Mengenang Ediruslan Pe Amanriza; Mengecas Energi

Oleh M. Nazri

M. Nazri

RiauKepri.com – Hidup bertunang dengan kematian. Dalam kehidupan banyak peristiwa menarik yang harus kita ingat. Demikian dengan sosok seseorang yang bernama Ediruslan Pe Amanriza kelahiran Bagansiapi-api, Riau 17 Agustus 1947, adalah nama perjuang yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan seni khususnya Riau. Sejak SLTP, bidang seni sudah digelutinya secara sungguh-sungguh.

Sekitar tahun 1967 barulah sajak-sajaknya mulai terbit di Mingguan Mimbar Demokrasi, Majalah Mimbar Bandung, Haluan Padang, Kompas, Horison dan lain-lain. Kumpulan sajaknya, Vagabon (1975), Surat-Suratku kepada GN (1981) Bukit Kawin (1983).
Novel-novelnya sejak 1976 hingga 1980 an memenangkan sayembara penulis roman Indonesia yang diselengarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Jambatan, Nahkoda, Ke Langit, Koyan, Istana Yang Kosong dan Pangil Aku Sakai memenagkan sayembara pada tahun 1986. Roman yang berkisah tentang benturan antara tradisi, yang direpresentasikan oleh adat, dan moderinitas dari luar. Adalah gambaran sikap pelawanan dalam mempertahankan teradisi mereka suku sakai agar tidak tepengaruh dengan arus modrenisasi. Tida itu juga, Edirusalan Pe Amanrizal seorang birokrat. Pada tahun 2000 beliau menjadi anggota DPRD Provinsi Riau.

Sebagai seorang birokrat, seniman dan pengajar, beliau tidak pernah diam menyuarakan nasip Riau lewat karya-karya kekancah Nasional. Bukti kongkrit pelawanan yang beliau suarakan lewat karya salah satunya puisi yang berjudul Berpisah Jua kita Akhirnya Jakarta, merupakan suara hati beliau memandang fenomena Riau semakin hari semakin memperihatinkan atas ketidakadilan pusat terhadap Riau. Pada sisi lain perjuangan Ediruslan berserta kawan-kawan seniman mengagas gedung kesenian berksekala internasional sebagai tempat menampung karya-karya seni pertunjukan terkhusus Riau. Gedung yang berdiri megah menjadi kebangaan masarakat Riau di kawasan bandar serai bernama Anjung Seni Idrus Tinti, mengambil nama salah seorang tokoh teater modren Riau yaitu Idrus Tintin.

Baca Juga :  Bengkalis Percepat Pembangunan Melalui Dana Alokasi Khusus

Mengenang seorang yang telah berpulang kehadirat Ilahi 18 tahun yang lalu, tepatnya 3 Oktober 2001, tentu saja tidak bisa mengembalikan ia ke dunia ini. Hanya amal dan do’a yang mebantu dia di alam barzah. Tetapi hal-hal yang ditinggalkan berupa, pemikiran-pemikiran cemerlang, kenangan persahabatan, romantis dalam tingkah dan laku, kerja dan perjuangan besarnya akan tetap hidup dipikiran orang yang mengenalnya, bahkan bisa jadi hidup di tenggah orang yang tidak pernah mengenalnya secara langsung seperti seangkatan kita ini.

Saya merasa Ediruslan Pe Amerizal memberi kita jejak-jejak Intelektual atas pemikranya luar biasa lewat karya beliau yang bisa kita baca. Lewat karya Roman, Cerpen, Esai, Puisi, Ediruslan tetap menjadi ingatan kita, dan serasa masih hidup memberi kita energi untuk terus berjuang melawan penidasan yang Negara lakukan terhadap kita dan Negeri tercinta RIAU lewat karya-karya. Ediruslan Pe Amanrizal adalah sosok tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan, tak terkikis oleh waktu dan masa di hati kita.
Kita sebagai mahasiswa ataupun alumni Fakultas Ilmu Budaya, mau tidak mau atau suka tidak suka kita harus melanjutkan estafet perjuangan beliau, Ini sudah menjadi hukum wajib bagi kita sebagai jurusan Sastar. Mengenang beliau yang kita lakukan hari ini adalah, upaya mengirim do’a, unkapan terimakasih, dan juga memberi penghargaan tehadap kenerja beliau. Dengan demikian kita tidak melupakan sejarah perjuangan beliau, dengan mengingat sejarah kita berusah menyusun kekuatan berkaca dari masalalu yang pernah dikatakan peresiden pertama kita Soekarno, jangan pernah lupa dengan “Jas Merah” mengambil sebagai suatu pelajaran.

Baca Juga :  2 Tersangka Penculik Murid SD di Pekanbaru Dibekuk

Mulai hari ini mari kita sama-sama pasangkan niat pada diri kita masing-masing, untuk terus semangat dalam berjuang menebarkan kebaikan melawan ketidakadilan atas pembodohan, penindasan-penindasan tehadap kita, supaya kita tidak seperti yang dikatakan Buya Hamka “Kalau Sekedar Hidu Kera DI Hutan Juga Hudup, Kalau Hanya Sekedar Kerja Kerbau Di Sawah Juga Kerja”. Maka jadilah kita sperti makna terkandung dalam lirik pantun Melayu ini:

Pulau Pandan jauh Ke Tengah
Gunung Daik Becabang Tiga
Hancur Badan dikandung Tanah
Budi Baik Di Kenang Jua.

Akan Bepisah Jua Kita Akhirnya Jakarta

Akan berpisah jua kita akhirnya, Jakarta
Dari negeri kami yang jauh kau terlihat semakin angkuh
Tak tersentuh
Setelah 55 tahun bersama
Akhinya terasa masyarakat sejahtra yang tak berkering air liur diucapkan ketika kalian bertutur kata tak kunjung datang jua

Setelah 55 tahun bersama
Tak sehari pun kami merasa bahagia
Hidup kami sepanjang tahun asik dirundung dusta nestapa
55 tahun kalian bangun tasik yang penuh air mata dan kami tengelam di dalamnya
55 tahun kami daki gunung darah dan keringat kerja dan kami tergapai-gapa di atasnya

Baca Juga :  Emak-emak Baca Puisi Tentang Bocah yang Meninggal Karena Asap, Mengiris Hati

Akan berpisah jua kita akhirnya Jakarta
Karena sejak hari ini, kami tak lagi pecaya, pada janji-janjimu yang benuh dengan dusta
Dan kami tuntut hasil kandungan perut bunda tanah induk rakyat kami yang kau tambang dalam ranting waktu sejarah yang panjang agar kau kembalikan, bagian yang menjadi hak kami

Akan berpisah jua kita akhirnya, Jakarta
Sebab puluhan juta hektar, tanah peladang, kebun karet, rimba kepungan sialang tanah ulayat, dan pandam pekuburan yang kau petakan dari Bina Graha, akan kami rampas kembali oleh suku sakat kami yang tak kuat menyimpan dendam, dan harapan permadani kebun sawit yang hijau, terbentang yang kalian tanam ditanah rapasan, akan kami bakar dengan api dendam yang marak oleh penindasan
Akan bepisah jua kita akhirnya, Jakarta
Kerongkongan kami telah kering, pekik rakyat kami, dahaga kehausan jadi bencana, laut biru kami telah kau timbah sejak lama. Sungai, teluk dan tanjung kami, kalian belenggu dengan rantai zona hantu peburu.
Leher nelayan dan orang sampan hingga tak sanggup lagi menelan.
Buah tangisan pembangunan yang kalian janjikan,
Kembalikan seperti sediakala kepada kami, yang senantiasa menyimpan batas kesabaran sebuah persaudaraan

Akan berpisah jua akhirnya Jakarta
Tatkala semangat Hang Jebat di Jiwa Kami,
Kembali membara

M. Nazri adalah anggota Teater Matan dan honorer di Dinas Pariwisata Riau

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *