Menjulang Pantun di FSIGB

RiauKepri.com, TANJUNGPINANG – Kehadiran pantun dalam kehidupan orang Melayu sampai saat ini belum dapat ditemukan siapa yang pertama membuat pantun. Terlepas dari semua itu, pantun telah menjadi ‘darahdaging’ orang Melayu. Pantun menjadi identitas sampai sekarang ini dan menarik pula untuk dibahas kekuatan pantun, sehingga pantun tak lekang oleh panas, tak luntur oleh hujan.

Hal inilah yang dapat ditangkap dalam seminar Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) yang berlangsung hari ini, Selasa (29/10/2019) di Hotel Bintan Beach Resort, Tanjungpinang. Seminar dengan menjulang tema “Pantun Sebagai Akar Puisi Modern Nusantara” menghadirkan enam pembicara, Prof. Dr. Saleeh Rahamad, Dr. Mukjizah, Hasan Aspahani, M.M., Prof. Abdul Hadi WN, Prof. Drs. H. Abdul Malik, M.Pd., dan Prof. Madya Dr. Nurhayati Abd. Rahman.

Baca Juga :  DPR Usahakan Selesai Tahun Ini

Pada sesi pertama berlangsung pagi hari, Hasan Aspahani menjelaskan bahwa kedahsyatan pantun sampai ke Eropa. Beberapa penyair di Eropa, kata Hasan, menjadikan pantun inspirasi dalam karya mereka.

“Pantun sudah sampai ke Eropa pada tahun 1812. Victor Hugo sastrawan Perancis merupakan salah seorang sastrawan Eropa yang menjadikan pantun kekuatan dalam karyanya,” ujar Hasan.

Tampil sebagai pembicara kedua, Mukjizah menjelaskan bahwa membincangkan pantun tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat di nusantara. Pantun, kata Mukjizah adalah bagian penting bagi kehidupan masyarakat nusantara.

Baca Juga :  Tim Surveyor Akreditasi FKTP Kunjungi Puskesmas Toapaya

“Pantun sudah tersebar di nusantara sejak lama. Pantun menjadi bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat di nusantara, dan hal perlu dibuat suatu wadah untuk menampung pantun-pantun yang tersebar di nusantara ini,” jelas Mukjizah.

Sementara itu, Mohammad Saleeh Rahamad melihat pantun pada fungsi imej bunga. Bunga menjadi hal penting dalam berbagai pantun yang ada di tanah Melayu.

“Menciptakan pantun bukan hanya melihat pada bentuk pola a-b-a-b, ada sampiran dan isi, bukan itu saja, hakikat pantun itu adalah suatu tradisi yang menjaga alam. Pantun tak kan lekang oleh zaman tersebab tak berkhianat pada alam,” ujar Saleeh. (RK2)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *