BengkalisOpiniRiau

Menikmati Seni, Menikmati Kurnia Ilahi

Oleh : Marzuli Ridwan Al-bantany*)

Sebagai makhluk, kita patut menyadari bahwa Allah SWT telah menciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk dan kejadian (ahsani taqwim). Dengan sebaik-baik bentuk dan kejadian ini, manusia memiliki kelebihan yang sempurna bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain yang Allah ciptakan.

Diantara kelebihan yang tuhan berikan kepada manusia itu, adalah berupa akal dan hati. Dengan keduanya ini manusia mampu memahami dan mempelajari ilmu yang dikaruniai tuhan. Dan dengan ilmu tersebut manusia mampu berbudaya, dapat membedakan antara yang hak dan yang batil. Antara perkara-perkara yang memberikan manfaat maupun perkara-perkara yang memudharatkan, baik untuk dirinya ataupun bagi orang lain.

Sebagai sebuah ta’rif (pengertian) sederhana, manusia berasal dari kata al-insan. Dalam Al-quran umumnya kata al-insan itu menggambarkan kelebihan dan keistimewaan manusia. Manusia dengan segala kelebihan yang dimilikinya dapat pula memikirkan kebesaran-kebesaran tuhan, termasuk memikirkan asal kejadiannya.

Salah satu kurnia yang tuhan beri kepada makhlukNya bernama manusia, adalah keistimewaan dan berkebolehan dalam berseni dan menikmati seni itu sendiri. Seni atau lazim disebut berkesenian itu, merupakan sebuah fitrah dan naluri manusia yang sudah ada sejak azali. Manusia adalah makhluk yang menyukai akan sesuatu yang indah-indah dan menyenangkan. Sesuatu yang dapat menentramkan pikiran dan jiwa lewat berbagai hasil karya seni, baik itu sesuatu yang dipandang, didengar ataupun dirasai.

Berseni dan berkesenian sesungguhnya bukanlah semata-semata soal mengejar popularitas, sanjungan dan juga pujian, atau hanya untuk meminta pengakuan dari masyarakat khalayak ramai. Namun hakikat berkesenian itu sendiri adalah mensyukuri dan menikmati kurnia tuhan yang diberikan kepadanya. Sebab dengan seni, seorang insan itu dapat berekspresi, menyalurkan hobi dan bakat yang dimiliki – sebagai perwujudan akan sebuah peradaban manusia yang dihasilkan dari upaya-upaya pengerahan kemampuan berpikir, perasaan dan kekuatan mengolah emosi yang dibuktikan dengan karya-karya seni yang dihasilkan oleh para insan seni.

Baca Juga :  Begini Cara Bupati Siak Memakmurkan Masjid

Segala hasil karya seni, apapun bentuk dan wujudnya itu (baca : karya sastra, lagu, lukisan, tari dan sebagainya), kemudian menjadi sebuah produk seni yang berkelanjutan, yang tentunya juga dapat dinikmati, baik oleh sang seniman (pencipta karya seni) maupun oleh orang lain sebagai penikmatnya. Di sinilah terletaknya pesan-pesan positif guna mewujudkan suatu keseimbangan pada diri manusia itu dalam menjalani hidup, menuju keharmonisasian antara jiwa raga, pikiran dan alam ini.

Dengan begitu, pada akhirnya seni itu dapat dimaknai sebagai ikhtiar hati yang paling dalam bagi seorang anak manusia untuk memperhalus akal budi, memperindah jiwa dan alam yang kian bergerak dan selalu berubah-ubah.

Merujuk kepada suatu persembahan kesenian dan kebudayaan yang dihelat Rumah Sastra Bengkalis bersama LAM Riau Kabupaten Bengkalis dan dihadiri Dato’ Roslan Madun, seorang penyair nusantara asal negeri Pahang, Malaysia secara khusus malam lalu (30/1/2019) di laman Rumah Sastra Bengkalis (Warung Api), adalah diantara bentuk sokongan padu serta ikhtiar para seniman dan juga sastrawan Bengkalis bagi mendekatkan dan merekatkan kembali nilai-nilai seni itu kepada khalayak ramai. Lebih khusus lagi bagi para pecinta seni yang ada untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya negeri, budaya Melayu yang sampai kini masih terpatri dengan sangat rapi.

Malam itu, para insan seni diantara kedua negara membaur. Menyatu dalam gurau dan senda. Usik mengusik, berjenaka dan menyapa lewat kata, syair dan langgam Melayu yang disenandungkan. Mereka benar-benar lebur dalam suatu helat kebudayaan yang satu. Bagaikan sebuah keluarga yang sejak lama menghilang dan terpisah oleh jarak yang berbilang jauhnya, yang pada malam itu bertemu mengurai rindu dalam satu pentas seni yang amat sederhana namun asri – yang menurut penuturan Datok Seri H Sofyan Said selaku Ketua DPH LAM Riau Kabupaten Bengkalis, bahwa pertemuan malam itu adalah jalinan kasih antara dua negeri Melayu (Bengkalis dan Malaysia) yang dalam sejarahnya dulu jika kedua negeri ini pernah bersatu dalam satu kerajaan besar, kerajaan Melayu. Ya, kerajaan Melayu yang suatu ketika dulu digeruni dan disegani oleh dunia-dunia barat.

Baca Juga :  Ini Alasan Direktur PT Merbau Pelalawan Belum Bayar Denda Rp16,2 Triliun

Pada titik ini, menjaga dan melestarikan nilai-nilai seni serta kebudayaan, terlebih pada khazanah budaya serumpun yang kita (bangsa Melayu) punyai, adalah sikap mulia yang patut dijunjung tinggi dan selalu dicemeti. Sebab seni itu sendiri mengajarkan kita akan kelembutan, kejernihan pikiran, serta sarat akan pesan-pesan moral dan agama. Seni juga mampu menjadi jembatan hati, yang dapat melerai segala seteru, menjalin persaudaraan dan persatuan sesama umat manusia di muka bumi ini.

Semoga tulisan sederhanaku kali ini ada manfaatnya. Terkhusus buat hamba yang fakir, yang senantiasa memerlukan tunjuk dan ajar dari para seniman, dari para tetua-tetua kita, pemangku-pemangku negeri yang memiliki titah dan kuasa, untuk sebuah kebaikan dan kemaslahatan kita bersama.

Semoga…

| Kamis, 31 Januari 2019 di Rumah Sastra Bengkalis

*) Penulis adalah penyair yang selalu menulis puisi, cerpen dan essai-essai ringan. Telah menerbitkan buku kumpulan puisi (Menakar Cahaya, 2016) dan buku cerpen Burung-Burung yang Mengkapling Surga, 2018). Kini aktif bergerak di Rumah Sastra Bengkalis, sebuah wadah berhimpunnya para seniman, sastrawan dan pegiat-pegiat sastra yang ada di Bengkalis.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *