Dimaknai Sagu

Oleh Taufik Ikram Jamil

Taufik Ikram Jamil.

Kertas kerja dalam Dialog Kesejarahan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), Selatpanjang, 29 Oktober 2019.

/1/
PADA gilirannya saya harus mengatakan kepada Abdul Wahab, kawan lama yang tetap baru bahwa kita seperti dimaknai sagu, bukan sebaliknya yakni bagaimana kita memaknai sagu. Sejarahnya yang hilang di pangkal jalan, tiba-tiba muncul sebagai petuah di sana-sini, apalagi ketika membelik-belik unsur tubuhnya yang serba guna, kemudian tersangkut pada kenyataan perkembangan pemanfaatannya seperti terus meninggi.

Tidakkah kehilangan sejarah itu menyebabkan kita pun terlempar dari suatu tanda yang juga berarti terlempar dari makna-makna karena makna tersimpan di dalam tanda. Sedangkan di sisi lain, manusia pada hakikatnya mencari makna melalui tanda yang dapat dijumpai pada sejarah, tulis saya kepada Wahab melalui pesan pendek jasa alat komunikasi.

Waktu itu saya teringat Benny H.Hoed (2014) yang menyebutkan bahwa manusia memang selalu mencari makna tentang apa yang ada di sekitarnya. Tanda dan pemaknaannya bukan struktur melainkan suatu proses kognitif yang disebut semiosis. Jadi, semiosis adalah proses pemaknaan dan penafsiran tanda. Manusia juga mencari makna dengan melihat sejarah.

Memang tak salah lagi, sejarah menempati semua sendi kehidupan. Sebagai contoh, apa yang disebut guru besar ilmu politik Universitas Indonesia, Miriam Budiardjo (2014). Dia menulis, sejarah merupakan alat yang paling penting bagi ilmu politik oleh karena menyumbang bahan, yaitu data dan fakta dari masa lampau untuk diolah lebih lanjut. Perbedaan pandangan antara ahli sejarah dan sarjana politik ialah bahwa ahli sejarah selalu meneropong masa yang lampau dan inilah yang menjadi tujuannya, sedangkan sarjana ilmu politik biasanya lebih melihat ke depan.

Muhammad Yusof Hashim dalam bukunya Pensejarahan Melayu (1992) mengungkapkan bahwa pada dasarnya sejarah adalah catatan-catatan peristiwa dan peristiwa-peristiwa itu sendiri, saling mempunyai pertalian yang relatif. Sesuatu peristiwa yang terjadi itu dicatatkan dan jadilah peristiwa tersebut sebagai sejarah. Dalam fenomena ini, peristiwa dan catatan peristiwa berkembang dan membentuk perkara-perkara selanjutnya.

/2/
TAK orang, tak Wahab, akan bertanya tentang bagaimana sejarah sagu ketika mencernai paparan di atas. Ketika pertanyaan itu diabahkan kepada saya, maka setelah membolak-balik buku seperti Sejarah Riau (Mukhtar Luthfi, dkk., 1977), Sulalatus Salatin (A.Samad Ahmad, Peny., 2008), Sejarah Melayu (Ahmad Dahlan, 2014), dan sejumlah catatan termasuk daring, saya juga coba bertanya kepada orang-orang patut asal Meranti tentang hal serupa. Tak kurang dari tokoh semacam Khairul Zainal, Agusnimar, dan Sulaiman Daud, saya merasa kehilangan peristiwa awal sagu, sehingga muncul hasrat untuk menemukannya. Menemukan perangkai makna sebagaimana yang telah disinggung pada bagian atas.

Belum dapat diperkirakan secara pasti, sejak bila sagu berada di Meranti. Tetapi bersamaan dengan kecenderungan sagu di berbagai tempat, dapat disimpulkan bahwa tumbuh-tumbuhan dalam keluarga palm tersebut, merupakan flora asli tempatan bahkan Asia Tenggara. Dari beberapa catatan juga menunjukkan bagaimana sagu merupakan makanan asli Indonesia, tidak seperti beras yang merupakan tanaman pendatang — terlihat dari adanya relief sagu di candi Borobudur tanpa padi. Malahan, orang Jawa saja masih menyebut beras dengan kata yang tak jauh dari bunyi sagu dalam lidah Melayu yakni sego.

Berdasarkan catatan yang ada pada budayawan yang juga Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (Ketum MKA LAMR) Datuk Seri Al azhar, beberapa laporan mengenai sagu oleh bangsa asing ditemui pada abad ke-18 dan ke-19 (dalam suatu perbincangan). Di antaranya adalah yang dibuat J. R. Logan dengan tajuk The Sago of Sumatra dalam The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, Volume III, No. I, January 1849, halaman 297-300. Selain menggambarkan sutuasi tanah, serba ringkas mengenai cara budi daya sagu, Logan juga menuliskan mutu sagu Selatpanjang terbaik dibandingkan tempat lain semacam Manda, Kateman, Gaung, Igal, Pelanduk, dan Anak Serka, yang terletak di antara sungai Kampar dan Indragiri di Sumatera.

Catatan dari abad ke-18, juga telah memperlihatkan bahwa sagu, setidak-tidaknya sudah didampingi beras untuk memenuhi keperluan pokok masyarakat dalam kawasan Selat Melaka. Tetapi sagu masih menjadi komoditas andalan perdagangan yang menunjukkan kuasa Siak atas Melaka yang daerahnya termasuk Kabupaten Kepulauan Meranti sekarang. Kerajaan ini yang boleh dikatakan bertitik-tolak dari kawasan pedalaman, mampu menumbangkan dominasi perdagangan Melaka dan Johor Riau, hanya setelah sekiar 40 tahun didirikan Raje Kecik, justeru diterajui oleh perdagangan sagu setelah ikan maupun telor ikan.

Ahmad Jelani Halimi (2006) menulis bahwa sagu merupakan makanan yang banyak dibawa perahu Melayu ke Melaka. Sebagian besar, sagu didatangkan dari Siak. Pada tahun 1783, Siak memasok 17.75 koyan dan 2.800 pikul sagu ke Melaka. Bahan perdagangan Siak ke Melaka lainnya pada waktu bersamaan adalah 37.270 ekor ikan kering dan 45.000 biji telor ikan. Tetapi Siak juga memasok komoditas perdagangan dari Jawa ke Melaka seperti garam dan gula, yang semuanya itu memperlihatkan bahwa Siak merupakan rekan dagang utama Melaka pada suku akhir abad ke-18 (hal ini berlanjut pada abad ke-19 dan 20, TIJ).
Apakah sagu itu tertoguk begitu saja di Meranti ini? Tentu tidak kan? Siapa yang memulainya, mungkin dibawa dari Maluku atau Papua sana? tulis Wahab yang segera saya kembalikan kepadanya karena jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut memang belum mampu saya temukan, lalu berharap agar dia dapat menjawabnya. Tapi harapan saya tersebut seperti lirik sebuah lagu pop, memang tinggal harapan karena Wahab, walau sudah didesak berkali-kali, akhirnya angkat tangan dengan suatu desis yang tak rela.

Cuma pasti, keberadaan sagu tentu melalui suatu proses tertentu. Timothy Barnard (2006) menyebutkan bahwa Kerajaan Siak yang juga nenyebutkan Meranti sekarang ini sebagai kawasannya, senantiasa mengembangkan komoditas perdagangannya termasuk sagu. Hal ini makin jelas, apabila kita mengamati fotokopi surat tanah di Dinas Kebudayaan Riau yang memperlihatkan bagaimana Sultan Syarif Hasyim, mengkapling-kapling tanah untuk dijadikan perkebunan sagu di Pulau Padang awal tahun 1900 atau awal abad ke-20 (pasti waktu itu Syarif Hasyim masih berada di tahta), sebelum digantikan anaknya Sultan Syarif Kasim II.

Baca Juga :  Bagi Non Muslim di Meranti Tetap Lanjut Vaksin Measie Rubella

Cuma sebagai catatan patut diingat bahwa pengaruh Syarif Hasyim atas kawasan Meranti, diimbangi oleh abangya Tengku Bagus yang berdomisili di Bengkalis.

/3/
SEDIKIT pun tak bengak, banyak orang Meranti yang memposisikan sagu pada tempat yang penting. Khairul Zainal mengaku jadi saksi bagaimana kejayaan sagu amat dirasakan sebelum masa merdeka seperti terlihat pada sosok H. Mahmud, H. Ahmad, dan Mas Selamet. Lebih dulu orang Meranti bersekeloh di Jawa dibandingkan orang Riau daratan karena hasil sagu itu. Di antara mereka ada nama-nama terkenal seperti Rubiah dari Merbau dan Arifin Ahmad dari Tebingtinggi, katanya seraya menambahkan bahwa sagu merupakan rahmat besar yang diturunan Allah kepada masyarakat Meranti.

Tak pelak, sagu memberi kemakmuran pada masyarakat Melayu. Tetapi samai tahun 1970-an, kata Khairul Zainal, kebun-kebun sagu yang dikuasai Melayu sudah berpindah tangan kepada warga Tionghoa seiringan dengan tidak berlakunya lagi PP No.10/ 1959 yang semula membatasi Tionghoa hanya berada di kabupaten, tidak sampai ke kampung-kampung sebagaimana kemudian dianulir oleh pemerintah Orde Baru. Paling jelas terlihat pada kota Selatpanjang, lanjut Khairul, yang sejak tahun 70-an, kurang lagi didorong oleh kekuatan sagu. Melayu terpinggir dari bibir-bibir pantai yang digantikan oleh pendatang.
Cuma, berselancar di alam maya bersama Datuk Seri Al azhar, Ketum MKA LAMR, kejatuhan Melayu dari sagu itu sudah drasakan jauh sebelum 70-an. Dalam situs delpher.nl, ditemukan catatan singkat mengenai sagu dari Overzicht van de Irlandsche en Meleisich Chineesh tanggal 11 Juni 1922. Di dalam laporan itu disebutkan ada sebuah tuisan bertajuk Doesoen Sagu di Selat Pandjang yang memperlihatkan bahwa sagu milik Melayu dikuasai oleh orang-orang Cina dan menyebabkan penduduk setempat jatuh miskin.

Dalam catatan lain disebutkan bahwa Cina tersebut datang dari Singapura, bukan mereka yang sudah bertempat tinggal di kawasan ini sebelumnya.
Betul juga, Singapura sejak pertengahan abad ke-19, khususnya setelah Traktat London 1824, mulai memegang peranan penting dalam perdagangan Aia Tenggara, menggeser Melaka dan Johor Riau. Permintaan terhadap sagu dari pulau tersebut terus membesar yang kemudian menjadikannya sebagai titik perdagangan sagu dari Meranti selain Cirebon. Maka dalam kaitan ini pulalah, tak mengherankan bila Sultan Siak juga ikut ambil bagian memanfaatkan posisi Singapura, sehingga tidak saja membuka kebun dan properti di negara itu, tetapi juga menginvestasi sagu dari kawasan Meranti sebagaimana sudah disinggung pada paragraf sebelum ini.

/4/
SYAHDAN, bagi orang Meranti, tentu sagu bukan hanya sekedar berkaitan dengan sosial ekonomi, bahkan budaya, tetapi juga berada pada tatanan perasaan. Ketika masih di Telukbelitung, sebelum meninggalkan ibu kota kecamatan itu dalam usia 12 tahun, setiap pagi, saya makan mi sagu. Emak memasaknya untuk dijual di kedai Nah Me’on. Tapi, kami anak-anaknya, disuruh makan terlebih dahulu sampai kenyangmungkin bila perlu sampai mengkayang– lebihnya baru untuk dijual. Tak lengah lagi, kami adik-beradik yang memang ramai, setiap pagi menghadap kuali besar yang masih di atas tungku api kayu bakau dengan mulut sibuk mengunyah mi sagu. Kami saling rebut untuk mendapat keraknya yang memang lebih sedap dibandingkan dari bagian biasa.

Saya punya tugas khusus untuk itu. Pertama, saya yang selalu mencari sagu basah untuk diolah emak sampai menjadi mi sagu. Kedua, pagi-pag lagi saya sudah bangun dan dengan mata terkute-kute, pergi ke rumah Pecu untuk membeli tauge (toge), sebagai bumbu sayur mi sagu. Ketiga, saya mengantarkan mi sagu yang sudah dibungkus dengan daun pisang itu ke kedai Nah Me’on. Keempat, saya menjemput mi itu lagi sebelah petangnya, membawa duit hasil jualan dan menyerahkannya kepada emak. Orangtua ini, tak banyak kesah, apabila mi yang tak terjual, kami pelasah sampai tuntas baik sesama adik-beradik maupun bersama kawan-kawan.

Patut diakui, saat harus makan gobak, bukanlah saat biasa-biasa, apalagi dengan suatu kegembiraan. Emak pun tampak agak terpaksa menyodorkan makanan itu yang disebutnya sebagai pelampei, menemani nasi, karena beras memang tekis. Masih mending gobak dua kali, kalau gobak satu kali, tekunyal-kunyallah anak tekak. Sesekali, emak olah gobak itu seperti membuat nasi goreng, tentu dengan cabai merah dan bumbunya, yang kami sebut gobak goreng. Gedeguk dan ongol-ongol, senantiasa tersedia waktu Ramadhan atau musim panas. Sedangkan sempolet, hanya ada sesekali karena bumbunya itu aduh mak, pakai udang dan siput, tentu sesuatu yang mewah, mewah, mewah….

Setelah di tempat orang, apalagi di Bengkalis, kiriman sagu dari kampung memang jadi istimewa karena di ibu kota kabupaten itu, benda tersebut memang jarang ditemui. Paling hebat adalah sagon dan sagu lemak. Dimakan dengan pisang, menjelang petang, memang tak tehampang-hampang perasaan. Tapi lama setelah itu, setelah ke mana-mana, suatu kali, di Pekanbaru, emak pernah bertanya, kira-kira begini, Ram, kenape emak tengok dikau tak suke lagi makan kepughun. Dulu waktu kecik, tak tanggung lagi, sampai tak mau makan nasi kalau dah betemu dengan kepughun.

/5/
EMAK?
Ya, ketika mencoba berkebun sagu, saya diberi tahu seorang warga masyarakat yang gigih dalam memanfaatkan alam di Telukbelitung, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, H. Nur Efendi, semasa hidupnya pada akhir 90-an. Ia mengatakan bahwa alam dapat diumpamakan sebagai ibu alias emak (wawancara pribadi). Oleh karena itu, jangan sesekali mendurhakainya, malah sebaliknya harus berbakti dengan cara bagaimana memanfaatkannya secara betul. Dengan demikian, barang siapa yang berbuat baik kepada tanah, ia juga seumpama berbuat baik kepada ibunya sendiri.
Dalam praktik berkebun sagu, segala hal yang berhubungan dengannya, dilakukan M. Nur sebagaimana layaknya manusia. Hal ini terlihat dari istilah. Baginya, tidak ada istilah menanam sagu, tetapi mengalih– mengalih abot (anak sagu)abot dalam ukuran tertentu dipindahkan ke lahan yang sudah disediakan untuk kebun. Kalau disebut menanam, berarti berhubungan dengan kematian, padahal yang diharapkan dari upaya itu adalah kehidupan yakni sagu hidup, bukan sagu mati. Hanya sesuatu yang mati saja mengalami penanaman.

Baca Juga :  Mantap, 4 Kali Siak Terima Piala Adipura

Memang tak salah lagi bahwa apa yang disebut M, Nur di atas, menggambarkan pandangan Melayu terhadap alam secara keseluruhan. Nasihatnya itu mengesankan alasan mengapa alam harus diperhatikan sekaligus dipelihara, tidak dirusak dan sejenis dengannya, begitu juga cara memanfaatkannya. Dalam ungkapan Melayu disebutkan:
Tanda ingat kepada Tuhan
Menjaga alam ia utamakan
Jadi, seseorang yang tidak menjaga alam, apalagi merusaknya dengan sengaja, jelas tidak teringat kepada Tuhan. Padahal, sejak dari masa jauh, masyarakat Melayu menyandarkan kehidupannya kepada kekuasaan Ilahiah, kemudian menjadikan Islam sebagai dasar pijakan dalam semua hal. Malahan segala bentuk tradisi yang ada, tetapi berlawanan dengan Islam, dapat ditinggalkan. Semangat adanya adat sebenar adat dalam masyarakat Melayu sebagai adat yang tidak bisa diubah-ubah, merupakan suatu wujud kuatnya penanaman ajaran Islam yang diharapkan oleh masyarakat Melayu. Bandingkan dengan adat yang diadatkan, adat yang teradatkan, dan adat istiadat yang membuka peluang untuk mengalami ubah suai meski harus melalui suatu proses tertentu.

Jika dalam ungkapan tersebut, tidak langsung menyebut nama Allah, hal itu dapat dipahami sebagai upaya orang Melayu untuk mengatakan bahwa sikap baik kepada alam bukan hanya tertuju kepada Melayu beragama Islam, tetapi juga untuk semua umat manusia. Sementara bagi Melayu sendiri, ungkapan itu dengan sendirinya sebagai pegangan sesuai ajaran Islam. Kata ingat yang dipilih dari ungkapan itu, menunjukkan tuntutan tersebut berlaku tanpa memandang status seseorang dalam agama, tetapi dijeneralisir menjadi seluas-luasnya, terserah apakah ia seorang imam, ustadz, bahkan penganut Islam biasa. Akan berbeda capaian tujuan ungkapan itu jika berbunyi: tanda taat kepada Tuhan/ menjaga alam ia utamakan//.
Singkat cerita, melalui sagu pula, orang Meranti memperlihatkan kearifan terhadap pemanfaatan alam. Tak saja bagaimana memeliharanya, seiringan dengan kebakaran hutan dan lahan dalam 20 tahun terakhir, pembudidayaan sagu di kabupaten ini, memberi pesan bagaimana alam seharusnya diperlakukan. Manusia itu sendiri bagian dari alam, sehingga memuliakan alam berarti memulikan manusia yang bermuara pada pemuliaan Penciptatempat semua berasal dan kembali.

/6/
ELOK pula saya ceritakan pula tentang bincang-bincang dengan sejumlah mahasiswa Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) sekitar tahun 2003. Bersama Abdul Ghani, Jepri al-Malay, Itoy dan Widy, selalu kami tergoda untuk memperkatakan sagu. Ghani membuka kamus latin, yang tidak menemukan sagu dengan kata lain kecuali sagu atau sagoo itu. Begitu pula dalam bahasa Inggris. Ditemukan juga kata rumbia untuk kata lain dari sagu yang juga disebut Melayu Riau, khususnya Riau pesisir dengan titik perhatian Kabupaten Kepulauan Meranti.

Dengan demikian, sagu memang asli dari kawasan ini yang di dalam bahasa, kedudukannya sama seperti amuk dan kelasi, karena tidak diterjemahkan ke dalam bahasa laintetap amuk maupun kelasi (sekedar beberapa contoh). Apalagi jika memperhatikan bagian-bagian sagu yang sebutannya berbeda antara yang satu dengan lainnya. Belum lagi berkaitan dengan cara dan masa hidup. Singkat cerita, kesaguan amat cocok untuk sebuah tekad dari suatu kebersamaan yang waktu itu dituangkan dalam suatu kelompok musik, disebut Band Safu atawa Sagu Band. Beberapa tahun kemudian, saya menulis puisi yang telah terhimpun dalam kumpulan tersebab daku melayu (2015):
sagu

pohon-pohon sagu telah tumbuh di hatimu
maka bersyukurlah
karena dalam waktu yang tak lama lagi
tak habis dihitung dengan sepuluh jari
belum bertukar daging dengan kulit
engkau akan mengepal saripati
inti dari semua hidup berlapis hidup
sedangkan kematiannya tertunda lama
dalam renyah gairah rimba perjaka
bahkan anak-anaknya bernama abut
akan berkecambah riuh
menjadi kawan menjulang langit
seperti induknya
segera tumpat memenuhi kalbu

akan begitu mudah engkau ketahui kelak
bagaimana tak ada yang sia-sia darinya
bahkan sisa akhir tubuhnya berupa ampas
begitu disukai itik bertelor putih
pelepah dan kulitnya adalah pelindung
membangun sejuk di tengah panas
sungai sekaligus pantai
kepadanya mengatur salam amat selalu
karena akarnya yang rapat
menahan tanah untuk tidak tercebur
ada pun buahnya menggelantung untung
ditimang-timang dengan sebutan tematu
menjadi santapan berbagai binatang
kenyang mengayang tidak berpantang

telah engkau lewati saat merintis
melorong belukar membuat baris
tampangnya bukan ditanam
karena sagu adalah sesuatu yang hidup
maka mengalih tindakan disebut
mengubah pun tidak pula bersalah ucap
menyisip dan menyelip adalah pasti
sebelum akar menggigit tanah
bersama cacing-cacing saling ingat
menyatukan niat tuk saling melengkapi

/7/
ALHAMDULILLAH, berada di Ternate awal September lalu, saya diajak ke warung makan khas di kaki Gunung Gamalama di pinggir pantai. Apalagi kalau bukan papeda yang kita sebut kepughun. Ada rasa yang begitu membahagiakan saat melihat dan melahap benda itu, pada tempat yang jauh, lima jam lebih penerbangan dari Pekanbaru via transit Jakarta. Dengan serta-merta saya teringat saat mengikuti sidang penentuan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia, mewakili Riau beberapa tahun lalu. Saat itu, papeda asal Maluku dinyatakan diterima sebagai WBTB, sedangkan kepughun, masih menunggu beberapa waktu lagi. Sangkutnya hanya soal belum ada kajian mengenai kepughun, sedangkan papeda sebaliknyasudah dikaji secara akademis.

Sempat ada sayatan di hati mengenang kenyataan tersebut. Pasalnya, dipandang dari berbagai segi, sagu di Riau khususnya Meranti, memang lebih unggul dibandingkan tempat lain di Indonesia. Dalam buku Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Sagu tahun 2016 2018, luas dan jumlah panen sagu di Meranti, memang jauh tinggi dibandingkan kabupaten/ kota lain di Riau maupun Indonesia. Luas areal sagu di Meranti tahun 2016 misalnya adalah 38.614 Ha dengan produksi 202.068 ton. Padahal, luas areal sagu nasional saja 172.086 Ha yang hanya mampu memproduksi 275.379 ton. Dapat dibaca bahwa luas areal sagu nasional dan Meranti, tidak berbanding sama dengan jumlah produksi. Luas areal sagu Meranti jauh lebih kecil dibandingkan luas areal sagu nasional (1:6), tetapi produksinya hanya terpaut sedikit yakni antara 202.068 ton berbanding dengan 275.379 ton (1:1,25).

Baca Juga :  Masyarakat Kampung Baru Desa Batang Duku Gelar Tradisi Petang Belimau

Belum lagi membandingkan keragaman pengolahan sagu masyarakat Meranti yang dapat digolongkan luar biasa, kini mencapai 350 jenis. Tak hanya yang sifatnya tradisional, sagu mewujud menjadi berbagai jenis makanan, malahan kini dibentuk menyerupai berasselain pengolahan lebih canggih dengan nilai jauh lebih tinggi yang telah dibuat pihak swasta. Selera hati pun dipenuhi, misalnya dengan mengembangkan salah aktivitas pengolahan sagu yakni menggolek tual menjadi peristiwa pariwisata sebagaimana dilakukan di Bokor.

Kalau dalam bentuk tarian, misalnya saat mengirik sagu, telah lama dibuat orang walaupun munculnya baru sekali-sekala. Penting juga dicatat, sejak beberapa tahun terakhir, makanan dari sagu khususnya mi sagu, tidak lagi menjadi makanan langka di Pekanbaru. Beberapa kedai kopi menyediakannya dengan lebih heboh. Mau yang sudah masak ada, mi sagu dalam bungkusan juga sudah selalu terlihat di warung-warung kecil di pemukiman non-Melayu di Pekanbaru, juga tak sedikit. Sagu basah yang masih sulit ditemui di sini, tetapi tepung sagu, tidak begitu susah diperoleh.

Sagu muncul sebagai suatu perlambangan (icon) tidak saja bagi Meranti, tetapi berkembang menjadi kepunyaan Riau. Kebetulan pula, meski tidak sebanyak Meranti, beberapa kabupaten lain di bumi Melayu Lancang Kuning ini, memiliki tanaman sagu seperti Inhil, Siak, Bengkalis, dan Rohil.
Tak mengherankan kalau rombongan Pemprov Papua, berkunjung ke Meranti pertengahan tahun lalu untuk mempelajari pengolahan dan pemanfaatan sagu (Kabar Papua. Co, 19 Juli 2018). Protokol Setda Papua, Gilberd Yakwart mengungkapkan, hasil bumi Papua secara umum tak kalah dengan daerah lainnya yang ada di Indonesia. Hanya saja, bagaimana pemerintah dan masyarakat yang mengusahakannya, mampu mengolah, dan menjual hasil bumi yang ada dengan kreasi dan kreativitas. “Tanpa inovasi pun, hasil bumi yang dijual itu bisa tampak biasa-biasa saja. Tetapi bila dikemas dengan baik dan punya inovasi tinggi, saya yakin produk hasil bumi Papua akan banyak dicari konsumen dan bakal punya potensi jadi produk unggulan,” ucapnya dalam kaitan pemanfaatan sagu di Meranti.

Dorce, Kasi Pengembangan Panganan Lokal Provinsi Papua Barat mengaku takjub begitu melihat pengolahan sagu di Meranti (Tribun, 8/8/18). Menurutnya, jika Papua Barat mengadopsi sistem pengolahan sagu seperti di Meranti, ia menjamin Papua Barat akan menjadi produsen sagu di dunia. “Potensi sagu di Papua Barat sangat besar, namun pengolahannya masih sangat tradisional. Jika sistem pengolah sagu di sana seperti Meranti, saya yakin Papua dan Papua Barat bisa menjadi produsen sagu terbesar di dunia,” ujar Dorce seraya menambahkan, berbeda di Meranti yang telah membudidayakan sagu, di Papua Barat, tanaman tersebut tumbuh dengan sendirinya.
Lalu, di atas semuanya itu, dari rangkaian paparan ini sejak awal, kita yakin bahwa sejarah sagu Meranti terus mara. Harus, jangan tidak!

TENTANG PENULIS

Taufik Ikram Jamil, lahir di Telukbelitung, Kab. Kepulauan Meranti, Riau, 19 September 1963, penggiat kebudayaan, akademis dan sastrawan. Kini menjabat sebagai Sekretaris Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Provinsi Riau (Sekum MKA LAMR). Sebelumnya, ia juga pernah bekerja di berbagai media di Riau dan Jakarta, di antaranya 14 tahun sebagai wartawan harian Kompas.
Bukunya yang sudah terbit antara lain kumpulan cerpen bertajuk Sandiwara Hang Tuah (1996), Membaca Hang Jebat (1998), dan Hikayat Batu-batu (2005). Novelnya adalah Hempasan Gelombang (1998) dan Gelombang Sunyi (2001). Buku puisinya yakni tersebab haku melayu (1995), tersebab aku melayu (2010), disusul tersebab daku melayu 2015. Buku sajak dalam tiga bahasa Taufik, diberi judul Whats Left and Other Poems (2015). Ia dikenal sebagai penulis yang senantiasa menjadikan sejarah sebagai intipati kreatif.
Karyanya juga terdapat dalam antologi bersama yang terbit di Pekanbaru, Kuala Lumpur, Jakarta, dan Yogyakarta. Ia juga menulis buku sejarah Dari Percikan Kisah Membentuk Provinsi Riau (2003) dan Tikam Jejak Pulau Bengkalis (2004). Tulisannya juga dihimpun dalam Menjadi Indonesia serta Profil Daerah Kabupaten dan Kota (Jakarta, 2003). Selain itu, ia menulis buku budaya Melayu Riau untuk siswa SMP dan SMA, 2013. Sejumlah karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Belanda, Portugal, dan Jerman.

Beberapa penghargaan diraihnya. Tahun 1997, Cerpennya Menjadi Batu, meraih juara pertama dalam sayembara menulis cerpen di majalah sastra Horison. Pada tahun serupa, Yayasan Sagang Pekanbaru menetapkan Sandiwara Hang Tuah sebagai buku pilihan. Setahun kemudian, 1998, cerpennya yang bertajuk Pagi Jumat Bersama Amuk menjadi cerpen utama Indonesia menurut versi Dewan Kesenian Jakarta. Pusat Bahasa Depdikbud memberikan penghargaan untuk kumcernya Membaca Hang Jebat tahun 1999. Novel Hempasan Gelombang, meraih harapan dua dalam penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1997. Sedangkan untuk kumpulan sajak, tersebab aku melayu masuk lima besar dalam Khatulistiwa Literary Award tahun 2010 dan disebut sebagai satu dari tiga kumpulan puisi penting tahun 2010 oleh majalah Tempo. Buku puisi tersebab daku melayu memperoleh predikat buku puisi pilihan Hari Puisi Indonesia 2015.

Di sisi lain, Taufik juga dikenal sebagai penggiat seni. Setelah berhenti sebagai wartawan Kompas tahun 2002, ia memimpin Dewan Kesenian Riau, 2002-2007, dan mendirikan Akademi Kesenian Melayu Riau sekaligus memimpin dan mengajar di lembaga tersebut, 2002-2012. Untuk semua aktivitas ini, ia memperoleh berbagai penghargaan baik dari pemerintah Provinsi Riau, Yayasan Sagang, dan PWI Riau seperti Budayawan Pilihan (2003) serta Seniman Perdana (2006).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *