BudayaOpiniRiau

Pekanbaru, Pusat Pemerintahan Kesultanan Siak saat Konfilk dengan Belanda

RiauKepri.com – Bandar Senapelan yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kota Pekanbaru, dahulu pernah menjadi pusat pemerintahan kesultanan Siak Sri Indrapura saat dipimpin oleh Raja Alamudin bergelar Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Sultan ke-4 Kesultanan Siak, pada tahun 1767 sebelum dipindahkan kembali ke Mempura oleh Sultan Tengku Yahya bergelar Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah, Sultan ke-6 Kesultanan Siak.

Dalam buku Sejarah Kerajaan Siak, sebelum Raja Alam menjadi Sultan Siak, beliau seorang putera kerajaan Siak yang banyak membuat kekacauan di Selat Melaka, sehingga Belanda yang pada saat itu memanfaatkan Selat Melaka sebagai jalur perdagangan, sering menjadi sasaran rampokan dari Raja Alam. Kewalahan melawan kesaktian Raja Alam dan pengikutnya, Belanda mengundang Raja Alam untuk berdamai. Tetapi maksud sebenarnya undangan itu adalah untuk melancarkan rencana devide et impera (politik adu domba).

Undangan perdamaian tersebut dihadiri Raja Alam. Dengan damainya Raja Alam dengan Belanda, maka Belanda Belanda membantu Raja Alam mengambil Tahta Kerajaan Siak dari kemenakannya sendiri Tengku Ismail bergelar Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaludin Syah Sultan Ke-3 Kesultanan Siak. Pada tanggal 16 Januari 1761 dibuatlah perjanjian antara Raja alam dan Belanda. Dengan syarat Raja Alam meneyerah kepada Belanda dan bersahabat dengan Kesultanan Johor kemudian juga membernarkan pendirian Loji (benteng) milik Belanda di Pulau Guntung yang telah direbut Kesultanan Siak.

Raja Alam bersedia menerima tawaran tersebut asalkan Belanda berjanji tidak mencampuri urusan keluarga Kesultanan Siak. Pada waktu yang direncanakan Raja Alam dengan bantuan Belanda, dalam penyerangan ini Raja Alam tidak memggunakan kekerasan, demikian Sultan Ismail yang tidak berperang dengan pamannya Raja Alam. Sultan Ismail menyambut pamanya dengan perdamaian sesuai dengan wasiat ayahnya Tengku Buwang Asmara bergelar Muhammad Mahmud Abdul Jalil Muzaffar Syah Sultan Ke-2 Kesultanan Siak, yaitu untuk memberikan tahta kesultanan pada pamannya.

Baca Juga :  Bupati Amril Lakukan Pertemuan Dengan Konsultan Labora Karya

Setelah Raja Alam menduduki singgasana, sebenarnya beliau dengan diam-diam menentang kebijakan yang dibuat oleh Belanda. Raja Alam tidak mengindahkan perjanjian dengan Belanda, terjadilah konflik dengan belanda yang terus menuntut janji 1761 itu. Raja Alam berpikir untuk mengamankan kedaulatan dan menguatkan kesultanan Siak, dengan cara pada tahun 1767 Sultan memindahkan pusat pemerintahan kesultanan dari Mempura ke Bandar Senapelan yang terletak di hulu Sungai Siak.

Dipilihnya Bandar Senapelan dengan pertimbangan bahwa daerah ini terletak pada persimpangan lalu lintas perdagangan yang sangat ramai antara lain persimpangan jalan dari Minangkabau, Kampar, Rokan, Tapung dan lain-lain. Tidak lama setelah itu dibangunlah pekan, Bandar Senapelan semakin maju karena aktifitas perdagangan. Pekan (pasar) yang dikenal dengan nama pekan baharu dan berobah sebutannya menjadi Pekanbaru hingga saat ini. (Megat Kalti Takwa)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *