BudayaOpiniRiau

“Syair Pengikat” Anak Muda Riau Bukan Calong-Calong

Oleh M. Nazri

Film merupakan media informasi yang paling mudah dimengerti dan dipahami oleh semua kalangan audien. Audiens yang dimaksud adalah penonton dari segala usia, dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pengetahuan. Maka tak heran jika paradigma terhadap suatu negara dapat dengan mudah masuk dan mempengaruhi penilaian masyarakat. Tak jarang, media ini kemudian dijadikan sebagai alat untuk promosi suatu daerah dalam bidang pariwsata. Contohnya film Korea yang mampu mempengaruhi gaya hidup anak muda di muka bumi ini. Film Laskar Pelangi juga mampu meningkatkan turis lokal maum pun turis mancanegara berkunjung ke Bangka Belitung.  Mudah-mudahan dengan film Syair Pengikat ini mampu memacu percaya diri untuk mengunakan bahasa ibu dalam pergaulan dan melalui film ini juga bisa meningkatkan pengunjung di Kota Tua, Siak, yang penuh sejarah. Amin.  Dan melalui film juga bisa menyampaikan pesan-pesan moral kepada aiudiens.Termasuk dalam hal ini adalah penerapan nilai-nilai moral dan propaganda atau “setelan mindset” tentang sebuah objek yang menjadi cerita dalam sebuah film.

Film yang berdurasi sekitar satu jam empat puluh menit, karya anak negeri dari Kabupaten Siak bernama Adil Lasmana ini diputarkan pada Sabtu (16/3/2019), di gedung seni pertunjukan kembangaan masyarakat Riau Anjung Seni Idrus Tintin. Satu jam dalam hitungan waktu para penonton menunggu di loby gedung sambil bercakap-cakap dengan kawan-kawan, barulah panitia mempersilakan para penonton memasuki ruangan auditorium untuk pemutaran film.

“Bahasa Menunjukan Bangsa”, kalimat ini yang terlontar dari mulut saya selesai menoton hasil keratifitas anak muda Riau dalam film yang berjudul “Syair Pengikat” ini. Mengapa tidak, Andi Lesmana sebagai penulis sekenario film sekaligus sutradara sudah menunjukan jati diri anak Melayu Riau dengan memperkuat mengunakan loghat (dialek) Melayu pesisir. Sentuhan komedi dengan gaya ucap, gestur dan tengkah menengkah kalimat yang kental, membuat para audiens yang mayoritas penonton dari kalangan mahasiswa dan masyarakat pesisir berada di Pekanbaru gelak tak berkesudahan.

Baca Juga :  1.000 Peserta Ikuti Pawai Ta’aruf MTQ Desa Senggoro

Film “Syair Pengikat” juga menyuguhkan adegan horor yang menjadi topik munculnya permasalahan kehidupan tentang perkawinan. Syair Pengikatlah menjadi kepercayaan orang zaman silam dalam film ini, sebagai syarat satu hubungnan dalam ikatan suami istri anak cucu Adam. Syair yang belum sempat terselesaikan oleh tukang nikah atau boleh disebut dengan Tok Kadi, dikarenakan Tuk Kadi dibunuh. Sehingga dari peristiwa itu dikaitkelindankan untuk membangun konflik dalam alur film Syair Pengikat kepada sorang mahasiswa yang melakukan penelitian tugas akhirnya di tempat peristiwa itu terjadi.

Rasa puas dalam diri saya selesai menyakisikan film anak muda Riau ini, dan rasa puas ini juga bisa dirasanakan para penonton yang lain. Tawaran konsep crita sangat menarik dan mudah diphami sehingga tersampaikan kepada penonton. Ada beberapa pengambilan angle gambar jumping dan ada beberapa audio mengganggu pendengaran saat menikmati filmnya tidak sesuai kehendak gambar. Tidak dapat dipungkiri sudah menjadi suatu hal yang wajar, dalam sebuah karya pasti ada kekurangan di sana sini dan kelebihan yang bisa diungulkan.

Taniah kepada tim Siak Cinema terkhusus kepada Andi Lasmana telah mampu membuat film sekeren ini dengan banyak hambatan yang mampu dilewati bersama rekan-rekan. Munculnya film Syair Pengikat ini mampu menjadi cambuk lecutan dan sepirit bagi komunitas-komunitas film yang lain berada di Riau. Dan juga memacu semangat baru untuk anak muda di zaman milenial menghasilakn film-film berkualitas dari ide-ide kreatif yang mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional. Saya yakin anak muda Riau adalah anak muda yang cerdas dan mempunai wawasan luas dan krativitas tinggi bukan sekedar anak muda CALONG-CALONG. Tanihan, taniah sekali lagi untuk tim Siak Cinema.

Baca Juga :  Terduga Maling di Pekanbaru Terjun Sungai Menjemput Maut

M. Nazri adalah anggota Teater Matan

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *