Surat Terbuka Untuk Rektor Perguruan Tinggi se-Riau

Kabut asap di Pekanbaru

RiauKepri.com – Tragedi kebakaran hutan di Riau telah terjadi dan makin ganas sejak tahun 1997. Akibat kebakaran hutan tersebut, Riau yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya dikepung asap. Bencana asap selalu terulang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (Karlahut). Lahan dan hutan sengaja dibakar untuk Land-clearing maupun untuk re-planting yang dilakukan oleh perusahaan yang tidak memikirkan musim kemarau, mengakibatkan kebakaran tersebut meluas, kencangnya angin menjadi tak terkendali dan curah hujan yang sedikit mengakibatkan hutan lindung pun turut menjadi korban. Menghancurkan hutan alam tropis dan membunuh satwa di dalamnya. Manusia-manusia yang tidak mengindahkan tata cara pembakaran lahan yang diturunkan sejak dulu oleh masyarakat setempat yang berladang.

Riau tahun 2019, kembali dihadang asap. Sejak awalAgustus masyarakat Riau dipaksakan berhadapan dengan senjata pembunuh yang akan membunuh mereka secara perlahan. Banyak masyarakat Riau menderita ISPA. Pendidikan di Riau lumpuh, anak-anak diliburkan sekolah.
Sudah cukup banyak Riau berkorban untuk Indonesia, membantu Indonesia dalam mendirikan NKRI, dari menyumbangkan 13 juta gulden, mahkota kerajaan dan berikrar akan setia kepada Indonesia, bahasa, minyak, dan sekarang hutan dan nyawa pun hendak diambil.

22 tahun kebakaran hutan di Riau adalah suatu tanda tanya yang besar. Apakah pemerintah Indonesia memang sengaja melakukan pembiaran untuk menghabisi sumber alam di Riau? 22 tahun sudah hutan Riau dibakar, puncak pada tahun 2019, asap pekat semakin pekat menghantam Riau. Namun Pejabat dari pusat yang datang hanya sebentar melihat kondisi Riau tanpa menggunakan masker lalu kembali ke Jakarta dan barkata Asap di Riau tidak parah, Riau masih biru langitnya.

Baca Juga :  Dosen Teladan Asal Meranti Bawa 4 Mahasiswa Riau Harumkan Nama Indonesia

Bukan memberikan solusi yang jelas, bukan menghibur hati walau basa-basi, namun yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia kembali menoreh luka di tempat luka lama yang sudah bernanah. Sebagian orang-orang berpikiran picik melihat tragedi asap di Riau hanyalah upaya menjegal Jokowi. Banyak yang lupa bahwa bencana ini bukan hanya terjadi pada tahun ini saja, sudah terjadi berkali-kali dari tahun 1997!!!

Wak Atan termenung sejenak setelah membaca tulisanku dan memandangku serius Jadi maksud dikau, kita harus bergerak agar dapat bertahan hidup, begitu?

“Bukan begitu Wak, maksudku, bergerak bukan untuk bertahan hidup melainkan untuk menjadikan Riau ke depan lebih baik lagi. Aku tak ingin Riau hanya menjadi kawasan Melayu tak berpenghuni, aku tak ingin tanah kelahiranku menjadi kampung sunyi!”

Baca Juga :  Syamsuar Datang Membuka Peluang Ekspor Ikan Patin Kampar

“Lalu?”

“Riau tidak kekurangan orang pintar Wak, Universitas yang besar saja ada 4 yaitu UNRI, UIR, UNILAK, UIN. Di universitas tersebut tentu banyak para ahli berkumpul. Ada ahli ekonomi, ada ahli kehutanan, ada ahli tekhnik, ada ahli diplomasi, ada ahli sastra, ada ahli hukum, ada ahli…”

“Iyo aku tahu tu, tentulah banyak ahli di sane.”

“Kenapa para rektor di Riau tidak berkumpul menyatukan pikiran, mencari jalan keluar? Ahli kehutanan bisa menyumbangkan pikirannya untuk melakukan perbaikan hutan yang telah terbakar, mengembalikan ekosistem yang telah hancur, ahli ekonomi bisa memikirkan sumber pemasukan masyarakat selain menanam sawit, ahli hukum bisa memikirkan tindakan apa yang harusa dilakukan kepada para pembakar hutan, para penjahat yang menghancurkan bumi lancang kuning ini, ahli sastra bisa membuat tulisan yang membuka hati nurani orang-orang agar mengerti bahwa menjaga alam itu sangat penting demi kelangsungan hidup manusia, ahli tekhnik bisa memikirkan teknik apa yang bisa memadamkan api di lahan gambut, bagaimana teknik pembakaran ladang yang tidak menimbulkan bencana bagi hutan dan masyarakat di Riau. Rektor mempunyai peranan penting untuk melakukan gerakan perubahan di Riau. Universitas tempat mencetak generasi penerus yang berkualitas. Saat para pemikir, rektor, dosen ikut bergerak dan bertindak, maka mahasiswa menyokong dengan maksimal, civitas akademika di Riau bersatu untuk Riau bebas Asap, bebas pembakaran hutan.”

Baca Juga :  Alfedri Optimis Festival Pusaka Nusantara VIII dan Rakernas di Siak Semarak

“Bagus juge ide dikau tu, jadi dikau nak buat surat ini untuk dikau kirimkan ke Rektor se Riau?”

“Iye, Wak, bencana asap tidak ada hubungannya dengan kondisi politik Indonesia. Riau ingin meminta haknya, setelah semua yang Riau berikan ke Indonesia, sekarang Riau meminta hak kepada Indonesia untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Riau, untuk alam Riau. Raja adil raja disembah raja zalim raja disanggah!Jangan Riau diajarkan jadi pendurhaka!”

Rektor sebagai pimpinan tertinggi di suatu universitas, diharapkan mulai bergerak untuk Riau ke depan. Alam bisa regenerasi, bisa kita kembalikan ekosistemnya, namun untuk itu kita harus bersatu. Para orang-orang pintar dengan keahlian mereka siap untuk mencurahkan pikiranya agar Riau kembali lebih baik lagi. Jangan mau ditekan dan diluluhlantakkan oleh para penjahat berdasi itu. Jangan kita hanya mampu mengucapkan slogan Riau menyapa dunia, sedang dunia kecil di sekitar kita tak mampu kita lindungi.

DM Ningsih adalah penulis Riau

Loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *