Candi Muara Takus Saksi Bisu Keberadaan Kerajaan Sriwijaya

Candi yang berlokasi di sudut Kabupaten Kampar tepatnya berada di Desa Muaratakus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Riau itu menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Batu-batu kokoh yang membentuk candi menyimpan langkah jejak sejarah yang penuh misteri, mengundang keinginan untuk mengungkap kebenaran.

Saat ini masyarakat pada umumnya mengetahui Kerajaan Sriwijaya berpusat di dekat Kota Palembang tetapi hingga sekarang keberadaan pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya sendiri masih menjadi perdebatan antara para ahli sejarah karena Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan maritim dan pusat pemerintahannya berpindah-pindah.

Namun J.L Moens ahli sejarah, Prof. Dr. Raden Mas Ngabeni Poerbatjaraka, serta Drs. Boechari menyatakan Candi Muara Takus erat hubungannya dengan Keberadaan pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.

Mengenal Candi Muara Takus

Asal nama Candi Muara Takus sendiri terdiri dari dua kata “Muara” dan “Takus”. Muara berarti tempat berakhirnya aliran sungai di laut, atau sungai lain sedangkan Takus berasal dari bahasa Tiongkok terdiri dari Ta, ku, dan se. Ta berarti besar, Ku berarti tua, Se berarti candi jadi keselurahan nama Muara Takus berarti candi tua besar yang berada di muara sungai.

Bentuk dan arsitektur Candi Muara Takus yang berbeda dari candi-candi yang terdapat di nusantara membuat candi ini istimewa dari yang lainnya.
Dalam buku Sejarah Riau disebutkan bahwa candi ini merupakan candi peninggalan agama Budha Mahayana dari India karena bentuknya memiliki kesamaan bentuk stupa budha di Myanmar, Vietnam, dan di India pada periode Asoka, yaitu stupa yang memilik ornamen berbentuk kepala singa dan ornamen berbentuk roda.

Baca Juga :  HPI dan Rumah Sunting

Area Candi Muara Takus terdiri dari 4 candi, dengan bangunan utama satu stupa besar yang dinamakan Candi Mahligai, 3 candi lainya bernama Candi Tua, Candi Bungsu, dan Candi Palangka.

Hubungan Candi Muara Takus dan Keberadaan Kerajaan Sriwijaya

Kekuasaan menjadi suatu faktor penting dalam pembangunan sebuah candi. Keberadaan Candi Muara Takus dan beberapa prasasti menunjukkan serta memperkuat adanya bukti pernah adanya suatu kerajaan berpengaruh dan pernah berada di daerah ini.

Candi yang juga merupakan tempat suci peribadatan bagi umat Hindu dan juga bagi Budha, hadirnya candi pada suatu daerah menandakan kerajaan yang berkuasa pada saat itu ingin menghadirkan simbol keagamaan tempat peribadatanya yang dianutnya. Hingga saat ini Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan Hindu/Budha yang sama dengan corak arsitektur Candi Muara Takus.

Prasasti yang dapat mendukung keberadaan Kerajaan Sriwijaya adalah Prasasati Kedukan bukit yang pertama sekali memuat nama Sriwijaya berada di pinggir sungai tantang Palembang, prasasti itu tercatat pada tahun 605 Saka atau tahun 683 Masehi, beraksarakan Pallawa dan sedangkan bahasanya bahasa Melayu kuno. Isi dari Prasasti Kedukan Bukit tersebut diterjemahkan oleh Prof. Dr. Raden Mas Ngabeni Poerbatjaraka. Berisikan 10 pasal dan ditarik kesimpulan didalamnya.

Baca Juga :  Tinggal Dipoles Sedikit, Begini yang Terjadi Pada Pelaku Usaha di Siak

1. Tempat dari mana Dapunta Hyang Raja Sriwijaya berangkat dengan membawa tentaranya sejumlah 20.000 orang yaitu dari Minanga Tamwa.

2. Bala tentara Dapunta Hyang berangkat dengan perahu 20.000 orang sedang yang berjalan kaki 1312 orang.

3. Tujuan dari perjalanan ini ialah membuat Kota.

Prasasti ini memberi petunjuk bahwa tempat pasukan Kerajaan Sriwijaya berangkat ada di pulau Sumatera karena kecil kemungkinan bisa membawa 1312 prajurit dengan berjalan kaki, kemudian tujuan dari perjalanan ini adalah membuat kota, serta Dapunta Hyang dan prajuritnya berangkat dari Minanga Tamwa.

Prof. Dr. Raden Mas Ngabeni Poebatjaraka dalam buku Riwayat Indonesia mengatakan yang dimaksud Minanga Tamwa itu ialah pertemuan dua buah sungai, yang sama besarnya bertemu satu dengan yang lain yakni Kampar Kanan dan Kampar Kiri. Pertemuan dua sungai tersebut boleh jadi dikatakan sebagai Minanga Kamwar, atau Minanga Kembar.

Kemudian pendapat lain muncul dari J.L Moens yang menyakini pusat Kerajaan Sriwijaya bermula di pantai timur semenanjung Melayu, kemudian pindah ke daerah Melayu Muara Takus, dalam buku Sejarah Riau J.L Moens juga mengatakan pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya di Muara Takus, atas dasar :

1. Rekontruksi peta-peta dan tempat-tempat yang disebutkan dalam sumber naskah asing.

2. Berita I-Tsing biksu yang sempat memperdalam agama di Kerajaan Sriwijaya mengenai tiadanya bayangan seseorang yang berdiri tegak pada jam 12 siang saat matahari melewati Khatulistiwa.

Baca Juga :  Komit Pada Zakat, Bupati Siak Terima Anugrah BAZNAS Award 2018

3. Peta yang dibuat oleh ahli peta Tiongkok Chia Tan yang mengatakan bahwa sebelah utara Chih-Chih terletak Shih-Li-Fo-Shi (Sriwijaya).

4. Berita arab yaitu ibn Said dan Abul Fida yang memberitakan bahwa ibukota Kerajaan Sriwijaya terletak di muara sungai, Sungai Kampar 1200 tahun yang lalu jauh lebih ke barat dari sekarang dan ramai dilayari.

5. Adanya cerita rakyat yang mengenal raja Bicau (Sri) wijaya dan juga cerita raja Sriwijaya menetap di kotabaru.

Lalu dalam buku Indonesia Dalam Arus Sejarah Drs. Boechari dari membaca Prasasti Kedukan Bukit menduga bahwa Prasasti Kedukan Bukit sendiri berarti memperingati usaha penaklukan daerah sekitar Palembang oleh Dapunta Hyang dan pendirian ibukota baru atau ibukota yang kedua, beliau juga mengatakan Dapunta Hyang memulai perjalanan dari Minanga Tamwa.

Lokasi Minanga merujuk pada suatau desa yang terdapat di tepi Sungai Kampar Kanan Desa Binanga yang terletak pada timur Bangkinang. Boechari menyimpulkan bahwa Kerajaan Sriwijaya sudah ada sebelum 682 Masehi terletak di daerah aliran Sungai Kampar Kanan, dimana Candi Muara Takus berada.
Dalam hal ini Kerajaan Sriwijaya berangkat dari Minanga di Kampar ke Upang yang berada di Palembang.
(Megat Kalti Takwa)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *