Emak-emak Baca Puisi Tentang Bocah yang Meninggal Karena Asap, Mengiris Hati

Luzi Diamanda.

RiauKepri.com, PEKANBARU– Puisi yang dibacakan Luzi Diamanda tentang seorang bocah yang meninggal akibat asap pada tahun 2014 lalu, ditengah aksi demo emak-emak di kantor gubernur Riau, Selasa (24/9/2019), mengiris hati.

Sungguh. Sejumlah emak-emak yang sebelum memukul-mukul alat memasak sambil bernyanyi dalam aksi melawan asap, alih-alih terdiam. Mereka terhenyak mendengar pembacaan puisi dari atas mobil pickup. Berikut ini puisi tersebut, kami sajikan utuh setelah meminta izin kepada Luzi Diamanda:

Hanum

Selamat Jalan Hanum, Asap Menjadi Mautmu

Baca Juga :  Cerita Dosen Unilak Raih Gelar Doktor Melalui Ujian Daring Saat Wabah Corona

Hanum, air mata ku tak terbendung/12 tahun, keceriaan harusnya kau rengkuh ketika maut berkata ikut/aku ratapi, aku rutuki/negeri yang memberimu hidup/juga negeri yang memberimu maut/aku baui harum sorga sepanjang jalan pulangmu, pulang yang abadi/

/mata ku nanar pada kalimat; –Muhanum Anggriawati (6 th), kesulitan bernafas akibat kabut asap yg semakin pekat. Hanum tumbang saat bermain dan tak sadarkan diri lagi, hingga siang ini Hanum pergi–

/Hanum, martir apalagi yang diinginkan negeri ini??/dari hutan-hutannya  mengalir bencana, dari gambut-gambutnya keluar bala/pekik elang ataukah erangan gajah hanya singgah di telinga mereka

Baca Juga :  Kata Mereka Tentang Program BPDASHL Indragiri Rokan KLHK

Hanum, aku ratapi engkau dari jauh/membiarkan air mata ku tumpah bersama Al-Fatihah/aku terkapar dalam perih jiwa/kanak-kanakmu, kanak-kanak abadi, di makan petaka negeri sendiri

Siponggang mengguguh hati/masihkah kita akan diam, berjawab kata?//anak-anak negeri, anak-anak pemilik hutan dan lahan itu/mengapa dibiarkan pergi?

Hanum/dengan caraku aku sampaikan juga, kata per kata/meski mereka marah/aku sebarkan duka alam kita/aku tagih janji-janji penguasa/aku ketuk hati wakil rakyat kita/cukuplah engkau saja sayang, Hanum, jangan ada yang lainnya juga

//Tidurlah Hanum dalam sorga, rumah abadimu//tanpa asap atau jerebu//pastilah di sana hanya ada kesejukan//peluk ibumu telah berganti bidadari..selamat jalan Hanum/aku akan tetap bersuara, biar serak, biar habis kata…(Diamanda)

Baca Juga :  Edy Nasution: Bantu Kami, Doa Emak-emak Ini Sangat Mabrur

Catatan: Ini aku tulis tahun 2014 ketika bencana kabut asap merenggut nyawa Hanum. Akankah kita biarkan Hanum2 lain mengalami hal yang sama?

Pekanbaru, 22/9/2019
Luzi Diamanda

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *