BudayaOpiniRiau

Menuduh Kelompok Seni

oleh Hang Kafrawi

Aktivitas kebudayaan dengan mengusung nilai-nilai budaya tempatan merupakan panggilan hati bagi para seniman. Nilai-nilai budaya tempatan inilah yang menjadi ruh karya-karya seni yang dihasilkan oleh seniman dengan kelompok seninya. Jadi sangat tidak tepat mengatakan bahwa kelompok seni atau kelompok budaya tidak peduli atau kurang mendukung pemerintah dalam pembangunan di suatu daerah. Apalagi untuk membangun sikap dan karakter bangsa ini.

Hal ini mengemuka ketika Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Riau menaja Forum Group Discution (FGD), terkait rencana pembangunan di bidang kebudayaan Provinsi Riau, yang berlangsung tanggal 5 April 2019, di Kantor Bappeda Riau. Pada pemaparan Bappeda Riau, slide pertama dalam menakar kelemahan pembangunan di bidang kebudayaan dicantumkan minimnya dukungan kelompok seni atau kelompok budaya terhadap pembangunan kebudayaan di Riau. Entah dari mana rujukan Tim Bappeda Riau sehingga menafikan kerja seniman dan budayawan Riau selama ini.

“Jangan melempar ketidakmampuan diri kite dengan memburukkan pekerjaan orang lain. Ini bukan sifat orang Melayu. Mereke membuat kesimpulan berdasarkan ketidakmampuan mereke. Selame ini, ade atau tidaknye bantuan pemerintah, seniman dan budayawan Riau telah banyak berbuat. Karya-karya seni yang dihasilkan oleh para seniman selame ini, dari akar sampai ke pucuk nilai-nilai budaya Melayu itu, menjadi inti pada karya-karya mereke. Menjulang nilai-nilai Melayu bagi seniman dan budayawan Riau, sudah menjadi kewajiban, bukan sunat. Karya seni apepun bentuknya merupekan presentasi nilai-nilai budaya. Hendak mengenal identitas suatu daerah itu, makenya pelajari karya seninye. Pemerintah saje yang selame ini tidak hadir menenguk aktivitas kebudayaan di Tanah Melayu ini. Sebagai contoh, berbagai perhelatan kebudayaan dan kesenian yang berlangsung di daerah ini, para pemangku (PNS) kebudayaan dan kesenian, tidak pernah nampak batang hidungnye, cume satu due orang. Tak pernah datang nenguk, kecuali perhelatan itu dihadiri tampuk pimpinan daerah, seperti gubernur, barulah para pamong itu terkais-kais datang, menyetorkan muke. Ini yang tak betul,” ucap Atah Roy sangat emosi ketika mendapat kabar FGD yang ditaja Bappeda Riau itu.

Baca Juga :  Bapenda Bengkalis Gelar Pembagian Hadiah Masyarakat Taat Pajak di Pinggir

Selama ini, kata Atah Roy, seniman dan budayawan berbuat tak pernah dihargai sebagai bentuk andil dalam perjuangan pembangunan. Perlu diingat, kata Atah Roy, bagi seniman dan budayawan, apa yang dikerjakan selama ini merupakan tanggung jawab sebagai orang Melayu; putra daerah.

“Mungkin orang tu belum paham agaknye, Tah?” tanya Tamam Cengkung menenkah pemikiran Atah Roy.

“Kalau tidak tahu, cari tahu. Makenye, kalau hendak menyusun program itu, ajak orang yang ahlinye. Ajak seniman, ajak budayawan, berdiskusilah menyusun strategi kebudayaann itu. Ini tidak, memandai-mandai saje kerjenye, tanpe ade musyawarah dengan ahlinye. Padahal sudah jelas dalam agama kite mengatakan, kalau suatu pekerjaan diberikan kepade yang bukan ahlinye, make siap-siaplah kehancuran akan datang. Sebetulnye, merumuskan pembangunan kebudayaan itu bukanlah susah, sebab para seniman dan budayawan telah berbuat dalam karya-karya mereke. Tinggal mengumpulkan para seniman dan budayawan, lalu masing-masing buat konsep secara tertulis apa yang menjadi sasaran pembangunan kebudayaan di negeri ini. Tinggal mengarahkannye lagi, sebab ape yang dikerjekan seniman dan budayawan adalah urut nadi nilai-nilai kebudayaan itu. Bercakap orang tak peduli itu yang tak elok. Seniman dan budayawan Riau tidak pernah penat berbuat untuk kebudayaan ini, sebab itu memang sudah menjadi pekerjaan mereke. Tapi ingat, sekali lagi aku tegaskan, jangan menafikan pekerjaan orang lain untuk mencari muke di depan pimpinan. Itu pemantang orang Melayu betul tu,” Atah Roy bertambah emosi.

“Agaknye, ini baru pertemuan pertame agaknye, Tah?” kini Udin Kengkang pula bertanya.

“Nak pertame, hendak seratus kali, itu bukan masalah, sebab para seniman dan budayawan tu telah berbuat sejak dari dulu. Masalahnye tidak menghargai orang lain, itu penyebab utamenye. Kan lucu juge, bincang masalah kebudayaan, seniman dan budayawan tidak dijemput. Lembaga Adat Melayu Riau saje, tak mereke undang, Apelagi lembage atau sanggar-sanggar kesenian. Tahu-tahunye, mereke cakap minimnye dukungan dari kelompok seni dan kelompok budaya untuk membangun Riau ini. Aduh mak, jadi berburuk sangke jadinye. Aktivitas kebudayaan di mate mereka agaknye hanye bernilai proyek; berape duit yang didapat. Masalah kebudayaan ini masalah marwah, tak dapat diukur dengan macam menjalankan proyek pembagunan pisik de. Pekerjaan kebudayaan itu pekerjaan kesadaran. Pembangunan untuk kesadaran terhadap nilai-nilai budaya itu, pekerjaannye tidak pernah selesai. Aku pernah dibisikkan Gubernur Riau, Pak Syamsuar di telingge aku ini tentang pekerjaan budaya tidak pernah akan selesai, ianye berlanjut terus. Jadi salah beso menganggap membangun kebudayaan dilakukan sesaat atau temporer sifatnye. Untuk membincangkan ini semue, seharusnye datangkan para ahlinye. Ini tidak, buat perencanaan di hotel-hotel, yang dijemput entah siape-siape, macam mane hendak duduk masalahnye ini? Kecurigaan terus dibangun, yang diajak orang-orang yang dekat dengan die aje. Tak putus de masalah kebudayaan kalau pendekatan macam gini de,” ujar Atah Roy masih dalam keadaan emosi.

Baca Juga :  Gubri Serahkan 336 Sertifikat TORA Kepada Warga Desa Tanjung

“Auk kate Atah tu. Aku dapat kabo juge pendidikan seni di Riau pun semakin melemah. Macam mane hendak bercakap kebudayaan kalau pendidikan kebudayaan dan seni lemah, bahkan sampai tutup,” ucap Tamam Cengkung.

“Itu juge yang terjadi pade Akademi Kesenian Melayu Riau. Ketike perguruan tinggi seni ini dalam keadaan susah, pemerintah tak hadir membantu. Sampai keberadaan AKMR ini pun tidak menentu, macam hilang begitu saje. Padahal berdirinye AKMR itu membantu pemerintah di bidang kebudayaan, namun tak kene peduli. Pemerintah kite, khususnye yang menangani masalah kebudayaan dan kesenian, ini lebih mementingkan acara seremonial aje. Kesenian dan kebudayaan hanye dimaknai seasaat pade kulitnye saje, tidak lebih dari itu. Sehingge seseuatu yang bersifat proses menjadi yang lebih baik, dibiokan saje. Macam AKMR itu, tidak dapat setahun due tahun hasilnye dipetik, namun beberape tahun setelah itu baru melahirkan generasi mude yang tangguh, punye karakter dan sikap sebagai pejuang nilai-nilai budaya Melayu,” jelas Atah Roy.

Tamam Cengkung dan Udin Kengkang sepakat dengan apa yang disampaikan Atah Roy. Padahal selama ini Tamam Cengkung dan Udin Kengkang selalu berseberangan pemikiran ketika berdiskusi dengan Atah Roy. Kali ini mereka sepakat, sebab perjuangan kebudayaan bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Perjuangan kebudayaan untuk kepentingan bersama, kepentingan Tanah Melayu ini. Mari hilangkan kecurigaan itu.

Tulisan ini dimuat juga di Harian Koran Riau, Senin (8/4/2019)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *