Syamsuar: Apa Tanda Melayu Jati, Memegang Amanah Sampai Mati

Syamsuar dan Edy Nasution.

RiauKepri.com, PEKANBARU- Sambutan Datuk Seri Setia Amanah, Drs H. Syamsuar, membuat hadirin tampak matan mendengarkannya. Apalagi gubernur Riau dan wakil gubernur Riau yang baru saja ditabalkan dalam gelar adat LAMR, begitu petah menyebutkan bagaimana kepemimpinan dalam perspektif Melayu dan Islam.

Kepemimpinan dalam kaca mata Islam, kata Syamsuar yang didampingi Datuk Seri Timbalan Setia Amanah Edy Natar Nasution, merupakan salah satu hal yang mutlak dalam kehidupan ini karena pada dasarnya setiap manusia yang terlahir di dunia ini ketika ia telah mencapai usia baligh, maka ia telah diamanahi Allah sebagai pemimpin minimal pemimpin untuk dirinya sendiri karena pada saat itu ia telah terbebani hukum agama secara penuh. Sehingga melihat hal tersebut hakikatnya semua manusia yang ada di muka bumi ini adalah seorang pemimpin.

“Hakikat kepemimpinan dalam Islam sendiri merupakan suatu bentuk tanggungjawab dan bukanlah suatu keistimewaan, maka ketika berada di dunia ini ia ditunjuk untuk memimpin suatu kelompok tertentu maka wajib baginya untuk mempertanggung jawabkan kepemimpinannya dihadapan manusia dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” kata Syamsuar dalam pidatonya, Sabtu (6/7/2019).

Baca Juga :  Ini Sebab LAMR Cepat Memberi Gelar Adat Kepada Syamsuar-Edy Nasution

Sejarah Melayu juga telah mencatat kearifan kepemimpinan dalam perspektif budaya Melayu. Sejarah membuktikan kepemimpinan raja-raja masyarakat Melayu pernah mengalami masa kejayaan, seperti kerajaan Sriwijaya dan Dharmasraya, Melayu Jambi, Johor, Malaka hingga Kerajaan Siak.

“Kepemimpinan menjadi hal yang sangat penting dalam suatu daerah, kepemimpinan menjadi suatu pandangan berhasilnya atau tidaknya proses pembangunan pada suatu daerah budaya Melayu mengajarkan kepemimpinan seseorang dengan landasan agama dan budaya serta norma sosial yang dianut oleh masyarakatnya. Norma utama yang dipakai adalah nilai agama yakni agama Islam dijadikan sebagai sandaran dan rujukan selanjutnya mengacu kepada nilai adat istiadat atau resep asli yang diikuti dengan norma sosial yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Syamsuar.

Baca Juga :  Jalan Rusak Parah, 16 Desa di Kampar Terisolir

Pepatah Melayu dan tunjuk ajar Melayu, sambung Syamsuar, sudah memberi gambaran bagaimana seorang pemimpin itu.

“Apa tanda Melayu Jati, memegang amanah sampai mati. Apa tanda Melayu Jati, karena amanah berani mati, Apa tanda Melayu Jati, amanah melekat di dalam hati,” ucap Syamsuar.

Dari petuah orang tua-tua dulu Melayu ini, jelas Syamauar, dapat diartikan kesanggupan seorang pemimpin yang amanah harus direalisasikan dengan tanggung jawab saat menjalankan kepemimpinannya.

Tanggung jawab dalam arti mampu melaksanakan tugas dengan baik jujur adil dan selaras antara kata yang diucapkan dengan tindakan yang dilakukan,” ungkap suami Misnarni ini.

Karenanya, kata Syamsuar, dalam kesempatan ini dia bersama Edy Natar Nasution yang dtabalkam sebagai Datuk Seri Timbalang Setia Amanah, sangat berharap kira keridhaan Allah subhanahu wa taala dalam menjaga akhlak kami.

Baca Juga :  Balon Wawako Dumai, Suardy Merapat ke Demokrat

“Akhlak yang menunjukkan budi pekerti dan moralitas kami sebagai pemimpin Riau dalam periode 5 tahun ke depan, karena sejatinya budi pekerti harus dijunjung tinggi oleh kami berdua yang sedang memimpin. Kami mengharapkan doa semua elemen masyarakat semoga kami sehat selalu dan senantiasa beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar kami tetap di bawah bimbingan dan perlindungannya sehingga dijauhkan dari sifat dan sikap yang tidak terpuji,” pinta Syamsuar. (RK1)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *