikepung hujan. Setiap Desember, adalah kisah tentang kita yang tiada henti menyulam kelopak dan kuntum, merajut gambar-gambar kehidupan di atas kain mitsaqan ghaliza, yang kita tenun dari helai demi helai benang kehidupan: benang sayang, benang rindu, benang luka, benang riang, juga benang bimbang, yang kemudian kita padatkan dengan tangis. Esok di ujung kain, aku ingin menyulam gambar hatimu, dalam bentuk sebatang jalan panjang: jalan yang paling membahagiakan untuk pulang.

Bengkalis, 14-12-2018

Syaukani Al Karim adalah budayawan Riau dan Ketua DPD PAN Bengkalis

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *