Kenduri Asap?

Oleh : Marzuli Ridwan Al-bantany*)

Marzuli Ridwan Al-bantany

RiauKepri.com – Menyimak judul tulisan di atas, mungkin agak berlebihan. Terlalu lebai dan mungkin terlalu mendramatisir sebuah keadaan.

Perlu diingat, kabut asap di Riau sampai hari ini sesungguhnya belum usai. Belum sepenuhnya lenyap dan benar-benar bebas asap.

Oh, sebegitu mengerikankah kabut asap ini?

Barangkali itulah personifikasi atas kondisi asap yang tengah terjadi dan berlangsung akhir-akhir ini di Riau. Mungkin juga di daerah-daerah lainnya di luar Riau, di hutan dan lahan-lahan milik masyarakat.

Parahnya lagi, kita seolah-olah lena dininabobokan. Kenyang dengan perut dan dada-dada yang berisi oleh berbagai menu asap dengan aromanya yang itu-itu saja. Kabut-kabut asap yang telah menjadikan mata kita perih memerah, tenggorokan pun terasa kering dan gatal, serta sederetan dampak dan akibat buruk lainnya.

Benar saja, musibah asap (baca: kabut asap) akibat kebakaran hutan dan lahan di pulau Sumatera, khususnya di Riau sejak beberapa bulan belakangan ini dapat dikatakan amat mengkhawatirkan, meskipun ada pihak yang barangkali tidak sependapat. Tapi, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau – musibah asap telah menurunkan daya produktivitas kita sebagai manusia. Kemampuan dan kesehatan masyarakat juga menjadi berkurang akibat bahaya yang ditimbulkan olehnya.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa titik kawasan di Riau, yang sampai hari belum sepenuhnya mampu diatasi, justru membuat kita harus akur padanya. Udara yang sudah terkontaminasi dengan berbagai zat kimia yang sangat membahayakan itu pun terpaksa perlahan-lahan kita hirup juga. Tak ada pilihan, selain kita terdedah olehnya. Entah kapan asap-asap ini akan lenyap di dada-dada langit Riau yang indah dan menawan ini.

Sisa-sisa pembakaran yang terjadi, sampai hari ini pun diyakini masih dengan bebasnya berterbangan mengitari langit biru bumi Riau. Bahkan asap-asap dari kawasan-kawasan di Riau ini pun turut menyeruak hingga ke negeri-negeri serantau. Ia membawa duka, duka yang pernah diharapkan.

Baca Juga :  "Kopak" Paha Remaja di Kuansing Ini Diterkam Buaya

Sungguh kita telah dihadapkan oleh situasi yang menyulitkan. Udara kita kian tercemar dan terasa amat menyesakkan.

Asap-asap yang kita hirup ini sesungguhnya mengandung zat kimia yang membahayakan. Ia mengandung Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2) dan Ozon (O3). Bayangkan jika zat-zat kimia itu kita hirup dalam tempo dan jangka waktu yang lama, maka sudah tentu kesehatan kita akan terjejas dan terganggu olehnya.

Laode Alhamd, seorang peneliti bidang ekologi LIPI dalam sebuah berita yang dirilis CNN Indonesia 15 Agustus 2019 yang lalu pernah mengungkapkan, bahwa kandungan asap kebakaran hutan dan lahan itu sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Kandungan Sulfur Dioksida (SO2) yang ada padanya dinilai sangat berbahaya karena dapat membuat saluran napas mengecil dan membuat iritasi selaput lendir pernapasan. Sementara Ozon (03) dapat membuat tenggorokan iritasi. Selanjutnya Karbon Monoksida (CO) dapat menimbulkan sesak napas, kebingunan, dada terasa berat, pusing, koma hingga kematian.

Begitu juga dengan Nitrogen Dioksida (NO2) kata Laode Alhamd, ianya dapat merusak organ yang bertugas membersihkan paru-paru, sehingga pertahanan saluran napas menjadi berkurang.

Nah, jika kita terlalu banyak menghirup asap berbahaya tersebut, maka dapat dipastikan kita akan berpotensi besar terkena berbagai penyakit, seperti iritasi hingga paru-paru kronik.

Membayangkan sebuah pesta ‘Kenduri Asap?’ sebagaimana judul tulisan di atas, tentu di pikiran kita akan dihadapkan atau disuguhkan oleh berbagai pemandangan yang mengerikan seputar tentangnya. Asap-asap yang terhidang baik dalam kondisi yang pekat ataupun tipis di biru langit cakrawala kita, kemudian dicicipi secara beramai-ramai. Tak kiralah siang maupun malam, hidangan asap tersebut terpaksa dilahap, walau sesungguhnya kita tak menginginkannya sama sekali. Tapi itulah kondisi kita hari ini – menandakan jika kita masih berada pada suatu kondisi bencana yang itu-itu saja. Sebuah musibah yang selalu berulang dan berulang, yang tak lepas oleh ulah dan tangan-tangan kita di muka bumi Tuhan ini.

Baca Juga :  Regulasinya Jelas, Perusahaan Wajib Terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan

Membaca asap di Riau, sesungguhnya membaca duka yang timbul akibat kebakaran hutan dan lahan. Membacanya, seharusnya pula dibarengi dengan menelaah dan mengkaji apa sesungguhnya yang tengah berlaku pada hutan dan lahan-lahan yang ada di daerah ini. Mengapa musibah ini selalu saja berulang, dan mengapakah kita sering terlepas pandang dan kerap terjebak di dalamnya. Apakah ada hal yang kita lewati sehingga musibah ini datang dan datang lagi.

Sebuah problematika sosial dan persoalan lingkungan hidup yang harus dipandang serius oleh kita masyarakat Riau.

Hal yang sangat mendasar itulah barangkali yang seharusnya menjadi pertanyaan kita saat ini, sehingga kedepan kita perlu menyiapkan berbagai langkah serta terobosan-terobosan yang amat signifikan bagi menekan musibah serupa terulang. Paling tidak kita perlu belajar dari peristiwa dan kejadian yang sudah-sudah, bagaimana dengannya kita mampu mengantisipasi dan melakukan langkah-langkah yang tepat, sistematis dan terukur.

Sebagai manusia, memang kita memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Dalam hal penanganan musibah asap ini saja misalnya, kita selalu dibuat kalang-kabut. Belum lagi keterbasan peralatan dan sumber daya manusia dalam memadamkan api, turut pula menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari ketidakberdayaan kita dalam menanggulangi asap ini. Alhasil, ujung-ujungnya kita justru selalu berharap agar ada campur tangan Tuhan, seperti berharap turunnya hujan yang deras – yang menjadi rahmat dan dapat memadamkan api secara keseluruhan, terutama di hutan dan lahan-lahan gambut kita yang tergolong amat parah dan sulit dijangkau.

Kabut Asap di Riau Belum Usai ; sebagaimana judul berita di Koran Riau edisi Selasa, 3 September 2019 lalu, yang memberitakan masih terdapat tiga daerah di Riau yang sampai hari ini masih dinaungi kabut asap, yakni di Pekanbaru, Dumai dan Pelalawan. Berita ini hendaknya memberikan pengajaran yang berharga bagi kita, bagi seluruh elemen dan komponen masyarakat Riau agar besok-besok hari kita selalu meningkatkan kewaspadaan. Dan kita tentu berharap agar kebakaran hutan dan lahan yang telah menjadi tragedi tahunan di bumi Riau ini tak kembali berulang – menjelma menjadi sebuah helat ‘kenduri asap’ yang amat mengerikan, menyengsarakan dan menyiksa kita semua. Semoga.

Baca Juga :  Oknum Kades Pedekik Dipenjara

Sebelum kusudahi tulisan ringanku kali ini, mari sejenak nikmati puisi Kenduri Asap, sebuah puisi yang kutulis menyikapi penomena asap yang kini belum sepenuhnya lenyap dari bumi Riau, tanah Melayu yang menyimpan berjuta rindu dan kemilau.

___

KENDURI ASAP

Ini musim kenduri, kawan
tapi bukan kenduri arwah
atau selamatan perkawinan
dengan doa-doa yang dipanjatkan
ke hadirat Tuhan

Ini kenduri tahunan, kawan
: kenduri asap
asap-asap berpesta
bersuka ria, lalu menjadi duka
tak hanya di Riau,
tapi hingga ke segala rantau

Di kenduri asap
pesta-pesta disambut gelisah
dengan merah perih mata

Kita diundangnya ke sana
memenuhi hajatnya,
menyantap risaunya
di kolong-kolong langit penuh luka
dengan amat lahapnya

Begitu sesak,
walau tak mampu mengelak

Ini kenduri tahunan itu
tanpa persiapan,
tanpa list dan daftar undangan;
di hutan, di lahan-lahan perkebunan
api menghidangkan resah
di perjamuan-perjamuan malam
dan siang-siang kita yang panjang

Kepada asap-asap yang singgah,
kita tak boleh menyerah,
atau pasrah menimang gelisah
lalu membiarkan doa-doa gigil,
menyepi dalam sunyi tabir hari
menyalami pedih, meratapi perih

Di kenduri asap
lisan kita begitu fasih
merapal kematian dan setiap kematian

September 2019

*) Marzuli Ridwan Al-bantany adalah sastrawan, penulis buku Menuju Puncak Keindahan Akal Budi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *