“Hikayat Suara-Suara”; Gelombang Peristiwa Menghantarkan Bermusim Makna

Wak Jamal kawan sekampung aku sibuk bercerita sampai berjujai tentang hikayat baru yang telah terbit. Hikayat tersebut bercerita tentang suara-suara, buku telah terpajang manis di toko buku di kampung kami. Siapa penulisnya? Tanyaku pada Wak Jamal, dia berkata penulisnya yang menulis “Hikayat Batu-batu” namanya Taufik Ikram Jamil (TIJ). Jadi Hikayat suara-suara adalah karya terbaru TIJ rupanya. Waah aku harus segera memiliki buku itu, tanpa berpikir panjang, aku segera menuju toko buku membeli buku tersebut. TIJ salah satu penulis yang aku suka. Bukan karena kedekatan, bukan juga karena aku pernah ke rumahnya, bukan itu. Saat pertama kali membaca kumpulan cerpennya, sampai sekarang paling berkesan bagiku adalah salah satu cerpennya berjudul “Ilalang di Belakang Rumah”.

TIJ dalam penceritaannya selalu membuat aku berpikir ulang, aku tak merasa digurui bahkan seperti membaca karya Stpehen King. Akhir cerita yang diberikan TIJ membuat aku geram. Ia membuat otakku untuk bekerja semalaman memikirkan apa yang ia maksud. Apakah kesimpulanku tentang ceritanya itu sama yang ada di otak penulis?

Sekarang TIJ menulis “Hikyat Suara-suara”. Aku perhatikan halaman buku tersebut. Bagiku terlalu kaku dan tidak menarik. Tidak ada yang menggambarkan suara; ada burung, kepalan tangan, warna merah, kuning biru dan hijau. Tadinya aku berpikir akan nampak gambar suara di sampul buku tersebut. Misalnya seperti mulut orang menganga lalu ada gelombang suara yang keluar dari mulutnya atau apa sajalah yang mencerminkan suara itu.

Lalu aku membuka daftar isi buku tersebut. Eeee??? Judul setiap cerpennya hanya Suara 1, Suara 2, Suara 3 hingga Suara 16. Setiap cerita ya dengan judul begitu. Aku sengaja tidak membaca kata pengantar penulis, karena memang kebiasaanku, tak pernah mau membaca kata pengantar karena takut digiring pemikiranku akan karya yang kubaca sehingga keasikan membaca menjadi hilang.

Saat senja menjemput, ditemani secangkir espresso, aku mulai membuka lembaran kumcer “Hikayat Suara-suara”. Suara 1, suara yang berjumpa dengan kematian, awal kisah Suara 1, bagiku masih biasa saja. Murad yang akan menghadiri upacara kematian seseorang sehingga ia membatalkan janji dengan tokoh ‘aku’.

Saat tokoh ‘aku’ menelpon Murad, dan Murad masih tak menjawab, aku masih merasa biasa saja, apakah suara Murad hilang karena ia menderita sakit tertentu atau jaringan rusak sehingga suara Murad tak terdengar. Namun saat mataku tertumbuk pada halaman 7 paragraf ke 4. Bugh…, suara di pikiranku menjadi liar bergerak ke sana kemari. Halooo!!! Suara berjumpa kematian? bagaimana? suara yang mana? aku tak berani membuka halaman berikutnya. Deg..deg…, disaat kebenaran tumpang tindih dengan rekayasa. Lalu perlahan aku membuka halaman berikutnya. Di sana juga ada pertanyaan ‘Suara’ yang mana waaaah. Ini yang menarik, penulis mengajakku untuk membuat kesimpulan sendiri. Imajiku semakin liar, suara-suara dalam pikiranku tak terbendung lagi dan duarrr!!!

“Suara 2”, suara berikut yang dikenalkan penulis kepada aku, saat suara dipikiran ku belum sempurna menyimpulkan hasil membaca “Suara 1”. Suara dua berkisah tentang dua orang laki bini yang mempunyai seorang anak bernama Kiki yang tidak mau bersuara. Apakah ia bisu? Bukan! Ternyata bukan! Sebab jika Kiki bisu, bagaimana Kiki bisa mengeluarkan suara saat purnama penuh yang awal. Ups! ada apa dengan purnama penuh itu? apa hubungannya dengan suara Kiki? Pada halaman 14 -15 penulis bercerita tentang kampungnya yang jarang mendapatkan purnama penuh tersebab jerebu atau hujan yang mengepung hampir setiap hari. Hmm… Sedikit suara pikiranku membuat catatan hubungan suara Kiki, purnama penuh yang awal, Jerebu, Hujan.

Baca Juga :  Abdul Muklis Tewas Kecelakaan Kerja Fadhly; PT ISS Belum Melapor

Akhir cerita sang istri berkata suara Kiki agaknya memang hanya untuk purnama penuh yang awal. Cahaya puncak dari alam-tanpa polesan yang memalsukan di sini aku tercenung dan menghela nafas lalu membantin adakah suara yang seberuntung itu sekarang?

Seperti biasa saat membaca karya TIJ, tak ada waktu jeda bagiku. Mata dan pikiran tertuju ke lembar demi lembar hikayat tersebut. “Suara 3”, Abdul Wahab dan kerisauannya disaat suara warga kampung hilang! Ow..oww. Suara warga hilang. Nah ini isu yang terkini dan panas jika dikaitkan dengan politik saat ini. ops! Tunggu dulu. Dalam cerita ini tidak ada sama sekali menyinggung tentang pemilu dan politik, hanya bercerita tentang suara warga yang hilang yang sebelumnya mereka mempunyai suara, namun secara mendadak hilang. Bukan suara di TPS! Bukan! Tidak ada indikasi ke sana. Jadi apa penyebab suara warga yang hilang?

Abdul Wahab ingin menceritakan ke istrinya, Biah, namun ia takut Biah bertanya, kenapa bisa? Wahab tak punya jawabannya. Bahkan cara mengatasi kejadian suara warga yang hilangpun Wahab tak punya. Wahab pun memutuskan mengumpulkan tokoh masyarakat bahkan Bomo di rumahnya untuk membahasa hal tersebut. Saat setiba di rumah, memanggil istrinya untuk mempersiapkan segala sesuatu saat tamu datang nanti. Ia mendapati kenyataan pahit! Suara istrinya hilang! Istrinya menangis namun tanpa sedu sedan, tanpa isak, menangis tanpa suara. Suara-suara mereka hilang, atau..saya jadi curiga, suara itu sebenarnya bukan hilang, mungkin saja suara-suara itu tak pernah hilang, hanya Abdul Wahab tidak mendengar suara-suara mereka!

“Suara 4”, suara-suara yang berkhianat atau suara-suara yang dikhianati? Jual beli suara saat ini bisa jadi sudah kewajaran, rahasia umum, tidak ada malu-malu lagi. Harta, tahta dan kuasa menjadi hal paling penting.

Saat sikap idealis mencoba melawan kebiasaan itu, berkali-kali ditawarkan sales dengan bujuk rayu. Sang tokoh dalam cerita ini tetap teguh hatinya. Namun ia lupa, sebagian manusia budak uang, budak kekuasaan. mencapai keuntungan bahkan dengan pengkhianatan sekalipun. “Keuntungan Besar?” pertanyaan itu keluar dari suara pikiran tokoh “saya” apakah idealisnya hancur lalu saya pun melebur dalam suara-suara yang diperjualbelikan? Entahlah.

“Suara 5” , saya kok ya jadi sedih bercampur takut gitu saat sampai pada suara ke 5? Terbayang saat saya masih di Komunitas Anak Langit, saat masih bersama anak-anak jalanan yang rentan narkoba, pelecehan seksual.

Untuk membuat anak-anak itu bersuara sangat susah. Mendekati mereka berbulan-bulan baru mereka membuka suara mereka dan akhirnya saya sedikit memahami keinginan mereka. “Suara 5”, suara anak-anak menjelang tengah malam yang biasa terdengar seketika raib entah kemana. Suara mereka tak terdengar lagi. Hilangnya suara anak-anak itu tidak mempengaruhi warga di kampong itu karena bagi sebagian besar warga suara anak-anak itu tidak penting bagi kehidupan mereka sebab tidak membawa pengaruh yang besar. Benarkah? Padahal suara anak-anak menjelang tengah malam mampu membuat malam yang mencekam menjadi berwarna. Ada ketakutan, rasa sedih bercampur baur setelah saya membaca “Suara 5”. Apa jadinya jika cerita ini menjadi kenyataan? Suara tawa keceriaan menghilang? Suara rengengkan manja hilang? Suara pekikan, teriakan histeris mereka hilang? Ow…, jangan sampai itu terjadi. “Suara 5” membuat saya takut!

Baca Juga :  Pengurus IKA Alumni UNRI Buka Puasa Seraya Berbincang Santai

“Suara 6”, suara yang berubah-ubah. “Suara 7” suara yang diambil paksa dari diri seseorang. “Suara 8” suara seorang capres yang tak terdengar oleh pemirsa televisi saat menyampaikan visi misi. “Suara 9” suara yang tergadai, orang-orang mulai berpikir untuk menggadaikan suaranya. “Suara 10” suara penolakan terhadap keberadaan ‘ibu’. “Suara 1” suara yang haus akan pujian sehingga demi mendapatkan pengakuan dari banyak orang mampu mengeluarkan berapapun biayanya. “Suara 12” suara yang memberi harapan. “Suara 13” adalah suara seorang Polmas yang teguh menjaga suara agar tidak dicederai. “Suara 14” suara yang menyerang orang-orang di atas usia 17 tahun. “Suara 15” seseorang yang bernama suara. Lalu puncak dari suara yaitu “Suara 16” suara pengingat akan keberadaan Rabb.

“Macam mana menurut kau, Hikayat suara-suara tu? Aku agak peninglah di beberapa cerita. Apa maknanya, berulang kali aku baca belum aku dapat makna dari cerita tersebut kata Wak Jamal.”

Aku tersenyum, “Membaca Hikayat Suara-suara, kau harus membebaskan pikiran kau Wak, lalu biarkan imajinasimu berkelana liar lalu kau akan mendapatkan jawaban makna dari setiap suara-suara yang ada di dalam hikayat suara-suara itu,” kataku dengan suara yang dibuat berat berwibawa bak ahli sastra. Wak Jamal mengangguk-angguk, entah ia mengerti atau tidak apa yang aku maksud.

“Suara-suara yang diceritakan oleh TIJ bukan suara dengan arti yang sebenarnya, kalau menurut KKBI arti suara Wak tau kan?”

“Tahulah aku tu, bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia (seperti pada waktu bercakap-cakap, menyanyi, tertawa, dan menangis), bunyi binatang, alat perkakas, dan sebagainya atau kesan pada pusat saraf sebagai akibat getaran gendangan telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara, ya kan?”jawab Wak Jamal

“Ya, lebih kurang begitu. Nah dalam “Hikayat Suara-suara”, suara bukan diartikan seperti itu. Suara menjadi medium untuk menggambarkan peristiwa dengan berbagai makna yang melingkup peristiwa. Suara adalah tanda yang mengawali suatu kejadian atau tanda yang mengakhiri suatu kejadian/peristiwa. Seperti “Suara 15″ yang merupakan tanda dari rasa penyesalan Kacep akan masa lalunya. Tokoh suara tak lain adalah suara dari dalam diri Kacep, saat Kacep tak seperti sekarang, masih kuat, ia mampu melakukan apapun dengan mempergunakan suaranya bahkan hal-hal yang dilanggar norma agama pun ia lakukan. Di usia lanjut suara dalam dirinya muncul menjadi sosok yang menggganggu setiap kegiatan yang ia lakukan. Tokoh suara sebenarnya mengharapkan Kacep merasa menyesal di usia lanjut. Namun Kacep tak memperdulikan usah ganggu aku dengan cucu-cucuku namun Kacep tersentak, suara cucu? Rasa sunyi menyusup di hatinya, suara cucu suara kegembiraan. Tawa mereka tidak ada lagi sekarang. Anaknya telah membawa cucunya jauh dari dirinya. Suara sang istri? Sudah lama tidak ada. Rafiah telah lebih dahulu menemui Rabb. Kacep tenggelam dalam sunyi bahkan suara yang mengganggunya dengan cerita-cerita itu-itu saja, telah meninggalkannya juga.
Terlihat jelas bahwa suara bukan pengertian harfiah lagi, suara menjadi tanda, menjadi simbol. Suara menggambarkan perjalanan perasaan Kacep di usia lanjutnya,” kataku panjang lebar sambil sekali-kali menggoreskan spidol di papan tulis. Wak Jamal terpana menganga.

Baca Juga :  Jika Deklarasi #2019gantipresiden Diizinkan, PP Riau Bakal Tutup Bandara

“Apakah ada makna penyusunan suara 1 hingga suara 16 secara berurutan?” kata Wak Jamal.

“Aku belum bisa menyimpulkan secara sempurna, namun perjalanan sufi seorang penulis tampak dari penyusunan cerita demi cerita. Dari “Suara 1” hingga “Suara 16”. “Suara 1” dibuka dengan kematian. Awalnya aku bertanya, mengapa kematian, bukan kelahiran sebuah suara. Lalu otakku kembali mencari jawaban. Bukankah kematian adalah awal kelahiran yang hakiki menuju Rabb? Hmmm…, agaknya. Aku tak pasti, lalu pada “Suara 2″ ditegaskan tentang suara yang memerlukan cahaya penuh dari bulan purnama. Suara memerlukan cahaya untuk bisa bersuara, dan bukan sekedar cahaya biasa. Jika diandaikan pada kehidupan, untuk menemukan kehidupan yang bahagia dunia akhirat bukankah manusia harus mengikuti norma-norma agama yang telah digariskan Tuhan? Betapa beruntungnya jika kita mampu mencapai cahaya yang sempurna.”

Wak mengagguk kepalanya, entah mengerti atau sedang mengantuk.

“Suara diakhiri pada “Suara 16”, segala rangkaian peristiwa suara yang penuh intrik diakhiri dengan “Suara 16″ sebagai pengingat akan keberadaan Tuhan. Pengingat manusia untuk selalu menjumpai Tuhan dengan panggilan Sholat Subuh, mengawali segala sesuatu dengan mengingat sang pencipta, Allah SWT. ”

Aku menghela nafas dan memandang purnama yang bersinar gemerlap.

“Awal mengingat akan kematian untuk menuju kematian sempurna maka ingat selalu Tuhanmu. Tak guna segala yang kau lakukan di dunia; jual beli suara, menggadai marwah, diperbudak uang, semua tak guna jika suara berjumpa kematian. Persiapan tak cukup maka kegagalan yang nyata. Suara-suara dalam “Hikayat Suara-suara” adalah tanda dari setiap rajutan peristiwa kemanusiaan. Kematian adalah suatu yang pasti, Sholat jembatan menuju kesempurnaan,” kataku dengan suara pelan dan duduk menatap langit malam itu.

“Banyak suara-suara yang memberi harapan di setiap hidup manusia. Suara pemberi semangat, namun saat suara ditikam kelam, saat suara anak-anak tenggelam oleh kesombongan manusia, suara lupa akan penciptanya. Apa yang tejadi? Kehancuran yang kan menanti.”

Aku dan Wak Jamal saling pandang. Di tangan kami menggenggam “Hikayat Suara-suara” yang berhasil kami pecahkan teka-teki di dalamnya. Kekuatan dari sebuah tanda yang bernama suara, hasil kesimpulan yang kami buat, entah itu benar atau tidak, namun cukup membuat kami terhenyak.

Hikayat suara-suara menjadi catatan sejarah kemanusiaan. Untaian peristiwa yang manusia tak bisa elakkan. Rantaian peristiwa yang pernah manusia lakukan, beragam peristiwa dan berjuta makna. Aku dan Wak Jamal pun menyadari itu.

“Kemana Wak?” tanyaku saat melihat Wak Jamal bangkit dari duduknya dan melangkah ke dalam.

“Ambik wudhu, nak sholat malam,” katanya.

2019. DM Ningsih

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *