Antologi Puisi Kau Tiup Aku Hembus, Cara Paling Bijak Penyair Siak Berkisah Tentang Siak

Oleh : Marzuli Ridwan Al-bantany

Marzuli Ridwan Al-bantany

Puisi atau sajak yang dicipta, sejatinya tidak hanya berujud barisan kata-kata yang indah dan menawan – melainkan tentunya ia memiliki makna, maksud ataupun tujuan. Bahkan melalui tema-tema yang diusung, sebuah puisi itu terkadang tak luput dari pesan-pesan yang hendak disampaikan atau disuarakan oleh empunya karya.

Terhadap karya-karya sastra berupa puisi ataupun sajak ini, bagi seorang pembaca diyakini tidak hanya sekadar menikmati karya sastra itu begitu saja, namun sudah tentu pula ianya akan berupaya untuk mengetahui maksud dari sebuah puisi yang sedang diterokai itu. Tentunya dengan bekal pemahaman dan pengetahuan yang ada pada dirinya.

Kita maklumi, bagwa di dunia ini tidak sedikit puisi-puisi yang dihasilkan oleh para penulis, sastrawan maupun penyair – baik yang sudah lama bergelimang dalam dunia tulis menulis/sastra, maupun mereka yang baru berjinak-jinak dengannya – setiap karya sastra yang ditulis itu tak jarang berangkat dan berawal dari sebuah kerisauan dan kegelisahan pengarangnya dalam memandang kelebat kehidupan. Kerisauan dan kegelisahan itulah yang kemudian mendorongnya melahirkan sesebuah karya, yang tidak hanya ujud sebagai bentuk pengkhabaran semata-mata, melainkan juga terpanggil jiwanya untuk menitipkan sejumlah pesan maupun kesan berharga bagi siapapun yang membaca dan menikmati karya sastranya.

Kendati dalam geliat kesusastraan kita (baca: menulis puisi), dimana menurut pandangan sejumlah kritikus sastra jika sebuah puisi itu seharusnya menghindari dan meminimalisir pesan-pesan di dalam tubuh puisi, karena puisi semacam itu dinilai kurang baik dan tepat, namun sebuah puisi yang dihasilkan oleh seseorang poengarang itu tentulah menjadi hak preogatifnya. Setiap penulis puisi atau sajak juga sudah tentu bertanggung jawab atas apa yang telah ia tuliskan.

Terkadang memang tak dinafikan, bahwa puisi-puisi yang berseliweran – yang kita baca dan sering kita jumpai di tengah rimbunnya karya sastra dewasa ini, banyak diantaranya tak luput dari pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh penulisnya. Sehingga tak jarang pula jika puisi-puisi tersebut terkadang tampil laksana bait-bait khotbah yang mempengaruhi, terkesan menasehati dan menceramahi. Namun begitulah naluri kita sebagai manusia, yang selalu hendak menyuarakan berbagai pesan (pesan kebaikan), utamanya lewat karya-karya sastra berupa puisi atau sajak.

Membaca antologi puisi Kau Tiup Aku Hembus karya tujuh penyair Kabupaten Siak – Riau yang diterbitkan pada November 2018 lalu oleh penerbit TareBooks, Jakarta ini, menurut hemat penulis bukanlah termasuk kategori puisi-puisi yang tampil seperti ‘pengkhotbah’ itu. Buku setebal 86 halaman yang menghimpun 68 puisi karya pujangga dari Siak : Zulkarnain Al Idrus, Bayu Aji Setiawan, Tengku Syaf, Toni Busra, Dodi Dosh, Gun Gun dan Syarwan Hamid ini, dengan lidah Melayu mereka yang kental dan dengan bahasa yang amat sederhana, dinilai telah mampu menjadi jembatan informasi dan hadir dengan kesan-kesan yang apik dalam lewat puisi-puisi yang mereka tulis itu.

Baca Juga :  Jack Ditetapkan Sebagai Calon Ketua DPRD Meranti, Ini Kabar Terakhir Hubungannya dengan Fauzi Hasan

Informasi serta kesan-kesan yang disampaikan oleh para penyair Siak lewat puisi-puisi yang mereka tulis dalam buku ini begitu unik. Mereka dengan gaya menulisnya masing-masing dengan lihai dan jujur berkisah tentang Siak, tentang segala risau dan gelisah yang dipandang, disaksikan dan bahkan dirasakan oleh diri-diri mereka yang sedari kecil telah menetap dan bermastautin di kabupaten yang dijuluki Negeri Istana ini, sebuah negeri yang dari hari ke hari, dari waktu ke waktu yang selalu bersinggungan dengan berbagai geliat pembangunan, perubahan-perubahan di sana-sini. Begitu juga terhadap aspek kehidupan sosial, budaya dan lain sebagainya yang dinilai turut mengalami pergeseran-pergeseran nilai di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dewasa ini.

Kesemua itu, tampaknya menjadi sebuah renungan bagi diri para penyair yang telah membulatkan kata mufakat untuk melahirkan antologi puisi yang dikata pengantari oleh sastrawan Riau Marhalim Zaini ini – yang kemudian kehadiran buku tersebut menjadi prasasti sejarah; sebuah penanda paling bijak, mencatat keping-keping pengalaman dan bahkan pengamatan mereka tentang daerahnya, tentang Siak serta geliat perubahannya sesuai naluri insan seorang seniman, juga kepekaan hati seorang penyair yang terpanggil jiwanya untuk membangkitkan kesadaran demi kesadaran bagi mencapai sebuah kebaikan dan kemaslahatan bersama.

Puisi-puisi di dalam buku yang mungil ini juga tak hanya sekadar pelepas akan setiap risau yang singgah – sebagaimana salah satu puisi yang ditulis Zulkarnain Al Idrus dalam puisinya yang berjudul Muda Kok Latah dan Janji di Ujung Kapak. Begitu juga dengan sebuah puisi berjudul Kau Tiup, Aku Hembus – yang sekaligus menjadi judul buku antologi puisi ini, yang lagi-lagi sebagai bentuk kegelisahannya akan situasi yang tengah terjadi. Namun puisi-puisi lainnya dengan penuh kesadaran yang tinggi mencoba mengetuk akan kenangan sejarah, membangkitkan kerinduan paling dalam akan ingatan masa lalu yang terlanjur jauh dan kadang dilupakan.

Baca Juga :  Terbukti Tak Bersalah,  Hakim Vonis Bebas Ketua PD Bengkalis Nur Azmi Hasyim

Lihatlah puisi-puisi yang ditulis Bayu Aji Setiawan, seperti pada puisinya yang berjudul Sajak Pulang, Riwayat Kota dan sebuah puisi Ada yang Hilang Setelah Kota Dibangun. Lalu perhatikan pula puisi-puisi yang ditulis Dodi Dosh (Lembar Malam, Ibu), penyair Toni Busra dengan puisinya Mengenang Tanah Pasar, Waktu, Terbelah Dua, Alamanak serta puisi-puisi yang lain – yang turut mengajak pembaca melihat potongan-potongan sejarah dan kerinduan yang amat indah.

Juga pada puisi-puisi yang dipahatkan Gun Gun, Syarwan Hamid dan Tengku Syaf; yang sesekali terdengar amat melankolis dan menyentak kita agar berpikir secara rasional terhadap berbagai peristiwa dan kenangan yang dirasakan oleh penyairnya. Sungguh puisi-puisi yang harus dibaca dengan bahasa hati agar tak keliru dalam memaknai kata demi kata.

Sampai ke batas ini, buku antologi puisi Kau Tiup, Aku Hembus karya Zulkarnain Al Idrus dkk ini, amat layak untuk diapresiasi sebagai tanda bahwa kita menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan olehnya. Bahkan buku ini juga menjadi bukti yang paling pati, bahwa sejarah kepenyairan di tanah Riau, bumi Melayu yang ranggi ini kian tumbuh dan bersemi – menjadi penyeri indah taman budi. Saban hari ianya akan berputik, menyembulkan harapan dan impian, yang sewaktu-waktu akan menebar aroma wangi, merecupi hari-hari yang dibahang sunyi.

Puisi-puisi yang lahir dari jiwa-jiwa penyair yang sejati, sudah tentu akan menjadi pengingat yang amat bijak. Menjadi pemicu dan pemacu dalam menapak manisnya hidup yang dipenuhi semangat juang dan cita-cita yang mulia. Dan begitu jugalah dengan sehimpun puisi dalam antologi puisi ini, yang secara umumnya mencoba dengan kata yang paling jujur mengemukakan kesan-kesan positif, sekaligus menyuarakan pesan yang sepintas lalu tak disadari sebagai sebuah pesan.

Mengakhiri tulisan ini, mari sejenak kita simak kata demi kata pada dua puisi yang ditulis Zulkarnain Al Idrus dan Bayu Aji Setiawan. Semoga menjadi renungan bahwa puisi tak sekadar keindahan kata-kata, melainkan pula terhimpun segenggam harapan dan kenangan yang tak mungkin pernah padam.

Baca Juga :  Si Jagomerah Lahap Empat Pintu Rumah di Dumai

Kau Tiup, Aku Hembus
(Puisi Zulkarnain Al Idrus)

Tiupan seruling mereka
mampu membuat tuan menari
sedang hembusan nafiri hamba
hanya buat tuan berkelahi

Seruling mereka terdengar merdu
karena senada memainkan lagu
sedang nafiri hamba hembusan sekali lalu
dengan napas yang tinggal satu-satu

Namun percayalah tuan
meski nafiri hamba jarang berbunyi
tapi iramanya menyimpan arti sunyi
jika tuan dengar, pakai hati

Sedang seruling yang tuan dengar selalu
iramanya kadang menipu
disangka dangdut, ternyata lagu tong-tong paku;

tong-tong paku seleret tiang paku
mata pendil mata hantu
anak belakang tangkap satu
tuan kena baru tahu
mengapa tak dengar cakap aku

Terserahlah tuanlah.
hamba ni, apalah kan?

Asal saja nantinya, tuan jangan menangis
karena pada saat itu
airmata tuan mungkin telah habis
menurut hamba sih, begitu?

—–

Sajak Pulang
(Puisi Bayu Aji Setiawan)

Beberapa waktu lalu aku pulang ke rumah
tempat segala ingin dan angan tumbuh
namun lebih banyak yang ambruk dan runtuh
seperti dinding rumah tetangga yang berganti bata
papan-papan disingkirkan serupa kenangan
mereka tak sadar, rumah yang mereka tegakkan
berdiri diatas kenangan masa silam
apa yang dulu pernah dirawat didoakan
perlahan disingkirkan kemudian ditimbun dalam-dalam

sekarang aku punya banyak tetangga baru
yang datang dari segala penjuru dan masa lalu
dan tak pernah kuhafal namanya satu-satu
menegakkan rumah dan angan-angan di tanah itu
sama seperti pertama bapak-ibu datang
semua yang telah mantap, diacak dipancang

2018

Tahniah buat bang Zulkarnain Al Idrus dan penyair-penyair Siak yang namanya turut diabadikan dalam buku antologi puisi ini, Semoga karyamu menjadi amal dan ladang pahala. Dan semoga kelak akan lahir kembali karya-karyamu yang agung, yang menyapa aku dan kita semua dalam kehidupan yang sekejap cuma dan tak luput oleh ragam peristiwa.

Sekali lagi, syabas dan tahniah. Tentunya terima kasih yang tak terhingga atas bukunya – menjadi cambuk yang terindah untukku selalu berkarya.

10 Oktober 2019

Marzuli Ridwan Al-bantany adalah Sastrawan, Penulis buku Menuju Puncak Keindahan Akal Budi. Bermastautin di Bengkalis, Riau.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *