BudayaPekanbaruRiau

Mengikat Budaya di “Syair Pengikat”

Oleh Eric F. Junior

Tidak diragukan lagi, pada tahun 2019 ini anak Riau kembali menyuguhkan sebuah karya film yang begitu memikat dan memukau banyak mata penonton di Gedung Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru pada malam hari, Sabtu (16/03/2019). Dengan sebuah karya film yang berjudul “SYAIR PENGIKAT” yang disutradarai oleh Andi Lesmana dan juga sebagai penulis skenario film tersebut. Dari sisi penonton yang saya lihat begitu sangat menikmati film “SYAIR PENGIKAT” ini. Film yang diawali dengan kemunculan hantu wanita horor yang membuat sontak kaget penonton dan didukung musik yang begitu mencekam menambah emosi ketakutan penonton menjadi suasana “keriuhan” di dalam gedung saat film berlangsung. Tidak hanya itu, film ini juga menyuguhkan komedi-komedi yang dilakoni oleh Wak Zoel. Ketakutan yang dirasakan dipatahkan dengan komedi-komedi yang dihadirkan oleh Wak Zoel dkk.

Saya begitu menikmati film “SYAIR PENGIKAT” ini. Dari segi konsep cerita begitu menarik dan tersampaikan. Tawaran-tawaran komedi dalam cerita yang di bawakan langsung oleh Wak Zoel menurut saya tidak diragukan lagi dalam aktingnya. Tetapi, dari segi pengambilan angle camera ada beberapa yang membuat saya tidak nyaman (selaku penikmat film “SYAIR PENGIKAT”). Serta beberapa aktor yang belum kuat memerankan tokoh yang mana bagi saya begitu penting dan bermakna walau hanya sebentar. Setiap pergantian scene ke scene yang lain belum begitu maksimal dan tertata rapi bagi saya. Juga pada klimaks akhir yang belum dapat saya nikmati saat si penulis syair pengikat (orang tua) membacakan syair-syair yang telah diselesaikan oleh seorang pemuda di zaman sekarang.

Di dalam sebuah karya pasti ada kekurangan dan juga kelebihan. Saya begitu sangat apresiasi kepada penulis dan sutradara film “SYAIR PENGIKAT” ini yang begitu jeli dan memperkenalkan kebudayaan yang ada di Siak. Konsep untuk mewujudkan kebudayaan begitu sangat ditonjolkan. Recce (read:reki) adalah suatu proses mengunjungi tempat-tempat lokasi film yang akan digarap dan ini begitu penting bagi saya sebelum memulai pembuatan film. Sutradara dan beberapa tim telah berhasil memperlihatkan sebuah destinasi atau sebuah icon wisata Kabupaten Siak. Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh bapak Dr. Junaidi, S.S., M.Hum saat diskusi film berlangsung, bahwa untuk mempromosikan sebuah tempat-tempat wisata serta kebudayaan yang ada di Riau bisa saja melalui sebuah film. Dengan adanya hal ini akan menjadi daya semangat anak-anak Riau untuk terus berkarya dan giat mengeksplor tempat-tempat yang bisa menjadi pendukung untuk pusat wisata dan kebudayaan.

Baca Juga :  BAPPEDA Bengkalis Bahas DAK Afirmasi 2020 dengan Kemendes, PDT dan Transmigrasi

Geliat anak-anak Riau dalam karya film bagi saya sudah nampak jelas dan penuh semangat dalam berkarya. Beberapa komunitas film yang ada di Pekanbaru hadir dan menonton pemutaran film “SYAIR PENGIKAT” ini. Dengan adanya pembukaan ruang diskusi diakhir acara, mereka mencurahkan beberapa ide-ide kreatif yang mesti dan harus digalakan oleh Pemerintah. “Bagi kami para penggiat perfileman di Pekanbaru mungkin begitu semangat dan antusias dalam berkarya apabila diberikan wadah tempat kami untuk memutarkan film kami, yaitu bioskop keliling”. Juga beberapa komunitas yang hadir begitu kaget, bahwa pembuatan film “SYAIR PENGIKAT” ini tidak ada disponsori dari manapun. Dengan semangat berkarya yang tinggi inilah, mereka mencoba dan berani berbuat dan bergerak dengan apa adanya. Seperti halnya film “MAFIA AGAKNYA, GENG” produksi Komunitas Malay Film pada tahun 2017 yang begitu geliat dalam berkarya walau mesti patungan untuk menciptakan sebuah karya tersebut dan hanya dengan alat yang seadanya.

Semoga generasi-generasi milenial pada saat ini penuh dengan anak-anak yang kreatif dan “haus” akan berkarya. Sebab zaman tiap tahunnya akan semakin canggih dan maju, begitu juga halnya dengan karya-karya anak negeri khususnya Riau. Semoga perfileman di Riau semakin maju, penuh kreatifitas, serta peduli dengan khasanah-khasanah budaya yang ada di Riau khususnya. “Kalau bukan kita, siapa lagi?”

Eric F. Junior adalah Anggota Teater Matan dan penulis skenario film “Mafia Agaknya, Geng?” produksi Komunitas Malay Film.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *