Kisah “Tupai” Diintip Tiga Hari dan Jatuh Mati Ditembak Polisi

Baku Tembak Polisi dengan Gembong Narkoba

Kapolada Riau saat memberi keterangan pers.

RiauKepri.com, PEKANBARU– Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga, betigulah pepatah yang dikatakan Kapolda Riau Irjen Pol Widodo Eko Prihastopo, menanggapi penangkapan gembong narkoba Satriandi dan kawan-kawan dalam konferensi pers yang ditaja di Mapolda Riau, Selasa (23/07/2019).

Jendral Polisi bintang dua itu juga menambahkan, penangkapan ini merupakan bentuk keseriusan polisi dalam pemberantasan narkoba, dari pada generasi muda yang dihancurkan narkoba lebih baik mereka ditindak tegas.

“Satriandi merepukan salah satu DPO kita dan merupakan residivis akut. Tiga hari terakhir intensif dilakukan pengintaian untuk menangkapnya,” ungkap Kapolda Riau.

Santriandi sendiri merupakan mantan anggota kepolisian yang dinonaktifkan sejak tahun 2015 karena melanggar hukum. Satriandi saat ini diduga adalah salah satu anggota sindikat pengedaran narkoba.

Saat penggerebekan Santriandi beserta komplotannya melakukan perlawanan, dia melepaskan tembakan dan pelurunya mengenai salah satu anggota kepolisian (Bripka Lius Mulyadin). Kondisi ini, pihak kepolisian dalam posisi membela diri, membalas melepas tembakan, akibatnya Satriandi dan seorang rekannya AR tewas ditempat sementara seorang yang hendak melarikan diri berhasil dikejar dan ditangkap.

Baca Juga :  Mengenang Ediruslan Pe Amanriza; Mengecas Energi

Menurut Direktur Reskrimum Kombes Hadi Poerwanto, proses baku tembak antara Satriadin beserta komplotannya dengan pihak kepolisian berlangsung sekita 30 menit.

Dalam penangkapan di dalam rumah Satriandi ditemukan senjata api yaitu, 3 laras panjang, 2 senjata laras pendek dan beberapa butir peuru juga alat pengisap sabu serta granat aktif.

“Untuk mengetahui apakah Satriandi dan Komplotanya melakukan tindak kejahatan lain, kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut,” ucap Irjen Pol Widodo Eko Prihastopo menimpali.

Diketahui, Satriandi sebelumnya lepas dari jeratan sebagai tersangka pengedar narkoba. Pada 2015 silam dia digerebek polisi di salah satu hotel di Pekanbaru dan nekat melompat dari lantai delapan hingga mengalami luka berat. Bahkan sembilan orang pelaku pengedar narkotika saat itu juga berhasil ditangkap Satuan Reserse Narkoba Polresta Pekanbaru semasa Kepala Satuan dijabat oleh Kompol Iwan Lesmana Riza. Dari para tersangka, polisi berhasil menyita barang bukti lima ribu pil ekstasi yang diedarkan di wilayah Riau.

Baca Juga :  Optimalkan Usulan DAK Tahun 2020, Bappeda Bengkalis Diskusikan Langsung ke Tim Bappenas

Namun, pada saat itu polisi sempat terkendala melakukan penyidikan karena korban mengalami gangguan jiwa setelah terjun bebas dari lantai delapan di salah satu hotel di Pekanbaru. Dari catatan Riau Pos, Satriandi pernah mendapat perawatan dari rumah sakit jiwa (RSJ) Tampan. Namun, belakangan setelah pihak kepolisian menyerahkan ke kejaksaan karena surat keterangan dari Rumah Sakit Jiwa Tampan, Pekanbaru, oleh penyidik Polresta Pekanbaru, Satriandi dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan tak diadili.

Bukannya bertobat, Satriandi mantan pecatan anggota Polres Rohul, Riau ini kembali mengulang aksinya sebagai pengedar narkoba. Dia bertanggung jawab atas tewasnya Jodi Oye (21) warga Kampung dalam. Jodi ditembak di depan rumah kontrakan di Jalan Hasanuddin, Sabtu (7/1) malam lalu.

Baca Juga :  Ruspan Aman Meninggal, Gubri: Riau Kehilangan Tokoh Semua Kalangan

Aksi pembunuhan ini terjadi malam sekitar pukul 23.00 WIB berlatar belakang dendam dalam bisnis narkoba. Satriandi mengatur janji bertemu dengan Jodi lewat Yulia Putri. Pertemuan terjadi di lokasi penembakan, Satriandi datang dengan dua rekannya menggunakan mobil.

Di lokasi, Satriandi saat bertemu Jodi tetap berada di dalam mobil. Pada Wahyu dia minta kaca mobil diturunkan. Dari dalam mobil, senjata api Satriandi menyalak dan memuntahkan peluru tepat ke dada Jodi hingga dia tersungkur.

Usai menghabisi Jodi, Satriandi dan dua rekannya lari ke Padang, Sumatera Barat. Dalam perjalanan di Padang Panjang mereka dibekuk. Bersama Satriandi diamankan sepucuk senjata api dan enam butir peluru.(RK14)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *