Provinsi-provinsi di Kerajaan Siak

RiauKepri.com – Ada juga yang menjapri soal provinsi zaman Kerajaan Siak setelah saya postingkan gagasan pertemuan agung masyarakat bekas daerah/ provinsi dalam kesultanan Siak Sri Inderapura beberapa hari lalu. Hal ini menyebabkan saya teringat peristiwa lebih dari lima tahun lalu, ketika diminta berbicara dalam suatu pertemuan di Siak. Ada seorang guru besar sosiologi dari suatu provinsi yang juga sebagai pembicara seperti saya.

Sebelum acara dimulai, saat di ruang tunggu, entah bagaimana awalnya saya menyebut provinsi dlm Kerajaan Siak. Profesor itu menyanggah dengan mengatakan, “Mana ada provinsi di Kerajaan Siak, provinsi itu kan sekarang di zaman Indonesia.” Setelah saya uraikan, dia tetap dengan sanggahan itu.

Baca Juga :  RS Tengku Rafian Siak Bagi-bagi Masker

Dengan sedikit bernada keras, saya mengatakan, “Kalau tak tahu, jangan bilang tak ada.” Untung dalam sesi ceramah, dia kelihatan sudah “jinak”, he he he, sehingga saya tak perlu mengulas hal tersebut selain materi yang menjadi tugas saya.

Sebutan daerah sebagai provinsi itu termuat dalam kitab Bab al-Qawa’id yang ditandatangani Sultan Siak XI, Syarif Hasyim. Tertulis dalam huruf Arab-Melayu, buku itu dicetak tahun 1901, persis tahun kelahiran Soekarno yang presiden pertama Indonesia atau 44 tahun sebelum Indonesia merdeka. Dalam buku itu sendiri disebutkan bahwa naskahnya sudah disetujui sultan dan perangkat lainnya beberapa tahun sebelum dicetak. OK Nizami Jamil mengalihaksarakannya ke dlm huruf latin tahun 2014.

Baca Juga :  Pascsarjana Unilak Gelar Yudisium X, 5 Peserta Raih IPK Sempurna

Salah satu provinsi yang disebut dalam buku itu adalah Pekanbaru. Kota ini sempat menjadi ibu kota Kerajaan Siak abad ke-18, hanya sekitar 40 tahun setelah Raja Kecik mendirikannya di Buantan. Saat Pekanbaru menjadi ibu kota Provinsi Riau tahun 1960, Siak Sri Inderapura bersatus sebagai wedana. Siak menjadi kabupaten sendiri, berpisah dari Bengkalis pada masa awal reformasi.

Selain Pekanbaru, dituliskan juga Provinsi Tebingtinggi, Merba, Tapung Kiri, Tapung Kanan, Kubu, Bangko, Tanahputih, Bukitbatu, dan Siak Sri Indrapura. Sultan mengangkat penguasa di masing2 provinsi dengan beragam gelar, bukan gubernur seperti sekarang. Di Tebingtinggi, Sultan mengangkat penguasa bergelar Tengku Temenggung Muda. Tapi di Pekanbaru, penguasa itu bergelar Datuk Syahbandar, sedangkan di Kubu bergelar Datuk Jaya Perkasa.

Baca Juga :  Dua Tersangka Pengirim TKI Ilegal di Dumai Dibekuk Polisi

Jika dikonversikan dengan kondisi sekarang, provinsi-provinsi di Siak itu kini meliputi Riau pesisir yang terdiri atas enam kabupaten/ kota. Ini di luar wilayah bersekutu Siak lainnya seperti sampai ke Sumatera Timur, sedikit Aceh, dan Sambas (Kalimantan).

Bab al-Qawa’id tidak saja mengatur politik, tetapi berbagai segi kehidupan termasuk kriminalitas dan ekonomi. Di antaranya disebutkan bahwa orang Siak tak boleh berjualan atau menggadaikan sesuatu kepada bukan orang Siak. Ketentuan ini membuktikan pembangkangan Siak kepada Belanda di tengah upaya penjajah itu memonopoli perdagangan di Nusantara. Begitulah.

Taufik Ikram Jamil adalah budayawan, sastrawan Riau

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *