Katanya Kita Bersaudara

Puisi-puisi Hang Kafrawi

Hang Kafrawi

Katanya Kita Bersaudara

Katanya kita bersaudara. Di antara desingan luka dan air mata, kalian masih membusungkan dada dan merasa paling berjasa pada negara. Berkilah demi rakyat, namun rakyat tetap sekarat. Untuk apa ada negara, kalau hanya derita dan duka yang tercipta?

Katanya kita bersaudara, namun kenapa kalian memagar diri terlalu tinggi. Tak dapat kami menjengah walau selangkah. Tak dapat kami bertemu, sebab kalian anggap kami hantu. Kalian berdiri untuk kami, tapi peluru senjata api yang kalian hadiahkan ke dada kami. Pentungan, gas air mata, dan tembakan kalian lepaskan sebagai jamuan.

Katanya kita bersaudara. Kalian terlalu angkuh di parlemen dan di istana. Hilang rasa dan menganggap kami hendak menabur perselisihan. Kami datang dengan hati, kalian sambut dengan benci. Kalau sudah begini hendak ke mana kita pergi. Kalian selalu mencurigai, tersebab mengkhianati tempat awal kalian jadi.

Baca Juga :  Apresiasi Peran Masyarakat Terhadap Pembangunan, Malam Tahun Baru Pemkab Bengkalis akan Gelar Hiburan Rakyat

Konspirasi Asap

Kita diperolok-olok kuasa dan harta
Mereka pasang perangkap di mana-mana
Menciptakan kemiskinan jadi permainan
Diantuk pada kenyataan
Air mata tak berharga
Duka juga yang kita tuai

Orang-orang membunuh hati nurani
Para cukong memetakan kehendak
Tancap serakah dengan berbagai wajah
Mendulang untung dari detak jantung rakyat yang berhenti

Mereka mengatur siasat,
berjual-beli strategi,
membajak hidup orang banyak,
tak peduli berapa orang yang mati

Kita juga yang menanggung azabnya
Mereka berpesta lalu mengadu domba
Bahkan mereka disanjung bak pahlawan
Padahal merekalah pembakar lahan!

Baca Juga :  Warga Desa Klesa Inhu Akan Segel Kantor Desa

Bunga dan Secangkir Kopi

Di meja pagi, secangkir kopi selalu menghantarkan kisah dari mimpi yang terangkai pada malam. Ada mekar yang ditatap, harum yang menyalar dan matahari tersenyum di rahim taman. Membentang segala jalan yang mesti dituntaskan. “Kau tak sendiri, aku senantiasa tumbuh di hatimu,” kau berucap pasti.

Awan berarak matamu menyimpan cemasku. Setangkai badai berumah gelora yang terpendam hasrat. Kau taburkan embun di kelopak hari agar hati menyejuk tak jadi bara. Tasik cerita tak semestinya menampung kemarau musim bermusim, tersebab hujan adalah waktu yang akan menjelang. “Telah kusediakan nafas ini untuk berbagi kepada-mu,” kau petik dawai angin jadi nyanyian.

Baca Juga :  Biadab! Murid SD di Pekanbaru Ini Dihamili 2 Staf Perguruan Tinggi

Bunga dan secangkir kopi menetaskan beku di kepalaku. Kau singkap tirai gundah dan menyeduh pelangi di antara gerimis. Membujuk khayalku agar tak sungsang menakar kasih. Tiada yang paling sunyi ketika rindu memburu. Kau rapalkan azimat sukma dan melepaskan keyakinan ke jantungku. “Waktu yang terhempas adalah kita yang rapuh meniti nasib,” bisikmu di telingaku.

Hang Kafrawi adalah Ketua Program Studi Sastra Indonesia dan Sastra Melayu FIB Unilak. Ia juga Ketua Teater Matan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *