Bertapak di Jalan Kebaikan, Menjejak Gerbang Kebahagiaan

Oleh : Marzuli Ridwan Al-bantany

Marzuli Ridwan Al-bantany

RiauKepri.com – Setiap insan pastilah menginginkan agar hidupnya bahagia. Siapa pun ia. Lelaki, perempuan – tua ataupun muda; amat mendambakan kehidupan yang selalu dihiasi warna-warni kabahagian. Ya, kebahagiaan hidup di dunia yang sekejap cuma, lebih-lebih lagi kebahagiaan hidup di akhirat kelak – dalam sebuah kehidupan yang abadi setelah kematian.

Meskipun begitu, perlu disadari pula dengan sebaik-baik kesadaran, bahwa kebahagiaan hidup di dunia ini tentulah tak selalunya mudah untuk dicapai sesuai dengan apa yang diinginkan dan diharapkan. Ada saja aral rintang dengan segala ranjau kehidupan yang datang, mengitarinya dengan berbagai cobaan dan ujian yang tentu amat menyakitkan.

Apapun situasinya, kita mesti melangkah – bertapak pada jalan kebaikan, meski jalanan yang dilalui selalu dijumpai onak dan duri. Sehingga suatu ketika sampailah kita pada gerbang kebahagian; dipertemukan dengan pintu-pintu kenikmatan hidup yang tak dapat diucap dengan kata-kata dan akan selalu disyukuri.

Tidak dinafikan memang, ada sesetengah dari kita yang barangkali kurang memahami dengan baik akan hakikat cobaan dan ujian dalam kehidupan ini. Terkadang kita dengan mudah merasa putus asa, kecewa dan tak jarang merasakan hidup ini seakan tak lagi punya makna bila tak menemukan kebahagian yang dicari dan dikejar-kejar itu. Berbagai kesulitan yang ditemukan seolah-olah umpama batu sandungan yang teramat besar – merobohkan semangat dan cita-cita mulia yang tertanam dalam jiwa. Terangnya dunia ini pun dianggap begitu gelap seperti mau kiamat. Padahal jika kita mau bersabar dan tetap melakukan kebaikan demi kebaikan, lambat-laun kita akan menemukan jalan lapang dan sampailah kepada kebahagian yang dituju.

Baca Juga :  Rohul Berdarah, Bentrok di Perbatasan, Tiga Korban, Satu Tewas

Namun begitulah kita yang bernama manusia ini, dan tak sedikit diantara kita yang lemah ini mudah saja menyerah, pesimis, gelisah, lalu menyalahkan setiap kesulitan serta penderitaan yang datang. Di sisi lain, bila kita menemukan sedikit saja jalan kebahagian, kadang kita malah lupa diri – lupa bersyukur dan tampillah kita sebagai makhluk Tuhan yang merasa paling hebat, paling kuat dan paling atas segala-sagalanya. Padahal kita baru saja diberikan atau dibukakan sedikit saja dari sekian banyaknya kenikmatan dan karunia Tuhan.

Kita mungkin pernah menyaksikan berita-berita yang muncul di layar-layar televisi kita, atau mendengarkan siaran-siaran radio terkait kasus bunuh diri yang dilakukan anak manusia. Sepintas lalu kita menilai amat tidak bernilainya sebuah nyawa yang diakhiri dengan cara yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama – dengan teganya sanggup mengakhir hidupnya dengan menggantung diri, memakan cairan beracun dan lain sebagainya. Itu dilakukan terkadang hanya dipicu oleh persoalan-persoalan yang sepele, disebabkan berbagai faktor yang sesungguhnya bisa diatasi bila mau menggunakan akal sehat dan pikiran yang jernih.

Atau barangkali karena kesulitan ekonomi, dihadapkan dengan berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga mendorong kita untuk berlaku curang, korupsi, menzalimi dan merugikan orang lain. Semua itu adalah tindakan yang menyalahi hukum, dan sudah tentu lambat-laun akan berakhir dengan penderitaan.

Sebegitu mahalkah sebuah kebahagian yang harus diraih dalam hidup ini, sehingga ianya harus ditebus dengan tindakan yang amat keji?

Baca Juga :  Cegah Penyebaran Covid-19, BPJAMSOSTEK Aktifkan Protokol Lapak Asik

Sungguh kita semua benar-benar diuji dalam kehidupan ini; di kehidupan yang tak sunyi oleh tawa dan linang airmata – suka dan duka. Bahkan seperti kata pujangga, bahwa hidup ini umpama roda. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Tentu sebuah romantika kehidupan yang seyogyanya mengajarkan kita tentang pentingnya mengendalikan diri dengan sebaik-baik pengendalian. Sebab sebagai insan yang diciptakan Tuhan dengan sebaik-baik kejadian, kita dikaruniai hati, akal dan pikiran – yang dengannya kita mampu berpikir secara jernih, menimbang mana-mana perkara yang mengakibatkan kemaslahatan dan kemudharatan dalam hidup.

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Serangkap pantun di atas, tentunya mengingatkan dan mengajarkan kita tentang perlunya sebuah daya dan upaya, sebuah proses serta perjuangan untuk menemukan kebahagian dalam hidup ini. Lebih-lebih lagi kebahagiaan yang sejati dan hakiki – yang dapat mengantarkan kita dalam mencapai ketenangan dan kedamaian hati. Ini perlu menjadi perhatian kita yang selalu berjuang menemukan kebahagian, agar kelak tak terjebak kepada kebahagiaan yang semu, kebahagiaan yang hanya menipu dan melalaikan.

Pantun itu juga mengingatkan kita, bahwa sesungguhnya kebahagian (kesenangan) dalam hidup ini pasti akan dicapai juga setelah kita mampu melewati berbagai macam kesulitan – dan bukankah Allah SWT pernah menegaskan di firmannya (Al-quran surat Alam Nasyrah ayat 6) : “Sesungguhnya bersama setiap kesulitan itu ada kemudahan”

Dalam ajaran Islam, untuk menemukan kebahagiaan hidup, kita benar-benar dituntun agar segalanya dilakukan dengan cara-cara yang baik dan terpuji; berdasarkan ketentuan dan syariat yang telah diturunkan. Agama juga melarang kita berlaku sewenang-wenang, apalagi sampai melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma-norma kesusilaan dan melupakan kodrat diri sebagai makhluk Tuhan.

Baca Juga :  Roma: Terima Kasih BI dan Unilak

Sungguh beruntunglah bagi mereka yang menyadari bahwa hidup ini pada dasarnya adalah ladang tempat menanam segala amal kabaikan – yang kemudian dengan kebaikan-kebaikan itu akan dipetik pula balasan-balasan kebaikan dalam hidup ini, dalam bentuk dan wujud balasan yang beragam, baik kala hidup di dunia maupun kelak di akhirat-Nya.

Tuhan pun telah berjanji akan membalas setiap kebaikan yang diperbuat oleh hamba-Nya, selama kebaikan yang dilakukan itu disertai dengan niat dan itikad yang baik. Dan setiap kebahagiaan yang diperoleh, kemudian disertai kesyukuran yang tulus, pasti akan berdampak positif bagi kehidupan seseorang insan itu, baik untuk dirinya, orang lain maupun lingkungannya; alam dan makhluk hidup lainnya.

Semoga kita menjadi manusia-manusia yang selalau menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan – menjadi makhluk Tuhan yang menyadari betapa pentingnya menebar dan melestarikan nilai-nilai kebaikan itu dalam menjalani hidup agar beroleh kebahagiaan. Bukan malah sebaliknya, menjadi manusia yang gemar membuat kerusakan, permusuhan dan pertikaian, berbuat zalim serta kerusakan (penderitaan) di muka bumi ini hanya demi memperturutkan kehendak hawa nafsu; meraih kepuasan dan kebahagian hidup yang justru merusak kehidupan itu sendiri.

Wallahu a’lam.***

Marzuli Ridwan Al-bantany, sastrawawan dan penulis buku Menuju Puncak Keindahan Akal Budi. Bermastautin di Bengkalis, Riau.

Loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *