Ribuan Orang Terpikat dengan Film Syair Pengikat

Ribuan orang menyaksikan pemutaran perdana film Syair Pengikat.

RiauKepri.com, SIAK- Ribuan masyarakat Kabupaten Siak, Riau, tumpah ruah di halaman Tengku Mahararu, Jumat (18/1/2019) malam. Mereka duduk berselimput menonton pemutaran perdana film berjudul “Syair Pengikat” yang lahir dari tangan-tangan kreatif anak Siak.

Sedikitnya, 5 ribu penonton malam itu terpikat untuk menyaksikan film yang berdurasi hampir dua jam itu, hal ini terlihat tak adanya masyarakat yang beranjak dari tempat duduk hingga film berakhir.

Respon masyarakat cukup luar biasa, dan begitu film ini mulai diputar mereka yang semula agak menjarak- ada yang duduk di trotoar jalan- bagaikan air bah merapat mendekati layar proyektor yang terpasang di sebelah kanan panggung, agar bisa melihat adegan per adegan sehingga lebih jelas.

Film beralur bolak-balik atau campuran ini, diawali memperkenalkan sosok pemeran utama, Faris yang menyelesaikan tugas akhirnya di tanah kelahiran orangtuanya, Siak.

Saat mencari buku di Pustaka, peristiwa horor dialami Faris. Sesosok wujud hantu melintas di belakangnya. Namun begitu dilihat ke belakangan sosok hantu wanita itu tidak terlihat.

Adegan berikutnya, pada sebuah rak, buku syair tiba-tiba jatuh dari tempatnya. Karena buku syair tersebut tidak menjadi referensi tugas akhirnya, Faris yang diperankan Ade, meletakan kembali buku tersebut pada tempatnya. Namun ketika Faris menunduk muncul sosok hantu tersebut di belakangnya. Hal ini membuat sejumlah penonton menjerit, apalagi penata musik berhasil membangkit, menyentak, rasa takut penonton.

Pemutaran perdana film Syair Pengikat di halaman Tengku Maharatu, Siak.

Buku Syair itulah yang menyeret Faris untuk berada pada kisah sebelumnya. Syair Pengikat itu tak selesai ditulis oleh seorang Kadi ketika hendak mengikat dua pujaan hati untuk naik ke pelaminan.

Baca Juga :  Aplikasi BSR Permudah Tugas Tracer COVID-19

Kadi dibunuh oleh seorang lelaki lantaran lelaki di kampung itu mencintai Esah. Namun Esah sudah punya pilihan hati bernama Kantan. Agar pernikahan itu tak terjadi, Kadi dibunuh sehingga Syair Pengikat tak selesai ditulis. Akibatnya, Esah menjadi stres, mengalami gangguan jiwa dan sang sutradara Andi Lesmana, mengakhiri kisah Esah ini dengan kematian.

Syair itu akhirnya selesai ditulis Faris seiring selesainya tugas akhir dia di Siak. Faris dipilih untuk menyelesaikan sepenggal Syair Pengikat yang tak selesai itu karena ada pertalian darah antaran orangtuanya yang sudah tiada dengan Kadi yang mati dibunuh. Darah seniman mengalir di tunuh Faris menskipun dia kuliah di fakultas ekonomi.

Film yang diproduksi Wak Mamat dan digarap berbagai komunitas eksplore Siak ini, mengangkat kearifan lokal, dan layak ditonton semua kalangan karena meluahkan berbagai sisi, mulai dari pendidikan, karya sastra, kosmopolitan, horor, hingga ke komedi.

Lokasi syuuting berbagai objek wisata di Siak, juga dikemas kameraman begitu hidup sehingga menjadi bagian nyawa yang tak terpisahkan dari film itu. Bahkan, fim ini sangat menjulang bahasa lokal, Melayu Riau Pesisir. Hanya tokoh Faris dan penjaga Pustaka saja yang berbahasa Indonesia. Faris berbahasa Indonsia karena dia memang lahir di kota, sedangkan penjaga Pustaka berbahasa Indonsia karena sebagai seorang pelayan berbagai masyarakat. Dalam dialog lepas dengan pemeran lainnya penjaga Pustaka itu berbahasa Melayu.

Baca Juga :  Sempena HUT ke-65 Polantas, Polres dan BAZNAS Kerjasama Adakan Khitan Massal
Ribuan warga antusias menyaksikan film Syair Pengikat.

Film ini, kata Wak Mamat, dibuat sejak tahun 2017 lalu namun ada beberapa kendala sehingga setelah 1,5 tahun barulah film ini selesai dibuat oleh tangan-tangan kreatif anak Siak dari berbagai komunitas.

Ini suatu sejarah bagi Siak, semoga hal ini menular kepada anak Siak lainnya. Apalagi Wak Mamat mengikuti perkembangan anak Siak yang sudah mulai menampakkan kreatifitasnya dan didukung pula Pemerintah Kabupaten Siak. “Saat ini anak Siak sudah ada membuat naskah film, lagu, dan sebagainya. Mereka berkumpul untuk melahirkan kreatifitas yang bernilai jual,” ucap Wak Mamat dengan nama asli Roni.

Malam itu juga, Wak Mamat mengumumkan bahwa film Syair Pemikat akan diputar di Kecamatan Dayun dan Lubuk Dalam. Untuk memutar film ini masing-masing pihak kecamatan membayar Rp 2,5 juta, dan minggu depan film ini akan diputar ulang namun dipungut tiket.

Soal tempat pemutaran film ini, Bupati Siak, Drs H Syamsuar, mempersilakan menggunakan Gedung Kesenian, tentunya hal ini diharapkan bisa menambah pendapatan bagi daerah.

Para pendukung film Syair Pengikat.

“Inilah sebabnya kenapa kita melakukan kerja sama Bekraf RI, karena ini bagian dari upaya kita untuk mendapat sponsor dalam mengenal Siak. Adanya film ini, cara lain kita menjual pariwisata di Siak. Dan kita bangga, saat ini Siak menjadi ikon bagi Riau,” ucap Syamsuar.

Lahirnya film Ini, sambung Syamsuar, adalah semangat baru untuk Siak. Mengairahkan insan perfilm di negeri ini, dan ini adalah film kedua yang kesemuanya dikerjakan anak-anak Siak, sebelum ada film berjudul Cik Mat berdurasi sekitar 40 menit.

Baca Juga :  Diserahkan Wapres kepada Gubri, Riau Raih Penghargaan Provinsi Informatif

VIU produksi film digital manca negara, cabangnya di Indonesia, baru-baru ini menghubungi Syamsuar karena mereka melakukan worshop. Helat ini mengangkat sumber daerah dari film kemudian dikembangkan dalam upaya untuk membangkitkan ekonomi daerah.

“Film yang diangkat VIU semuanya kearifan lokal, hal ini terus diminati orang luar negeri dan mereka terus menggalinya. Harapan saya film Syair Pengikat ini nantinya diambil VIU sehingga bisa ditayang secara nasional dan internasional,” harap Gubernur Riau terpilih itu.

Syamsuar foto bersama pendukung film Syair Pengikat.

Jadi, pesan Syamsuar, silakan berkarya sehingga tumbuhnya pakar-pakar ekonomi, Berkraf, di Siak khususnya dan umumnya di Riau. “Dulu, malam Minggu orang ke Pekanbaru, sekarang orang daerah lain bila malam Minggu datang ke Siak,” ucap Syamsuar.

Malam itu Syamsuar sangat terkesan dengan film Syair Pengikat. Sebelumnya, ketika memberi kata sambutan dia sempat minta maaf, mungkin tidak bisa nonton sampai selesai karena kondisi badan yang capek baru pulang dinas dari luar kota. Namun, Syamsuar yang duduk berselimput di barisan paling depan bersama Ketua DPRD Siak dan Sekda Siak, seperti terpaku. Rasa penatnya hilang seketika karena film ini berhasil mengangkat kearifan lokal, ditambah lagi begitu antusiasnya dan semangat masyarakat.

‘Luo biaso semangatnya, hilang penat sayo. Masyarakatpun terhibur, buktinya sampai selesai film barulah mereka pulang,” ucap Syamsuar dengan logat Melayunya. (RK1)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *