Demi Riau Bebas Asap, Manggala Agni Rela Menyabung Nyawa 

Petugas Manggala Agni cek kesehatan yang mengganggu mata.

SIANG itu, Rabu, tangggal 3 April 2019, asap membumbung tinggi. Api membakar lahan gambut di Desa Karya Maju, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Terik matahari terasa panas, angin yang berhembus kencang semakin mempercepat api membakar dedaunan, kayu kering dan batang pohon. Begitu juga tanah yang kering menjadi santapan api. Di musin kemarau, semak belukar, batang kayu, dan lahan gambut mudah terbakar, dan ini menjadi “makanan” bagi lidah api.

Meskipun berada di bawah terik matahari dan panasnya api yang seakan-akan mencabik kulit, namun tidak menyurutkan langkah kaki 13 anggota Manggala Agni Reaksi Taktis, mereka bergerak cekatan dari kantor Daops (Daerah Operasi) Pekanbaru yang berada di Jalan Raya Pekanbaru-Minas, kilometer 25, menuju Desa Karya Maju. Menembus semak belukar, melintasi anak sungai, menjadi ”mainan” bagi regu Manggala Agni Daop Pekanbaru yang dipimpin Komandan Regu I Roni Rodesa.

Tiba di titik kordinat di N 0,5900 E 101,3117, masing-masing anggota regu yang sudah menggunakan sepatu bot, baju seragam pemadam, helm merah berlogo orang utan, memakai topi, tampak menurunkan  mesin air, gulungan selang air, dan perkakas lainya dari atas mobil. Kemudian alat-alat itu digotong sejauh 600 meter ke lokasi lahan terbakar akibat tidak dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat. Setelah itu, tim bergerak membawa mesin ke sumber air, mesin dihidupkan, selang dipasang, suara mesin terdengar keras, dengan cepat air tersedot dan disemprotkan oleh regu pemadam ke sejumlah titik api. Air pun masuk ke dalam rongga-rongga tanah, secara bertahap dan perlahan-lahan titik api dapat dipadamkan.

Pekerjaan menantang ini, ujar Komandan Regu Rony Rodesa, mereka memadamkan selama dua hari. Tim Manggala Agni harus berjibaku memadakamkan api di lahan Desa Karya Maju, harus saling bahu-membahu saat berada di tengah-tengah kepulan asap dan api. Berkat kerjas keras tim, akhirnya berhasil memadamkan lahan yang terbakar seluas 12 hektar.

Kerja keras dengan nyawa taruhan yang dilakukan regu Manggala Agni memadamkan api di Desa Karya Maju ini, sangat diapresiasi Kepala Daops Pekanbaru Edwin Putra S.Hut. Sekilas api memang terlihat padam, namun regu harus melakukan pendinginan dan pemantauan. Sebab, di lahan gambut itu walaupun api telah padam pada permukaan tanah tapi belum tentu api yang berada di dalam tanah juga padam. Inilah sulitnya memadamkan lahan gambut, kayu-kayu besar yang terkubur di dalam tanah saat terbakar akan menjadi bara api bisa saja menjadi ancaman baru, api bisa saja menyala kembali membakar jika air tidak masuk ke dalam tanah.

Karenanya, kata Edwin, dalam memadamkan lahan gambut yang terbakar regu Manggala Agni harus berkerja sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur), dan mengutamakan keselamatan. Setiap menjelang malam, tim harus ditarik dari lokasi lahan terbakar, jika tetap memadamkan api bisa beresiko besar dan bisa menimbulkan masalah. Sebab, bagaimanapun Manggala Angi juga manusia.

Semangat Juang Brigade Maggala Agni

Manggala Agni berasal dari bahasa Sangsekerta yang berarti Panglima Api. Manggala Agni adalah  Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan Indonesia yang dibentuk pemerintah dengan mascot orang utan memakai topi. Terdapat segi empat bujur sangkar dengan gambar di dalamnya mascot Si Pongi dan nyala api serta tulisan MANGGALA AGNI di bawahnya. Segi empat bujur sangkar melambangkan dua hal pokok yaitu, empat faktor terjadinya api. Yakni, bahan bakar, oksigen, panas dan manusia. Bidang segi empat melambangkan perisai sebagai ungkapan harapan bahwa Manggala Agni menjadi perisai inti atau kekuatan terdepan terhadap ancaman kebakaran hutan. Sementara Si Pongi,
orang utan, diambil dari nama interanasional Pongo Pygmaeus yang memakai topi lapangan (Jagawana). Maskot ini telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kehutanan No 365/Kpts-ll/1996.

Baca Juga :  Buka Workshop Instrumen Akreditasi PT, Ini Pesan Rektor Unilak
Petugas Manggala Agni mengumpulkan air pada wadah untuk memadamkan api.

Dikutip dari situs menlhk.go.id, Maggala Agni memiliki visi ”Terwujudnya sistem pengendalian kebakaran hutan secara optimal dan terwujudnya kondisi masyarakat yang terlindung dari berbagai ancaman jiwa, raga dan harta benda serta terbebas dari pencemaran asap.” Adapun misi Manggala Agni, melakukan pencegahan kebakaran hutan secara optimal dengan menitik beratkan pada peningkatan kesadaran semua pihak akan bahaya kebakaran baik terhadap sumber daya hutan maupun kehidupan masyarakat, bangsa dan negara serta pengelolaan hutan yang dapat menekan resiko kebakaran.

Memadamkan kebakaran hutan sedini mungkin dan progresif melalui pendayagunaan sumberdaya manusia yang profesional dan peralatan yang tepat guna dan berhasil guna, dan menangani pasca-kebakaran hutan dengan titik berat rehabilitasi kawasan bekas kebakaran dan penegakan hukum dengan dukungan sumber daya manusia yang profesional, perangkat peraturan perundang-undanganan dan pedoman-pedoman teknis.

Di Provinsi Riau Maggala Agni memiliki 4 daerah operasi yaitu, Daops Rengat, Daops Dumai, Daops Siak, dan Daops Pekanbaru. Daops Pekanbaru meliputi wilayah Kota Pekanbaru, Kabupaten Kampar, sebagian wilayah Kabupaten Siak, dan Kabupaten Rokan Hulu.

Luas wilayah operasi, beber Edwin, sekitar 200.000 hektar. Meskipun wilayah kerja cukup luas, tidak menjadi alasan bagi Maggala Agni untuk tidak bekerja maksimal. ”Kita berkomitmen mewujudkan Riau bebas asap, kejadian tahun 2015 bencana asap terparah tidak terjadi lagi,” tekad Edwin.

Dalam melaksanakan tugas dan upaya pencegahan kebakaran lahan, Manggala Agni berpedoman pada kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat yaitu, pembangunan kelembagaan melalui pembentukan brigade pengendalian kebakaran hutan yang didukung dengan personil, sarana dan prasarana yang memadai. Kemudian pemantapan operasional pengendalian kebakaran hutan yang meliputi pencegahan, pemadaman dan penanganan pasca-kebakaran, peningkatan peran serta dan pemberdayaan masyarakat.

Belajar dari pengalaman, Daops Pekanbaru telah melakukan berbagai upaya pencegahan lahan terbakar. Diantaranya telah memetakan wilayah mana saja yang sering terbakar, untuk Pekanbaru ada di Jalan Riau Ujung, Jalan Nelayan, wilayah Jalan Siak II, dan Danau Buatan. Di Kabupaten Kampar ada di Rimbo Panjang, Tapung, Desa Karya Maju, Perbukitan di PLTA Koto Panjang. Sedangkan di Siak ada di sekitar Minas, sementara untuk di Rokan Hulu ada di perbatasan Kampar dan Rohul. Selain memetakan wilayah yang mudah terbakar, Manggala Agni Pekanbaru juga punya langkah jitu untuk cepat bergerak dengan membuka layanan call center selama 24 jam di nomor 0852-1214-3355. Layanan call center ini warga dapat memberikan informasi lahan yang terbakar kepada petugas.

”Setiap laporan yang masuk kita lakukan pengecekan, sesuai SOP Daops Pekanbaru akan menerjunkan tim patroli terlebih dahulu dengan menggunakan kendaraan roda dua untuk melihat kebenaran informasi, berapa luas yang terbakar, dimana koordinatnya, dimana letak sumber airnya, dan kondisi jalan apakah bisa dilalui roda empat atau tidak. Langkah ini perlu dilakukan agar regu Manggala Agni dapat bergerak cepat dan sampai ke lokasi dengan cepat. Jika regu Manggala Agni salah jalan, maka akan membutuhkan waktu lama untuk sampai ke lokasi lahan terbakar, dan terkadang harus memutar,” ungkap Edwin.

Upaya pencegahan lainya adalah dengan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA), dan Daops Pekanbaru telah membentuk kelompak MPA sebanyak 15 orang di setiap desa rawan karlahut. Adapun MPA itu berada di Desa Karya Indah Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, MPA Pagaruyung Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar, MPA Palas Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru dan MPA Muara Fajar Barat Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru. Kelompok MPA ini diberikan pembekelan teknis dasar kebakaran hutan dan lahan, pencegahan, teknik pemadaman sampai simulasi pemadaman karlahut. Tujuan pembentukan MPA agar masyarakat bisa melakukan upaya dini seandainya terjadi karhutla di lingkungan mereka.

Baca Juga :  Ini Catatan Pemko Pekanbaru Nunggak Utang Lampu Jalan

Selain itu, Manggala Agni rutin melakukan patroli di wilayah lahan terbakar. Di sela-sela patroli
juga melakukan sosialisasi bahaya lahan terbakar di sekolah, di perkampungan masyarakat, dan desa desa. ”Kita juga bermitra dengan Babinsa, Polisi/TNI, pihak desa dan Kelurahan. Beberapa waktu lalu kita sosialisasi di SMA Negeri 13 Rumbai, dan generasi milenial saat ini perlu memahami bahaya kebakaran lahan dan hutan,” sebut Edwin.

Pentingya Patroli di wilayah rawan lahan terbakar, kata Erwin, dipandang efektif untuk mencegah lahan terbakar dan juga melindungi ekosisitem gambut. Dijabarkan Direktur Pengendalian Karhutla KLHK, Raffles B. Pandjaitan, belajar dari tahun 2015 saat kebakaran hutan terparah upaya pencegahan lebih diutamakan dalam upaya pengendalian karhutla. Pencegahan dimulai dengan sistem deteksi dini hotspot melalui citra satelit dan ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung ke hotspot di tingkat tapak.

Patroli terpadu terus ditingkatkan setiap tahunnya dengan melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah daerah dan unsur masyarakat. Patroli terpadu ini dilakukan di desa-desa yang rawan karhutla setiap tahunnya. Tahun 2016, patroli terpadu ini menjangkau 731 desa, tahun 2017 menjangkau 1.203 desa, kemudian 1.255 desa di tahun 2018, dan tahun 2019 ini menjangkau 1.240 desa yang dikoordinasi KLHK dengan satuan petugas yang ada di Provinsi Riau. Hasilnya, cukup mengembirakan 80 persen desa-desa yang dijangkau patroli terpadu tidak terjadi kebakaran.

Dalam tekad menjalankan tugas, baik berupa pencegahan, patroli maupun pemadaman lahan terbakar, saat ini Daops Pekanbaru telah didukung sarana dan prasana. Diantaranya ada empat unit kendaraan roda empat dengan rincian, satu mobil dinas, 1 mobil tangki air, 2 unit minibus, 30 kendaraan roda dua. Juga didukung dengan puluhan peralatan mesin air, selang air, jaket water, tangki air, peralatan perkakas lainya, monitor pemantau hot spot dan sebagainya. Sementara untuk sumber daya manusia saat ini ada 30 orang. Kemudian dibagi dalam dua regu. Di antara 30 orang tadi ada tiga orang srikandi Manggala Agni, dan setiap harinya ada petugas yang piket.

Menjadi petugas Maggala Agni, ucap Edwin, tidak mudah karena memiliki resiko sangat besar bahkan bisa-bisa mengorbankan nyawa. Mereka yang ingin menjadi regu Manggala Agni harus lolos tes secara fisik, fisik prima, sehat jasmani dan rohani, lulus diklat dasar, bebas narkotika, tes wawancara dan tes kesehatan. Belum lagi soal status pekerjaan yang hanya tenaga kontrak. Di Daops Pekanbaru, dari 30 orang Manggala Agni hanya beberapa yang ASN, sisanya merupakan pegawai pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) atau Tenaga Harian Lepas (THL).

Pengakuan salah seorang Srikandi Manggala Agni Daops Pekanbaru, Masitoh, diawal dia bekerja dan rekan-rekannya lainnya hanya bergaji Rp 180.000 tapi kini sudah Rp 2.500.000 per bulan dengan sistem kontrak, dan diikutkan BJPS kesehatan. ”Kami berharap kesejahteraan kami dapat ditingkatkan, dan semoga dapat diangkat menjadi ASN, karena dalam bekerja Manggala Agni berbeda dengan pekerjaan lainya, perlu keahlian khusus, beresiko dan siap ditugaskan dalam bencana,” ujar Masitoh.

Perlindungan Ekosistem Gambut dan Pengendalian Karhutla

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan agar tidak terulang lagi seperti tahun 2015. Upaya pencegahan dan penindakan telah dilakukan KLHK bekerjasama dengan pihak terkait seperti TNI, Polri, dan masyarakat.

Petugas Manggala Agni memadamkan api di tengah kepulan asap.

Dalam acara ngobrol pintar tentang Perlindungan Ekosisitem Gambut dan Pengendalian Karlahut yang diadakan PWI Riau dan KLHK di Gedung Graha Pena, pada tanggal 8 April 2019, Sekjen LHK Bambang Hendroyono, mengatakan, kebakaran lahan gambut pada tahun 2015 dengan luasan mencapai 2,6 juta hektar dan kerugian mencapai Rp 220 triliun. Berdasarkan kejadian itu pemerintah kemudian mendeklarasikan untuk tidak ada lagi kebakaran hutan dan lahan gambut. Oleh karena itu, selain mengatur strategi pencegahan pemerintah juga mengambil tindakan hukum tegas terhadap individu maupun koorporasi yang menyebabkan kebakaran lahan dan hutan.

Baca Juga :  Tahniah, Tengku Irawan Terpilih Jadi Direktur Kredit dan Syariah BRK

Menurut Bambang, gambut memiliki fungsi sebagai sumber daya alam berupa plasma nutfah dan komoditi kayu, sebagai tempat hidup ikan endemik, gudang penyimpanan karbon dan berperan sebagai penyeimbang iklim. Jika tidak dikelola dengan baik gambut rentan terhadap kerusakan. Sehingga kebakaran pada lahan gambut berpotensi menyebabkan bencana alam yang menimbulkan dampak lokal, nasional dan global.

Gambut di Riau, jelas Bambang, memang termasuk sangat luas dengan kubah-kubah gambut dalam di beberapa wilayah. Kondisi ini menjadi potensi besar terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau apabila tidak dikelola dengan baik. Bambang juga memaparkan bahayanya racun yang dikeluarkan asap karhutla bagi kesehatan manusia, terutama bagi ibu hamil karena bisa menimbulkan kecacatan bayi dalam kandungan.

Dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan, sangat penting untuk menjaga Kawasan Hidrologis Gambut (KHG). Sebab, Kebakaran pada lahan gambut berpotensi terjadi bencana alam yang menimbulkan dampak lokal, nasional, dan global. Indonesia pernah mengalami kebakaran hutan dan lahan gambut cukup besar pada tahun 2015 lalu yang luasnya mencapai 2,6 juta hektare. Akibat bencana kebakaran tersebut, Presiden Joko Widodo memberikan arahan yang sangat jelas, yaitu upaya langkah-langkah korektif terkait pengelolaan Gambut. Berdasarkan data yang dimiliki Kementrian LHK, Indonesia memiliki 24 juta hektar ekosisitem lahan gambut yang telah disahkan dalam Keputusan Menteri LHK Nomor SK.129/MENLHK/SETJEN/PKL.0/2/2017

Dijelaskan Bambang, mentri LHK telah menerbitkan Peraturan Menteri LHK Nomor;
P.10/Menlhk/Setjen/Kum.1/3/2019 tentang Penentuan, Penetapan dan Pengelolaan Puncak Kubah Gambut Berbasis KHG sebagai suatu bentuk upaya langkah korektif dalam perlindungan dan pengelolaan Ekosistem Gambut. Peraturan ini mengatur penentuan dan penetapan puncak kubah gambut, dilakukan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL). Penentuan puncak kubah gambut dilakukan melalui pendekatan perhitungan neraca air yang terkandung.

Guru Besar Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Bambang Hero Saharjo, menjelaskan sebagian besar kebakaran terjadi di lahan gambut. Oleh karena itu, sudah sepantasnya untuk mewaspadai turunnya tinggi muka air dengan mengaktifkan peran kanal melalui monitoring dan supervisi sekat kanal. Selain itu, perlunya secara rutin untuk melakukan patroli udara, air dan darat untuk mencegah kebakaran berlanjut dan mengantisipasi terjadinya pembiaran. Kebakaran sering terjadi di dalam kawasan hutan produksi dan kawasan hutan konversi, maka pihak terkait diminta untuk segera melakukan penertiban/memberikan tindakan tegas dan tidak melakukan pembiaran. Penegakan hukum karhutla sejatinya juga melakukan proses penindakan terhadap pelaku pelanggaran hukum lain yang menyertainya.

Terkait masalah penindakan, Kementrian Lingkungan Hidup RI melalui Direktorat Penegakan Hukum telah bebuat semaksimal mungkin. Dalam kurun waktu tahun 2015-29019 telah memproses 601 kasus perusakan lingkungan hidup maupun kehutanan, untuk sanksi adminsitrasi telah ada 618 kasus, dan gugatan perdata sebanyak 21 kasus dengan nilai Rp 19,4 trilun. ”Kasus perdata yang dimenangkan KLHK ini adalah yang terbesar di Indonesia,” ujar Dirjen Penegakan Hukum LHK, Dr, Rasio Ridho Sani, M.Com, saat pemaparan bersama wartawan di acara ngorbrol pintar edisi kedua di gedung PWI Riau, Senin tanggal 22 April 2019.

Rasio menjelaskan, sebanyak 10 kasus sudah inkrah dan 3 kasus ada di Riau yakni, PT MPL, PT JJP, dan PT NSP. Kejahatan lingkungan bisa dilakukan oleh per orangan, korporasi, atau perusahaan
baik swasta mapun BUMN. (widiarso)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *