‘Mengikat’ Setia dan Amanah Pemimpin Tanah Melayu Riau

Oleh Hang Kafrawi

Ketua Umum MKA LAMR Datuk Al azhar saat membaca naskah penabalan gelar adat

RiauKepri.com – Orang Melayu paham betul bahwa pemimpin merupakan teraju yang akan membawa perubahan bagi suatu negeri. Tersebab memahami hal inilah orang Melayu memosisikan pemimpin ‘ditinggikan seranting dan didulukan selangkah’. Menjadi seorang pemimpin bukanlah perkara mudah, pemimpin harus menjadi ‘sitawar dan sidingin’ yang mampu menciptakan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat.

Sebagai pengingat sepanjang waktu bagi pemimpin di negeri ini, dibuatlah berbagai nasehat dalam bentuk karya seni. Salah satu karya seni yang mengabadikan nasehat untuk pemimpin itu adalah lagu ‘Lancang Kuning’. Lirik lagu ‘Lancang Kuning’ menyimbolkan negeri seperti kapal bernama Lancang Kuning. Kapal ini menuju ke tengah laut pada malam hari, dan seandainya nakhoda atau kapten (pemimpin) kurang paham, maka alamatlah kapal akan tenggelam. Tentu banyak rintangan dan halangan bagi seorang nakhoda dalam melayari kapalnya dan untuk itulah diperlukan strategi yang jitu seorang nakhoda. Salah satunya adalah membaca tanda-tanda laut. Konteksnya pemimpin hari ini di negeri ini dapat mengetahui dan memahami ‘gelombang’ yang sedang ‘ditagak’ oleh masyarakat.

Sebagai ‘pengawal’ kebudayaan Melayu yang bertuju kemakmuran masyarakat, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) menyadari bahwa pemimpin harus diberi kekuatan yang berlandaskan nilai-nilai budaya Melayu. Pondasi untuk membangun negeri ini adalah setia dan amanah. Setia menjadi ihwal penting dalam pembangunan, disebabkan setia adalah perpegang teguh pada janji, bersekukuh hati pada keinginan menyejahterakan masyarakat. Sementara itu amanah adalah dapat dipercaya dalam menjalankan atau mengembankan keinginan masyarakat untuk hidup lebih baik lagi. Setia dan amanah menjadi sikap setiap manusia, terutama bagi pemimpin. Tersebab pemimpin dipilih oleh orang banyak dan seharusnya pulalah pemimpin merealisasikan keteguhan hati membela kepentingan masyarakat. Kepentingan masyarakat suatu negeri merupakan pekerjaan pokok pemimpin dan setia amanah menjadi pengikat diri dalam membangun masyarakat seutuhnya.

Baca Juga :  Nasib Puyu-puyu

Menyadari hal ini, Lembaga Adat Melayu Riau membuat seperangkat energi untuk pemimpin di Bumi Lancang Kuning ini. Seperangkat energi itu dikemas dalam bentuk gelar adat yang diberi nama Datuk Seri Setia Amanah dan Datuk Seri Timbalan Setia Amanah. Datuk Seri Setia Amanah diberikan kepada Gubernur Riau dan Datuk Seri Timbalan Setia Amanah diberikan kepada Wakil Gubernur.

Setiap orang yang menjadi pemimpin di negeri ini ‘diikat’ dengan gelar adat oleh LAMR, sehingga gelar ini sebagai pengingat bagi siapapun yang menjadi pemimpin. Sebagai pengingat untuk kepentingan orang banyak, penabalan gelar adat ini dilaksanakan dengan upacara adat dan disaksikan oleh masyarakat. Hal ini menandakan bahwa Datuk Seri Setia Amanah dan Datuk Seri Timbalan Setia Amanah dijulang sebagai kekuatan adat untuk menjalankan tugas mereka. Adat Melayu menjadi jalan sekaligus menjadi tujuan bagi pemimpin di Bumi Lancang Kuning sebagai negeri bermarwah dan marwah yang hakiki bagi suatu negeri adalah masyarakatnya makmur.

Gelar Datuk Seri Setia Amanah dan Datuk Seri Timbalan Setia Amanah

Dalam masyarakat Melayu, sebutan datuk diberikan kepada orang-orang yang memiliki pengaruh yang besar dan dapat dijadikan tauladan hidup. Tentu saja yang menjadi pertimbangan diberikan gelar ‘datuk’ kepada seseorang ini adalah memiliki tingkahlaku baik sesuai dengan niali-nilai adat Melayu yang bermuara dari nilai-nilai Islam. Selain itu, kepada yang diberi gelar ‘datuk’ ini disandarkan harapan besar untuk menjalankan nilai-nilai adat Melayu, sehingga Melayu benar-benar kokoh keberadaannya.

Dengan gelar ‘datuk’ ini, masyarakat adat (orang Riau) sepakat menjaga dan memberikan masukan terkait adat istiadat Melayu. Paling penting, adat istiadat Melayu bukanlah tirani mengekang kreativitas yang diberi gelar adat, sebaliknya adat istiadat Melayu menjadi jalan kemuliaan untuk sampai pada matlamat hakiki, yaitu; kesejahteraan dan kemakmuran orang banyak di negeri ini.

Baca Juga :  Sudah Pisah Ranjang, Suami di Inhil Ini Tikam Istri Pakai Badik Hingga Tewas

Gelar ‘datuk’ ini adalah ikrar bersama memberi dukungan dan sokongan penuh kepada penerima gelar ‘datuk’. Dalam menjalankan aktivitasnya, penerima gelar ‘datuk’ ini dijaga dan dilindungi, sehingga penerima gelar ‘datuk’ dapat menjalankan fungsi dan peranannya dengan nyaman dan aman.

Gelar Datuk Seri Setia Amanah dan Datuk Seri Timbalan Setia Amanah yang diberikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Riau terpilih menjadi penanda bahwa kedua tokoh ini ‘dipagari’ nilai-nilai adat Melayu Riau. Kedua datuk ini dihormati sebagai penggerak utama nilai-nilai Melayu, sehingga keberadaan Melayu itu benar-benar menjadi denyut nadi masyarakat di negeri ini. Bagaimanapun juga, nilai-nilai adat merupakan kearifan suatu puak dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai adat Melayu mendedahkan kearifan dalam bertindak dan bersikap dan semuanya mengarah kepada hablumminannas dan hablumminallah. Berbuat yang terbaik untuk manusia, mengharapkan keberkahan dan ridho Illahi menjadi pedoman adat Melayu. Hal inilah yang mengidentikkan Melayu itu adalah Islam.

Sebagai pengikat dan sekaligus pengingat Gubernur Riau dan Wakil Gubernur Riau terpilih, Drs. H. Syamsuar, M.Si dan Brigjen (Purn.) H. Edy Afrizal Natar Nasution, S.Ip, maka sangat tepatlah LAMR menyematkan gelar adat tersebut di awal masa jabatan Gubri dan Wagubri tersebut. Dengan disematkan gelar adat Datuk Seri Setia Amanah dan Datuk Seri Timbalan Setia Amanah di awal masa jabatan Syamsuar dan Edy Natar Nasution, maka kedua tokoh ini senantiasa dijaga dengan memberikan petuah-petuah dan nasehat-nasehat agar tetap berada pada nilai-nilai adat Melayu; setia dan amanah.

Baca Juga :  Diduga, 8 Kali Oknum Kades di Bengkalis Ini Cabuli Pelajar, Nyaris Diamuk Warga

Orang-orang Melayu dahulu, terutama kaum ibu, memberi petuah-petuah dan nasehat hidup melalui nyanyian (mendodoi) menidurkan anak di buaian. Segala nasehat baik itu mengabdikan diri kepada Allah Swt, metauladani tingkah laku Nabi Muhammad Saw, berbuat baik sesama manusia, sampai berbuat baik kepada lingkungan sekitarnya disampaikan pada masa bayi. Nasehat ini menjadi pengikat dan menjadi jalan agar kelak si anak menjadi orang yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Kekuatan kebaikan harus diberikan dari awal, sehingga perjalanan hidup menjadi mudah.

Di perhelatan Penabalan Gelar Adat Datuk Seri Setia Amanah dan Datuk Seri Timbalan Setia Amanah, Lembaga Adat Melayu Riau di Balai Adat, Sabtu (6/7/2019), dalam sambutannya, Datuk Seri Setia Amanah Syamsuar menegaskan kembali sikap orang Melayu berkaitan dengan amanah. Datuk Syamsuar mengutip tunjuk ajar Melayu yang berbunyi:  Apa tanda Melayu jati, memegang amanah sampai mati. Apa tanda Melayu jati, karena amanah berani mati. Apa tanda Melayu jati, amanah melekat di dalam hati. Kutipan ini menandakan bahwa Datuk Syamsuar menyadari betul bahwa menjadi pemimpin di Tanah Melayu setia dan amanah menjadi pegangan hidup dalam memajukan negeri ini lebih baik lagi.

Semoga dengan gelar Datuk Seri Setia Amanah dan Datuk Seri Timbalan Setia Amanah yang diberi LAMR kepada Datuk Syamsuar dan Datuk Edy Natar Afrizal Nasution menambah cahaya, semarak, kemuliaan, dan keindahan (seri) bagi masyarakat Riau ke depannya. Mari kita merancang dan berbuat untuk Riau lebih baik. Amin.

Hang Kafrawi adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning dan Ketua Teater Matan  

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *