Anjung Seni Idrus Tintin Kehilangan Rupa Kesenian

Oleh Suak

Anjung Seni Idrus Tintin

Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT) merupakan sebuah gedung pertunjukan yang diresmikan pada tanggal 11 Agustus 2007 oleh Susilo Bambang Yudhoyono yang ketika itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Gedung ini bahkan dikatakan gedung pertunjukan yang termegah di Indonesia. Gedung dengan beribu ekspektasi orang ketika melihatnya, banyak angan dan imajinasi yang terlintas tentang apa dan bagaimana kondisi di dalamnya.

Saya membaca beberapa artikel tentang ASIT, banyak dari artikel tersebut mengatakan bahwa ASIT adalah salah satu destinasi wisata yang direkomendasikan di Provinsi Riau. Timbul pertanyaan dibenak saya, destinasi wisata yang bagaimana? ASIT bukanlah gedung yang terletak di tepian laut yang indah, atau pun di dataran tinggi yang memiliki pemandangan landscape yang menyejukan mata. Apa wisata yang bisa jadi nilai jual bagi Riau dari ASIT? Seharusnya ASIT memang menjadi destinasi wisata, yaitu wisata Kesenian dan Kebudayaan yang dipertunjukan bagi wisatawan, barulah ASIT layak dikatakan sebagai destinasi wisata yang memiliki nilai jual Kesenian dan Kebudaya Melayu Riau.

Baca Juga :  Di Rohil Kini Gelper Berbau Judi Muncul Lagi, di Pekanbaru Sempet Digerebek

ASIT pertama kali dikelola oleh Yayasan Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai) dan diambilalih Pemprov Riau sejalan terbentuknya DISPAREKRAF (Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) untuk lansung mengelola ASIT. Di tangan DISPAREKAF dibentuklah UPT Bandar Serai melalui Peraturan Gubernur nomor 2 tahun 2014 yang di bawahi oleh DISPAREKRAF untuk mengelola ASIT.

Menjadi suatu bangunan kebanggan tentu bukanlah sandangan yang mudah bagi Masyarakat maupun Pemerintah Provinsi Riau, sebab di balik sandangan itu terdapat tugas dan peran penting dalam menjaga Kesenian di Provinsi Riau agar tidak menjadi “aib” dan cemo’ohan atas sandangan “kebanggaan” yang dipikul ASIT. Alangkah munafiknya kita jika megah itu hanyalah tampilan luar, namun tidak seperti nama besar yang disandangnya gedung Anjung Seni Idrus Tintin hanyalah sebuah gedung tua yang dipenuhi sarang laba-laba.

Saya teringat film “The Conjuring” karya James Wan, film ini menceritakan tentang keluarga yang mendapat gangguan dari makhluk-makhluk ghaib di seuatu rumah tua besar yang baru mereka tempati. Bukankah ASIT juga rumah kesenian bagi masyarakat Riau? Apakah para pelaku kesenian sedang mengalami ketakutan untuk melakukan kegiatan seni dan pertunjukan, seperti kisah “The Conjuring”? Siapa yang ditakuti?

Baca Juga :  Radio Romance

Kenyataannya pada hari ini ASIT hanyalah gedung tua yang dipenuhi ketakutan, ketakutan para pelaku seni untuk mengadakan pertunjukan di ASIT, sebab ada harga yang harus dibayar (entah untuk apa dan diperuntukan kepada siapa) jika ingin menggunakan gedung oleh seni Anjung Seni Idrus Tintin untuk sebuah pertunjukan. Alasan pembayaran ini dikatakan untuk perawatan dan sebagainya, tapi kenyataannya ASIT dibiarkan terbengkalai dengan fasilitas yang mulai rusak. Timbul tanda tanya besar, apakah gedung ASIT hanya diperuntukan bagi pelaku seni yang mampu membayar? Apa tidak ada APBD yang jelas untuk pengelolaan ASIT?

ASIT kini seperti hilang rupa kesenian, sebab sudah jarang kita melihat kegiatan dan pertunjukan kesenian dan kebudayaan di sana. Memang setiap akhir tahun di Provinsi Riau banyak dilaksanakan acara Kesenian dan Kebudayaan, tetapi mengapa cuma di akhir tahun? Positif thinking saja, mungkin karena anggaran untuk kesenian dan kebudayaan memang di akhir tahun, atau mungkin anggaran sisa yang tidak terfungsikan lalu dialihkan untuk kesenian dan kebudayaan, itu pun terkadang tidak dilaksanakan di ASIT. Berarti ASIT tidak patut direkomendasikan kepada wisatawan sebagai destinasi wisata yang berbasis kesenian dan kebudayaan di Provinsi Riau, karena realitanya “isi” ASIT tidak seperti yang diekspestasikan kebanyakan orang di luar sana.

Baca Juga :  Kabid Humas PKS Riau: Jadikan Medsos Sebagai Perekat Persatuan

Nama ASIT kini tak sebesar bangunannya, ASIT hanya dikenal nama sebab kemasyurannya di masa lalu, namun tidak lagi diingat bagaimana rupa, sebab ASIT hari ini tidak memiliki rupa terhadap kesenian dan kebudayaan di Riau, atau ASIT hanyalah setting lukisan di triplek dari indahnya suguhan artistik pemerintah Provinsi Riau, sedang di sebaliknya hanya dinding hitam yang tidak bermaya.

Suak adalah penulis yang bermastautin di Perawang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *