OpiniRiau

Menggunting Dalam Lipatan

Kepentingan yang berasal dari keserakahan membuat manusia kehilangan akal sehatnya. Persaudaraan, pertemanan menjadi tidak bernilai dan dibunuh untuk mewujudkan keinginannya. Maka dia pun berdiri dan menari di atas penderitaan orang lain. Anehnya, di zaman kenen alias zaman kini, manusia seperti ini dijulang beramai-ramai oleh manusia lainnya. Manusia kenen tidak melihat asal-usul kesuksesan yang diraih seseorang, tetapi manusia kenen lebih mementingkan apa yang mereka dapat dari kesuksesan orang tersebut. Kehidupan ini sebenarnya tidak kejam, manusialah yang menciptakan ianya menjadi kejam.

Atah Roy tidak menyangka bahwa Muslim Bokang sanggup melakukan hal yang tidak terpuji; mengkhianati Dollah Sulah, dan berpihak kepada Jamal Cacing. Padahal Jamal Cacing selama ini selalu menyusahkan Muslim Bokang. Waktu getah alias ojol Sahak Sumbing hilang, Jamal Cacing menuduh Muslim Bokang yang mencurinya. Padahal getah itu dicuri oleh Jamal Cacing, setelah dijual separuh dan separuhnya lagi diletakkan di belakang rumah Muslim Bokang. Akhirnya Muslim Bokang harus mempertanggung jawabkan apa yang tidak dikerjakannya. Dollah Sulahlah yang menyelamatkan Muslim Bokang dengan mengajak damai Sahak Sumbing. Sahak Sumbing setuju, asalkan separuh getahnya yang sudah dijual, diganti. Dollah Sulah menyanggupi mengganti getah yang sudah terjual itu, sehingga Muslim Bokang selamat dari hukuman.

Peristiwa itu belumlah lama berlangsung, dan semenjak peristiwa itu, hubungan Muslim Bokang dengan Dollah Sulah semakin akrab. Mereka saling mengisi. Mereka satu kekuatan dengan dua pikiran dan dua perasaan. Atas usulan Muslim Bokanglah akhirnya Dollah Sulah maju untuk ikut pencalonan Ketua RW. Di sinilah puncanya, Muslim Bokang mengkhianati Dollah Sullah dan berpihak kepada Jamal Cacing. Pengkhianatan Muslim Bokang disebabkan Jamal Cacing menjanjikan akan memberi hak penuh kepada Muslim Bokang mengelola kedai milik koperasi di bawah kekuasaan Ketua RW.

Baca Juga :  MTQ Tak Sekedar Ajang Evaluasi Qari, Juga Pendidikan Qur'an Sebagai Kebutuhan Hidup

Dari mulut Muslim Bokanglah segala keburukan dan strategi Dollah Sulah diketahui oleh Jamal Cacing. Laporan Muslim Bokang ini menjadi kekuatan Jamal Cacing melumpuhkan Dollah Sulah. Akhirnya fitnah tersebar ke warga dan nama baik Dollah Sulah pun tercemar, warga pun mengalihkan suara mereka kepada Jamal Cacing.

“Tah, ngape termenung macam ayam berak kapur aje Atah ni?” tanya Leman Lengkung melihat Atah Roy duduk termenung di kursi tamu rumah mereka.

“Aku memikirkan kekalahan Dollah Sulah,” jawab Atah Roy sambil menarik nafas panjang.

“Ape hendak dipikirkan Tah, dah 6 bulan pemilihan itu. Kite harus terime dengan lapang dade sajelah pilihan warga,” jelas Leman Lengkung agak arif.

“Menggunting dalam lipatan itu paling bahaye,” ujar Atah Roy dengan nada kesal.

“Sudahlah Tah, semuenye sudah terjadi,” tambah Leman Lengkung.

“Tak semudah itu, Man. Kalau kawasan ini dibangun dengan pengkhianatan, maka selanjutnya pengkhianatan-pengkhianatan merajalela di kawasan kite ini,” ujar Atah Roy.

“Memang perlu pengkhianatan Tah, kalau tidak kekuasaan yang zalim akan tetap berkuase,” Leman Lengkung mencoba menenangkan Atah Roy.

“Suai betul aku dengan cakap dikau tu, Man. Tapi ingat Man, kata pengkhianatan itu tak memandang tempat, yang sering mendapat padahnye dari pengkhianatan itu adalah kekuasan yang baik, kalau ingin menjatuhkan kekuasaan zalim, itu bukan pengkhianatan namenye. Seperti Hang Jebat, die tidak berkhianat kepade Sultan, tapi sultanlah yang berkhianat pade Hang Tuah,” ujal Atah Roy panjang lebar.

“Macam gitu pulak ye, Tah?” Leman Lengkung penasaran.

“Memang macam tu,” jawan Atah Roy singkat.

“Sudahlah Tah, sekarang ni mari kite berpikir tentang diri kite sajelah,” tutur Leman Lengkung selambe.

Mendengar ucapan Leman Lengkung, mata Atah Roy terpendel alias terbelalak menenguk Leman Lengkung. Leman Lengkung jadi serba salah dengan tatapan mata Atah Roy.

Baca Juga :  Upaya Syamsuar Bangun Ekonomi, Bank Riau-Kepri Bakal Jadi Syariah

“Kalau mate Atah dah macam gini, ini yang tak sedap ni,” kata Leman Lengkung gelisah.

“Kalau dikau bercakap tu Man, pakai otak, jangan pakai lutot. Kalau dikau bercakap pakai lutot, memang terlungkop auop kampung kite ni!” Atah Roy mulai emosi.

“Ngape pulak macam tu, Tah?” Leman Lengkung makin salah tingkah.

“Ingat ye Man, Allah menciptakan manusie itu berkelompok, dan kewajiban kite untuk memikirkan kelompok. Kalau kite hanye berpikir untuk diri sendiri, tak diciptakan manusie ini banyak de, cukup kite berdue aje. Dikau menguasai benua eropa, amerika, aku menguasai benua asia dan afrika, selesai ceritenye Man. Inikan tidak, kite diciptakan di tengah-tengah masyarakat kampung kite ni, dan kite wajib memikirkan kampung kite ni!” Atah Roy semakin geram.

“Kalau macam tu Tah, saye tahu juge.”

“Kalau dikau tahu, ngape dikau berpikiran hanye untuk diri sendiri?” nada Atah Roy semakin meninggi.

“Macam mane kite nak memikirkan orang lain Tah, diri kite sendiri saje terlantar tak tentu arah. Seharusnye kite memikirkan diri kite terlebih dahulu, baru kite memikirkan orang lain,” Leman Lengkung tidak mau kalah.

“Suai aku dengan pendapat dikau tu, Man,” Atah Roy kehilangan argumentasi.

“Kalau Atah suai dengan pendapat saye, macam mane kalau kite meminjam duit di koperasi yang dikelola  Muslim Bokang. Musim hujan ni Tah, kite tak dapat noreh getah,” usul Leman Lengkung.

“Biolah aku tak makan seminggu daripade aku minjam duit ke koperasi itu,” tegas Atah Roy.

“Ngape pulak macam tu, Tah?” Leman Lengkung penasaran lagi.

“Orang yang naik dengan mengkhianati saudarenye, pasti akan melakukan kezaliman di muke bumi ini,” jelas Atah Roy.

Baca Juga :  Penghulu Sapri Kukuhkan Ketua RT dan RW Se Desa Batang Duku

“Ape betul, Tah?” Leman Lengkung semakin penasaran.

“Pasti bunge minjam di koperasi itu tak tanggung-tanggung lagi ye?” balik Atah Roy bertanya.

“Kalau terlambat bayo satu hari Tah, dah dihitung membayar dende setengah dari pinjaman kite,” jelas Leman Lengkung.

“Dah aku telah dah. Budak Muslim ni, buat susah orang kampung aje!” geram Atah Roy sambil berdiri dengan emosi tinggi. Atah Roy langsung ke dapur mengambil parang.

“Atah nak kemane dengan parang tu?” tanye Leman Lengkung.

“Aku nak menebas kepale pengkhianat tu. Tak boleh hidup orang macam tu di negeri kite ni de!” geram Atah Roy. Leman Lengkung menahan langkah Atah Roy.

“Sabo Tah, kite harus susun strategi menjatuhkan Muslim Bokang tu,” ucap Leman Lengkung.

Atah Roy pun terduduk dengan nafas terengah-engah menahan emosi.

Hang Kafrawi

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *