BudayaOpiniRiau

Berperan Patih Karma Wijaya? Mengapa Tidak

Oleh Eric F. Junior

RiauKepri.com, PEKANBARU – “Tersebab Hang Jebat?” merupakan merupakan sebuah naskah tragedi komedi yang diangkat dari Hikayat Hang Tuah yang dijadikan sebuah naskah drama oleh Hang Kafrawi sekaligus menyutradarai naskah tersebut di Teater Matan. Pergelaran yang disuguhkan selama 2 hari (3 kali penampilan) oleh Teater Matan begitu relavan pada zaman sekarang. Teater Matan menghadirkan kisah cerita melayu klasik menjadi sebuah pegelaran teater di atas panggung yang mengundang reaksi positif khususnya anak-anak di kalangan pelajar.

Saya sebagai aktor di naskah “Tersebab Hang Jebat?” ini dituntut sutradara menjadi karakter Patih Karmawijaya. Bisa dibilang tokoh yang penuh tantangan juga bagi saya yang diharuskan untuk melogat jawa pada setiap dialog yang diucap. Tidak hanya itu, di dalam segi keaktoran saya dituntut juga untuk mencari ciri khas dalam pembawaan karakter Patih Karmawijaya.

Aktor harus menciptakan karakter tokoh sesuai dengan arahan sutradara. Karena bagi seorang aktor harus liar atau cerdik untuk mencari dan membangkitkan karakter-karaktet tokoh. Tidak hanya itu, latihan-latihan dasar kembali diulang untuk melengkapi kebutuhan. Seorang aktor juga harus mampu memberikan karakter yang terbaik dan oleh karena itu kita (aktor) melakukan ekplorasi dan mencari capaian-capaian untuk menambah jiwa karakter.

Patih Karma Wijaya dalam naskah “Tersebab Hang Jebat?” karya dan sutradara Hang Kafrawi menjadi tantangan yang belum pernah saya rasakan. Saya dituntut mencari sesuatu pembaruan dalam karakter yaitu eksplor tubuh (gestur) yang dari awal sampai akhir cerita seperti gerak wayang. Karena banyak karakter Patih Karmawijaya selama yang pernah di pentaskan di Riau khususnya belum ada pernah mencoba dan membuat seperti itu. Konsentrasi dan ekstra pada tubuh selalu melakukan gerak tari wayang disetiap berdialog dengan lawan main. Apalagi Patih Karmawijaya berkatakter yang gila jabatan dan penuh adu domba. Wah, peran yang begitu menarik dan menantang bagi saya untuk menghadirkan kelicikan dan “jahat” dalam menikung jabatan menjadi Laksemana di kerajaan. Entah mengapa sutradara begitu yakin dan kuat meletakkan saya berperan karakter tersebut, dan juga sutradara menuntut komedi dalam karakter tersebut, wah amazing guys (kate budak kenen).

Baca Juga :  Yuk, Akhir Pekan Nonton Teater Komedi Tragedi di Anjung Seni Idrus Tintin

Bagi saya begitu sangat menarik, yang selama ini saya bermain peran belum mendapat hal baru seperti ini. Mungkin terakhir kali saya merasa nikmat main di naskah “MAkFIAh” karya dan sutradara Hang Kafrawi yang betul-betul penuh dengan ekplorasi tubuh.

Jadi, dengan hadirnya sesuatu karakter  khas ini akan menjadi daya tarik dan ciri khas dari tokoh-tokoh di dalam naskah. Yang Sultan dengan karakter tersendiri, begitu juga yang lainnya. Bagi saya, menjadi seorang aktor harus mampu bisa menjadi apa yang diinginkan oleh sang pengarah (Sutradara). Karena menjadi aktor harus dari hati dan ikhlas. Semoga di Riau terlahir aktor/aktris yang berkualitas dan hebat dalam berbagai peran nantinya

Eric F. Junior adalah aktor Teater Matan dan sekarang Eric F. Junior sedang melanjutkan pendidikannya di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning

Tags
Show More

Related Articles

1 thought on “Berperan Patih Karma Wijaya? Mengapa Tidak”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *