Derita Wan Anom dan Amarah Laksamana Bentan

Megat Kali Takwa

RiauKepri.com – Rasa gelisah selalu mengundang tanya. Bila rasa gelisah sudah memuncak, bisa saja itu merupakan suatu pertanda bahwa hal buruk akan terjadi. Mungkin rasa gelisah pulalah yang sedang menghantui Wan Anom. Matanya terus tertuju pada pintu yang terbuka, pancaran tatapannya seperti dipenuhi harapan, harapan agar sosok suaminya segera hadir melintasi pintu dan berada di sisi. Menemani hari-hari menanti kelahiran buah cinta mereka yang sedang di kandungan. Tetapi di saat seorang wanita sedang betul-betul membutuhkan kasih sayang pasangan itu, Megat Sri Rama, suaminya, sebagai Laksamana Kesultanan Johor ia diberi titah Sultan menumpas lanun di lautan.

Benar saja, semua rasa gelisah itu bermuara pada hal yang tak diinginkan. Bermula dari kehendak anak yang di kandungan, Wan Anom mengidam nangka. Ketika melihat penghulu istana membawa nangka kemudian dimintanyalah nangka itu. Tidak mudah penghulu istana memberikan karena nangka ini adalah kepunyaan Sultan Mahmud Syah II, Sultan Ke-10 Johor, ia takut akan terjadi apa-apa bila nanti nangka diberikan. Bujukan dan rasa tak sampai hati kepada Wan Anom melemahkan penghulu istana, dengan berat hati diberikannyalah seulas dari nangka itu.

Baca Juga :  Hindari Antre, Pukul 06.30 WIB, Edy Nasution Sudah ke TPS

Seulas nangka awal sebuah petaka, Sultan tak terima, ia makan makanan sisa. Saat mengetahui nangka yang dihidangkan padanya sudah dicicipi orang lain, mengambil hak Sultan tanpa izin. Pekik raung Wan Anum memecah hening. Ia dihukum belah perutnya anak di kandungan juga jadi sasaran hukuman, lalu hujan panas turun sebagai penanda telah berpulangnya istri dari Lakasama Johor itu.

Siang yang malang, Laksamana pulang. Rindu yang dititipkannya pada ombak hancur dipecah karang lalu menjadi buih di lautan, mengakhiri rindu tak pernah tersampaikan. Kepulangannya dari peperangan menumpas lanun di lautan demi titah Sultan disembar kabar kemalangan. Istrinya yang sangat dirindukan telah berada dalam pusara bersama anak calon timangan. Hati lirih, mulut tak mampu lagi berucap. Laksemana johor itu sangat sedih juga dipenuhi amarah apalagi saat ia mendapati kabar dari orang-orang kaya juga Bendahara Johor Abdul Jalil bahwa istrinya, telah mati di tangan Sultan dengan perut yang terburai karena seulas nangka idaman anaknya dalam kandungan.

Baca Juga :  Peralihan Blok Rokan, LAMR Berharap Jangan Jadi Ladang Perburuan

‘Bila hanya mampu membenci dalam hati melihat kezaliman terjadi, maka terletak pada selemah-lemahnyalah iman kita’ begitulah kiranya bunyi sebuah hadist. Berbekal amarah yang sudah memuncak, Megat Sri Rama tak dapat menahan diri membiarkan kezaliman ini terjadi.

Tahun 1699, di Kota Tinggi, sumpah Sultan terucap, pekik amarah Laksamana Bentan dicatat ‘Raja alim Raja disembah, Raja zalim Raja Disanggah’. Keris Sempena Bentan kian menancap, semua bercampur dengan rasa perih dan sedih mengingat perbuatan Sultan kepada Istri Laksamana. Lalu Sultan mangakat saat di julang di tangan Laksamana Bentan. Peristiwa ini dikenal dengan nama peristiwa Kota Tinggi, bersamanya jejak langkah hentakan reformasi terjadi di tanah Melayu. (Megat Kalti Takwa)

Baca Juga :  Pembunuh Bayaran Beraksi di Bengkalis, Dapat Order Dari Istri Korban

(Rujukan : Sulalatu’s-Salatin, Megat sebuah Novel)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *