Kegagapan Pemerintah Terhadap EKRAF (?)

Oleh Bambang Wahyu Jatmiko

Bambang Wahyu Jatmiko

RiauKepri.com – Berangkat dari kerisauan yang pragmatis, Pemerintah Pusat coba menilik ulang tentang keberhasilan Bekraf yang selama ini tak hanya sekedar menunggang angin. Ia telah menjadi sempadan yang riuh bagi segenap komunitas serta pelaku ekonomi Kreatif yang ada di Negeri ini. Badan Ekonomi Kreatif, memang hanyalah sebuah lembaga yang lahir kemarin sore bila dibandingkan dengan lembaga-lembaga tinggi negara lainnya, tapi ia lahir bukan hanya sekedar untuk memenuhi hasrat pragmatisme politik, melainkan lahir dari kebutuhan hajat manusia Indonesia yang hari ini, mahu tidak mahu harus siap menghadapi revolusi Industri Bab IV atau orang lebih mengenalnya dengan istilah 4.0.

Korea Selatan menyadari ini sejak awal abad millenium, maka di tahun 2004 mereka membuat gebrakan baru dengan membangun komunitas besar di negaranya ‘KOCCA’. Andil pemerintahnya begitu masive terhadap lembaga ini, dan pada akhirnya, siapa yang tak kenal dengan kreatifitas yang lahir dari lembaga KOCCA tersebut setelah berbancuh padu dengan kebudayaan dihari ini? Tak ayal lagi K-POP, K-Drama atau juga K-Fashion atau biasa juga disebut dengan Korean Wave atau Hallyu. Apa yang dilakukan oleh Negara Korea ini, menginspirasi banyak negara, termasuk Indonesia.

Baca Juga :  Mantap, Unilak MoU dengan 5 SMK di Riau

Indonesia dengan segala kelebihannya yang sampai saat Presiden Jokowi terpilih-periode I (tahun 2014), masih asik untuk bermain di laman konvensional, hanya satu satu yang coba melakukan improvisasi kreatif dalam rangka pengembangan dirinya ketika zaman bertanya. Dan hari itu, Presiden Indonesia-Joko widodo sadar betul dengan perubahan imperium dunia, berfikir dalam meluahkan kreativitas dengan cara yang sudah-sudah tak akan mampu menjadi topangan utama dalam mengejar ketertinggalan bangsa ini. Biarlah ia menjadi dunia kreatif di masanya. Dan hari itu, melalui Peraturan Presiden No. 6 tahun 2015 Joko Widodo melahirkan sebuah kebijakan yang banyak dirindui anak bangsa di segala ceruk negeri ini, Badan Ekonomi Kreatif adalah tabalan nama yang memang lahir dari segenap kisah dan cinta. Tak ada waktu bagi Badan ini (BEKRAF) untuk belajar bagiamana cara berdiri apatah lagi berjalan, pesannya hanya 1 “segera berlari untuk mencabar zaman”.

Kamipun bertanya ; Akankah Ekonomi Kreatif akan kembali dibenam ke ceruk yang sama, seperti sebelum BEKRAF lahir sebagai diri sendiri? Duhai…

Baca Juga :  Bupati Siak dan Kapolda Riau 'Luncurkan' Sumatera Jungle Run (SJR) 2020

Banyak variabel data yang menunjuk kan bahwa sejak Bekraf lahir hingga saat ini telah mampu menjadi sitawar dan sidingin bagi sebagian persoalan anak bangsa, khususnya dalam bidang ekonomi kreatif. Badan ini pun telah memberi kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Tidak kurang dari 1.105 triliun telah BEKRAF sumbang dalam kurun waktu tak sampai 5 tahun dalam bentuk Pendapatan Dometik Bruto (PDB) dari sektor ekonomi kreatif ke negeri ini, aduhai.

“Apabila kita kurang siasat, itulah tanda pekerjaan hendak sesat,”
(Raja Ali Haji : Gurindam 12, Pasal 7)

Kekayaan alam, kekayaan histori serta narasi, kekayaan tradisi dan kekayaan kreativitas yang sejak Bekraf lahir coba dieksplorasi dengan berpeluh-peluh tanpa kesah dan keluh, telah mampu memberi kabar pada dunia bahwa “Indonesia segera bangkit dari tidur panjang dan siap melenggang di medan laga dunia”. Banyak data serta variabel yang menyatakan kebenaran ini. Melampauinya jumlah manusia produktif dari batas maksimal rata-rata negara maju (bonus demografi) serta salahsatu pengguna tekhnologi terbesar di dunia, adalah sedikit variabel dalam rangka mewujudkan mimpi Indonesia untuk menjadi salahsatu negara maju. Namun, semua argumentasi itu akan mejadi isapan jempol belaka apabila tahap-tahap keberhasilan yang sebahagianya telah dicapai coba dimandulkan dengan mengembalikan Badan ini ke struktur masa lalu.

Baca Juga :  Warga Banyak tak Tau Kapan Hari Pencoblosan Pilgubri

Maka benarlah yang disampaikan oleh Raja Ali Haji dalam Gurindam 12 pasal 7 diatas. Fikir dan siasat haruslah jitu. Sebab kita tak ingin sesat ke palung zaman yang lebih gelap.

Sedikit puisi dibuat sebagai luahan pandang :

Menating sepi dari keriuhan politik
Dan bekraf menjadi diri yang sendiri
Menghela harap ditiap waktu
Dikunjung perih yang sigau

Ah,
Indonesiaku belum usai menimang hari
Melipat makna disebalik lobi
Melumat kasih disempadan yang gegap

Ah,
Hanya pada waktu aku bertanya, mengapa?

Bambang Wahyu Jatmiko adalah pekerja seni, bermastautin di Pekanbaru, Riau

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *