BudayaOpiniRiau

Hasan Junus; Mata Melayu Menangkap Dunia

Oleh Hang Kafrawi

Hasan Junus bagi kesusastraan Riau, bahkan Indonesia, seperti matahari memancarkan energi kehidupan. Dari tulisan-tulisan yang dihasilkannya, Timur dan Barat berpadu menjadi jalan untuk merangkai makna keusastraan itu. Kesusastraan di tangan Hasan Junus, semakin mengelinjang, membuka diri, memompa dan mengalir semangat bagi para pembaca tulisan-tulisannya. Mencekah pemikiran pembaca dan melahirkan ratusan bahkan ribuan imajinasi yang dapat ditangkap menjadi sumber inspirasi. Hasan Junus seperti Panglima Perang sedang menunggang kuda dengan tangan tetap mengacungkan semangat ke langit di medan kesusastraan. Ia terus bergerak maju menjelajahi kusastraan di belahan dunia manapun dengan menjulang nilai-nilai Melayu. Jadilah karya-karya tulisnya membentang pengetahuan sastra dunia dengan tetap mengedepankan spirit Melayu.

Dari karya tulis Hasan Junus kita pun banyak berkenalan dengan penulis-penulis besar di muka bumi ini. Dalam karya tulisnya, terutama esai-esainya, Hasan Junus begitu akrab dengan penulis dunia tersebut. Sebut saja Farid ud-Din Attar, Emily Dickinson, Jean-Paul Sartre, Albert Camus, Simone de Beauvoir, Jacques Derrida, dan masih banyak lagi sederetan nama besar penulis besar yang menguncang dunia, bukan saja di dunia kesusatraan, tapi juga di segala lini kehidupan ini. Hebatnya, membaca tulisan Hasan Junus, ‘keakraban’ dirinya dengan para penulis besar dunia ini, ‘menular’ ke pembaca. Pembaca menjadi akrab pula dengan penulis-penulis besar itu. Dengan piawai Hasan Junus menyulam kata-kata mejadi kalimat, sehingga komunikasi terbangun dengan jelas di pikiran pembaca.

Dalam tulisan-tulisannnya, Hasan Junus juga mengajak pembaca menjadi seorang pengembara yang kehausan akan ilmu pengetahuan, sehingga pembaca harus membaca sampai tuntas. Kalimat-kalimat yang disulam menjadi paragraf melompat-lompat makna yang harus direnungi dan dikupas untuk dimaknai. Selain itu, ketika ia menulis tentang tokoh, secara detail Hasan Junus menghidangkan kepada pembaca tentang tokoh tersebut. Kepetahan Hasan Junus menulis ini, tentu didapat dengan begitu saja. Hasan Junus adalah seorang pembaca yang ‘lapar’. Segala buku dilahapnya.

Baca Juga :  Tingkatkan Pengumpulan Zakat, Ini yang Dilakukan BAZNAS Siak

Dengan ‘kelaparan’ mengila-gila membaca buku, terutama buku sastra, Hasan Junus menyimpai perkembangan kesusastraan yang terjadi di muka bumi ini. Dari simpaiannya pembaca dapat berkenalan dengan berbagai karya sastra di negara lain. Pada majalah “Menyimak” terbitan Yayasan Membaca, Pekanbaru, ada delapan karya sastra dunia di dedahkan. Dari sastra Somalia, India, Haiti, Senegal, Meksiko, Jepang, Inggris, dan Perancis dapat ditelelusuri. Segala yang didedahkan Hasan Junus dalam karya-karya tulisnya tentang kesusastraan negara lain, mengajak pembaca untuk membandingkan karya sastra negeri ini dengan negara yang disebutkan di atas. Belum lagi tulisan-tulisan Hasan Junus di Majalah Sagang, dan di kolom ‘Rampai’ setiap hari Ahad di Harian Riau Pos, yang membuhul sastra dunia dengan ruh Melayu Hasan Junus.

‘Membaca’ Hasan Junus, maka kata bijak “buku adalah jendela dunia” menjadi bertambah benar adanya. Hasan Junus membuktikan dengan membaca ribuan buku, ia melihat seluruh dunia, dan ia ‘sedekahkan’ kepada pembaca tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisnnya seperti pisau mengupas segala yang menjadi objeknya. Para pembaca mengikut rentak, ritma dari alunan kalimat-kalimat yang ditulis Hasan Junus. Pembaca juga disuguhkan kalimat-kalimat ‘segar’ dari tokoh yang dikupoas Hasan Junus dalam tulisannnya tersebut.

“Orang belumlah malang, sama sekali belum malang, selagi masih bisa memberikan nama yang gagah dan megah pada kemalangannya” kalimat Thomas Mann yang dikutip Hasan Junus dalam salah satu tulisannya. Pesan-pesan optimis selalu muncul dalam tulisan Hasan Junus. Hal ini menandakan bahwa Hasan Junus merupakan penulis dengan semangat yang terus menyala dan inilah jalan yang ditempuh Hasan Junus. Menulis merupakan jalan ibadah untuk memberi semangat kepada orang lain.

Dari kutipan Thomas Mann itu juga tercermin sikap Hasan Junus sebagai seorang penulis. Pekerjaan menjadi penulis merupakan upaya memberikan kegagahan dan kemegahan pada diri atau pun kepada negeri ini. Seberapa hancurnya suatu negeri, namun masih ada penulis di negeri itu, maka negeri itu masih bisa diselamatkan. Sebab dalam tulisan para penulis handal tersimpan harapan dan urat nadi kehidupan. Inilah fungsi penulis di suatu negeri. Tersebab ada harapan itulah, Sultan Melaka memerintahkan seorang penulis istana menulis seatu kisah epik yang menawan dan masih ‘hidup’ sampai sekarang kisahnya, yaitu “Hikayat Hang Tuah”.

Baca Juga :  Tumbal

Harapan-harapan yang ditulis Hasan Junus dalam karya-karyanya, tidak hanya tinggal dalam karya saja. Hasan Junus mempraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari. Hasan Junus semasa hidupnya, sangat dikenal memiliki kebahagiaan dan memiliki semangat yang tangguh. Setiap berjumpa dengan siapapun, Hasan Junus dengan antusias berkisah. Beliau seorang pencerita yang sangat aktraktif, energik dan inspiratif. Berbagai macam kisah melompat dari mulutnya. Bahasa lisan Hasan Junus sama dengan bahasa tulisannya. Mengalir bak air sungai Jantan (Siak), tak pakai putus-putus. Kepetahannya dalam bercerita inilah memunculkan tafsiran-tafsiran yang dapat dibuat tulisan oleh lawan bicaranya.

Hasan Junus paham betul kekuatan-kekuatan para penulis dunia, dengan pemahamannya ini, beliau menulis. Pemikiran Barat bagi Hasan Junus adalah bahan mentah untuk tulisannya. Ia akan mengolah bahan mentah itu dengan memasukkan nilai-nilai atau kisah-kisah atau tokoh-tokoh Melayu sebagai kekuatan tulisannya. Membaca tulisan Hasan Junus adalah membaca Melayu postmodern.

Dari tulisan-tulisannya, Hasan Junus ingin menegaskan bahwa tiada yang pusat di bentangan bumi ini. Negeri atau daerah yang memiliki penulis handallah berkesempatan menjadi pusat dunia ini. Setiap daerah atau negeri akan selalu bermunculan para penulis dan akan melahirkan pandangan pusat yang baru pula. Harapan inilah yang selalu ditanamkan Hasan Junus kepada penulis-penulis muda yang pernah bercakap-cakap dengan beliau.

Hasan Junus adalah mata Melayu yang menangkap segala gerak dunia melalui karya-karya sastra. “Teruslah bermimpi, jangan pernah berhenti bermimpi,” ucap Hasan Junus di kala berbincang bersama beliau semasa hidup. Mimpi bagi Hasan Junus adalah harapan yang disusun dari ketajaman imajinasi. Imajinas merupakan kekuatan manusia untuk merangkai kejayaan dalam mengarungi kehidupan. Selagi manusia di suatu negeri masih bisa bermimpi, maka negeri itu akan lahir menjadi negeri yang berseri. Penulis adalah manusia yang paling piawai dalam menyusun mimpi.

Baca Juga :  Nasib Puyu-puyu

Dalam karya-karya sastra yang dilahirkan dari pemikiran Hasan Junus, kita juga dapat menyimpulkan bahwa Hasan Junus adalah manusia penjulang cinta sejati. “Burung Tiung Seri Gading” naskah drama dan juga novel Hasan Junus, memperlihatkan rasa cinta seorang penulis Melayu ini. Cinta akan memunculkan berbagai permasalahan apabila cinta itu terabaikan, namun cinta juga melahirkan jalan keluar yang paling indah menyelesaikan masalah. Untuk lebih jelasnya, baca karya-karya Hasan Junus yang tersebar baik dalam bentuk buku maupun tersebar di media online. Selamat membaca karya-karya beliau, semoga Anda menemukan sensasi lain dari saya. T.S. Elliot, penyair Inggris ini menjelaskan, seandainya membaca satu karya sastra (puisi), tafsiran pembacanya tunggal, maka karya itu tidak berhasil. Jadilah pembaca dengan tafsiran sendiri, Anda akan menumkan diri Anda sesungguhnya.

Hang Kafrawi adalah Ketua Program Studi Sastra Indonesia dan Sastra Melayau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *