BudayaOpiniPekanbaruRiau

Ketika Musa Ismail “Tak Malu Kita Jadi Melayu”

RiauKepri.com, PEKANBARU – Dunia sastra di Riau tidak pernah berhenti bergeliat. Setiap tahun, karya sastra terus dilahirkan oleh sastrawan dan penyair di Tanah Melayu, walaupun para sastrawan dan penyair harus merogoh kocek sendiri untuk menerbitkan karya-karya mereka menjadi buku.

Di awal tahun 2019 ini, dari Kabupaten Bengkalis, penyair yang juga seorang PNS Pendidikan, Musa Ismail, menerbitkan buku sajak berjudul “Tak Malu Kita Jadi Melayu”. Buku yang diterbitkan TareBooks ini diproduksi pada bulan Februari 2019. Sebanyak 119 sajak termuat dalam buku setebal 152 ini.

Dalam buku ini, sajak-sajak dibatasi  tujuh sub judul. “Lelaki Matahari” merupakan sub judul pertama memuat 16 sajak. Dalam bagian ini, sajak-sajak berkisah istana sentris yang menggerakkan energi sejarah. Sub judul kedua dengan lebel “Istana Cahaya” 18 sajak. Sajak-sajak dalam sub judul ini berangkat dari peristiwa kepedihan dunia internasional, nasional sampai peristiwa lokalitas (Riau dan Kepulauan Riau).

Di sub judul ke tiga “Siak Bertanjak” berisikan 15 sajak. Sajak-sajak dalam sub judul ini banyak menyorot masalah marwah. Pada sub judul ke empat, sebanyak 20 sajak diikat dengan judul “Manusia Api”. Peristiwa yang tergambar dalam sajak-sajak dalam sub judul ini adalah eksistensi manusia. “Renungan Oktober” merupakan sub judul ke lima dari kumpulan puisi ini. Dalam sub judul “Renungan Oktober” sebanyak 17 sajak yang merekam pengkhianatan menjadi batang tubuh peristiwa.

Sub judul ke enam “Pesan dalam Pedang” merangkul 20 sajak. Tema perlawanan dapat dijumpai dalam sajak-sajak yang dimuat pada sub judul ke enam ini. Sub judul ke tujuh dengan bingkai judul “Kepada Langit”, mendedahkan religiusitis; penyembahan diri kepada Sang Maha Besar.

Baca Juga :  Ikut Indonesia Expo 2018 di Jeddah, Siak Promosikan Wisata dan Peluang Investasi

“Tak Malu Kita Jadi Melayu” mengajak pembaca menelusuri kronologis peristiwa sejarah, kelukaan dunia, marwah, keberadaan manusia (eksistensi), pengkhianatan, perlawanan dan pada akhirnya kepada Sang Maha Pencipta segala usaha diserahkan. Dalam kumpulan sajak Musa Ismail ini, kata-kata yang dipilih tidak terbebani oleh makna yang berat. Artinya, kata-kata yang digunakan Musa mudah dicerna untuk ditafsirkan, sehingga pembaca tidak ‘berkerut keningnya’ mencari padanan kata-kata yang dipakai dalam setiap sajaknya. Walaupun demikian, citra dari sajak-sajak Musa ini menusuk kesadaran sampai pembaca mengenal arti sesungguhnya hadir di muka bumi ini.

Untuk lebih jelas dan untuk lebih merasakan sensasi sajak-sajak Musa, disarankan membaca buku ini. Kita akan menemukan diri kita dari waktu ke waktu sampai kita mengukir peradaban berdasarkan kekuatan diri kita sendiri. Maka “Tak Malu Kita Jadi Melayu” adalah diri kita yang tak pernah mengenal kata menyerah.  Syabas Cikgu Musa Ismail.  (HK)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *