Puisi-puisi M. Nazri

M. Nazri

Prahara Cinta

Aku telah terbunuh cintanya Laila Majenun
Nafas yang dirampas kasihnya Romeo Juliet

Tiada yang bisa ku seru
Tersebab suara sudah membisu
daeng-daeng bermuka batu
telah merampas mulut nenek kakek ku

Tuah tak meski ku ikut
Jebat yang patut ku sebut-sebut
Walaupun maut telah menjemput
Pateh Karma Wijaya harus ku tuntut

Atau
Akulah jelmaan Puyu-Puyu bertanah rambut
Membela yang patut-patu
Jahat tak meski kuturut
Meski bersimbah maut
Aku tak takut

Bunga Pedang Ummu Umarah

Belum lahir
Telah sampai cerita kepadaku tentang
Perang Uhud juga Yaman
Tumbuh Bunga-bunga

Dari bukit Uhud
darah tubuhmu mengalir ke- Surga
Sebagai bukti cinta

aku bukan saja pelantun do’a hikmat untukmu
Tapi lebih dari itu
Lebih dari perisai bangsa yang biadap tak tau adap
Aku tetap pengirim do’a Rindu untukmu
Meski kita tak pernah bertemu

ajam Keris Salah Memilih Warna Darah

Baca Juga :  SE Wako Dumai Tentang UMK Sudah Dikirim ke Perusahaan

Suara itu memilu
Tapi tusuk sudah menepati janji
Dibalut kain telah bersimbah tangis
Kasih yang sampai pada maut sudah menjadi kalut

Tajam keris salah memilih warna darah
Kepada tangan saudara ia beserah
Untung memang tak dapat dipinta
Berusaha adalah hakikat harus diturut
Malang memang tak berbau
Tapi mengangang keris harus diikuti
Supaya ia menjadi penurut

Akulah darah Jebat yang mengalir
Mengunyah cemas menjadi-jadi
hamparan luka sisemerata cucu
Memilu semerata musim

Sejarah yang lusuh sebelah bermuram salah
Pada wajah tehapus sebelah
Ia rela menyerah kalah demi saudara tak sedarah

Ragu Menjadi Melayu

Ntah kali keberapa aku kebasahan dipeluk hujan
memilih jalan pulang yang menggeliat seperti todak siap menerkam mangsa

Sejarah melambah setiap tikungan Tuhan
Membuat aku tak mengerti memilih arah mana
Apakah kepada Petunjuk yang menancap ego
hingga aku tak percaya diri
Mengaku diri adalah Melayu

Baca Juga :  LAMR Berharap Agar Penyelesaian Kebun Ilegal Berpihak Kepada Masyarakat

Katanya;
“Sejarah Terhapus Muka Sebelah”
Barangkali aku tidak berayah
Ataukah ibuku menyerah pasrah

Dan kepada siapa lagi harus kuturut
Ketika Hang Jebat dijemput maut
Haruskah aku menyembah kalah
kepada Hang Tuah yang membela salah

Tak kuasa aku bertuan kepada lawan
Mengadai Marwah demi mewah
Hingga darah bercampur nanah
Membuat hati busuk sebelah

Jelita

Kalau kau kalut tangkap gelap kunyahlah ia
Jika tak bisa meredam tagismu
sederas guyur hujan
Kau bisa singgah di Istana hati
Aku rela berbagi
teduh dan basah

Mengenangmu

Terbang bersama burung waktu
Menarikan kebenaran dengan tempo para irama pemain gambus
Pada senja yang hampir sirna

Melantunkan do’a
Di tanah kelahiran
Sampai di Singapore
Mendayung perahu dari elegi nelayan tua

Mengenangmu lagi
Aku ingat pesan seorang ayah kepada anaknya
Tentang dunia karikatur

Pemulung

Baca Juga :  Tim Pengabdian UNRI Gelar Pelatihan PJJ Melalui Pendampingan MGMP di SMA Lubuk Dalam

Percakapan bermula antara waktu dan nasip
Pada hujan yang hampir reda
Matahari meninggalkan senja
Sepasang kaki mencatat peristiwa disepanjang jalan
Musim diawal November

kantong-kantong rezeki
Keringat dikumpul tetes demi tetes
Dikebat dengan kekilasan
Berpacu dengan waktu adalah keinginan yang harus dikejar

Tak menghiba diri
Karena perjanjian Roh adalah matlamat yang harus ditepati sebagai ikrar diri

Tersisa Hujan di Jendela

Kate Mak; Nak, tutupkan jendela dengan kain saat petir akan turun”

Kataku; Tidak Mak, bagaimana aku bisa melihat sisa hujan di jendela

Buat apa Nak.
Buat lihat kenangan saat ayah pergi bersama perempuan penjual mimpi
Kita yang tengelam dalam tangis
Hanyut bersama
Sedih
Perih
saat hujan enggan berhenti

Masih ingatkah Mak,
Kita yang tidur dibawah jendela dengan sisa hujan dikaca
Aku menulis dendam.
Seketika Mak tak lagi bersuara

M. Nazri adalah honorer Dinas Pariwisata Provinsi Riau

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *